Seringkali ketika menyaksikan sebuah film, kita melihat adanya ciri khas tertentu yang notabene selalu ditampilkan oleh sosok sutradaranya.

Dengan kata lain, apabila cirinya selalu menampilkan efek-efek keren pasti si A, apabila selalu menampilkan yang berbau goth pasti si B, dan sebagainya.

Dan wajar banget apabila seorang sutradara menampilkan ciri khas-nya. Karena kalau tidak, dijamin ia bakal kalah bersaing di industri perfilman Hollywod yang seperti kita ketahui, kejam tiada ampun.

Namun dari seluruh sutradara di Hollywood dengan gaya dan ciri khas-nya, berikut adalah 10 yang paling terkenal dan ikonik diantaranya.

10. Quentin Tarantino

Sutradara Pulp Fiction (1994) dan Once Upon a Time in Hollywood (2019) ini, paling dikenal sebagai sutradara yang paling spontan dan paling “rebel. Hal ini dikarenakan di hampir semua filmnya, ia selalu menampilkan alur dan twist plot yang narasinya tidak beraturan.

Dengan kata lain ia bebas sebebasnya saja kapan dirinya mau menampilkan adegan-adegan yang ada. Pokoknya tidak mengikuti aturan umum deh. Musik-musik yang dipilihnya pun juga tidak biasa, lebih menekankan pada nada dan emosi lagu daripada seberapa baik lagu tersebut dengan cerita atau latar film. Di Django Unchained, Tarantino menggunakan lagu-lagu hip hop untuk menciptakan tone-tone bertema pemberontakan, ketimbang menggunakan lagu-lagu awal abad ke-19 yang lebih cocok untuk film ini.

Tarantino juga seringkali menggunakan menggunakan judul di setiap babak filmnya lewat tulisan, warna-warna yang bold dan ikonik di tiap filmnya, menggunakan dialog panjang di tiap scene dan yang paling mudah terbaca adalah penggunaan adegan kekerasan yang cenderung gore atau berdarah-darah.

9. Steven Spielberg

Salah satu faktor utama mengapa sosok sutradara ini begitu melegenda, adalah dikarenakan ia memiliki trademark khas di setiap filmnya. Dan ciri khas tersebut adalah kebiasannya yang kerap melakukan teknik close-up wajah aktornya.

Spesifiknya kalau kamu menyaksikan film-filmnya seperti contohnya E.T (1982) dan Saving Private Ryan (1998), Spielberg senang banget menampilkan shot dan freeze close-up terhadap wajah aktor atau adegan yang terlihat emosional. Teknik ini digunakan Spielberg agar audiens-nya, bisa ikut merasakan / terbawa emosi juga ketika menyaksikan adegannya.

Selain itu Spielberg juga sering menggunakan angle kamera untuk men-shot bayangan untuk menunjukkan sesuatu yang ada di balik hal tersebut.

Isu orang tua dan anak juga sering dijadikan materi cerita yang muncul dalam banyak filmnya, seperti The Sugarland Express, Close Encounters of the Third Kind, Indiana Jones and The Last Crusade, Indiana Jones and Kingdom of the Crystal Skull, Jurassic Park dan War of the Worlds.

Beberapa keunikan lain adalah Spielberg sering menggunakan cahaya yang berkilau di beberapa film besarnya seperti Close Encounters of the Third Kind, Jurassic Park, Minority Report, A.I. dan Lincoln.

Komposer musik yang satu ini tak boleh ditinggalkan. Yak, John Williams yang identik dengan garapannya di Star Wars hingga saat ini, selalu menggarap film-film yang dibuat Spielberg kecuali The Color Purple.

8. James Cameron

Selain kerap menampilkan wanita kuat nan badass sebagai karakter utamanya seperti karakter Sarah Connor (Linda Hamilton) di franchise Terminator, ciri khas Cameron lainnya adalah ia kerap menampilkan adegan-adegan keren nan fantastis baik menggunakan properti fisik atau CGI yang sangat ekstensif.

Selain itu isu mesin vs manusia atau alam kerap digunakan, seperti dalam Terminator, The Abyss, dan Avatar.

Dan dalam melakukan adegan-adegan tersebut, Cameron tidak pernah ragu atau takut sama sekali untuk menghabiskan biaya yang mahal.

Pokoknya bagi dia yang penting adegan kerennya bisa memberikan kepuasan maksimal terhadap audiens. Dan sejauh ini anda berhasil Mr. Cameron.

7. Martin Scorsese

Selain kerap menampilkan aktornya berbicara dengan aksen New York yang kental dan kerap menggunakan lagu-lagu milik The Rolling Stones sebagai soundtrack-nya, ciri khas sutradara yang kerap bekerjasama dengan Leonardo di Caprio (Gangs of New York) ini adalah dirinya kerap menggunakan teknik long-tracking.

Atau bahasa gampangnya, Scorsese kerap menampilkan karakter-karakter di filmnya dari kejauhan yang mana hal ini dimaksudkan agar audiens bisa melihat interaksi karakternya dengan lokasi / lingkungan di sekitarnya.

Teknik slow-motion dan freeze-frame juga tak ketinggalan sering ia gunakan dalam banyak filmnya.

6. James Gunn

Walau beberapa dari kita baru mengenalnya melalui film superhero MCU, Guardians of the Galaxy (2014), dapat dipastikan kita pastinya sudah langsung mengetahui ciri khas penyutradaraan seorang James Gunn.

Dengan sosoknya yang dulu juga adalah musisi, tak heran bila film-film nya, menyuguhkan lagu-lagu keren sebagai soundtrack-nya. Tidak hanya sekedar keren, namun lagu-lagunya juga terintegrasi dengan sangat padu dengan adegan sekaligus narasi kisah yang ditampilkan.

Selain itu ciri khas lainnya adalah dirinya yang tidak pernah takut untuk menampilkan adegan-adegan filmnya secara apa adanya (gamblang) dan yang paling penting, “ngelenyeh” banget baik ide kisah maupun humor-humornya.

 5. M. Night Shyamalan

Yap sepertinya kamu sudah tahu bukan jawabannya Chillers? Twist ending. Yap dibandingkan rekan sutradara lainnya, sutradara keturunan India ini sangat jago banget dalam mengolah twist-nya hingga membuat kita sebagai audiens tercengang sendiri bukan kepalang,

Padahal kalau dipikir lagi, selain twistnya umum banget, juga terkadang sangat konyol (silly).

Ia juga sering menggunakan daerah Pennsylvania, Philadelphia sebagai setting film-filmnya, karena ia besar di wilayah itu. Karakter-karakter dalam filmnya juga seringkali ia munculkan dalam refleksi jendela, mobil, layar tv dan bahkan pantulan air.

Selain signature twist-nya tersebut, ciri khas lainnya adalah dibandingkan sutradara lainnya, ia bisa dikatakan adalah satu-satunya sutradara yang rajin menjadi cameo di film-filmnya.

4. Stanley Kubrick

Sutradara 2001: A Space Oddyssey (1968) dan The Shining (1980) ini kerap dianggap sutradara paling jenius. Hal ini salah satunya adalah dikarenakan ia adalah salah satu sutradara pertama yang memiliki teknik yang berbeda dari sutradara-sutradara era sebelumnya.

Dan salah satu tekniknya adalah dengan kerap menyorot tatapan mata karakternya dari angle yang cukup dekat. Dalam melakukan tatapannya, si aktor umumnya menundukkan sedikit kepalanya dengan matanya sedikit menghadap ke atas, dan tersenyum psikotik.

Penggunaan teknik tiga babak juga merupakan ciri khas Kubrick yang tampak dalam sejumlah filmnya seperti 2001: A Space Odyssey, A Clockwork Orange, Full Metal Jacket, dan Paths of Glory.

Satu yang khas adalah Kubrick menggunakan perspektif satu titik di mana dia menempatkan kamera sehingga ada “cakrawala” yang membentang di tengah layar. Dia menggunakan bagian tengah gambar sebagai titik perspektif, dengan semua yang lain dalam bidikan mengarah ke titik singular. Ciri khas ini terlihat di sejumlah filmnya seperti 2001: A Space Odyssey, A Clockwork Orange, The Shining, Barry Lindon, dan Paths of Glory.

Gambaran lebih jelasnya silahkan Chillers lihat tampilan foto penyerta pembahasan berikut yang menampilkan karakter psikotik Alex DeLarge yang diperankan oleh Malcolm McDowell di hit kontroversial Kubrick, A Clockwork Orange (1971).

Selain itu ciri khas lain dari Kubrick, adalah setiap karakter utamanya ditampilkan ambiguitas moral yang sangat tinggi.

Dengan kata lain, seperti contohnya DeLarge, walau ia jelas-jelas adalah villain, namun motivasinya ditampilkan masuk akal yang alhasil membuat kita sebagai audiens jadi berpikir apakah motif yang dimilikinya memang pantas dimaklumi atau tidak sama sekali.

3. Alfred Hitchcock

Bukan tanpa alasan apabila sutradara Psycho (1960) ini kerap dicap sebagai “The Master of Suspense”, dalam mengarahkan film-filmnya yang sebagian besar ber-genre thriller, Hitchcock sangatlah ahli dalam mengatur alur emosi dan ketegangan audiens-nya

Dan hal ini dilakukannya dengan memanfaatkan pemosisian angle kamera yang pas dan, juga mengambil dari sudut pandang (literally) kedua mata karakternya. Terbukti teknik ini sukses membuat audiens serasa seperti korban teror yang ditampilkan.

Pembunuhan pun kerap kali menjadi suatu hal yang wajib ditampilkan, namun di tangan Hitchcock, cara ini dilakukan tanpa mesti berdarah-darah. Hitchcock juga sering menampilkan bangunan landmark terkenal saat syuting di sebuah tempat seperti Patung Liberty di film Saboteur, dan adegan di gedung PBB dan Mount Rushmore di film North by Northwest.

Oh ya satu lagi, umumnya gadis-gadis yang ditampilkan adalah yang pirang-pirang kulit putih (blondie). Dan uniknya Hitchcock selalu muncul dalam film-filmnya sebagai cameo.

2. Tim Burton

Terkenal dengan style-nya yang dark dan goth, kalau kamu perhatikan dengan seksama, dalam menghidupkan tampilan sekaligus rasa goth-nya tersebut, Burton hanyalah menggunakan penerapan teknik coloring BRW alias, hitam, merah, dan putih.

Tim juga sering menggunakan flashback di sejumlah filmnya untuk menceritakan bagian yang belum terungkap dalam film. Begitu pula dengan banyaknya karakter eksentrik yang seringkali muncul. Tampilan visual dan tema yang hampir seragam, mudah sekali dikenali oleh audiens sebagai buatan Tim Burton.

Kisah cerita yang ditampilkannya pun sangatlah creepy namun unik. Tak ketinggalan ia adalah satu-satunya sutradara yang merupakan fanboy dari aktor “bunglon”, Johnny Depp (Edward and the Scissorhands) dan istrinya sendiri, Helena Bonham Carter (Alice in the Wonderland). Depp dan Carter sendiri juga tercatat membintangi 8 dan 7 film milik Tim Burton.

1.Christopher Nolan

Yap. Mungkin inilah satu-satunya sutradara di Hollywood yang memiliki ciri khas yang langsung terlihat banget bahkan bagi kita-kita yang awam.

Selain kerap menampilkan struktur cerita yang non-linear seperti di Memento (2000), secara keseluruhan, kisah film Nolan pada dasarnya dibuat dengan se-intens mungkin yang alhasil membuat otak kita pun “berolahraga” untuk memahami keseluruhan kisahnya.

Penggunaan kamera lewat perspektif dari karakter utama juga sering digunakan Nolan, dengan cara ini Nolan meletakkan kameranya berfokus pada karakter atau dialog. Bidikan favorit Nolan adalah menempatkan kamera di belakang aktor setinggi mata. Ini untuk memungkinkan penonton “melihat” dari perspektif karakter tanpa benar-benar menjadi karakter itu. Cara ini ia gunakan dalam Prestige, Inception, Memento dan Insomnia.

Memang kalau dipikir menyebalkan. Pasalnya tujuan kita nonton film adalah untuk senang-senang, melepas stress dan bukan malah menambahnya dengan memikirkan 3 hari 3 malam apakah ending Cobbs di Inception (2010) adalah mimpi atau memang sungguhan terjadi. Tapi yeah, In Nolan we trust!

Dari seluruh 10 sutradara yang memiliki ciri khas ini, yang manakah yang merupakan favorit kalian?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here