Genre superhero pada dasarnya adalah genre film yang bisa dikonsumsi oleh seluruh keluarga (hanya beberapa yang ditujukan untuk usia 17+). Nah dengan kealamian karakteristiknya tersebut, pastinya kita berpikir seluruh aktor dan kru yang terlibat, saling bekerjasama dengan aman dan damai bukan?

Well sayangnya, 7 proyek film superhero ini justru sebaliknya. Spesifiknya, 7 proyek ini justru menampilkan konflik antara aktor dengan aktor atau aktor dengan salah satu kru filmnya yang alhasil membuat proyeknya bagaikan proyek “film horor dunia nyata”. Dan berikut adalah 7 konflik belakang layar yang dimaksud tersebut.

7. Sophie Turner vs Aktor Pria Tanpa Nama (X-Men: Dark Phoenix)

Yang namanya proyek film terakhir dari sebuah franchise film, seharusnya menjadi pengalaman syuting akhir yang indah dan tidak terlupakan bagi aktor-aktor yang terlibat. Sayang hal ini tidaklah bisa dikatakan terhadap pemeran Jean Grey aka Phoenix di “X-Men: Dark Phoenix”, Sophie Turner.

Jadi berdasarkan hasil wawancaranya dengan Majalah Glamour beberapa bulan lalu, pemeran Sansa Stark di seri Game of Thrones ini mengungkapkan kalau dirinya merasa malu dan kesal dikarenakan salah satu aktor pria yang terlibat di filmnya yang kemungkinan besar satu scene bersamanya, tiba-tiba meninggalkan dirinya (walk off) tepat ketika giliran Turner harus mengucapkan dialognya.

Sangat tidak respek bukan? Alhasil gara-gara ini, aktor stand-in mau tak mau harus menggantikan posisi aktor tersebut. Pemeran villain utama di film ini, Jessica Chastain, sampai harus membujuk Turner dan menyuruh dirinya untuk menunjukkan ketegasannya terhadap aktor yang menyebalkan tersebut.

Hmmm, kira-kira siapa ya sosok aktor yang dimaksud tersebut? Apakah mungkin Tye Sheridan yang memerankan Cyclops yang seperti kita tahu, baik secara karakter maupun real-life pernah menjadi kekasih Turner dan Grey? Bagaimana menurut kalian?

6. Richard Donner vs Ilya Salkind (Superman II)

Walaupun sekuel Superman (1978) ini mendapatkan resepsi yang sangat positif, namun faktanya kesempurnaan filmnya ini tidak tercermin dari proeses pembuatan di balik layarnya. Spesifiknya, sutradara film pertamanya Richard Donner dengan produser franchise filmnya, Ilya Salkind.

Donner kecewa dengan keputusan Salkind dan Warner Bros yang kala itu memutuskan untuk memotong seluruh adegan yang menampilkan pemeran Jor-El, Marlon Brando dari filmnya hanya gara-gara tidak ingin membayar persenan sebesar 11.75% ke pemeran Don Vito Corleone di “The Godfather” (1972) tersebut.

Padahal, Brando telah menyelesaikan seluruh porsi adegan Jor-El nya. Dan secara kelogikaan adegan, dengan dihilangkannya porsi adegan Jor-El nya, membuat seluruh jalinan kisahnya menjadi “rusak”. Merasa kesal, Donner pun memutuskan hengkang dan WB serta Salkind pun, menggantikan dirinya dengan sutradara yang juga bernama depan Richard, Richard Lester.

Walau seperti yang dikatakan konflik ini tetap tidak mempengaruhi hasil kesuksesan akhir yang didapatkan filmnya, tetap saja konflik ini sangatlah menyebalkan dan yang lebih parahnya membuat Warner Bros seakan menjilat ludahnya sendiri.

Pasalnya beberapa tahun setelah perilisan filmnya atau spesifiknya 2006, Warner Bros menyadari bahwa visi Donner memang tepat selama ini dan visi sekaligus keputusan Salkind selama ini salah besar. Alhasil untuk memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat tersebut, Warner Bros pun merilis home video film versi ‘Director’s Cut’ yang merupakan hasil potongan adegan-adegan milik Donner.

5. Sean Connery vs Stephen Norrington (The League of Extraordinary Gentlemen)

Mengingat komik aslinya yang ditulis oleh Alan Moore (Batman: The Killing Joke) sangat hit, tak mengherankan apabila banyak fans yang merasa hype sekaligus berharap agar adaptasi film live-action-nya ini akan sekeren komiknya tersebut.

Apalagi, film ini digawangi oleh James Bond pertama, Sean Connery. Makin yakinlah fans kalau adaptasi filmnya tidak akan mengecewakan. Akan tetapi sayangnya keyakinan tersebut keliru besar.

Pasalnya ketika filmnya akhirnya dirilis di tahun 2003, “The League of Extraordinary Gentlemen” tidak diterima begitu baik oleh fans maupun awam. Dan salah satu faktor yang menyebabkan kegagalannya adalah tensi antara Connery dan sutradara Stephen Norrington di lokasi.

Sejak keduanya bertemu, baik Connery maupun Norrington benar-benar tidak menyukai satu sama lain. Connery bahkan mengatakan kalau Norrington adalah sutradara yang masih sangat minim pengalaman (ouch!). Selain secara profesional, keduanya pun saling berselisih dalam urusan pribadi (personal).

Bahkan Moore yang sekali waktu mengunjungi lokasi syuting filmnya langsung menyimpulkan bahwa adaptasi kisahnya yang memiliki konsep menjanjikan tersebut, akan gagal total. Dan nyatanya ucapannya terbukti banget bukan?

4. Jim Carrey vs Tommy Lee Jones (Batman Forever)

Ketika kita menyaksikan keduanya sebagai The Riddler dan Two-Face di Batman Forever (1995) dulu, mungkin tidak pernah terpikirkan di benak kita kalau Jones dan Carrey, faktanya tidak akur sama sekali ketika melakukan pembuatan filmnya ini.

Pasalnya kalau dilihat dari yang ditampilkan di filmnya, keduanya terlihat kompak banget layaknya seperti yang digambarkan di komik maupun adaptasi kisah Batman lainnya. Tapi sekali lagi kenyataan belakang layar jauh lebih kelam.

Jones secara terang-terangan mengatakan di wajah Carrey kalau ia tidak suka sama sekali dengan sifat konyol yang dimiliki oleh komedian gila ini. Puncaknya adalah ketika Carrey di lokasi mencoba menyapanya dengan sapaan simpel “Hello”. Bukannya disambut baik, Jones malah makin “mendidih” dan mengatakan ke wajah Carrey kalau ia tidak menyukainya sama sekali. Bahkan hingga kini, Carrey masih garuk kepala mengapa Joens tidak menyukainya.

3. Edward Norton vs Marvel Studios (The Incredible Hulk)

Kami yakin banget bahwa pasti masih banyak dari kita yang garuk kepala sendiri mengapa Edward Norton (Fight Club) diganti posisinya dengan Mark Ruffalo (Zodiac) untuk memerankan si raksasa super Marvel, Hulk di rana sinematiknya.

Padahal kalau boleh jujur, Norton keren memerankan sosok Bruce Banner-nya. Dan faktanya, awalnya pihak Marvel Studios sendiri sudah berencana untuk menjadikannya sebagai Hulk di seluruh film-film MCU ke depannya. Lantas mengapa ia diganti?

Jadi Norton selain dipercaya untuk memerankan karakter ikoniknya, ia juga diminta studio untuk membantu merevisi naskah filmnya ini yang ditulis oleh Zak Penn (The Avengers). Norton menyetujuinya. Lagipula revisi ini jugalah merupakan keinginan Norton yang dari awal sudah “ribut sendiri” agar naskahnya bisa diperbaiki.

Setelah diperbaiki, apesnya Marvel Studios justru tidak menggunakan perbaikan Norton tersebut dan bahkan, tidak meng-kreditkannya sebagai co-writer di kredit filmnya. Jelaslah hal ini membuat Norton menjadi sakit hati sendiri. Gara-gara ini, alhasil hubungan Norton dan Marvel pun memburuk hingga detik ini.

2. Natalie Portman vs Marvel Studios (Thor: The Dark World)

Rasanya kita semua sepakat kalau sekuel “Thor” (2011) ini merupakan film MCU yang paling lemah sejauh ini. Dan salah satu faktor yang menyebabkan kegagalan filmnya ini, adalah konflik yang dialami Portman dengan Marvel Studios.

Jadi, awalnya Portman merasa super excited untuk kembali memerankan Jane Foster setelah mendengar kabar bahwa sutradara Patty Jenkins (yang kemudian nantinya menyutradari Wonder Woman) akan menyutradarai The Dark World. Namun dikarenakan kedua belah pihak mengalami perbedaan kreatif yang sangat tajam, studio pun lantas mempekerjakan Alan Taylor (Game of Thrones) sebagai sutradaranya.

Tak pelak, pemeran Padme Amidala di prekuel trilogi Star Wars ini langsung jadi tidak mood lagi. Portman hampir saja hengkang. Namun sadar bahwa ia masih terikat kontrak dengan MCU (kontraknya per film), ia pun mau tak mau harus kembali memerankan Jane di sekuelnya ini.

Walau Taylor dan MCU telah memberikan karakter Jane-nya kisah latar yang keren dan penting banget, tetap saja hal ini tidak mengobati Portman yang sudah terlanjur kecewa dengan Marvel Studios. Uniknya, di “Avengers: Endgame” (2019) lalu, ia kembali diundang untuk me-rekreasi adegan di Dark World dan bahkan, datang di karpet merah premier filmnya. Wah asyik sudah baikan lagi nih!

1. Josh Trank vs Seluruh Proyek Fan4stic

Well, apakah kalian terkejut kalau drama belakang layar ini yang menempati posisi puncaknya? Pasalnya konflik belakang layar reboot Fan4stic (2015) ini memang heboh banget ketika terjadi.

Tidak terhitung lagi konflik-konflik yang terlapor dari filmnya ini. Namun dua masalah yang paling ramai dan begitu diingat hingga detik ini adalah konflik kreatif antara sutradara Josh Trank (Chronicle) dengan studio FOX dan Trank dengan pemeran Reed Richards aka Mr. Fantastic, Miles Teller.

Konflik pertama tentunya seperti kita ketahui terjadi karena adanya konflik perbedaan visi kreatif antara Trank dan FOX yang berakhir dengan kandasnya visi Trank terhadap film ini. Yang kedua adalah konfliknya dengan Teller yang mana di mata Teller dan cast lainnya, Trank sangat kasar dan tidak hormat dengan mereka.

Teller pun langsung menantang Trank untuk saling baku hantam. Dengan seluruh konflik yang terjadi ini, tak mengherankan apabila Fan4stic gagal total dan bahkan dianggap sebagai film superhero terburuk yang pernah diproduksi sejauh ini.

 

Nah Chillers itulah tadi 7 konflik belakang layar di proyek film superhero. Mari kita berharap saja semoga konflik-konflik ini tidak terjadi lagi baik di proyek film superhero maupun proyek film genre lainnya. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here