“You must always strive to be the best, but you must never believe that you are.” – Juan Manuel Fangio.

Satu lagi khazanah tentang balapan Formula 1 atau biasa kita sebut F1, kembali dirilis. Banyak film dokumenter yang mengulas tentang Formula 1 itu sendiri dan beberapa legenda (walaupun tak banyak), namun salah satunya, “Senna” (2010) yang mengangkat legenda F1, Ayrton Senna, diakui sebagai salah satu film dokumenter terbaik yang mengangkat legenda balapan F1 ini.

Kini Netflix mengangkat seorang legenda balap masa lalu, yang namanya dikenal sebagai salah satu pembalap terbaik yang pernah ada, Juan Manuel Fangio. Film yang diberi judul “A Life of Speed: The Juan Manuel Fangio Story” ini mengeksplorasi dari dekat perjalanan Fangio saat dia berpetualang dari satu tim ke tim lainnya dan mencatat rekor sebagai orang pertama yang memenangkan kejuaraan F1 sebanyak 5 kali.

Sebuah rekor yang tak terputus selama 47 tahun sebelum pada akhirnya dikalahkan oleh Michael Schumacher. Tapi di sisi lain beberapa prestasi Fangio mungkin tetap akan bertahan untuk waktu yang lama, seperti memenangkan kejuaraannya dengan 4 tim yang berbeda (Fangio pernah bergabung dalam tim Alfa Romeo, Maserati, Mercedes dan tentunya Ferrari), memenangkan Grand Prix Argentina sebanyak 4 kali, memiliki presentase pole tertinggi (55,77%) dan menjadi juara dunia tertua (ia mendapat gelar juara dunia terakhirnya dalam usia 46 tahun).

Pembalap yang lahir di Balcarce, Argentina pada tahun 1911. Dia menunjukkan minatnya pertama-tama pada sepak bola, tapi kemudian pada saat dia remaja, Fangio mulai menunjukkan hasratnya pada balap mobil itu sendiri. Ia kemudian mulai mengikuti beberapa kejuaraan lokal dan ia mulai menarik perhatian para pecinta balapan ketika dia mengikuti lomba balap Gran Premio del Norte, lomba balap ini memiliki rute sepanjang 10.000 km dan berlangsung selama 2 minggu. Fangio lalu berhasil keluar sebagai juara lomba balap tersebut. Karena prestasinya itu, Argentine Automobile Club lalu mengirimnya ke benua Eropa agar karier balapnya dapat berkembang secara tepat.

Debut F1-nya terjadi pada tahun 1950 di Grand Prix de Pau, Prancis. Fangio yang bergabung dalam tim Alfa Romeo pada saat itu hampir berusia 40 tahun. Tapi tampaknya usia bukan merupakan masalah baginya, pada debutnya ini ia berhasil meraih posisi kedua. Pada seri balap ini posisi pertamanya berhasil direbut oleh pembalap kelahiran Italia, Giuseppe Farina. Dan pada tahun berikutnya giliran Fangio yang berhasil menyabet gelar juara dunia F1 untuk pertama kalinya.

Sayangnya di tahun 1952, Fangio telah berganti tim dan tergabung dalam tim Maserati. Namun ia mengalami cedera yang cukup parah dan tidak bisa melanjutkan balapan, tapi di tahun berikutnya pada tahun 1953, ia berhasil menebusnya dengan menduduki peringkat ke-2. Dan setelah itu mulai dari tahun 1954 secara berturut-turut sampai pada tahun 1957 ia selalu berhasil memenangkan kejuaraan dunia F1 tersebut. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk pensiun dari dunia balap pada tahun 1958.

Pembalap yang mendapat julukan ‘El Maestro’ atau The Master tersebut, meninggal dunia pada tahun 1995 di Buenos Aires dalam usia 84 tahun. Namanya diabadikan dalam International Motorsports Hall of Fame. Dan di Argentina sendiri, sebagai penghormatan untuknya didirikan Museum Juan Manuel Fangio di Balcarce, kota kelahirannya.

Film dokumenter ini, selain mengungkap kehidupan Fangio itu sendiri, juga merupakan dokumenter tentang eksplorasi sejarah awal dari F1 itu sendiri. Pembalap awal Formula One pada saat itu mengikuti lomba balap dengan hampir tidak ada peralatan perlindung dan fitur keselamatan diri seperti yang dikenakan pada jaman sekarang ini.

Selama bertahun-tahun mobil balap telah berevolusi secara pesat dalam hal struktur keamanan dan juga kenyamanan untuk pembalap itu sendiri. Tapi pada tahun-tahun awal perlombaan ‘jet darat’ tersebut, satu-satunya kriteria yang harus dipenuhi oleh mobil balap tersebut adalah soal kecepatan. Balapan sering kali jauh lebih lama dan lebih menuntuk ketahan fisik. Kematian yang sangat menyedihkan dialami Fangio, sejak lebih dari 30 rekan balapnya kehilangan nyawa selama kariernya.

Dokumenter ini juga menunjukkan persamaan dan perbedaan unik dari olahraga adu cepat ini, zaman dulu dan sekarang. Pada zaman Juan Manuel Fangio, para pengemudi juga ikut terlibat dalam hal penanganan teknis mobilnya, mereka ikut terlibat dalam hal merawat mobil dan ikut terlibat secara langsung pada pengembangan kemampuan mesin mobil balapnya bersama tim mekaniknya.

Di era modern seperti sekarang ini, dengan tenaga kerja yang terlibat cukup masif, jarang ada pembalap yang mau ikut terlibat untuk ‘mengotori tangannya’ bersama para tim mekaniknya dalam hal menangani teknis mesin.

Film ini secara cerdas menampilkan perjalanan Fangio dari waktu ke waktu mengikuti perstasinya dari sirkuit ke sirkuit.

Tak ketinggalan sejumlah footage lawas atau rekaman dari wawancara dari Fangio sendiri yang pernah dipublikasikan sebelumnya. Juga wawancara dari orang-orang yang mengenal Fangio dari dekat.

Kita akan dapat melihat dan sekaligus mendapatkan fakta bagaimana beberapa perubahan besar terjadi dalam indrustri olahraga bermotor ini. Perubahan dalam desain dan struktur mobil, perubahan dalam tim balap dan perubahan arena balap.

Sejumlah legenda balap dan para pelaku yang terlibat dalam indrustri balap ini yang berbicara tentang Fangio dan bagaimana dia memberikan pengaruh atau juga menjadi inspirasi bagi mereka dan dunia balapan pada umumnya. Mereka adalah Fernando Alonso, Alain Prost, Jackie Stewart, Mika Hakkenen, Nico Rosberg, Toto Wolff, Carlos Reutemann dan Hans Hermann.

Film yang disutradarai Fransisco Macri dan ditulis oleh Luciano Origlio dan Rodrigo H Vila ini hadir dalam bahasa Italia, tapi Netflix menyediakan subtitle dalam berbagai bahasa.

 

Director: Francisco Macri

Cast: Juan Manuel Fangio. Alain Prost, Fernando Alonso, Nico Rosberg, Jackie Stewart, Mika Hakkinen, Toto Wolff, Hans Hermann, Carlos Reutemann

Duration: 92 minutes

Score: 6.5/10

Facebook Comments