‘A Man Called Ahok’, Perjalanan Panjang Basuki Tjahaja Purnama Menapaki Hidup

0
292

Jika berbicara mengenai tokoh politik nasional yang namanya santer terdengar beberapa tahun belakangan, dia adalah Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Sifatnya yang jujur, blak-blakan dan cenderung keras sangat diapresiasi masyarakat, terutama warga DKI Jakarta. Ada yang salut dengan keberanian Ahok karena melakukan perubahan yang cukup radikal demi kemajuan bersama, namun ada juga yang mencibir perangainya yang keras dan tidak pandang bulu dalam mengkritik apa yang dianggap salah. Meski tidak lama menjabat dan tertimpa kasus dugaan penistaan agama, apa yang dilakukan Ahok di pemerintahan DKI juga telah tercatat sebagai sesuatu hal yang positif.

Berbicara prestasi, dalam waktu yang terhitung singkat bagi seorang pemimpin wilayah, Ahok sudah mendapatkan beberapa penghargaan. Sebut saja penghargaan “Pejuang Anti Korupsi” di Gus Dur Awards, Penghargaan Anti Grativikasi, Bung Hatta Anti-Corruption Awards, The Time Magazine “Best Governor Choice”, dan Global reThinkers. Dari seluruh hal yang ia torehkan dan dapatkan, lahirlah sebuah ide untuk menguak kisah masa lalu dari Ahok. Bagaimana ia bisa dibentuk sehingga menjadi seorang tokoh politik yang fenomenal. Siapa sosok yang paling berpengaruh terhadap hidup seorang Ahok hingga menjadi seperti ini.

Semua itu coba difilmkan oleh sutradara Putrama Tuta lewat “A Man Called Ahok”. Berkisah di Gantong – Belitung Timur, film bercerita dari Ahok masa kecil yang diperankan oleh putra asli Belitung, Eric Febrian. Ia hidup dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya, Kim Nam (Denny Sumargo), merupakan seorang pengusaha tambang. Sementara itu ibunya yaitu Buniarti Ningsih (Eriska Rein) adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki impian untuk membuka apotek sendiri. Ber-genre dokudrama, “A Man Called Ahok” memperlihatkan bagaimana kedua orang tua Ahok memberikan influence bagi anak-anaknya. Ahok di sana akan belajar mengenai perbuatan baik terhadap sesama. Mulai dari saling memberi dan juga menjunjing tinggi kejujuran.

Berangkat dari sini, tentunya kredit harus dialamatkan kepada Denny Sumargo yang berperan sebagai ayah Ahok versi muda. Tidak pernah terbayangkan, Densu, nama panggilan akrabnya, yang dulu lebih dikenal sebagai pemain basket, bisa memerankan karakter yang tidak mudah untuk diperankan. Kim Nam, atau biasa disebut Tauke, adalah orang yang menjadikan Ahok sebagai orang yang kita kenal sekarang. Maka dari itu, dibutuhkan performa akting yang oke agar penonton paham, “oh ternyata Ahok itu jadi begini karena didikan dia”. Kurang lebih seperti itu.

Kalau dilihat-lihat, awalnya kami mengira tokoh ini akan ditampilkan dalam satu dimensi saja, di mana Kim Nam itu orang yang tegas, keras, tidak pandang bulu. Tapi ternyata, film juga memberikan sisi lain, di mana Kim Nam juga tidak segan membantu orang yang membutuhkan dan sangat idealis. Densu harus bisa menyampaikan nilai-nilai tersebut tidak hanya kepada tokoh Ahok kecil, namun juga kepada penonton. Beruntung, hal ini berhasil kita dapatkan dengan baik lewat penampilan Densu dan juga chemistry yang terjalin antara ia dan Eric.

Apakah hal itu memunculkan kelemahan film yang tidak terlalu menonjolkan karakter Ahok? Tidak juga. Apalagi jika melihat dari tuntutan naratif yang ada. Perlu diingat, apa yang ingin disampaikan oleh film adalah hal-hal yang membentuk kepribadian Ahok. Maka dari itu, jangan heran jika tokoh pertama yang outstanding justru tokoh Kim Nam, yang merupakan ayah dari Ahok, bukan Ahok nya. Eric yang menjadi Ahok versi kecil tidak terlalu ekspresif. Layaknya bocah, kalau sedang tidak bergaul bersama teman-temannya, mereka cenderung memproses apa yang mereka lihat di sekelilingnya. Di film pun jelas, bahwa keluarga merupakan suatu hal yang dibahas. Jadi Ahok kecil melihat dulu apa yang dilakukan oleh ayah dan ibunya.

Meski begitu, bukan berarti juga karakter Ahok kecil jadi kurang menarik. Ada satu bagian, di mana film memberikan sedikit percikan yang menandakan perkembangan karakter Ahok kecil, dan ini memang kita tunggu-tunggu. Di situ kita bisa melihat Ahok mulai berani mengambil keputusan sendiri dan semua ini terjadi karena Ahok mencontoh perilaku ayahnya. Ini menjadi salah satu highlight dalam film karena selain berperan penting dalam aspek narasi, bagian ini juga lah yang menjadi saat-saat di mana film akan mengaduk-aduk emosi penonton.

Kombinasi antara teknik yang menggabungkan plot saat itu dengan adegan-adegan flashback tampil secara rapih. Seperti fast-cut editing style-nya Guy Ritchie, tapi versi lebih lamban. Ini memunculkan variasi sehingga alur film tidak terkesan monoton. Kemudian, akting dari Eric dan Densu memberikan nyawa sehingga feel ayah-anak jadi berasa banget ketika scene ini berakhir.

Meski begitu, ada satu hal yang mengagetkan dari karakter Ahok kecil. Dalam salah satu scene yang diisi oleh petuah bapaknya, Ahok menanyakan sebuah pertanyaan sulit, yang sayangnya terkesan dipaksakan. Pertanyaan ini out of context dan sangat kontras dengan apa yang kita lihat dari sudut pandang Ahok kecil, mulai dari saat kita pertama kali bertemu dengannya. Ketika melihat Ahok kecil menanyakan hal tersebut kepada Kim Nam, rasa kaget langsung muncul karena dari awal film, Ahok ditampilkan sebagai seorang anak yang terinspirasi dan terpengaruh oleh sikap ayahnya. Apa yang ditanyakan Ahok, walaupun hanya sebaris, meninggalkan pertanyaan besar. Dari mana bocah ini bisa kepikiran hal seperti itu? Tahu dari mana dia soal permasalahan kaum minoritas atau marjinal? Kim Nam mendidik Ahok untuk menjadi seorang dengan perilaku yang menurutnya baik. Tidak lebih. Pertanyaan ini cukup membuat film sedikit keluar jalur.

Kemudian muncul lah Daniel Mananta sebagai Ahok versi dewasa. Di sini karakter Ahok pasti sudah sangat berbeda karena dia memiliki pemikiran-pemikiran sendiri, yang mana nantinya akan membuat dinamika hubungan antara dirinya dan Kim Nam menjadi semakin menarik. Anyway, Daniel juga dulu dikenal sebagai orang yang kesannya jauh sekali sama peran yang ia mainkan di “A Man Called Ahok”. Daniel adalah seorang presenter kondang yang memulai karir di dunia hiburan sebagai VJ MTV Indonesia.

Jadi ya, kalo berbicara soal Daniel pasti yang terpikir adalah VJ Daniel yang ceria, kocak, petakilan, dan kadang-kadang gatau malu. Eh sekarang Daniel harus berubah total. Menjadi Pak Ahok yang serius. Ini tentu menjadi tantangan bagi Daniel, dan bikin penonton penasaran sama hasil akhirnya. At the end, kita bisa melihat Daniel yang sudah berusaha maksimal sebagai Ahok. Memang, suara serak-serak basah Daniel tidak dibarengi oleh warna suara yang khas Ahok, tapi perannya secara keseluruhan patut diacungi jempol. Mulai dari gaya bicara, gestur tubuh, dan raut wajah, Daniel tidak lagi terlihat seperti seorang VJ MTV atau pembawa acara dan sejenisnya. Tidak istimewa, tapi itu sudah cukup.

Momen-momen terbaik Daniel sebagai Ahok tentu saja datang ketika ia sedang satu frame bersama Chew Kin Wah, yang menjadi Kim Nam versi tua. Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, Ahok mulai berani untuk mengutarakan pendapatnya. Maka dari itu, Daniel harus bisa mengeluarkan hal tersebut dalam kemasan Bapak Ahok yang keras, dan tidak segan untuk memberi tahu apa yang ia anggap benar. Menyangkut yang satu ini, Daniel mengatakan kepada media bahwa ada satu pertanyaan khusus yang ia lontarkan kepada Bapak Ahok sebelum syuting dimulai. Ia bertanya, apa yang membuat Ahok berani membalas perkataan-perkataan ayahnya karena itu merupakan sesuatu yang biasanya dianggap tabu dalam sebuah keluarga Tionghoa. Ini merupakan pertanyaan yang tepat karena jawaban yang diberikan Bapak Ahok bermanfaat untuk membentuk karakter Ahok di dalam film, terutama di banyak scene dengan intensitas tinggi. Hasilnya pun kelihatan pula di sini.

Tidak lupa, seperti saat menampilkan kisah Ahok kecil, film juga memberikan character development untuk Ahok dewasa. Porsinya pun lebih banyak. Pertama, Ahok bukan manusia yang sempurna. Ia juga melakukan kesalahan. Film menunjukkan saat di mana Ahok harus kehilangan sesuatu yang besar akibat perkataannya yang ceplas-ceplos. Kedua, apakah Ahok mengerti apa yang dikatakan sang ayah dulu? Ini menjadi turning point film, yang menghantarkan “A Man Called Ahok” ke babak resolusi.

Selain itu, penonton juga bisa mengerti, kenapa Ahok akhirnya banting setir dari pekerjaan sebelumnya. Tidak ujug-ujug nyemplung ke dunia politik, ada alasan yang kuat dan jelas di sana, baik yang berasal dari internalnya Ahok maupun eksternal. Semua motif tersebut ditampilkan dengan tujuan yang jelas.

Sayang, terdapat beberapa kekurangsesuaian. “A Man Called Ahok” memiliki rentang tahun yang cukup panjang, yaitu dari tahun 70-an sampai 2000-an. Maka dari itu, akan ada dua aktor yang memerankan satu tokoh yang sama. Di sini, Chew Kin Wah sebagai Kim Nam terlihat berbeda dengan Densu sebagai Kim Nam. Bukan dari tampilan fisiknya, melainkan dari gaya bicara Uncle Chew yang terlihat lebih ringan, sementara Densu terlihat lebih tegas. Kemudian yang berikutnya adalah, perubahan fisik karakter pendukung yang nampaknya tidak terlalu diperhatikan.

Perubahan yang terjadi pada tokoh yang diperankan oleh Ferry Salim dan Donny Damara tidak sebanding dengan perubahan tokoh Kim Nam yang sampai mengganti aktor. Tentu butuh usaha ekstra untuk menciptakan tata rias yang sesuai dengan tuntutan narasi. Apalagi, ada scene yang menempatkan Uncle Chew dan Ferry Salim. Jadi kelihatan sekali jomplangnya.

Mengangkat cerita tentang salah satu tokoh politik paling memorable di Indonesia tidak serta merta membuat muatan politik jadi bahasan utama dari “A Man Called Ahok”. Film ini lebih membahas tentang bagaimana nilai yang ditanamkan keluarga, terutama seorang ayah, bisa membentuk kepribadian anaknya. Meski begitu, tidak bisa disangkal, meski ada jalinan yang kuat antara ayah-anak, dari awal hingga pertengahan film tokoh Kim Nam jauh lebih oustanding dibandingkan dengan tokoh-tokoh lainnya.

Untuk cerita, tuturannya dibuat lugas, alias tidak melebar kemana-mana. Bahkan, saking fokusnya, film sama sekali tidak mengisahkan kehidupan Ahok selama berkuliah di Jakarta, atau ketika bertemu dengan Ibu Veronica Tan. Dua latar waktu berbeda ditampilkan dengan rapih menggunakan teknik editing “dissolve” yang dominan, walaupun nuansanya tidak menggunakan color grading tertentu macam kekuningan, yang biasanya dimanfaatkan oleh film-film berlatar jadul. Beberapa scene berhasil membuat penonton tersentuh, dan banyak pula yang mencerahkan karena diisi oleh beberapa quote. Soundtrack berjudul “Takis” dari Netral menghentak di credit scene. Sebuah percobaan eksperimental yang dilakukan oleh Tuta karena meskipun Netral adalah band yang cocok dengan semangat film, tapi hentakan musiknya jelas berbeda 180 derajat dengan scoring film yang lebih kalem mendayu-dayu.

Film ini akan diputar serentak mulai 8 November di bioskop-bioskop terdekat di kota kamu.

 

Sutradara: Putrama Tuta

Pemain: Daniel Mananta, Denny Sumargo, Chew Kin Wah, Eriska Rein, Sita Nursanti, Donny Damara, Ferry Salim, Eric Febrian, Jill Gladys, Edward Akbar, Samuel Putra Wongso, Yayu Unru, Albert Halim

Duration: 102 Minutes

Score: 7.5/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here