‘A Private War’, Pencari Berita di Garda Depan Peperangan

“War is the quiet bravery of civilians who will endure far more than I ever will, of those asked to fight and those who are just trying to survive. Mothers, fathers, sons and daughters, traumatized families, bereft and inconsolable.” – Marie Colvin.

Ada satu kebiasaan yang hingga saat ini masih bisa kita lihat di bioskop Indonesia ketika kita masih berada di tiga bulan pertama sebuah tahun. Biasanya, di sini film-film yang mendapatkan “Oscar buzz” atau nominasi akan dirilis. Jika dirasa meyakinkan, alias benar-benar mendapatkan nominasi Oscar, maka film tersebut bisa beneran rilis. Jika memenangkan Oscar, apalagi untuk kategori-kategori paling bergengsi seperti “Best Picture”, “Best Director”, “Best Actor” dan “Best Actress”, film tersebut kemungkinan besar dirilis. Kalau sudah rilis dari saat film tersebut belum menang, maka masa tayangnya bisa diperpanjang. Tapi jika sebuah film “Oscar buzz” ternyata gagal mendapatkan nominasi di Oscar, maka bisa dikatakan film tersebut bakal masuk gudang terlebih dahulu. Sayang, film ini merupakan salah satunya.

Meraih nominasi Golden Globe nyatanya tidak cukup bagi “A Private War” untuk segera naik tayang. Hingga tulisan ini dibuat, film tersebut baru rilis midnight show. Padahal jika dilihat, “A Private War” bisa lebih unggul dibandingkan film-film yang sedang ramai, namun ya bukan termasuk selera pop khalayak ramai. Disutradarai oleh Matthew Heineman, “A Private War” bercerita tentang hidup seorang jurnalis teladan dunia yaitu Marie Colvin (Rosamund Pike). Marie adalah “war correspondent” dari media Sunday Times yang terkenal akan dedikasinya dan keberaniannya melewati batas aman dalam perang. Demi memberikan kebenaran pada pembaca, Marie tidak ragu untuk terjun ke garis depan peperangan.

Film dibuka dengan satu prolog berupa establishing shot, yang memperlihatkan bangunan-bangunan yang sudah hancur lebur di Homs – Suriah. Biasanya, kita mengetahui kalau establishing shot ini digunakan untuk memainkan efek spasial dengan emosi dari karakternya, sehingga emosi tersebut bisa tersampaikan kepada penonton yang melihat. Uniknya di sini, kita tidak nampak Marie. Hanya bangunan yang dilatari oleh suara Marie. Saat itu Marie sedang diwawancara dengan pertanyaan yang cukup sulit untuknya, namun memiliki makna. Dari satu bagian ini saja, nantinya akan ada sebuah kejutan kecil. Di mana kita akan merasa kagum terhadap Marie dan juga Rosamund Pike yang memerankan karakternya.

Untuk ceritanya sendiri, “A Private War” mengambil kurun waktu sebelas tahun. Kita akan diperkenalkan kepada Marie bukan dari saat pertama kali dia masuk ke Sunday Times karena itu akan sangat boros durasi. Penonton akan berada di tahun 2001, di mana Marie Colvin saat itu sudah mempunyai reputasi yang bagus sebagai seorang jurnalis perang. Ini bisa diketahui dari dialog yang ada di dalam filmnya. Hanya saja, ada satu peristiwa besar yang belum dia rasakan saat itu. Peristiwa yang akan hidupnya ke depan. Marie diceritakan pergi ke Sri Lanka, bertemu dengan pemimpin Tamil. Selesai mewawancarai, ia ikut para tentara dan setelahnya Marie kembali ke rumah untuk beristirahat. Ada satu hal yang bisa kita ambil, yaitu film sudah menampilkan keinginannya untuk cerita “A Private War”. Karena mereka membahas Marie Colvin maka kehidupan pribadi si jurnalis di luar zona perang juga dibahas. Set-up dari konflik sampingan yang pertama langsung muncul di sini.

Karena berusaha untuk menyeimbangkan antara konten di dalam zona perang dan di luar zona perang, maka film cukup menampilkan intisari dari setiap peperangan besar yang diliput oleh Marie Colvin. Ini terlihat dari bagaimana Marie melakukan investigasi, yang mana prosesnya dibuat lebih simpel saja. Penonton kemudian juga bertemu dengan Paul (Jamie Dornan). Dia adalah fotografer freelance. Pertemuan mereka jelas dan langsung ke intinya. Marie dan Paul berkenalan, kemudian Marie menawarkan pekerjaan dan Paul menerima.

Sama seperti di awal, reputasi Marie Colvin menjadi alasan. Perkenalan yang to the point ini nanti akan menuju sebuah kepada sebuah petualangan mematikan nan gila, yang akan menguatkan chemistry mereka berdua. Yang lebih menarik di sini justru adalah bagaimana film bercerita tentang Marie di balik layar. Bagaimana dia menghadapi pergulatan dalam diri sendiri, bagaimana dia menjalin hubungan dengan atasannya di Sunday Times yang diperankan dengan baik oleh Tom Hollander, bagaimana dia mengurus keluarga dan teman-teman.

Dari sini terlihat bahwa Marie juga manusia. Sesakti-saktinya dia di medan perang, pasti ada kelemahannya juga. Salah satu kelemahan yang ada dibuat seperti mimpi buruk. Film membuat sebuah visualisasi yang mengerikan. Ini awalnya akan membuat kita bertanya-tanya, apa sih maksudnya? Kok tiba-tiba gambar ini nampak dan Marie langsung hilang kontrol. Setelah coba dipahami, ternyata konflik ini tidak main-main. Ini adalah permasalahan utama. Marie struggling dengan cobaan hidup yang masih misterius. Kedalaman ini memunculkan emosi yang disebabkan oleh performa akting dari Rosamund Pike. Ia memberikan range di mana Marie tidak selalu terlihat tegas dan kuat secara harafiah.

Ngomong-ngomong soal penampilan Rosamund Pike, kita tidak habis pikir kenapa ia sampai tidak dinominasikan di kategori aktris terbaik Oscar 2019. Penampilannya tidak hanya dominan, namun juga solid. Chemistry-nya dengan para karakter pendukung juga mengalir nikmat. Tidak peduli seberapa besar bobot si karakter pendukung jika dibandingkan dengan Marie. Baik itu kepada Paul yang merupakan rekan kerjanya di lapangan, editor-nya di Sunday Times, sampai ke karakter minor yang diperankan Stanley Tucci. Rosamund membuat semua hubungan yang ada memiliki jiwa. Beralih membahas fisik, Rosamund terlihat mirip dengn Marie. Bukan tanpa cela, namun tata riasnya pas, seperti halnya Rami Malek sebagai Freddie Mercury. Ada lubang, tapi bukan berarti buruk. Yang bikin kita tidak percaya adalah suaranya. Sumpah, ini mirip banget! Tidak hanya warna suaranya yang sama, aksennya yang unik juga bisa terdengar sesuai dan ini memberikan nilai plus. Sama lah jika dibandingkan antara keduanya.

Di luar akting tapi masih berkutat tentang suara, “A Private War” menonjolkan unsur realismenya dari bahasa bicaranya. Bahasa bicara mengacu kepada jenis bahasa komunikasi verbal yang digunakan sebuah film. Salah satu hal yang mesti diperhatikan menyangkut bahasa bicara ini adalah wilayah. Film ini masih menggunakan bahasa induk dari negara yang bersangkutan. Kalaupun memakai bahasa Inggris, karakter yang mengucapkan memang karakter yang dianggap pentolan, sehingga transisi bahasa bisa mengalir dengan lancar. Dalam tuntutan naratifnya, pemanfaatan bahasa bicara yang semacam ini berguna untuk mendukung efek realisme.

Rekam jejak sutradara juga tidak boleh luput dari perhatian. Matthew Heineman adalah sutradara yang sudah memiliki pengalaman dalam mengolah cerita yang memiliki unsur perang. Dua film yang menjadi resume utamanya adalah “Cartel Land” (2015) dan “City of Ghosts” (2017). Keduanya merupakan film dokumenter, di mana “Cartel Land” mendapatkan nominasi “Best Documentary Feature” di Oscars 2016 sementara itu “City of Ghosts” merupakan referensi yang sangat oke bagi kita sebelum menonton “A Private War” karena sama-sama membahas tentang Suriah dan media. Latar belakang ini membuat Matthew memberikan style tersendiri bagi “A Private War”. Beberapa kali terlihat shot dalam medan perang nampak nyata, layaknya kamera film dokumenter yang sedang bergerak mengikuti pelaku cerita.

Meniliki sedikit ke film dokumenter, memang ada beberapa karakter teknis yang khas, yang bertujuan untuk menciptakan otentitas peristiwa yang direkam. “A Private War” menyajikan itu, salah satunya dengan pergerakan kamera “tracking”. Ini merupakan pergerakan kamera akibat perubahan posisi kamera. Pergerakannya bisa ke arah manapun, sejauh masih menyentuh permukaan tanah. Umumnya, tracking shot menggunakan semacam rel. Nah, karena preferensi sang sutradara, kita akan melihat penerapan yang sedikit berbeda, yang menguatkan kesan dokumenter terhadap unsur sinematik dari shot filmnya.

Tidak hanya itu, Matthew dan tim juga sukses menciptakan kengerian medan tempur dengan baik. Teror mengerikan akibat desingan peluru, ledakan bom, dan serbuan misil yang tiada henti membuat penonton tak habis pikir bagaimana bisa orang akan selamat dan kok mau Marie Colvin ada di tengah situasi chaos begitu. Meski film ini rilis terlambat di Indonesia, dianjurkan untuk tetap menontonnya di bioskop karena di bagian ini, kamu akan puas dibombardir berkat kualitas sound terbaik yang dimiliki sinema. Bentuk kengerian yang lain datang dari para korban. Emosi yang ditimbulkan dari drama yang tersaji di medan perang sungguh berat untuk dilihat. Pedih sekali.

Mulai dari interview Marie dengan para korban perang, apa yang ditangkap oleh kamera Paul, hingga bagian klimaks di mana Marie terhubung dengan Anderson Cooper dari CNN. Semuanya akan menyentuh rasa manusiawi kita, dan bukan tidak mungkin akan membuat kita menangis. Marie adalah orang yang tidak pernah menjadikan dirinya sebagai subjek, dan film memahami itu. Cuman tetap, ada satu bagian yang secara bijak menyiratkan peran dari seorang jurnalis. Mereka bertugas untuk memberikan apa yang merupakan fakta, tapi bukan berarti karena itu mereka harus menjual kesedihan orang lain sebagai konsumsi publik.

Sebuah penghormatan yang bagus untuk seorang “real hero” yang membuat kami sesama jurnalis merasa bangga dan semangat berkarya. Meski tidak terlalu dalam, kita bisa memahami usaha film dalam menceritakan Marie Colvin secara lebih menyeluruh. Konfliknya, dramanya, kengeriannya, dan juga perjuangannya. Di saat media di-julid-kan dengan komentar-komentar bahwa apa yang mereka beritakan itu palsu, maka ini menjadi jawaban untuk menutup mulut mereka yang sebenarnya juga tidak pernah terjun langsung ke medan yang sesungguhnya. Salut untuk Marie Colvin!

 

Director: Matthew Heineman

Starring: Rosamund Pike, Jamie Dornan, Tom Hollander, Stanley Tucci, Faye Marsay, Jeremie Laheurte, Nikki Amuka-Bird

Duration: 110 Minutes

Score: 8.5/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here