“Raise your head and your eyes will follow.” – Tau.

Well, film yang satu ini agak berbeda dari film yang pernah diputar pada layar lebar Indonesia. Kalau dilihat sekilas, Alpha memiliki cerita serupa film 10,000 B.C (2008) yang digarap oleh Rolland Emmerich. Namun saat menit pertama berjalan, terlihat kalau film ini mempunyai substansi yang lebih berbobot dan tidak receh layaknya 10,000 B.C.

Bersetting di salah satu tempat di benua Eropa, 20 ribu tahun yang lalu di akhir jaman es, hiduplah sebuah suku primitif yang tinggal di puncak bukit. Keda (Kodi Smit-McPhee), anak sang ketua suku, Tau (Jóhannes Haukur Jóhannesson) yang telah lulus ujian berburu, gagal melakukan perburuan bison pertamanya bersama kelompok sukunya, dirinya kemudian terjatuh dari tebing dan terluka. Keda dianggap telah mati lalu ditinggalkan kelompoknya. Namun dirinya ternyata masih hidup dan kemudian berusaha bertahan hidup namun diserang sekawanan serigala dan berhasil melukai salah satunya. Serigala itu kemudian ia bawa dan ia rawat hingga sembuh. Keduanya lantas menjalin persahabatan yang erat dan saling bergantung menghadapi berbagai bahaya dan rintangan hingga menemukan jalan pulang sebelum musim dingin yang mematikan tiba.

Alpha yang digarap oleh salah seorang dari Hughes bersaudara, Albert Hughes (From Hell, The Book of Eli) yang kini sendirian menggarap film solonya, memang memiliki premis sangat sederhana, tak bombastis seperti film garapan Emmerich yang memiliki akurasi sejarah dan props yang tak presisi.

Kita hanya disuguhkan kehidupan sebuah suku primitif dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, mencoba bertahan hidup dengan berburu bison dengan mata tombak yang dipahat secara manual dengan batu, juga melawan keganasan badai salju yang kala itu memang teramat dingin. Setelah itu, kamera langsung mengalihkan fokusnya ke Keda dan sang serigala yang keduanya berinteraksi dengan bahasa verbal dan isyarat demi bertahan hidup. Cerita yang pada akhirnya menjadikan serigala sebagai man’s best friend untuk pertama kalinya, seperti kisah klasik yang biasa disuguhkan film-film Disney masa silam.

Untuk urusan visualnya, Alpha menyajikan kualitas gambar yang akan membuat kita terpukau, CGI yang halus dengan pengambilan camera multi angle membuat gambar tidak monoton. Gelapnya malam yang cerah dengan taburan bintang, badai salju ganas, dataran tandus gersang, hingga adegan perburuan bison disajikan sangat dramatik dengan palet warna berbeda-beda untuk setiap momennya. Martin Gschlacht (Goodnight Mommy, Tehran Taboo) sebagai sinematografer mampu menampilkan lanskap berbukit-bukit, hutan gelap dan angker juga sabana dengan skala luas yang menyiratkan kalau pada jaman es, benua Amerika dan Eropa masih terhubung.

Hughes sendiri juga pintar dalam mengakali jauhnya perjalanan dengan perpindahan scene ala fast forward yang smooth dan diakhiri dengan scene berikutnya dengan lembut, alhasil perpindahan tersebut mampu menampilkan banyak lanskap alami yang terlihat indah, bukan sekedar percepatan biasa atau lewat tulisan, seperti banyak film lainnya.

Pada akhirnya, Alpha yang sama sekali tak menjual nama besar dalam jajaran cast-nya, namun mempunyai cerita yang berkualitas dan visualisasi gambar yang indah, akan membuat kita duduk sampai film ini selesai.

Kamu penasaran? Tunggu saja kehadiran Alpha di bioskop-bioskop terdekat di kota kamu mulai 21 September 2018.

 

Director: Albert Hughes

Starring: Kodi Smit-McPhee, Jóhannes Haukur Jóhannesson, Natassia Malthe

Duration: 96 minutes

Score: 8.0/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here