Semakin hari Netflix semakin gencar untuk merilis film-film ber-genre romantic comedy aka “Romcom”. Setelah “Isn’t it Romantic”, Netflix sekarang merilis romcom dengan kemasan yang jauh lebih representatif. Judulnya adalah “Always Be My Maybe”, yang tentu akan mengingatkan kita pada sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Mariah Carey, “Always Be My Baby”. Film ini disutradarai oleh Nahnatchka Khan, dan ini merupakan debut film panjangnya setelah sebelumnya terkenal membidani serial TV “Fresh Off the Boat”. Untuk cast-nya sendiri, kita akan disuguhkan oleh penampilan dynamic duo Ali Wong dan Randall Park. Mereka berperan menjadi dua orang sahabat sejak kecil yang bertemu kembali setelah sekian lama.

“Always Be My Maybe” menceritakan tentang dua orang dengan eksposisi yang begitu berbeda. Sasha Tran (Ali Wong) adalah cewek yang dari kecil tidak diperhatikan oleh kedua orang tuanya karena mereka sangat sibuk bekerja. Sasha pun menjadi bocah yang mandiri, termasuk dalam hal memasak. Kesendiriannya di rumah selalu terobati dengan hadirnya Marcus (Randall Park), yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Keluarga Marcus terlihat jauh lebih hangat dan dekat. Ini terbukti membuat Sasha merasa senang dan nyaman, yang mana dibuktikan oleh salah satu dialog antara ia dan Ibunya Marcus. Sebuah kejadian tak terduga begitu memukul keluarga Marcus, dan tentunya Sasha. Mencoba untuk menghibur Marcus, usaha ini justru menjadi berakhir bencana.

Dari sini “Always Be My Maybe” sudah memiliki nilai plus. Film menceritakan secara tartil tahap persiapan sehingga kita bisa diberikan bagaimana film ingin menampilkan eksposisi dari Sasha dan Marcus. Ini bukan sekedar mereka bertetangga, atau apa yang menjadi bakat dn kesukaan mereka berdu. Lebih dari itu, ini juga menyangkut rasa memiliki antar sesama. Bagaimana Sasha ter-influence dan merasa jadi diri sendiri. Kemudian rasa itu langsung diberi cobaan dan dampak dari cobaan tersebut bagi Sasha dan Marcus akan bisa kamu lihat di tahap-tahap berikutnya.

Hanya saja, tahap persiapan juga sedikit memiliki kelemahan, dan resiko tersebut sudah ada di “Inciting Incident”. Ini merupakan peristiwa, aksi, atau tindakan yang memicu terjadinya perubahan cerita. Inciting Incident ini bisa dibilang “b aja”, tapi tetap menghibur. Sayang, mood langsung berubah dengan cepat setelahnya. Ini cukup aneh karena merupakan kebalikan dari mood yang tercipta dalam inciting incident. Kalau pun wajar, masuknya lebih ke lebay. Turning point pertama tidak senikmat apa yang menjadi penyebabnya.

Tetapi, lewat tahap persiapan yang terbilang solid, konflik dari “Always Be My Maybe” jadi enak untuk diikuti. Hal ini pastinya tidak lepas dari akting kedua bintangnya. Menyenangkan untuk melihat chemistry yang terjalin antara Ali Wong dan Randall Park. Kedua karakter ini tidak hanya dibekali oleh backstory yang oke, namun juga sifat yang bertolak belakang. Formula generik khas romcom tetap ada. Seperti biasa, karakter utama pasti memiliki partner yang suka “memanas-manasi” dirinya terkait masalah percintaan. Sasha memiliki itu dari sahabatnya yang bernama Veronica (Michelle Buteau). Karakter ini ditampilkan dengan menarik. Tidak hanya lewat kelucuannya di beberapa scene namun juga potretnya sebagai seorang individu.

Hal paling menarik justru datang dari karakter pendukung yang hadir bukan dari pakem yang “formulaic” seperti Veronica. Ia adalah ayah dari Marcus, yang diperankan oleh James Saito. Ia merupakan alasan bagi Marcus untuk tetap kekeuh pada keputusannya. Meihat adanya Harry di sini sudah membuat senyum di wajah kita. Karena, James memerankannya dengan baik. Harry selalu memancarkan positive vibes yang dirasakan oleh Sasha ketika ia sedang berada bersama keluarganya Marcus.

Akting yang baik dari aktor senior ini membuat perasaan itu bisa sampai juga ke penonton. Kemudian hubungan ayah-anak di sini juga menarik untuk dilihat. Sesuatu yang segar untuk menyadari bahwa ternyata hubungan ayah dan anak yang dekat bisa juga lho disertakan dalam sebuah film romcom dewasa seperti ini. Harry jelas bukan sekedar tempelan. Dengan porsi screen time yang dimiliki, karakter ini sukses dipergunakan secara efektif dalam mendalangi cerita. Dan itu tidak hanya terjadi sekali dua kali.

Oke oke, kalian pasti ingin membahasnya juga. Keanu Reeves memiliki bagian penting di “Always Be My Maybe”. Di dalam trailer-nya, Keanu nampak akan memberi masalah baru dalam hubungan Sasha dan Marcus. Dan benar saja, ia memberikan sebuah kesenangan medioker. Jika dilihat-lihat, karakter Keanu memiliki plus-minus yang seimbang. Keanu (ya, Keanu memerankan dirinya sendiri) memiliki kedudukan yang terkesan formulaic bagi sebuah film romcom. Ia adalah saingan yang tidak sepadan bagi karakter utama yang biasa-biasa saja. Tapi bagusnya, film betul-betul mengeksplorasi Keanu sehingga ia bisa terlihat berbeda dibanding apa yang kita konsumsi di film-film John Wick. Paras yang keren tetap tidak dihilangkan, dengan jokes sarkas yang ia ciptakan.

Ini menuntun kita pada nilai tambah berikutnya. Di tahap konfrontasi, film bisa memainkan kartu-kartunya sehingga perubahan arah cerita menjadi seusatu yang tidak dipaksakan. Bahkan, terasa menyenangkan. Poin ini juga berperan dalam mengubah sisi negatif dari satu karakter pendukung lain yang sangat tidak believable. Bagian ketika mereka bermain games di apartemen Keanu menjadi kuncinya. Namun lagi-lagi, film langsung kembali menurun sebelum mencapai titik terendah dari karakter Marcus dan Sasha. Unsur komedinya kurang nendang dan terkesan maksa. Sebuah sindiran yang tidak tepat mengenai sasaran. Makin parah lagi ketika tahu bahwa itu adalah awal dari masalah terbesarnya yaitu menyangkut pilihan hidup masing-masing.

Kemudian tidak ada satu scene pun yang menunjukkan kemegahan atau kebesaran, jadi tidak salah jika kita menganggap “Always Be My Maybe” ini memang film yang betul-betul diciptakan untuk Netflix. Atau untuk layar kecil. Film memang memiliki scene dengan furnitur-furnitur yang keren dan ambience yang “high end”, namun spectacle-nya masih seperti serial TV. Sebagai contoh, di dalam film ada adegan red carpet. Seharusnya kita bisa merasakan sensasi khas ketika sedang berada di situasi tersebut. Namum sayang, hal itu sama sekali tidak nampak dari apa yang terlihat di layar. Apalagi ada satu momen di mana shot menggunakan jarak “extreme long shot”. Di situ akan terlihat bahwa film memang tidak ingin membuat sesuatu yang “grande” dari materi yang sebetulnya bisa dibuat dalam skala masif.

Untuk kamu yang menonton film ini agar bisa melihat-lihat makanan, siap-siap juga untuk kecewa. Masalah percintaan dan urusan masing-masing karakter dalam hidup membuat cerita sudah penuh. Tidak ada waktu untuk menampilkan cita rasa makanan dalam konteks yang diinginkan. “Always Be My Maybe” adalah romcom dengan sentuhan makanan, yang mana ikut terbawa gara-gara profesi Sasha. Maka dari itu, stop berpikir macam-macam seolah ini adalah film semacam “Aruna dan Lidahnya”. Sasha digambarkan sudah menjadi celebrity chef sehingga ia akan jauh lebih banyak berada di luar dapur. Mengurusi hal-hal yang sebetulnya tidak berkaitan dengan makanan secara langsung.

Bahkan dalam sebuah scene, film memutarbalikkan itu semua. Lewat materi yang ada di karakter Sasha yang merupakan orang dari kalangan high class, film justru terlihat menyindir bisnis kuliner “tertentu” yang aneh (mostly dari penyajian makanan), mahal, dan ini nih: jauh dari kata kenyang. Bagusnya, film menjadi hangat di akhir justru berkat makanan. Sesuatu yang manis dan sesuai dengan salah satu fungsi makanan, apalagi bagi para pendatang, yaitu membuat kita merasa kembali berada di rumah.

Film romcom yang ringan, charming, dengan tetap memeprtahankan cara-cara klasik untuk membangun dunia ceritanya. Ali Wong dan Randall Park memberikan penampilan yang bagus sehingga membuat sesuatu yang predictable tetap enjoyable, dengan tambahan eksposisi yang oke. Peran keluarga, yang menjadi ciri khas masyarakat Asia, juga tidak luput dari pembahasan. Tidak terpikirkan ending dari film ini begitu heartwarming dan pemanfaatan Keanu Reeves sangat tidak mengecewakan. Tetap ada perintilan yang tidak dijelaskan, namun seiring berjalannya waktu, perintilan tersebut menjadi sesuatu yang “catchy”. Jangan beranjak dulu karena lagu yang diputar saat post credit terdengar keren dan diilhami dari salah satu kejadian lucu di dalam filmnya.

 

Director: Nahnatchka Khan

Starring: Ali Wong, Randall Park, James Saito, Vivian Bang, Keanu Reeves, Michelle Buteau, Karan Soni, Daniel Dae Kim

Duration: 101 Minutes

Score: 7.5/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here