“Everything you see in here is either haunted, cursed, or has been used in some kind of ritualistic practice. Nothing’s a toy. It’s safer for these things to be in here than out there. Sometimes it’s better to keep the genie in the bottle.” – Ed Warren.

Setelah ramai dengan orang-orang yang mengisi arus balik setelah Lebaran, kini giliran makhluk astral yang melakukannya. “Annabelle Comes Home” kembali meneror kita lewat film ketiganya, yang mana kali ini Annabelle sudah berada di lingkungan keluarga Warren. Bagi sebuah boneka, memiliki tiga film jelas merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa. Ini menandakan bahwa brand Annabelle sendiri sudah sangat besar, kuat, dan begitu populer di kalangan masyarakat. Selain itu, Annabelle, yang di-plot sebagai wadah dari kekuatan jahat yang dahsyat, memang harus memiliki film yang betul-betul menunjukkan hal tersebut. Maka dari itu, diciptakanlah film ini, dengan sutradara Gary Dauberman yang sebelumnya lebih sering menjadi penulis skenario.

“Annabelle Comes Home” tepat dimulai dari awal film “The Conjuring”. Kamu yang sudah nonton pasti ingat bahwa sebelum The Warrens masuk ke kasus sebenarnya, ada sebuah prolog yang menceritakan boneka Annabelle, yang meneror para mahasiswi di apartemen mereka. Nah, film ini berangkat dari sana, sebelum memulai sebuah cerita baru yang nampak seperti “Night at the Museum” versi horor. Sesampainya di rumah, Ed dan Lorraine Warren langsung menyimpan boneka Annabelle di ruangan artefak mereka. Sadar kalau hanya ditempatkan pada sebuah kursi saja belum cukup, mereka kemudian menaruh Annabelle di dalam sebuah lemari kaca yang suci kemudian diberkati doa-doa oleh pastor.

Keadaan mulai berbalik ketika Ed dan Lorraine pergi meninggalkan anak mereka, Judy (McKenna Grace). Judy, yang diceritakan tinggal di rumah bersama pengasuhnya yaitu Mary Ellen (Madison Iseman) mulai mendapatkan gangguan-gangguan mistis yang aneh. Ini gara-gara ulah dari teman Mary Ellen yang bernama Daniela (Katie Sarife), yang menyusup diam-diam ke ruang artefak Warren. Tanpa ia ketahui sebelumnya, Daniela justru “membangunkan” roh jahat yang ada di sana, terutama Annabelle, yang menjadi suar bagi roh-roh jahat lainnya untuk meneror mereka semua.

Film ini adalah sebuah film yang memang tidak semenakutkan “Annabelle Creation”. Tapi, “Annabelle Comes Home” tetap memberikan senam jantung yang asik dan tidak malu untuk menonjolkan ciri khasnya, yaitu rasa “Night at the Museum” versi horor. Hal tersebut kemudian dikombinasikan dengan sentuhan lembut dari Gary Dauberman, yang memasukkan unsur keluarga sebagai faktor dari karakter-karakter utamanya. Poin ini sangat terasa bagi karakter Daniela.

Sebagai orang yang menyebabkan “inciting incident”, penonton pasti akan penasaran dengan motivasi Daniela. Bersyukur, apa yang ditampilkan bukan sesuatu yang receh. Daniela tidak semata-mata menyelinap hanya karena iseng. Popularitas The Warrens yang saat itu sedang naik membuat Daniela terpikir untuk melakukan sesuatu, yang mungkin bisa menebus kesalahannya di masa lalu. That’s not stupid at all.

Sementara, untuk Mary Ellen dan Judy, unsur keluarga juga menjadi hal penting. Sayang, ketika hal ini coba disambungkan kepada Mary Ellen, jatuhnya agak maksa. Oke lah, kita jadi sedikit tertarik karena Mary Ellen ternyata memiliki issue. Tapi story arc-nya kurang mendukung. Mary lebih ditunjukkan sebagai orang yang sudah “move-on”, dan latar belakang yang menjadi awal dari arc ini disertakan secara terburu-buru. Berbeda dengan Daniela yang memiliki build-up lebih baik dari bagian satu ke bagian lain. Sementara itu untuk Judy, ia lebih terpengaruh karena orang tuanya. Menjadi anak dari The Warrens ternyata memiliki resiko.

Ini lalu ditampilkan secara gamblang sebagai eksposisi karakter Judy, di mana ia merasa terkucilkan di sekolah. Sesuatu yang sebetulnya biasa, namun tetap berhasil membuat kita berinvestasi pada karakternya karena kasihan.  Satu hal lagi yang membuat kita “invest” adalah karunia yang dimiliki oleh anak ini. Memang dua hal itu adalah hal yang tidak “wow”. Tapi seenggaknya, Gary tidak bersikap “denial” terhadap apa yang memang seharusnya bisa diolah secara jelas.

Kemudian mengenai ragam hantunya. Ini sangat menyenangkan karena kita bisa melihat sekaligus sedikit memahami hantu-hantu apa saja sih yang ada di “The Conjuring Universe”. Ya, memang mereka semua tidak ada yang se-monumental Valak sih. Tapi setidaknya itu cukup untuk membuat apa yang seharusnya dimunculkan memang betul-betul coba dimunculkan dengan baik. Beberapa hantu yang dimunculkan di sini pun bentuknya macam-macam, dan cara menerornya pun macam-macam. Di beberapa scene, Gary juga menyempatkan untuk menceritakan background dari hantu-hantu tersebut.

Diantara hantu-hantu sampingan tersebut, Ferryman dan The Bride menjadi yang paling dominan. Mereka memiliki screen time yang banyak, dengan menyertakan scene-scene teror, tentunya. Tidak hanya itu, dua hantu ini juga memiliki backstory yang lumayan. Ferryman bahkan berkaitan secara langsung dengan motivasi dari salah satu karkter penting di dalam film. Berbicara mengenai production value, artefak Samurai yang seukuran badan manusia atau Saito paling mencuri perhatian. Ia menjadi pusat dari ruangan artefak dengan bentuk dan keotentikannya. Dalam salah satu scene, Samurai ini “menceritakan” kisahnya dengan memanfaatkan “Internal Diagetic Sound”. Ini merupakan suara yang hanya mampu ditangkap oleh indera serta pikiran pelaku cerita, tapi tidak dengan pelaku cerita lainnya.

Merembet ke aspek sinematik lainnya, penampakan Werewolf (atau Anjing Neraka?) kurang berhasil dalam memuaskan penonton. Makhluk ini tidak ditampilkan secara jelas. Kurang memuaskan. Yang membuatnya terasa menakutkan hanya dari gonggongannya yang nyaring. Secara fisik anjing ini justru membuat intensitas horor “Annabelle Comes Home” menurun. Kengerian makhluk ini puns sempat dipertanyakan karena di satu scene anjng ini bisa diatasi dengan mudah.

Cara seperti ini sepertinya “gak Conjuring banget”, melainkan lebih seperti “Goosebumps”. Satu lagi yang patut dibahas adalah sebuah artefak berupa TV tabung. Tidak ada pengenalan yang diberikan kepada penonton. Kita hanya disuguhi apa yang bisa diperbuat oleh TV ini. Terakhir, ada mainan monyet yang lucu. Kehadirannya di film ini justru menjadi scene stealer karena bentuk dan bagaimana film memanfaatkan karakteristiknya secara tepat.

Mengenai performa Annabelle sendiri, boneka ini pastinya akan ditunjukkan lebih dari sekedar wadah. Balik lagi, ia adalah suar bagi roh jahat yang lain. Maka dari itu, film pasti akan turut menyertakan “evil spirit” yang menunggangi atau bersama dengan Annabelle. Tantangannya di sini adalah, dengan cara apa film menunjukkan hal tersebut? Well, di “Annabelle Comes Home”, Gary secara jelas menunjukkannya dan bagusnya salah satu dari kesempatan tersebut ditampilkan begitu artistik.

Gary memanfaatkan salah satu properti di kamar Judy sebagai alat untuk memunculkan tahap-tahap penampakan. Dari yang awalnya hanya boneka, kemudian semakin lama semakin berubah bentuk seiring dengan pergantian warna yang ditimbulkan oleh properti yang bersangkutan. Di sini kita bisa paham kalau Gary paham bagaimana membangun kesan horor, tidak hanya sekedar menakuti dengan cara murahan.

Untuk penampakan-penampakan lainnya, Gary turut memunculkan wujud iblis sesungguhnya. Wujudnya tidak seburuk anjing neraka, dengan wajah yang dibuat menyeramkan. Last but not least, yang perlu diperhatikan juga adalah wujud hantu kepala sekolah. Hantu ini sudah muncul di tahap persiapan. Dengan dukungan dari pergerakan pemain dan juga pergerakan kamera di scene yang bersangkutan, hantu kepala sekolah ini menimbulkan sensasi kaget yang berbeda, seperti perannya di dalam tahap konfrontasi nantinya.

Lewat keragaman dan macam-macam hantunya, “Annabelle Comes Home” menjadi tontonan horor yang menyenangkan. Jangan terlalu berharap pada ceritanya karena selain tidak ada scene yang menunjukkan perubahan plot alias lempeng ke depan, film juga terbilang cepat dalam menyelesaikan masalah. Hal ini berhubungan dengan durasi waktu dalam aspek naratif, di mana sineas mampu memanipulasi waktu cerita film. Durasi cerita dapat memiliki rentang waktu yang berbeda-beda dan di sini akan terlihat jelas mana yang dipilih.

Tapi, meski ceritanya tergolong singkat, dalam durasi itu “Annabelle Comes Home” tetap memancarkan kehangatan lewat konflik yang dibawa oleh para karakter penting. Tipikal horor klasik yang lebih oke dibanding film sebelumnya dari “The Conjuring Universe”, yang lebih mengandalkan jumpscares tapi dengan cerita yang sebetulnya cukup mengecewakan.

 

Director: Gary Dauberman

Starring: McKenna Grace, Madison Iseman, Katie Sarife, Michael Cimino, Patrick Wilson, Vera Farmiga

Duration: 106 Minutes

Score: 7.5/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here