Keputusan pihak Paramount membatalkan perilisan Annihilation ke layar lebar dan menjualnya ke Netflix patut disayangkan memang. Pemicunya, pihak kreator khawatir film aksi fiksi ilmiah yang dibintangi Natalie Portman ini tidak akan mendulang hasil yang menguntungkan disebabkan materinya yang dalam hemat mereka terlalu pintar untuk dimengerti penonton awam.

Film garapan Alex Garland (Ex-Machina) ini sebelumnya direncanakan akan rilis di bioskop internasional, termasuk Indonesia pada 23 Februari lalu. Film ini menjadi salah satu aksi fiksi-sains paling ditunggu-tunggu tahun ini, apalagi materi trailernya terbukti sudah mengundang rasa penasaran yang besar. Ironisnya, Paramount sebelumnya pernah merilis film dengan tema serupa, Arrival tahun 2016 lalu. Arrival menjadi salah satu hits tahun itu bagi Paramount. Pendapatan kasarnya mencapai $203 juta (Rp2.9 triliun) dan berjaya di mata kritikus dengan berhasil menyabet delapan nominasi Oscar, termasuk Best Picture dan Best Director.

Namun apa mau dikata, keputusan sudah diambil pihak studio yang dikarenakan hasil buruk test screening Annihilation beberapa waktu lalu menyebabkan kini film tersebut memiliki platform baru yakni bakal tayang perdana di Netflix pada tanggal 12 Maret nanti. Namun, sebelum nanti bisa membuktikan sendiri apakah keputusan yang diambil Paramount itu tepat atau tidak, berikut beberapa faktor penting mengenai Annihilation.

Plot Utama

Seorang ilmuwati yang pernah memiliki latar belakang militer bersama beberapa rekan ilmuwannya melakukan misi menjelajahi ‘The Shimmer’,  kawasan karantina alam liar misterius penuh lansekap dan makhluk-makhluk ganjil yang ada di sebuah taman nasional, untuk mengetahui apa yang dialami suaminya, satu-satunya penyintas dari misi sama yang dilakukan satu tahun sebelumnya.

Film Fiksi Ilmiah yang Feminis

Sesuai dengan tema dan semangat feminisme yang tengah bergaung kencang di Hollywood, karakter utamanya yang kesemuanya wanita menjadikan film ini memiliki daya tarik tersendiri khususnya bagi penonton kaum hawa yang ingin melihat film berisikan karakter-karakter wanita yang tangguh dan cerdas, bukan hanya sekadar objek pelengkap dan pemanis belaka.

Adaptasi Novel Bergenre ‘New Weird Fiction’

Annihilation merupakan judul novel pertama dari tiga novel seri yang dikenal sebagai Southern Reach Trilogy karya Jeff VenderMeer. Bergenre ‘new weird fiction’, Annihilation adalah karya paling populer sang novelis yang dikenal sebagai salah satu sosok terdepan di genre yang di dalamnya mengedepankan setting masa kini dan fiksi ilmiah ringan sebagai awal mula petualangan aneh misterius yang menjurus dan terkadang berubah ke alam fantasi seperti mimpi. Genre ini kerap mencampuradukkan unsur-unsur fiksi ilmiah, horor, dan fantasi menjadikan kisahnya unik dan menarik diikuti meski membutuhkan pemahaman lebih untuk dapat menikmatinya.

 Tidak Notabene Sama Dengan Versi Novelnya

Menyadari bahwa adaptasi loyal tidak selalu berhasil, Alex Garland melakukan pendekatan yang tidak biasa, dengan sengaja tampil beda dengan apa yang dituangkan di novelnya. Tidak hanya karakteristik para tokohnya, perubahan signifikan di sektor plot major dan endingnya dihadirkan Garland yang menjadikan itu semua kejutan tersendiri bagi yang sudah membaca kisah bukunya.

 Nama-Nama Besar

Selain dibintangi oleh Natalie Portman, Jennifer Jason Leigh, dan Tessa Thompson (Valkyrie di Thor: Ragnarok) film ini merupakan hasil penyutradaraan terbaru Alex Garland yang sebelumnya menuai banyak pujian lewat debut penyutradaraannya, Ex-Machina. Bukan hal aneh jika Garland di sini kembali menggamit Oscar Isaac, yang namanya kemudian meroket tajam dan menjadi salah satu bintang Star Wars terbaru serta tokoh antagonis Apocalypse usai bermain di Ex Machina.

Pembuktian Alex Garland

Meski notabene ini adalah film keduanya, Garland tidak bisa dipandang sebelah mata. Melaui Ex-Machina dirinya secara mantap mampu menyuguhkan kisah fiksi ilmiah yang minimalis namun mampu menuai hasil maksimal khususnya dalam hal kualitas. Sekarang melalui film keduanya ini di sinilah tantangan baru bagi sang sineas apakah ia benar-benar talenta baru di ranah penyutradaraan fiksi ilmiah modern atau hanya seorang one hit wonder saja. 

Film ini Memiliki Porsi Adegan Seram yang Membuat Bergidik

Bagi yang ingin menyaksikannya perlu diinformasikan bahwa Annihilation bukan film yang cocok disaksikan orang yang berhati lemah. Filmnya sendiri mendapat rating R. Karena, Annihilation memang bukan film horor mutlak seperti IT maupun mengandalkan adegan-adegan mengejutkan untuk menakuti penontonnya, namun film ini membangun kengerian secara psikologis melalui berbagai elemen mengerikan seiring para karakternya makin dalam menjelajahi Area X. Ada adegan penyergapan sesosok makhluk terhadap salah satu karakter yang menjurus gore, adegan beberapa tentara yang saling menggorok satu sama lain, ada juga adegan manusia yang berusaha mengamputasi dirinya sendiri dalam keadaan tubuh tengah dilalap si jago merah.

Annihilation Mendapatkan Apresiasi Positif dari Kalangan Kritikus

Dari segi potensi raihan finansialnya, boleh saja tingkat kerumitan film ini membuat pihak studio ketar-ketir dengan peluang kemampuannya bersaing di tangga box office merupakan hal wajar, namun dari segi kualitas seharusnya mereka tidak perlu was was. Karena buktinya, sejauh ini apresiasi dari kritikus terhadap Annihilation sangatlah positif, di mana konsensus lebih dari 120 reviewer memberikan pujian pada film kedua garapan Alex Garland ini, terutama dalam keberhasilannya menempuh resiko lewat tema tidak lazim yang menantang, hasil penulisan dan arahan sang sineas, serta performa para pemainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here