‘App War’, Persaingan Sengit Founder Start-Up dan Kisah Romansanya

252

Zaman semakin maju. Perkembangan teknologi kian pesat. Semua jadi serba mudah. Mau kemana dan ngapain aja, bisa dilakukan dengan sentuhan jari. Semakin canggihnya teknologi membuat dunia memasuki era baru, yaitu era industri 4.0, yang mana aktivitas manusia sudah sangat terbantu dengan hadirnya mesin atau device berteknologi canggih. Dalam kehidupan sosial, hal ini diprakarsai oleh semakin menjamurnya aplikasi smartphone dengan segala daya gunanya. Kemudahan yang ditawarkan oleh aplikasi smartphone tidak hanya meringankan pengguna, namun juga menambah lapangan kerja. Banyak perusahaan rintisan muncul sebagai penyedia aplikasi online. Mereka menawarkan segala jenis jasa dan uniknya, perusahaan-perusahaan rintisan yang macam ini ternyata digemari oleh masyarakat generasi millenials.  

Film ini kemudian menangkap fenomena tersebut, lalu mengolahnya menjadi sebuah film berlatar persaingan bisnis zaman now yang ringan dan tentunya menghibur. Judulnya adalah ‘App War’. Bisa ditebak, dari judulnya saja film ini bercerita tentang persaingan sengit antara perusahaan rintisan (start-up). Dalam kasus ini, perusahaan yang bersaing adalah Inviter dan Amjoin. Keduanya memiliki kegunaan yang sama dari aplikasi mereka, yaitu menjadi fasilitas yang dapat mempertemukan kita dengan orang lain yang memiliki kesukaan yang sama dengan kita. Hanya saja, semua jadi lebih menarik karena ternyata baik founder Inviter maupun founder Amjoin ternyata sama-sama kenal. Secara kebetulan mereka bertemu, lalu ngobrol bersama. Bertahun-tahun setelah pertemuan tersebut, mereka bertemu kembali dengan kondisi yang sudah sangat berbeda.

Berbicara mengenai ‘App War’, maka tidak lepas dari dua hal. Pertama, bagaimana film akan menggali lika-liku kehidupan generasi muda yang memutuskan untuk bekerja mendirikan perusahaan rintisan (start-up). Sebagai bisnis baru yang sedang booming dan diminati banyak orang, mendirikan sebuah start-up tentu memiliki tantangannya tersendiri. Resikonya tentu juga besar. Film diharapkan mampu menampilkan hal-hal semacam itu agar penonton dapat belajar, bahkan kalau bisa bagi penonton yang bekerja di perusahaan start-up akan merasa relate dengan ceritanya. Yang kedua adalah kisah romansa yang ada. Bukan tidak mungkin, dua karakter utama di ‘App War’ akan terlibat cinta. Uniknya, rasa cinta ini dibumbui oleh aroma persaingan, dan hebatnya, App War berani untuk meramu itu dengan cara yang nyeleneh sehingga ke depannya memunculkan gelak tawa dan juga rasa penasaran. Namun, selain itu adanya romansa di sini bisa saja membuat film jadi kehilangan arah. Patut dilihat, ke mana film akan menempatkan dirinya nanti.

Untuk poin pertama, App War tentu memberikan beberapa poin yang bagus mengenai suka-duka bekerja di perusahaan start-up. Meski terlihat tidak kaku, kemudian menawarkan kebebasan dalam berkreasi, start-up memiliki perjuangan yang berat dalam hal mendapatkan dana. Mereka harus saling bersaing dalam waktu singkat agar bisa dilirik oleh investor. Film memasukkan bahasan itu sebagai layer yang dibuat berjalan beriringan dengan kisah lainnya yaitu mengenai romansa karakter utama. Jadi bisa dibilang, ‘App War’ memiliki fondasi cerita yang cukup untuk membuat dirinya seimbang. Kemudian, ada juga poin mengenai kepercayaan. Poin ini sangat penting bagi mereka yang sedang membangun start-up karena seringkali orang-orang yang menjadi founder adalah mereka yang sudah berteman sejak lama. Angle ini kemudian coba dimainkan dan saat memasuki babak resolusi, value mengenai kepercayaan ini berhasil tersampaikan dengan baik. Tidak hanya dari segi edukasi, namun juga dari segi hiburan karena value kepercayaan muncul sebagai aftermath dari poin pertama yang kami tulis sebelumnya, yaitu mengenai lika-liku persaingan perusahaan start-up.

Secara tak terduga, ‘App War’ juga mampu berbicara lebih luas, walaupun porsinya tidak banyak. Tidak hanya mengenai start-up, hal ini juga nyambung dengan apa yang dirasakan oleh generasi millenials pada umumnya. Mendirikan perusahaan start-up memang menjadi pilihan terbaru yang tidak hanya disukai, namun juga terlihat menjanjikan. Tapi di lain sisi, start-up masih dianggap sesuatu yang asing, apalagi bagi para baby boomers. Merintis start-up dianggap memiliki resiko yang tinggi dan juga belum bisa menjamin hidup ke depannya. Tapi, generasi millenials yang terbuka akan hal-hal baru dan bersifat lebih independen ingin mencoba dan membuktikan bahwa mereka bisa berdiri di atas kaki sendiri. Jika melihat interiornya, permasalahan ini dapat dimengerti, yaitu masuk ke poin lika-liku start-up. Tapi jika melihat eksteriornya, ini juga sebetulnya memcerminkan keresahan generasi millenials. Kita merasa kita sudah mandiri, memiliki pilihan kerja sendiri sesuai dengan keinginan kita. Sesuai dengan passion kita. Namun seringkali keputusan-keputusan tersebut diremehkan sehingga kita merasa kurang mendapatkan sokongan.    

Beranjak ke seputar romansa dalam cerita, ini sudah jagonya film Thailand. Bagaimana mereka meramu kisah cinta yang manis, memiliki makna, tidak menye-menye, dan nyambung dengan konfliknya patut diacungi jempol. Bomb (Nat Kitcharit) suatu hari bertemu dengan June (Warisara Yu). Mereka kemudian mengobrol dan obrolan ini secara tak sengaja membuat Bomb terpikir akan sebuah ide untuk menciptakan aplikasi yang bisa mempertemukan orang-orang dengan ketertarikan yang sama. Setelah itu, terciptalah Inviter. Beberapa waktu berjalan, Bomb kembali bertemu dengan June yang pada akhirnya berujung sebuah bencana bagi June.

Dari sini intensitas perang aplikasi ini mulai meninggi. Bisa dibilang film mengantarkan kita pada turning point pertama secara smooth. Pertanyaan tentang bagaimana caranya konflik bermula berhasil dijawab. Inciting incident, atau istilah untuk menyebut tindakan yang memicu terjadinya turning point pertama, tampil jelas dan bisa membuat penonton mengangguk-anggukan kepala. Melihat ke unsur percintaannya, direction macam ini justru membuat relationship antara Bomb dan June menjadi unik, dan semakin menarik untuk diikuti. Porsi June sebagai karakter utama wanita yang di awal tidak terlalu terlihat mulai semakin unjuk gigi.

Untuk membuat penghubung antara kisah Bomb-June dengan Inviter vs Amjoin, film lalu memanfaatkan beberapa tools secara baik di bagian konfrontasi. Pertama, membuat persamaan tujuan antara Inviter dengan Amjoin. Hal ini memunculkan kejelasan motif dan juga kelucuan yang timbul dari keputusan yang diambil oleh masing-masing perusahaan, agar mereka bisa memenangkan persaingan. Kedua, para pemeran pendukung. Terlihat seluruh karakter pendukung ditempatkan sesuai dengan perannya masing-masing, yang didasarkan pada tuntutan naratif. Sayang, beberapa bagian di dalam tahap konfrontasi ini memiliki kelemahan mulai dari awal hingga menjelang tahap resolusi.

Ada kejanggalan yang ditemui ketika perseteruan antara Inviter dan Amjoin mulai memanas. Biasanya konflik akan terjadi di masa-masa seperti ini, yang mana film akan mempertunjukkan clash antara pihak A dan pihak B. ‘App War’ menyajikan hal tersebut, namun clash yang ada jatuhnya terlalu dibuat-buat. Lucunya dapat, namun tidak dengan kekuatan kausalitasnya. Dalam sebuah naratif, rangkaian suatu peristiwa yang berhubungan satu sama lain itu terikat oleh logika sebab-akibat. Segala hal yang terjadi pasti disebabkan oleh sesuatu. Di sini letak kelemahannya. Motif dari salah satu tim dalam melakukan tindakan yang nanti bisa kamu lihat patut dipertanyakan. Penyebabnya kurang kuat karena jika dilihat kembali ke narasinya, semua sudah tertata. Aneh saja jika sesuatu yang sudah tertata, coba diacak-acak lagi. Jika bagian ini sebetulnya ingin kembali menampilkan kelicikan layaknya bagian cerita yang lain, momen yang diambil kurang tepat.

Kemudian menjelang tahap resolusi, tepatnya di midpoint. Tidak seperti inciting incident yang digarap smooth, midpoint dari ‘App War’ sangat mentah. Penonton bisa melihat seberapa mentahnya adegan ini lewat tampilan mise-en-scene nya. Di sana tampak salah satu karakter utama sedang berada di dalam ruangannya. Ia terduduk lesu, dan gestur ini merupakan indikasi awal dari midpoint yaitu saat di mana cerita kembali bergerak ke arah yang berbeda akibat terjadinya sesuatu atau munculnya informasi baru. Benar saja, apa yang terjadi setelahnya adalah tempo film yang meningkat hingga klimaks. Sayangnya, film meninggalkan pertanyaan besar mengenai kesesuaian antara aspek tampilan di depan kamera dengan tuntutan naratif di saat yang sama. Ada satu item penting yang menjadi kunci penggerak cerita di bagian yang satu ini, yang mana kondisinya seakan tidak terdeteksi dari awal.

Masuk ke bagian yang paling krusial, yaitu statement dari film. Apakah ‘App War’ akan tetap stay dengan apa yang sudah mereka jalani dari awal, yaitu setia dengan koridor start-up nya, atau tidak, alias lebih menyorot ke kisah cinta. Hal ini penting disorot karena akan berbuntut pada ending filmnya. Beruntung, yang terjadi cukup diluar dugaan. Memang sih klise, namun penyajiannya berbeda. ‘App War’ tidak berusaha sok bijak. Tapi kurang tepat juga jika dibilang terlalu melenceng. Film diakhiri dengan sebuah pesan tersirat yang ngena banget buat kita yang sudah menjadi angkatan kerja. Pesan terakhir yang cocok, di mana sudah seharusnya kita memisahkan masalah personal dengan masalah pekerjaan. Dua hal itu adalah hal yang berbeda, yang sebaiknya tidak perlu disatukan.

Percampuran antara unsur romansa dan komedi, kemudian layer-layer cerita yang memberikan gambaran mengenai tantangan dalam mendirikan perusahaan start-up, membuat ‘App War’ menjadi film yang asik. Tidak hanya untuk hiburan, namun juga pembelajaran. Konfliknya tidak pasaran, namun ramuan di tahap konfrontasi plot-nya memiliki beberapa kekurangan. Dalam beberapa kesempatan visual film tampil sangat gender-centric, di mana apapun yang berhubungan dengan Inviter dan Amjoin akan memiliki colour theme masing-masing, yang mana mencerminkan laki-laki dan perempuan. Yang satu dominan warna-warna yang erat dengan persona kalem, stabil, terpercaya dan cerdas, sedangkan yang satunya lagi lebih berwarna cerah sehingga menimbulkan kesan cheerful dan tidak membosankan. Jadi, apa aplikasi pilihan kalian?

‘App War’ sudah bisa kamu saksikan di bioskop-bioskop terdekat di Indonesia

Director: Yanyong Kuruaungkoul

Starring: Nat Kitcharit, Warisara Yu, Sirat Intarachote, Apiwich Reardon, Ticha Wongthipkanont, Thanapop Yoovijit, Patchanan Jiajirachote

Duration: 130 Minutes

Score: 7.8/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here