Semakin berkembangnya industri perfilman Indonesia dari tahun ke tahun melahirkan sub-genre baru. Sub-genre ini mulai muncul dan mengalami persilangan dengan genre populer seperti aksi, drama, komedi dan sebagainya. Nah, salah satu sub-genre yang kini mulai rajin digarap sineas lokal adalah sub-genre kuliner. Film-film seperti ini tidak hanya mengandalkan jalan cerita dan akting dari para pemainnya saja, namun juga tampilan visual dari makanan-makanan yang menggugah selera. Hal ini pula yang coba ditampilkan oleh sutradara Edwin di film ‘Aruna & Lidahnya’. Di sini ia membawa penonton bertualang bersama Aruna (Dian Sastrowardoyo) ke empat kota sekaligus: Surabaya, Pamekasan, Pontianak, dan Singkawang. Di sana Aruna diceritakan melakukan sebuah investigasi terkait wabah flu burung sambil berwisata kuliner bersama teman-temannya.

Berangkat dari unsur naratif, ‘Aruna & Lidahnya’ tidak sefrontal ‘Posesif’. Pola waktunya tetap non-linier, tapi pengurutannya tidak terlalu ganas. Meski begitu, penonton harus tetap bersiap diri karena film diawali oleh adegan intens di mana karakter Farish (Oka Antara) terlihat sedang mengebut, padahal di situ ada Aruna, Bono (Nicholas Saputra) dan Nad (Hannah Al Rashid). Klimaks sequence adalah ketika mobil yang mereka kendarai hampir menabrak bebek-bebek yang sedang menyebrang, kemudian terlihat Aruna keluar dari mobil sambil memasang wajah cemberut. Setelah itu, film di-drag back ke belakang hingga insiden hampir nabrak bebek ini terjadi. Kembali ke topik naratif, terlihat jelas bahwa film menggunakan pola non-linier. Kalau coba diurutkan ya kurang lebih urutannya semacam D-A-B-C-E. Penempatan ini seakan menjadi statement bahwa “Aruna & Lidahnya” lebih dari sekedar film kulineran. Ada sesuatu yang ingin digali lebih dalam.

Film ini ternyata menyoroti problematika yang sederhana dan tidak menutup kemungkinan terjadi juga dalam kehidupan kita. Beberapa poin yang disorot adalah mengenai kehidupan pekerjaan, persahabatan dan percintaan. Aruna merupakan seorang pegawai kantoran. Ia awalnya hanya berencana makan-makan bersama temannya yang seorang chef bernama Bono. Apes, Aruna malah ditugaskan untuk melakukan investigasi keluar kota. Tidak ingin menyerah, Aruna bersama Bono mengakali perintah kantor. Caranya adalah, setelah Aruna menyelesaikan kerjaan, ia pergi makan-makan. Biar gak bingung makannya di mana, Bono membuatkan list tempat makan dan jananan enak karena pengetahuannya tentang kuliner sangat bagus. Cerita jadi semakin menarik ketika muncul dua karakter lagi yaitu Farish dan Nad. Mulai dari sana, perjalanan Aruna tidak lagi sama dan cukup melenceng dari yang diinginkan sebelumnya.

Perhatian lebih patut diberikan kepada bagaimana cara film memadupadankan dunia pekerjaan dan dunia luar pekerjaan Aruna sehingga keduanya saling terkait. Cerita dari ‘Aruna & Lidahnya’ semakin lama semakin dalam dan itu tidak hanya dipengaruhi oleh aspek emosional para karakternya saja. Terdapat dua misteri yang berkaitan dengan pekerjaan Aruna. Kedua misteri ini kemudian diolah menjadi nilai plus karena di satu sisi membuat tugas kantornya Aruna ternyata tidak semudah yang diduga sebelumnya, dan di sisi lain juga berpengaruh terhadap batasan informasi cerita antara Aruna dan seorang teman kantornya dulu.

Pengarahan ini jelas menunjukkan kecermatan Edwin bersama penulis naskah Titien Wattimena dalam mengolah cerita, terutama dari sudut pandang Aruna. Mereka bisa memilih dan menempatkan batasan informasi yang tepat dan masih sesuai konteks. Tapi sedikit disayangkan, poin ini masih memiliki kelemahan yaitu adanya lubang motivasi yang membuat logika kausalitas dari satu karakter tertentu menjadi dipertanyakan. Unsur kejutannya tetap oke, namun ini menimbulkan tanda tanya yang besar karena apa yang dulu diperbuat oleh karakter ini cukup berefek kepada Aruna. Sebuah risiko yang mau tidak mau harus ditanggung karena di sini terlihat sekali bahwa Edwin menggunakan penceritaan terbatas (restricted narration) di mana penonton hanya mengetahui dan merasakan peristiwa yang dialami oleh tokoh Aruna saja.

Kemudian hal lain yang oke adalah bagaimana film dapat menyampaikan kritik sosial dengan baik. Lagi-lagi ini bisa kita ambil dari sudut pandang Aruna di mana kali ini lebih mengarah kepada kaitannya dengan pekerjaan. Aruna bekerja sebagai epidemologist di One World yang berada di bawah naungan lembaga pusat. Segala perintah dari pusat kemudian dilaksanakan One World dengan cara mengirim orang ke lapangan. Dari sini kita bisa melihat sistem hierarki yang mana berpotensi menghasilkan sesuatu yang aneh-aneh. Hal ini kemudian coba disokong lewat penggambaran karakter Farish yang pekerja keras, tekun dan cenderung polos. Farish dimanfaatkan oleh cerita film sehingga di satu titik tertentu timbul lah apa yang selama ini ditakuti. Penonton yang sudah ditempatkan dalam point of view Aruna, diajak untuk menyelami investigasi misterius ini. Hasilnya, kita bisa ikutan menelusuri dan menduga-duga. Well, berbeda dengan apa yang menjadi kelemahan di paragraf sebelumnya, “restricted narration” bekerja dengan baik untuk yang satu ini.

Cukup mengejutkan, ‘Aruna & Lidahnya’ ternyata juga memiliki elemen pelanggaran tembok keempat, atau biasa dikenal dengan sebutan “breaking the fourth wall”. Ini merupakan sebuah teknik yang jarang dilakukan dalam film karena film berusaha untuk membuat kita dapat larut dalam cerita. Jika ada satu tokoh yang terlihat berbicara kepada penonton, dikhawatirkan ini membuat dunia cerita yang sedang dibangun menjadi terganggu. Ini menambah keunikan film, apalagi ketika ada scene di mana Aruna memperkenalkan Bono kepada penonton dengan cara yang unik, yaitu dengan “mimicking”. Lalu untuk product placement. Ini jelas menjadi hal positif bila dibandingkan dengan ‘Posesif’. Hampir seluruh product placement yang ada di “Aruna” begitu menyatu. Ada yang sukses mendukung mise-en-scene seperti penggunaan kecap dan majalah. Ada yang berfungsi untuk menguatkan narasi seperti siaran radio swasta yang menyiarkan berita tertentu. Ada juga yang secara cerdas dimasukkan dalam dialog yaitu pemanfaatan aplikasi e-ticketing.

Untuk para pemain, Dian Sastro tampil bagus sebagai Aruna, meski di sisi lain karakter yang ia perankan ini tipikal. Penonton bisa merasakan bahwa Aruna ditampilkan serupa dengan beberapa karakter film lain yang pernah Dian perankan sebelumnya. Jika melihat dari sifatnya, Aruna senada dengan Cinta dan Tania dari “7/24” (2014). Mereka bertiga sama-sama terlihat sebagai role model bagi wanita modern zaman now, dan jika Dian memang di-plot untuk seperti itu memang tidak salah. Justru Nicholas Saputra yang sukses mencuri perhatian dan keluar sebagai penampil terbaik. Jokes-nya lucu tanpa perlu melakukan kelakuan-kelakuan tidak perlu. Ia juga sangat supportive kepada Aruna dan ternyata menyimpan sesuatu juga. Pokoknya kemunculan Bono sangat dinanti-nanti. Last but not least, Oka dan Hannah semakin menambah asyik interaksi antar karakter. Chemistry yang terjalin antara keempat orang ini selain menjawab tantangan dari film yang memiliki banyak dialog juga berhasil mewujudkan pengalaman unik lainnya dari sebuah film ber-sub genre kuliner. Bahwa ternyata ngeliatin orang ngobrol sambil makan tuh “sesuatu” juga ya.

Sayang, ada catatan yang kembali muncul saat film berada di babak akhir. Pertama mengenai latar. Meski ini minor, tapi bagi yang “ngeh” pasti akan tahu kalau ada perbedaan antara apa yang dinarasikan dengan apa yang ditampilkan di layar ketika itu. Kemudian, ada juga kejanggalan yang sulit untuk diterima ketika satu tokoh kecil muncul di beberapa sequence. Dengan keterbatasan fisik yang ia miliki, aneh rasanya jika tokoh tersebut sanggup untuk melakukannya. Terakhir, kami cukup kecewa dengan bagaimana film mengakhiri salah satu poin. Ini merupakan bagian yang tidak kalah penting dalam cerita, namun eksekusi yang ada malah jatuhnya tanggung. Sangat disayangkan, karena ini membuat satu motif menjadi sia-sia, dan motif ini berhubungan dengan unsur yang memberikan keindahan sinematik di sepanjang perjalanan.

‘Aruna & Lidahnya’ punya kisah sederhana yang dibuat mengalir dan tentunya menyertakan gaya khas sang sutradara. Gaya ini membuat beberapa poin bisa kita dapatkan, namun juga ada yang nampak kurang berkesinambungan. Terombang-ambing karena jadi korban perasaan, rekayasa proyek pemerintahan, plus perut yang keroncongan, berjalan beriringan hingga akhir dengan beberapa kekurangan yang signifikan.

‘Aruna dan Lidahnya’ sudah bisa Chillers saksikan di bioskop terdekat di kota kamu mulai 27 September 2018.

 

Director: Edwin

Starring: Dian Sastrowardoyo, Oka Antara, Nicholas Saputra, Hannah Al Rashid, Ayu Azhari, Desta

Duration: 106 minutes

Score: 7.3/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here