‘Ave Maryam’, Romansa Terlarang yang Menuai Pergulatan Batin

Film terbaru karya Robby Ertanto ini menceritakan tentang problematika cinta yang seharusnya tak boleh terjadi antara Suster Maryam (Maudy Koesnaedi) yang jatuh hati kepada Romo Yosef (Chicco Jerikho).

Ini adalah film pertama yang rilis dari tiga film lokal kaliber festival internasional, yang sudah mendapatkan banyak pujian sebelum rilis reguler di Indonesia. Disutradarai oleh Robby Ertanto Soediskam, sineas indie yang sebelumnya terkenal lewat “7 Hati 7 Cinta 7 Wanita” (2010), film “Ave Maryam” jelas memiliki muatan sensitif yang bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Melihat itu, film melakukan upaya antisipasi dengan memotong beberapa adegan. Dampak dari pemotongan adegan ini akan dibahas juga, namun sebelumnya patut diingat “Ave Maryam” akan mempunyai rating 17 tahun ke atas. Langkah yang cukup bijaksana karena film jadi bisa berbicara lebih banyak kepada demografi penonton yang lebih luas. Selain itu, kaum muda pun semakin terbuka di mana mereka banyak yang merasa tertarik dengan isu yang dibawa oleh film semacam ini guna mencari dan memproses sebuah kebenaran.

Film bercerita tentang Maryam (Maudy Koesnaedi), seorang suster yang bertugas mengurusi suster-suster yang sudah berusia renta. Suatu hari, tempat Maryam mengabdi kedatangan Romo yang berparas tampan dan aura menawan, yaitu Romo Yosef (Chicco Jerikho). Maryam, yang sedang setia pada kaulnya kemudian jatuh hati kepada Yosef. Waktu berlalu, Maryam dan Yosef yang awalnya cuma sebatas kenal, mulai semakin dekat. Kehadiran Yosef dalam hidup Maryam mengisi relung hatinya yang kosong. Sedikit intermeso, film ini sudah menunjukkan tanda-tanda menggelitik dari judulnya. Yang biasa kita tahu, dalam agama Katolik terdapat nama Ave Maria. Tapi di film ini yang tertulis justru “Ave Maryam”, yang mana “Maryam” merupakan nama yang lebih familiar dengan hal yang berbeda.

Di tahap persiapan, penonton langsung diberikan eksposisi tentang karakter Maryam dan lingkungan tempat ia mengabdi. Eksposisi ini tentunya dibutuhkan, tapi memang tidak langsung ditampilkan secara blak-blakan. Penonton diajak menggali sendiri pertanyaan-pertanyaan yang ada. Karakter lain yang penting untuk dilihat adalah Suster Monique yang diperankan oleh Tutie Kirana. Ia merupakan suster yang sedang berada di kondisi yang mengkhawatirkan. Karena sudah berumur lanjut, tubuh Suster Monique sudah tidak kuat lagi sehingga ia butuh pertolongan suster-suster lain. Nah, suster yang mengurusinya di sini tak lain tak bukan adalah Maryam. Sayangnya, bagaimana Maryam bisa mengawali pengabdiannya di tempat yang sekarang ini tidak ditunjukkan dengan jelas. Kemudian keterkaitan antara Maryam dan Monique di masa ini tidak lebih dari sekedar perawat dan yang dirawat. Singkatnya, latar belakang dari “Ave Maryam” masih belum kuat.

Untuk capaian sinematiknya, “Ave Maryam” keluar seperti yang diharapkan. Film ini tentu akan beralur lambat. Maka dari itu, dibutuhkan cara-cata jitu agar alur yang lambat ini tidak membosankan. Sesuai dengan tuntutan naratifnya yang berlatar kesusteran dan lebih mengarah ke “character-driven movie”, film menampilkan gambar-gambar yang cantik lagi puitis. Dimulai dari tone warna. Dari awal kita bisa melihat bahwa film memilih tone warna yang mencerminkan latar tahunnya. Bukan mengenai tahun 1998 yang menjadi setting film ini, melainkan bercerita tentang kejadian fiktif yang ada di latar “jadul”. Maka dari itu, dipilih lah tone warna kekuningan. Kemudian pencahayaan. Film menonjol pula dalam bentuk pencahayaan yang temaram. Seperti yang kita tahu, tanpa bantuan cahaya, objek jadi tidak terlihat dan memiliki wujud. Cahaya dengan penataan yang baik dapat membentuk sebuah objek serta suasana, dimensi, dan mood.

Dalam film “Ave Maryam” kita bisa melihat pilihan penggunaan cahaya yang tipikal film-film indie, yaitu pencahayaan natural. Film terhitung minim dalam pemanfaatan cahaya lampu yang ekstensif, dan banyak pula scene yang menunjukkan ketergantungan terhadap cahaya dari bukaan-bukaan set seperti jendela, pintu, dan lain sebagainya. Ini jelas mendukung aspek realisme yang mana coba disesuaikan dengan kebutuhan naratif. Kemudian penggunaan ini berefek pada warna cahayanya sendiri. Warna cahaya yang natural membuat pilihan sinematiknya terbatas hanya pada warna putih dan kuning muda. Itu jelas sekali nampak dalam filmnya, bahkan dominan dari awal hingga akhir. Hebatnya, mereka jitu dalam mengolah keterbatasan ini sehingga adegan demi adegan bisa membangun mood yang adem dan khidmat. Apakah cantik? Ya itu sih, udah pasti dong.

Kemudian kita geser sedikit ke poin lain dari unsur sinematik. Masih dalam lingkup mise-en-scene, ada beberapa simbol yang mesti jeli diperhatikan. Ini soalnya menjadi kunci penting dari konflik. Yang pertama adalah di kostum. Ada sebuah perubahan radikal untuk hal ini. Perlu diketahui terlebih dahulu, salah satu fungsi kostum yang dikenakan oleh pemeran adalah untuk menjelaskan sesuatu yang berupa info penting. Berangkat dari sini, kostum yang dikenakan oleh Suster Maryam ketika bertemu dengan Romo Yosef sukses bikin kaget, bahkan sampai ke level yang tidak-tidak. Apakah ini berhubungan dengan eksposisinya yang masih mengawang? Bisa jadi.

Lalu simbol dalam setting. Ini bisa diwujudkan dalam satu kondisi yang terlihat memiliki maksud tertentu karena menggantikan peran dialog yang terhitung minim. Yang paling kentara adalah mengenai keterbukaan dari Suster Maryam. Ini ditampilkan secara simbolik lewat pintu mobil yang terbuka. Dari segi akting, kita juga melihat sebuah maksud tertentu dari gerakan. Ketika film masuk ke saat-saat intim, contohnya. Di mana Suster Maryam dan Romo Yosef sudah semakin dekat, film menyampaikan sebuah isyarat berbentuk perilaku. Menariknya, akting yang nampak setelahnya cukup untuk membuat mood langsung berubah haluan.

Sayang, film masih terhitung kurang dalam dua hal. Pertama adalah mengenai character development dari Suster Maryam. Kami tidak tahu akan jadi apa karakter ini jika tidak diperankan oleh Maudy karena Suster Maryam adalah karakter yang sulit untuk dijelaskan. Ia memiliki eksposisi yang masih belum kuat, atau apa adanya lah. Kemudian motivasi Suster untuk berubah juga tidak jelas sebab-musababnya. Ada pergolakan di dalam diri Suster yang tidak sampai gara-gara eksposisi yang masih kurang ini. Kita jadi tidak memahami secara pasti, apa yang ia persoalkan dalam dirinya sendiri. Ujung-ujungnya, film menggunakan jalan pintas juga. Lalu mengenai cara film membangun kisah cinta terlarang antara Suster dan Romo. Jelas ini bukan kekuatan utama “Ave Maryam” karena tidak ada sesuatu yang menohok di sana. Sesuatu yang tidak hanya membuat Maryam merasa, namun juga penontonnya. Terlalu monotonnya dimensi kamera terhadap objek membuat kita ditempatkan sebagai penonton yang hanya menonton tumbuhnya perasaan diantara dua insan tersebut. Tidak pernah sekalipun kita ditaruh lebih dekat hingga kita bisa melihat ekspresi, emosi, dan perasaan karakternya.

“Ave Maryam” lebih kepada bagaimana kita sebagai manusia tidak akan pernah luput dari dosa, mau se-“suci” apapun orangnya. Value ini secara tidak langsung juga terjadi di Indonesia, di mana ada mereka yang di luar sana sungguh dihormati, bahkan sudah dianggap panutan ummat. Tapi pada akhirnya ketahuan melakukan tindakan tak terpuji. Bedanya, film memberikan kesalahan yang lebih manusiawi dibanding duniawi, dalam kasus yang menimpa Suster Maryam. Ini menjadi hal yang tidak hanya relate, namun juga memiliki pengaruh yang kuat dan pastinya menarik buat penonton generasi muda, yang kritis dan lebih terbuka dalam membahas hal-hal sakral atau tabu. Ada beberapa dialog yang quote-able, namun yang terbaik tetap line yang diucapkan oleh Tutie Kirana saat ulang tahun Suster Maryam. Lagi, satu line ini juga menjadi cermin dari kekuatan film. Mereka juga mencoba untuk berbicara lebih luas, tentang betapa sok tahunya kita yang sering “judgemental” kepada orang lain. Berasa dirinya sudah menjadi orang yang paling suci.

Ini yang dimaksud oleh “double punchline” di akhir. Yang pertama adalah quote dari Suster Monique, yang kedua adalah apa-apa yang ditunggu-tunggu selama ini. Di paragraf sebelumnya sudah ditulis bahwa shots kurang variatif dalam menggambarkan emosi dari Suster Maryam dan juga Romo Yosef. Hubungan mereka jadi terasa datar dan eksklusif. Nah, di sini lah semuanya dibayar. Satu medium shot sukses memberikan rasa yang mengenaskan. Dengan sistem penceritaan yang bebas di scene tersebut (omniscient narration), kamera menyorot dua sejoli itu ketika transisi. Untuk menimbulkan rasa “nyes”, sineas memilih menggunakan teknik cut-away. Ini merupakan sebuah teknik transisi dari jarak shot yang dekat menjadi shot yang lebih jauh, dalam ruang dan sisi pengambilan yang sama. Efeknya? Asli, nyesek parah bro! Kebetulan yang terjadi dalam keadaan itu membuat kita bisa mengelus dada saking tidak kuatnya.

Selalu mengasyikkan ketika kita bisa menyaksikan sebuah jukstaposisi. Untuk “Ave Maryam” jukstaposisi ini diperlihatkan dalam hal yang sensitif, di mana perundungan dan betapa kotornya manusia ditampilkan dalam lingkungan yang akrab dengan kedamaian, kehangatan, dan cinta kasih. Gambar-gambar yang cantik menjadi ujung tombak dengan dialog-dialog berisi makna tak biasa. Sayang, eksposisi yang kurang dan pergolakan emosi yang nanggung membuatnya kurang oke dalam membangun set-up narasi dari bagian-bagian yang sebetulnya juga harus diperhatikan. Pada akhirnya ini membuat film masih menyisakan rasa geregetan karena hanya butuh sedikit tambahan agar setidaknya Suster Maryam bisa keluar dengan nilai delapan.

 

Director: Robby Ertanto Soediskam

Starring: Maudy Koesnaedi, Ciccho Jerikho, Tutie Kirana, Olga Lydia, Joko Anwar

Duration: 85 Minutes

Score: 7.8/10

2 comments

  1. Scene di stasiun masih membuat saya penasaran. Apakah Yosef memang datang ingin menemui atau melihat Maryam utk terakhir kalinya? Tapi mengapa saat Maryam memutuskan segera turun dari kereta begitu melihat Yosef, ia tidak ada? Apakah itu halusinasi Maryam saking cintanya ia pada sang pastor?

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here