‘Bilal: A New Breed of Hero’, Sahabat Rasulullah SAW dalam Rupa Animasi

“I only see God through the work of human.” – Hamza.

Di bulan puasa seperti sekarang, akan cocok sekali rasanya untuk menonton film ini. Tidak hanya mengangkat seorang tokoh yang kental dengan sejarah Islam, “Bilal” juga disajikan dalam format animasi yang notabene ramah anak dan juga memiliki value cerita yang tentunya bersifat universal. Merupakan film yang awalnya rilis di wilayah Asia Barat, “Bilal” kemudian menyapa Amerika pada awal tahun lalu dan akhirnya dibawa juga ke Indonesia minggu ini.

Kita akan diajak mengikuti petualangan hidup Bilal, yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai muadzin pertama, dari saat ia kecil hingga dewasa. Bilal awalnya adalah seorang anak yang ceria. Sayang, sebuah tragedi mengubah jalan hidupnya menjadi seorang budak. By the time, Bilal akan mempertanyakan ketidakadilan yang ia lihat sebelum memutuskan untuk berjuang merebut kembali kemerdekaan.

Tanpa banyak kompromi, kamera langsung menempatkan kisah Bilal dari scene pertama. Mereka tidak membahas secara melebar terlebih dahulu seperti bagaimana keadaan Mekkah atau Islam pada saat itu, melainkan langsung to the point. Bilal kecil akan langsung diperkenalkan kepada penonton, bersama dengan karakter pendukung seperti saudara perempuannya yaitu Ghufaira dan ibu mereka. Apa yang terjadi setelahnya merupakan persiapan yang sangat baik karena di situ kita bisa melihat kepedihan yang dialami oleh karakter utama, dan juga nilai keluarga yang langsung tertancap. Animasi yang disuguhkan juga tergolong oke. Terdapat dua tone yang mewarnai sequence secara bergantian. Kerennya dualisme ini coba digabungkan sedikit banyak dengan teknik editing yang membuatnya jadi lebih enak dinikmati.

Kemudian Bilal juga memiliki poin tertentu yang membuatnya terlihat berbeda. Poin ini ada kaitannya dengan aspek sinematik, yaitu penampilan luar. Sayang, agak aneh jatuhnya karena kita akan melihat Bilal tampil dengan gaya rambut cornrow. Ini jelas berbeda dengan penggambaran dari versi lain, dan merupakan sebuah keputusan yang berani karena pada zaman itu saja belum ada kejelasan apakah sudah ada gaya rambut seperti itu atau belum. Anyway, setelah nilai mengenai keluarga sudah ditancapkan sejak awal, maka di tahap konfrontasi film ini mulai membahas poin kedua mereka yaitu kesetaraan.

Pada zaman itu, orang-orang masih menggunakan sistem perbudakan, di mana budak-budak dijual kepada para saudagar yang kaya raya. Bilal (Jacob Latimore) dan Ghufaira (China Anne McLain) sendiri merupakan budaknya Umayya (Ian McShane) dan suatu hari anak laki-laki Umayya yaitu Safwan (Mick Wingert) berlaku kasar kepada Ghufaira. Bilal yang menolong Ghufaira kemudian malah disiksa dengan perkataan yang menusuk. Jika terlahir sebagai budak, maka akam selamanya menjadi budak.

Meski tidak perlu mengharapkan kualitas animasi layaknya film-film studio besar Hollywood, sebetulnya kualitas animasi “Bilal” tidak mengecewakan. Meski terlihat animasi ini memiliki template yang sama, film tidak ragu dalam menampilkan banyak detail secara close-up, bahkan extreme close-up. Beberapa objek pun terlihat keren seperti berhala yang berdiri diatas Ka’bah. Jangan lupa juga highlight di dalam film, yang menunjukkan animasi dengan spectacle yang besar. Di sini akan terasa jelas unsur fantasi yang bakal membuatmu tercengang. Film juga memanfaatkan teknik slow-motion untuk menambah tingkat dramatis dari momen-momen tertentu.

Oh iya, karena ini adalah cerita yang menyangkut perbudakan dan perjuangan meraih pembebasan, maka akan ada scene-scene yang menunjukkan kekerasan. Misalkan hukuman cambuk dan peperangan. Namun, karena “Bilal” adalah animasi yang ingin ramah penonton, film membuat adegan-adegan kekerasan tersebut seaman mungkin, meski anak-anak harus tetap diawasi oleh orang tua. Darah hanya keluar di satu scene, dan ketika Bilal dicambuk, kamera menempatkan posisinya di wajah Bilal. Tidak pernah memperlihatkan punggung sehingga rasa sakit itu dirasakan lewat audio dan juga ekspresi wajah.

Beberapa hal sengaja tidak dicantumkan agar film dapat lebih diterima oleh masyarakat luas. Sebutan, istilah, atau nama yang identik seperti Islam, Muslim, Nabi Muhammad SAW, Allah SWT, tidak diucapkan sekalipun. Film lebih memilih untuk menggunakan term “monotheisme” dalam satu scene krusialnya. Sayang, meski fokus utama tidak pernah lepas dari Bilal, materi cerita di akhir terpaksa dipersempit. Ini akan membuat penonton bingung, karena mood yang sudah ter-setting dipaksa untuk berubah dari apa yang akan ditunjukkan di layar. Selain itu, terdapat juga kejanggalan dari konflik sampingannya. Alih-alih memunculkan twist, yang ada justru sedikit kebingungan karena apa yang kita lihat dan dengar sebelumnya sudah membentuk satu persepsi yang berbeda dan persepsi tersebut bisa dikatakan sudah bukan persepsi lagi. Mengapa? Karena satu kalimat yang diucapkan oleh Umayya kepada Bilal di adegan klimaks.

Lalu ada sesuatu yang tak terduga menjelang konfrontasi utama filmnya. Ini sangat mengherankan karena di awal scene, dengan penggambaran extreme long shot, kita bisa melihat peta kekuatan yang meski klise namun menarik. Kita jadi penasaran, bagaimana semua akan bergulir karena penggambaran yang jelas-jelas sangat jomplang. Tapi ketika semua akan dimulai, muncul kejutan ini. Tanpa tedeng aling-aling, mereka hadir dan membuat peta kekuatan jadi berubah. Tidak ada cerita yang melatarinya, sehingga hal itu justru menimbulkan noda dalam bagian film yang paling seru. Mungkin beberapa dari penonton tahu siapa sebetulnya orang-orang yang menjadi paket kejutan ini. Tapi melihat bagaimana film ingin ditunjukkan, which is lebih mengarah ke pasar yang lebih umum, itu adalah sebuah pertanyaan karena belum tentu semua orang tahu asal-usulnya.

Meski begitu, secara garis besar cerita “Bilal” yang terhitung berat bisa disampaikan dengan jelas. Mulai dari value yang paling harus ada yaitu tentang betapa pentingnya keluarga, sampai yang levelnya paling sensitif. Selain mengenai kesamaan hak, di film ini dibahas juga mengenai pemanfaatan agama. Berhala-berhala yang ada di Mekkah dijadikan barang bisnis bagi mereka yang berkuasa. Mereka memanfaatkan agama dan kepercayaan untuk kepentingan sendiri. Jika disambungkan dengan kondisi masa kini, hal tersebut nampak tak asing lagi.

Khususnya Indonesia, hal sudah menjadi sesuatu yang kini dipraktekkan oleh elit. Meski goal-nya bukan untuk bisnis, namun agama sama-sama dimanfaatkan sebagai mesinnya. Kemudian aftermath dari itu juga kurang lebih sama. Di film, Bilal dihukum dengan cara yang paling keji. Hukuman ini sesuai dengan versi yang lain, sebelum cerita film memasuki tahap resolusi. Nah di kehidupan sosial kita, banyak orang yang mengklaim bahwa orang lain itu kafir dengan alasan yang sebetulnya cukup kekanak-kanakan. Hal-hal semacam ini, ketika diceritakan dengan jelas dan dengan cara yang umum, mungkin pesan yang terkandung di dalamnya akan sangat mudah dicerna.

Selain itu, perkembangan karakter Bilal juga asik untuk diikuti. Tidak hanya diceritakan dari kecil, Bilal juga ditampilkan sebagai manusia biasa. Di balik keteguhan hati dan keberaniannya, Bilal juga memiliki kelemahan. Ia juga memiliki keraguan, pernah mengalami keputusasaan, pasrah dengan apa yang katanya sih sudah menjadi takdirnya. Kemudian, setelah film memasuki tahap akhir, Bilal masih memiliki kelemahan. Ini terlihat dari logika kausalitas yang jelas, yang pada akhirnya memunculkan sifat manusia yang suka membuatnya bertindak diluar kendali. Semua nanti akan bermuara pada Bilal dewasa (Adewale Akinnuoye-Agbaje), yang dengan satu tindakannya saja kita bisa melihat bahwa ia sudah berbeda dibanding yang dulu-dulu. Hasil ini lah yang menghasilkan nilai plus karena film menampilkan prosesnya terlebih dahulu, sehingga apa yang nampak di akhir jadi sesuatu yang memuaskan jika mengacu pada story arc karakter utama.

Sebuah film inspiratif dengan “hard subjects”, yang mana coba ditampilkan secara soft yaitu lewat format animasi. “Bilal” memiliki konsep yang keren, yaitu tentang perjalanan “zero to hero” di zaman kuno. Wajar jika penonton non-muslim belum familiar dengan kisah ini. Tapi dengan kecerdikan sutradara dan timnya, mereka mengambil dan memfokuskan semua pada Bilal karena dibanding kisah dari tokoh-tokoh sahabat lainnya di zaman Nabi Muhammad, Bilal adalah kisah yang sangat universal dan ternyata masih sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini. Nilai-nilai yang terkandung semakin membuat “Bilal” sebagai tontonan yang oke untuk dikonsumsi oleh seluruh anggota keluarga. Terutama bagi anak-anak, karena mereka bisa diperkenalkan pada kesamaan hak dan kesetaraan setiap insan.

 

Director: Khurram H. Alavi, Ayman Jamal

Starring: Adewale Akinnuoye-Agbaje, Ian McShane, Cynthia Kaye McWilliams, Jacob Latimore, China Anne McLain, Mick Wingert

Duration: 105 Minutes

Score: 7.5/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here