Secara umum, film dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu film fiksi, film dokumenter, dan film eksperimental. Perbedaan ini didasarkan atas cara bertuturnya. Nah dari ketiga jenis film tersebut, bisa dibilang jenis film fiksi lebih populer di masyarakat. Film jenis ini adalah film yang dipertunjukkan di bioskop-bioskop mainstream. Merupakan film yang masuk dalam kategori film cerita, film fiksi merangkul genre-genre seperti action, fantasy, drama, komedi, dan lain-lain.

Tapi, perlu diketahui bahwa dua jenis film lainnya, dokumenter dan eksperimental, juga tidak kalah penting. Film dokumenter yang memiliki konsep realisme, menjadi jenis film yang sangat otentik. Berpusat pada penyajian fakta. Mulai dari tokoh, obyek, momen, event, lokasi, semua nyata adanya.

Film-film jenis ini sering dimanfaatkan untuk menceritakan peristiwa dengan pendekatan yang lebih tajam serta sangat terasa unsur manusiawinya. Sementara itu, film eksperimental memiliki konsep formalisme (abstrak). Strukturnya sangat dipengaruhi oleh insting subyektif sang sineas.

Di Indonesia sendiri belum banyak wadah untuk mempertunjukkan film-film alternatif semacam dokumenter dan eksperimental. Padahal, masyarakat perlu tahu bahwa sebetulnya film dokumenter dan eksperimental itu punya peran penting, terutama dalam menangkap isu global yang kemudian disajikan dengan cara tidak biasa.

“Arkipel”, sebuah festival film alternatif di Jakarta menjadi salah satu “pejuang” untuk ranah tersebut. Melalui acara tahunannya, “Arkipel” selalu memutarkan film-film dokumenter dan eksperimental terpilih dari seluruh dunia, yang disusun dalam rangkaian festival.

Menyambut event-nya yang ketujuh, program acara “Movie Freak” Binus TV mengundang teman-teman dari “Arkipel” untuk ngobrol bareng tentang festival tahun ini. Selain itu, bersama host Nathan dan Loki, mereka juga sharing mengenai perkembangan film dokumenter dan eksperimental di Indonesia sendiri.

Halo kakak-kakak! Boleh silakan perkenalkan diri dulu.

Yuki: Halo! Gue Yuki, festival director dari ARKIPEL – International Documentary and Experimental Film Festival. Biasanya diadakan di Jakarta. Tahun ini kita memasuki tahun ketujuh, dan diinisiasi oleh Forum Lenteng. Sebuah komunitas yang fokusnya bergerak di produksi dan distribusi pengetahuan lewat medium audio-visual.

Melisa: Gue Melisa, dari festival yang sama. Kalo di Arkipel sendiri gue adalah Media Relations dan manajernya.

Oke, jadi ada Kak Yuki sebagai direkturnya dan Kak Melisa sebagai Media Relations. Nah kita mau meluruskan sedikit. Jadi, “Arkipel” itu adalah film festival yang dinaungi oleh Forum Lenteng. Tapi kok kenapa (namanya) “Arkipel”?

Yuki: Kalau kita tahu Indonesia kan negara kepulauan. Disebutnya Archipelago. “Arkipel” sendiri juga salah satu sebutan sih. Kalo Archipelago bahasa Inggris, kalau Arkipel itu mungkin dari bahasa latin. Pokoknya orang dulu melihat Indonesia, menamakannya sebagai Arkipel. Negara kepulauan.

Kalau disangkut-pautin nih, kira-kira menurut Melisa atau Yuki, film yang modelnya dokumenter dan eksperimental di Indonesia sendiri tuh bagaimana keadaannya sekarang?

Yuki: Wah! Keadaannya ya. Hahahaha…

Maksudnya situasinya. Kondisinya hehehe…

Yuki: Film dokumenter dan eksperimetal itu kan kalo posisinya ya di dunia film menjadi penyeimbang bagi yang ranahnya lebih ke mainstream. Penyeimbang ini harus selalu ada karena niatannya adalah untuk pendidikan dan kebudayaan. Maksudnya membahas suatu hal yang tidak akan mungkin mendapatkan profit, tapi itu penting.

Yuki: Kalau sejarah dokumenter Indonesia sendiri, maksudnya kalau mau ngeliat sejarah panjangnya, film itu kan pertama kali dibuat dalam bentuk dokumen sosial. Mendokumentasikan negara jajahan waktu masuk ke Indonesia pertama kali. Jadi sejarahnya kalau dilihat panjang. Lebih panjang dari film fiksi kalau mau dibandingin.

Karena banyak data-data gitu ya?

Yuki: Ya. Karena film dulu masuk ke Indonesia sebagai dokumentasi, untuk mendokumentasikan negara jajahan.

Berarti balik lagi ke sejarah

Yuki: Yaaa sejarah film dimulai dari film dokumenter.

Tapi mungkin Smart Viewers ada yang belum tahu juga nih. Dokumenter itu film tentang apa, terus eksperimental juga apa? Gue baru denger sih kalo eksperimental.

Yuki: Oohh definisi ya? Kalo dokumenter paling gampangnya sih, langsung ke contoh aja, misalnya film yang mencari tahu berdasar kisah nyata. Atau menginvestigasi suatu peristiwa. Atau orang, atau event, atau…. apa ya? Yaa pencarian seorang sutradara atau seniman tentang suatu yang berdasarkan cerita nyata. Bisa juga dokumenter adalah suatu proses pencarian yang ternyata difiksikan. Paling gampang gini deh,

Biografi, biopik gitu bukan sih?

Yuki: Biopik bisa masuk dokumenter. Biasanya kalo lo nonton film di Netflix atau di YouTube yang ada voice over (di mana) orangnya menjelaskan, itu bisa dokumenter. Karena secara teknis dokumenter juga banyak macamnya. Definisinya bisa berdasarkan teknik pembuatannya, pendekatannya, atau banyak lagi. Kalau eksperimental sendiri, biasanya orang mendefinisikan film eksperimental itu yang acak-acakan..

Abstrak gitu ya?

Meli: Yang gak jelas.

Yuki: Tapi kalau kita sih yakin. Semua film itu bisa dibaca, (mau itu) sebagai film dokumenter atau eksperimental. Karena lu kalo bikin film pasti pengen bereksperimen. Pengen beda dari yang pernah lo tonton sebelumnya, atau yang pernah lo bikin sebelumnya. Jadi definisi eksperimental itu sangat luas. Karena ga ada definisi yang pasti. Jadi sebagai festival kita bacanya secara luas dan dari berbagai spektrum.

Yang “Sekala Niskala” berarti masuk gak sih?

Yuki: Ya, bisa aja.

Nah masing-masing dari kalian lebih cenderung suka nonton yang mana?

Melisa: Kalau gue sih, kalau ditanya lebih suka yang mana, gak juga sih sebenarnya. Maksunya kalau dibilang suka sih suka-suka aja. Tergantung lebih tertariknya (ke mana). Tapi gue lebih tertarik ke film dokumenter. Karena lebih banyak pengetahuan yang bisa didapet, dan biasanya gue lebih suka nonton yang kayak biografi-biografi orang dan banyak yang bisa gue dapet sih dari situ. Informasi-informasi baru, pengetahuan-pengetahuan baru. Lebih ke situ sih kalau gue.

Kalau Kak Yuki?

Yuki: Sebenarnya apa aja sih. Hahahaha! Jadi gak dibatesin suka yang mana. Suka aja dua-duanya. Semua film juga suka-suka aja gitu. Cuman, semakin banyak lu nonton film pasti lu punya perspektif atau pilihan. Maksudnya kalau pengen melihat pilihan-pilihan dari “Arkipel” bisa melihat ke website-nya, Arkipel.org. Film-film apa dan seperti apa yang pernah kita tayangkan atau bagaimana program-programnya itu ada di website.

Menurut kalian berdua, apa sih yang bikin “Arkipel” tetep eksis? Karena generally pamor dari film dokumenter dan eksperimental juga masih kurang populer bagi masyarakat awam.

Yuki: Kalau dari festivalnya sendiri juga diniatkan pendanaannya sendiri bukan untuk mencari keuntungan (profit). Karena Forum Lenteng sendiri juga suatu organisasi non-profit. Kita pendanaan baik dari negara maupun dari negara-negara sahabat,atau dari berbagai institusi. Jadi memang tiketnya gratis. Dan ini memang semua programnya untuk kepentingan pendidikan dan gratis untuk publik. Untuk term dua film ini sendiri (dokumenter & eksperimental) memang satu hal yang mungkin terdengar baru di sini. Jadi memang butuh waktu lama untuk membangun publiknya.

Jadi biar nanti orang bisa “melek” dan sebagai distribusi pengetahuan juga ya. Btw gue kepo nih. “Arkipel” ngusung temanya itu “Bromocorah”. Kenapa sih milih tema tersebut?

Yuki: Kita gak mau bikin festival yang cuma menjadi tempat merayakan film tapi asal milih-milih film dari Festival Cannes, Berlin, atau Venice. Festival itu adalah amplifikasi tentang persoalan budaya yang ada di sekitar masyarakat. Jadi festival ini harus ngomong sesuatu, setiap tahunnya. Tahun ini kan ada pemilu Presiden. Jadi “Arkipel” selalu merefleksikan kondisi sosial-budaya yang ada di sekitar kita. Tahun ini ada Pemilu Presiden, sama anggota legislatif, tapi kita udah pernah ngomongin itu di tahun kedua (2014). Waktu itu kita ngomongin pemilihan, politik, bla bla bla.

Yuki: Tahun ini kita pengen ngomongin residu-residu dari sistem itu. Kalau kalian tahu, “Bromocorah” itu adalah tulisan dari Mochtar Lubis, seorang sastrawa Indonesia dari tahun 80-an. Itu ngomongin tentang, gimana orang yang (jika) dilihat secara sistem adalah salah. Atau tidak dihitung. Atau dibilang penjahat. Tapi ternyata dia juga ada fungsinya sendiri di luar sistem tersebut untuk masyarakat. Paling gampang contohnya adalah Robin Hood. (Dia) mencuri, tapi nanti dibagikan ke masyarakat. Itu kan kalau secara sistem pasti salah. Tapi dia punya fungsinya sendiri. Jadi kita pengen ngomongin itu.

Sesuatu yang alternatif, sesuatu yang di luar sistem. Jadi seperti (sifat) dari film eksperimental dan dokumenter itu sendiri. Di luar sistem yang bekerja di dunia film. Jadi ditariknya ke ranah itu.

Kalau kita melihat tadi, orang yang membuat film seperti itu banyak karena yang submit sampai 1.200-an film ya tahun ini. Boleh dong diceritain gimana proses seleksi dari film-film itu.

Yuki: Ooo iya kalau itu memang harus ditonton semua. Kita ada tim selektor. Jadi memang selektor itu menonton semua film yang di-submit. Ada tiga tahapan. Mulai dari disaring jadi 200, terus jadi 50, dan seterusnya. Tahun ini yang terpilih dari 1.200 film yang di-submit adalah 28 film. Dua film dari Indonesia.

Dari 1.200 diseleksi jadi 28 film. Dua dari Indonesia. Udah kayak SIMAK UI ya! Tapi ini lebih ketat. Untuk dua film Indonesia itu keduanya itu dokumenter atau eksperimental?

Yuki: Bisa dibaca sebagai keduanya. Jadi kita saat melakukan seleksi pasti ada pembacaan terhadap, ‘Ini film bisa gak sih dibaca dari perspektif dokumenter atau eksperimental, dan cocok enggak sama tema kita tahun ini?’. Kita kalau nentuin tema juga kan pasti punya variabel-variabel. Apa sih yang bisa dikategorikan sebagai “Bromocorah”? Nah itu didadar. Prosesnya lama. Bisa tiga bulan sendiri.

Itu proses seleksinya makan waktu tiga bulan?

Yuki & Melisa: Iya.

Bisa kasih bocoran gak ini dua film Indonesia ada apa aja?

Yuki: Ada “Sapu Angin”, terus satu lagi “Adegan yang Hilang” dari Petrus. Untuk resume-nya bisa dilihat di website kita biar lebih penasaran kan hehehe.

Untuk dari negaranya, total ada berapa negara yang men-submit?

Yuki: Waduh ada banyak.

Melisa: Kurang lebih ada 55 negara-an yang submit kayaknya lebih sih.

Yuki: Hampir seratus negara kali ya. Maksudnya di zaman sekarang di mana semua orang bisa bikin film, everyone is a filmmaker, pakai handphone aja bisa bikin film. Kayaknya lebih demokratis untuk proses membuat film dan submit film ke festival.

Dari total 28 film itu ada yang menurut kalian berbeda atau istimewa?

Yuki: Mungkin semuanya bisa dilihat berbeda, misalnya dari segi tema. Jadi perspektif kita membaca ke-28 itu beda-beda. Begitu juga dengan program-program lainnya. Pasti selalu berbeda. Jadi di “Arkipel” itu gak Cuma isinya pemutaran film doang kan. Ada juga pameran sejarah film Indonesia, dan ada simposium yang ngomongin seni dan film atau kultur secara umum. Jadi banyak programnya.

Untuk program Competition, ada empat kategori awards-nya. Salah satunya adalah “Dea Pransi Award”. Dea Pransi adalah seniman penggagas IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Jadi “Dea Pransi Award” adalah penghargaan untuk pembuat film di bawah 31 tahun.

Ada empat awards ya. Ada apa aja tuh?

Yuki: Ada “Arkipel Award” untuk kategori utama, ada “Jury Award” yang pilihan dewan juri, “Dea Pransi Award”, dan “Forum Lenteng Award” yang pemenangnya dipilih oleh member dari Forum Lenteng.

Selain screening ada apa lagi yang ada di “Arkipel”?

Yuki: Tahun ini ada pameran “Kultursinema”. Pameran sejarah film Indonesia. Jadi kita sejak 2014 tuh bikin pameran gimana sejarah sinema pas mulai masuk di Indonesia di tahun 1800-an. Sampai sekarang, ini merupakan pameran “Kultursinema” keenam, (di mana) kita mau ngomongin soal film-film dokumenter pendek yang diproduksi oleh PFN (Produksi Film Negara), yang dulu memproduksi Unyil.

Yuki: Mereka dulu produksi tahun 50 sampai 90-an ya. Atau 70-an. Yang kita ambil 50 sampai 70-an. Mereka memproduksi dokumenter pendek yang namanya “Gelora Indonesia”. Biasanya itu film-film pendek yang ketika lu masuk ke bioskop filmnya ditayangin sebelum film utamanya dimulai. Jadi itu film tentang pembangunan di Indonesia secara umum. Yaaa itu (bagian) kehumasan pemerintah lah!Memberitakan pembangunan di Indonesia udah sejauh apa sih?

Oh itu berarti kayak ads-nya kalau zaman sekarang ya?

Yuki & Melisa: Iya!

Yuki: Jadi kita pengen melihat, gimana sih Indonesia (jika) dilihat dari film-film dokumenter pendek itu. Bisa dibaca secara estetikanya seperti apa, atau kita bicara tentang perspektifnya seperti apa seperti kunjungan Presiden atau pembangunan Monas. Pamerannya sendiri akan ada di Museum Nasional. Kita kerja sama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia lewat Pusbangfilm (Pusat Pengembangan Perfilman). Kemudian sama PFN dan Arsip Nasional Republik Indonesia.

Wah ini seru sih! “Arkipel” bakal diadakan tanggal…..

Yuki: 18 sampai 26 Agustus 2019.

Berarti itu acaranya ada sembilan hari?

Yuki: Wah cepet banget lu ngitung! Hahahaha!

Hahaha! Udah kayak Umroh ya, sembilan hari. Btw, apa yang ingin kalian capai di “Arkipel Bromocorah”?

Yuki: Film itu kalau ditonton doang kan gak jadi apa-apa ya. Baik untuk scene sinema nya sendiri satu negara dan sinema dunia, atau untuk feedback buat filmmaker-nya sendiri. Maksunya, dengan mengadakan “Arkipel” ini kita memproduksi dan mendistribusi pengetahuan yang bisa kita dapat dari medium sinema. Jadi sinema itu bisa lebih dari sekedar medium entertainment aja. Ada aspek yang bisa kita pelajari tentang kehidupan.

Ini menarik banget sih. Berarti film itu gak cuma tentang menghibur doang ya. Tapi mengedukasi juga. Dan “Arkipel” ini adalah salah satu festival yang mengadakan dan mendistribusikan edukasi itu. Rekomendasi banget buat temen-temen untuk hadir mengikuti serangkaian acaranya dari 18 sampai 26 Agustus. Cek juga line-up film, jadwal, dan program-programnya di website Arkipel.org.

Yuki: Dan bisa juga untuk lihat program dari tahun-tahun sebelumnya.

Sekali lagi, ini free ya!

Meli: Semuanya free.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here