Blade of the Immortal, Aksi Pertarungan Epik Seorang Samurai Abadi

513

“Lay one finger on Rin, and I’ll cut you in pieces. Then I’ll wipe out the Itto-Ryu root and branch,” – Manji.

Di usia 57 tahun, Takashi Miike telah dikenal khalayak luas sebagai seorang pembuat film yang sangat produktif. Beberapa filmnya yang sangat dikenal adalah Audition (1999), Ichi the Killer (2001), Thirteen Assassins (2010), dua film fitur Crow Zero (2007 & 2009), dan tiga film Dead or Alive (1999, 2000, & 2002). Kali ini, Takashi Miike kembali dengan film terbarunya Blade of the Immortal, sebuah film yang dipenuhi dengan aksi pertarungan berdarah-darah khas Miike, berbalut dengan cerita drama dan percikan humor di berbagai adegan.

Kisah sepak terjang samurai bukanlah suatu hal yang jarang diangkat dalam sebuah film layar lebar. Ada suatu karisma tersendiri saat menyaksikan seorang samurai dengan katana kepercayaannya melawan belasan, puluhan, atau bahkan ratusan lawan. Hal tersebut seakan telah menjadi adegan tradisi yang wajib ada dalam sebuah film bertema samurai. Beberapa film klasik yang sangat ikonik dengan adegan-adegan seperti itu adalah Lone Wolf & Cub: Sword of Vengeance (1972) dan Azumi (2003). Dimana hal tersebut diikuti dengan sangat indahnya oleh film ke-100 besutan Miike, Blade of the Immortal.

Film Blade of the immortal merupakan film yang diadaptasi dari serial manga berjudul sama karya mangaka Hiroaki Samura. Serial manga 30 jilid ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1993 dan memperoleh sukses yang luar biasa. Dimana kesuksesannya masih terus berlanjut hingga tahun 2017, meski serial manganya telah selesai pada tahun 2012.

Kisah dalam film Blade of the Immortal dimulai dengan adegan aksi pertarungan Manji (Takuya Kimura), seorang samurai yang membunuh 100 anak buah tuannya sendiri sekaligus menghancurkan kehidupan adiknya saat melakukan hal tersebut. Akibatnya, Manji berusaha mati-matian melindungi adiknya sambil menghindari orang-orang yang berusaha membunuhnya. Sayang semuanya tidak berjalan sesuai harapan, Manji pun harus menghadapi kenyataan saat sang adik terbantai di hadapannya.

Tentu saja, bukan Manji namanya jika tidak membalas dendam dan menghancurkan orang-orang yang telah membantai adiknya, dengan taruhan nyawanya sendiri. Saat sedang sekarat, seorang bikuni berusia 800 tahun yang bernama Yaobikuni (Yoko Yamamoto) memasukkan cacing darah yang menjiikkan ke dalam tubuh Manji. Cacing darah tersebut menutup semua luka baru yang terdapat pada tubuh Manji sekaligus menjadikannya abadi.

Lima puluh tahun kemudian, Rin (Hana Sugisaki), seorang gadis yang wajahnya sangat mirip dengan almarhum adik Manji, menjadi yatim piatu saat sekelompok samurai membantai keluarganya. Rin tentu saja berniat untuk membalas dendam, meski dirinya sama sekali tidak lihai bertarung. Satu-satunya harapan yang dimiliki Rin adalah menemukan Manji dan membuat sang samurai abadi untuk membantunya membalas dendam.

Blade of the Immortal mungkin memang merupakan sebuah film yang dipenuhi oleh aksi pertarungan yang penuh dengan darah. Namun bukan berarti film ini dengan mudahnya mengambil nyawa seseorang. Manji mengetahui perbedaan antara balas dendam dan amarah, dimana terkadang tidak semua lawan pantas untuk diambil nyawanya begitu saja. Tentu saja, awalnya Manji menolak terlibat dalam permasalahan Rin. Sialnya, wajah Rin mengingatkannya akan sang adik, mau tidak mau Manji pun terlibat, hingga titik darah penghabisan.

Takashi Miike benar-benar berhasil menciptakan sebuah film yang brutal baik secara fisik maupun emosi, semuanya terjalin dan bermain di layar dengan sempurna. Meski film ini merupakan film samurai pertama atau kesekian yang telah Chillers saksikan, semua adegannya akan membuat Chillers terpesona melihat perpaduan aksi pertarungan, drama melankolis, kompleksitas moral, dan percikan humor yang terjalin di dalamnya.

Sang penulis naskah, Tetsuya Oishi (Death Note, Higanjima) dan Miike berkolaborasi dengan apiknya untuk menghantarkan sebuah film yang diadaptasi setia dari serial manganya dan dipenuhi oleh karakter berbobot dengan durasi 140 menit. Memang, beberapa karakter terasa hanya numpang lewat saja, tapi esensi kehadiran mereka tetaplah memiliki makna tersendiri dalam film ini. Selain itu, penggambaran karakter Rin yang baru melihat dunia nyata setelah sekian lamanya terlindungi di rumah pun tergambar dengan sangat apik. Gadis yang selalu berlatih bela diri di rumah tersebut menyadari betapa seluruh latihannya sama sekali tidak bermakna jika dibandingkan dengan pertarungan yang disaksikan dan dialaminya.

Bicara soal Manji, Takuya Kimura sangat cocok berperan sebagai seorang samurai abadi yang dipenuhi rasa amarah dan sebenarnya kesepian ini. Sebenarnya, Manji sangat ingin menghindari segala bentuk pertarungan dan menebus dosa-dosanya. Manji juga meyakini bahwa tidak perlu mengambil nyawa jika tidak benar-benar terpaksa. Hebatnya, Takuya Kimura menolak digantikan oleh stunt double untuk semua adegan pertarungannya meski pada saat produksi dirinya sedang dalam masa penyembuhan.

Meski tidak terlalu dapat mengimbangi seorang Takuya Kimura, Hana Sugisaki pun tampil tak tercela dalam film ini. Pemeran Rin ini dapat menyampaikan perasaan sedih dan keinginan sang gadis belia untuk membalas dendam walau tidak memiliki kemampuan yang mumpuni sama sekali. Bagi Chillers yang pernah menyaksikan penampilan Hana dalam film Pieta in the Toilet (2015) dan Her Love Boils Bathwater (2016), penampilan Hana dalam Blade of the Immortal memang terasa kurang. Tapi tentu saja semua itu berkaitan dengan nuansa dan karakter yang harus diperankannya.

Selain kedua tokoh utama, film Blade of the Immortal juga dipenuhi oleh bintang-bintang kawakan seperti Sota Fukushi (Kamen Rider Fourze, Strobe Edge), Hayato Ichihara (Box!, Yakuza Apocalypse), Erika Toda (Death Note, Goemon), Chiaki Kuriyama (Kill Bill Vol. 1, Battle Royale), Kazuki Kitamura (Turn, Like a Dragon), Tsutomu Yamazaki (Shield of Straw, The Magnificent Nine) dan Min Tanaka (Rurouni Kenshin 2-3, 47 Ronin). Beberapa tampak sangat menonjol dalam penggambaran dan penyampaian karakter, sementara beberapa terasa hanya sebagai cameo saja.

Untuk adegan pertarungan, semuanya tergambarkan dengan sempurna khas Miike. Bagi Chillers yang telah mengenal karya-karya Miike tentu telah terbiasa akan banyaknya jumlah korban dalam film besutannya. Tapi, percaya atau tidak, Blade of the Immortal memiliki korban nyawa jauh lebih banyak daripada Thirteen Assassins. Kalau mau dibandingkan, mungkin jalinan kisah dalam film ini sedikit mirip film True Grit (2010). Dalam film arahan Coen bersaudara tersebut seorang gadis belia juga ingin melakukan balas dendam dan menyewa seorang jago tembak untuk melakukan aksinya.

Dari segi penyutradaraan, Miike benar-benar memiliki kejelian dalam mengetengahkan suasana pertarungan yang menawan dan hasil akhirnya. Semuanya terpampang dan tergambarkan dengan sempurna di dalam layar. Hasil kolaborasinya dengan sinematografer Nobuyasu Kita (Thirteen Assassins, Crow Zero II) sungguh terasa spektakuler. Semuanya itu masih ditambah dengan balutan aransemen musik dari Koji Endo (Audition, Ace Attorney) dan proses editing yang sangat mumpuni dari Kenji Yamashita (Thirteen Assassins, Lesson of the Evil).

Di antara semua aksi pertarungan penuh darah, Miike masih mampu memberikan Chillers beberapa adegan tenang berlatar belakang indah, lengkap dengan dialog yang sangat pas serta tidak bertele-tele. Semua itu membuat film ini kembali terfokus berulang kali pada dua tokoh utamanya yang memiliki penderitaan batin. Hebatnya, semua itu terkadang juga diberi tambahan beberapa humor yang sangat cocok dengan adegan yang sedang berlangsung.

Last but not least, film Blade of the Immortal merupakan sebuah film aksi pertarungan yang sangat epik. Dimana seorang samurai abadi yang hidup menyendiri belajar untuk bersosialisasi kembali dengan ditemani oleh seorang gadis belia yang dipenuhi oleh rasa amarah, sedih, dan kebencian. Dalam film ini, bahkan sosok tokoh yang jahat pun memiliki kepahitan dan penderitaan yang dalam, serta membuat Chillers bersimpati. Bagaimanapun, baik maupun buruk, setiap orang pasti memiliki alasan di balik setiap tindakannya. Dan film ini berusaha memaparkan hal-hal tersebut dengan jalinanan hubungan persahabatan dua insan yang menyimpan luka di dalam dirinya dengan penggambaran yang sedemikian indahnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here