Tidak salah kalau menganggap ini zamannya film-film superhero. Genre ini menguasai tidak hanya box office, namun juga hype masyarakat secara keseluruhan. Orang berlomba-lomba untuk menonton filmnya, kemudian membahas filmnya seperti apa. Mau itu fans yang memang cinta sama kisahnya, sampai “kaum FOMO (fear of missing out)”. Tak ayal, peringkat atas dari film-film terpopuler pasti diisi oleh film-film superhero.

Tapi, jangan salah. Walaupun peringkat atas dihuni oleh film-film superhero. Hal ini juga berlaku untuk film-film yang menghuni papan bawah. Isinya film-film superhero juga. Meski tidak banyak, mereka tetap dominan berkat kekuatan IP (intellectual property) dan hype sudah kadung tinggi. Banyak juga film-film superhero yang tidak hanya flop dari segi box office, namun juga dicaci-maki oleh penonton yang merasa tidak puas. Salah satunya, dan seperti akan menjadi yang paling parah flop-nya, adalah “Dark Phoenix”.

Rasanya kurang tepat kalau kita mesti menurunkan ekspektasi untuk film yang satu ini. Jelas, “Dark Phoenix” merupakan film dari seri “X-Men”! Siapa sih yang tidak kenal “X-Men”? Ini merupakan salah satu IP yang sangat mahal. Khususnya buat anak 90-an, sebelum superhero-superhero Marvel terkenal seperti sekarang, mereka lebih dulu mengetahui kalau film superhero itu ya “X-Men”. Ini juga turut didukung oleh popularitas kartunnya dan juga keunikan konsep cerita yang menghasilkan karakter-karakter berkekuatan unik.

Sayang, “Dark Phoenix” keluar sebagai salah satu film yang paling mengecewakan tahun ini. Menjadi penutup saga X-Men yang telah menemani kita selama 19 tahun, semua yang terjadi justru menjadi kebalikan dari “Avengers: Endgame”, yang mana juga menjadi “movie event” dari penanda sesuatu yang penting. Melihat hal ini, Adam dan Loki mengundang teman-teman dari Komunitas Marvel Indonesia untuk membicarakannya. Tanpa ada sedikit pun keinginan untuk “denial”, mereka ngebahas filmnya, ngobrolin kira-kira apa sih masalah sebenarnya, yang mana akan membuat kita kilas balik tepatnya ke saat di mana X-Men mulai menemukan secercah harapan di “First Class”.

Selamat membaca!

Selamat datang semuanya! Apa kabar?

  • Valdy: Hai haai!
  • Dedi: Baik. Baik.

Anyway, gue juga mau ngucapin “Happy Anniversary” ke 10. Kasih tepuk tangan dulu dong buat KMI! Panjang umur, sehat selalu, sukses terus.

  • Valdy, Dedi, Inu: Amin!

Nah, sebelum kita bahas Dark Phoenix nih, kita mau nanya-nanya dulu soal Komunitas Marvel Indonesia. Biasanya kalo kalian nobar, berapa banyak orang yang ikutan?

  • Dedi: Kalo nobar biasanya tentatif ya. Itu keliatan tiap per tahunnya ada peningkatan signifikan. Awalnya puluhan, terus seratus, terus seratus lebih, sampe yang kemaren (Nobar “Avengers: Endgame”) nyewa satu studio.

Oh gitu. Selain nobar, kalian ngadain event apa lagi?

  • Dedi: Biasanya ikut event pop-culture.
  • Valdy: Kita buka stand (di expo), display ada, pendaftaran anggota baru juga banyak banget ya.

Biasanya kalo lagi ada event-event itu pasti ada cosplay-nya!

  • Dedi: Iya. Kita ada. Soalnya di KMI-nya sendiri juga ada tim cosplay. Jadi ada PIC (person in charge) yang khusus untuk ngurusin cosplay.

Another event, boleh dikasih tau ada apa lagi?

  • Dedi: Jadi waktu itu kita planning memang ingin bikin event dibikin sendiri oleh komunitasnya. Satu hari atau dua hari penuh “all about Marvel”. Jadi lah kita bikin “Marvel Fans Gathering”, di mana kita ada talkshow yang ngundang narasumber. Terus ada lomba cosplay.
  • Valdy: Temen-temen juga buka stand segala macem.
  • Dedi: Buka stand tentang komunitas terkait. Misalkan dari Komunitas Marvel ada yang mau bikin dari segi games-nya, atau dari segi yang lain. Yang (intinya) Marvel related.

Nah sekarang kita ngomongin soal film terbarunya Marvel nih: “Dark Phoenix”! Ini kita anti denial-denial club ya. Jadi gimana nih menurut kalian masing-masing tentang “Dark Phoenix”, yang menjadi penutup saga “X-Men” 19 tahun?

  • Valdy: Serem sih. Dalam artian kenapa harus sesuram itu? Gue pribadi kecewa sih. Karena dari sisi penceritaannya, “Dark Phoenix” gak sesuai sama timeline. Bahkan gue masih inget pembicaraan tadi pagi sama anak-anak, gue sampe nanya ‘Itu Charles (Professor X) terakhir kali udah gundul kah? Atau….’
  • Inu: Dia aja (Valdy) sampe lupa kapan gundulnya, kapan naik kursi rodanya….

Kapan gondrongnya? Hahahaha…

  • Valdy: Karena di “Days of Future Past” dia gondrong, abis itu yang di Apo (X-men: Apocalypse-red) dia gundul. Bayangin aja, gue yang penggemar “X-Men” sampe bingung. Ini timeline-nya gimana? Alhasil filmnya jadi kayak “A regular sci-fi movie”.
  • Dedi: Numpang lewat doang.
  • Valdy: Jadi bukan (film) “X-Men” yang seharusnya menutup saga mereka.
  • Inu: Gue cukup puas.

Oh ya?

  • Inu: Puas karena akhirnya selesai juga.

 

Hahahahaha! Akhirnya selesai juga..

  • Inu: Setelah sekian lama gue melihat, film “X-Men” ini arahnya tuh mau ke mana sih? Mau jadi apa sih? Gue udah melihat ketidakjelasan itu sebenernya dari film “X-Men: The Last Stand”.

Itu ngangkat Dark Phoenix juga?

  • Inu: Itu ngangkat Dark Phoenix juga, dengan harapan Dark Phoenix yang ini justru harusnya..

Better!

  • Inu: Tapi ternyata… ya…

Akhirnya selesai juga hehehe…

  • Inu: Thanks to Fox lah udah bikinin. Udah gitu aja.
  • Dedi: Menurut gue, sebagai penutup buat perpindahan ke “next studio”, agak ngecewain ya. Cuman karena lihat film-film sebelumnya kayaknya dia (Fox) juga gak memperhitungkan hasil akhirnya, jadi emang pengen nunjukin  eksistensi kalo ‘Gue bisa bikin film Marvel’.

Itu kayak ada ego gak sih?

  • Dedi: Oh iya banget!

 

Seperti yang kita tahu, “Dark Phoenix” punya banyak masalah. Mulai dari pengunduran jadwal, akuisisi, terus Matthew Vaughn cabut, re-shoots, box office-nya juga rendah, sampai terakhir Simon Kinberg meminta maaf sebagai sutradara. Apa nih yang kalian tahu soal polemik yang ada di dalam “Dark Phoenix” itu sendiri?

  • Dedi: Detilnya sih ga ada ya. Cuman dari film-filmnya yang dibuat dari awal sampai sekarang itu udah keliatan emang mereka (Fox) seperti kebingungan. Jadi, kalo bikin film tuh gue bikin film ini ke mana sih arahnya? Apakah ke profit, atau cuma untuk fanbase, atau untuk yang lain-lain. Jadi mereka kayak hilang arah.
  • Inu: Sebenernya tuh ada harapan waktu film “X-Men: First Class”. Itu kayak semacam “reboot”, “refreshment” lah! Sebenernya di situ ada harapan tapi ya itu, balik lagi.

Gue sempet baca katanya Matthew Vaughn menginginkan satu film lagi setelah “First Class”, sebelum “Days of Future Past”. Tapi studio Fox setelah baca skripnya “Days of Future Past” mereka mau tancap gas, langsung ke “Days of Future Past”. Itu yang bikin Matthew Vaughn cabut. Bener gak sih?

  • Valdy: Iya, bener banget. Jadi memang karena bos-bosnya di Fox merasa bahwa, ‘Eh ni skrip lo bagus nih! Ini aja duluan ya karena kita butuh sesuatu yang…..’
  • Dedi: Pengakuan gitu
  • Valdy: He eh! Eksistensi mereka. Kan rules-nya kalo mereka gak bikin film yang bagus haknya dibalikin ke Marvel, kan.

Oh gitu!?

  • Valdy: Makanya mereka, ‘nih ini nih bagus nih!’. Padahal si sutradaranya sendiri pengen punya satu cerita lagi sebelum “Days of Future Past”. Kalo menurut gue “Days of Future Past” malah seharusnya (jadi) closing. Bukan si “Dark Phoenix” ini.
  • Inu: Kayaknya emang banyak kejanggalan ya di dalam manajemennya.

Kalo dari karakternya sendiri, lebih suka Dark Phoenix yang diperanin sama Sophie atau sama Famke? Masing-masing, deh! 

  • Dedi: Feel-nya gue lebih dapet Famke. Karena mungkin dari awal itu di-setting kalo film “X-Men” dimulai dari mereka (Famke Janssen, Hugh Jackman, Halle Berry, James Marsden, Anna Paquin). Dari film satu, dua, tiga tuh filmnya udah kasih lihat perubahan karakternya Jean menjadi Dark Phoenix. Sedangkan, kalau yang ini kesannya mengulang dengan orang yang berbeda. Nah gak dapet feel-nya di situ. Kalau pun dapet (feel-nya) orang juga cuman bilang, ‘Oh itu Dark Phoenix lagi ya. Paling reboot’. Gitu.

Gak menawarkan sesuatu yang baru.

  • Dedi: Benar!

Kalo Valdy gimana? Lebih suka Famke Janssen atau Sophie Turner sebagai Dark Phoenix?

  • Valdy: Suka Famke sih. Karena Jean itu kan harusnya memang dewasa, terus bisa gundah juga. Bisa galau juga, tapi tetep badass ya. Dia ibarat kata ibunya anak-anak di “X-Men”, cuman untuk Sophie ini coba diambil adaptasi Jean yang muda. Kan sekarang tuh, “X-Men” sempet balik ya. Ada “X-Men classic” tuh yang kalau di komiknya meloncat ke timeline yang sekarang. Mungkin dia mencoba mengambil Jean nya itu yang lebih Jean. Tapi gak dapet sih.

Kalo Inu gimana? Apakah Famke juga atau Sophie Turner?

  • Inu: Kalo gue pribadi Sophie Turner. Gue tim Sansa Stark.

Aduuuh!! Jadi “Game of Thrones”…

  • Inu: Di samping dia hot, Dia salah satu aktris berbakat di Hollywood yang menurut gue masih banyak potensi yang belum digali.

Anyway, gue sempet baca. Katanya “original ending”-nya “Dark Phoenix” itu ada Skrull. Ini yang bilang juga Tye Sheridan (pemeran Cyclops di “Dark Phoenix”). Maksudnya apa ya dia bilang seperti itu ketika filmnya udah rilis, udah re-shoots juga. Apakah se-chaos itu kah ending-nya?

  • Valdy: Mungkin coba-coba kali ya. Jadi kayak gini, eventually “X-Men” pasti masuk ke MCU (Marvel Cinematic Universe). Itu udah fakta yang tak terbantahkan. Disney itu beli macem-macem, beli sana-sini, gak mungkin gak ada ujungnya. Dia ngincer “X-Men”, dia ngincer “Deadpool”, dia ngincer “Fantastic Four”. Itu gak mungkin gak dipake. Itu pokoknya.

Tapi di satu sisi kalau Tye Sheridan sampai ngomong di ujung skrip aslinya ada Skrulls, we never know, man. Apa yang sudah kita lihat di boskop itu produk jadi. Lo gak bisa narik itu dari peredaran. Dan kalau pun sampai nanti ada masuk ke Blu-ray, ada “bonus footage” segala macem, ya gue juga gak bakal tahu karena sekali lagi ini udah ngomongin soal…

Masa depan?

  • Valdy: Bukan. Hak pakai! Skrulls kan udah di MCU.

Tapi ngomong-ngomong soal MCU, menurut kalian setelah “Dark Phoenix” ada peluang gak buat X-Men untuk gabung?

  • Inu: Ada banget. Tapi dengan nuansa berbeda. Jadi kemungkinan Marvel Studios akan meramu formula baru untuk bikin “X-Men” yang lebih “tight-in” untuk film-film MCU.

Cast baru?

  • Valdy: Pasti.

Oh pasti?

  • Dedi: Soalnya habis “Avengers” ini kan mereka (Marvel Studios) harus punya kuncian. Habis “Avengers” udah sukses, tim apa atau superhero apa yang kira-kira bisa naikin (lagi).
  • Valdy: Jadi gacoan-nya lagi.
  • Dedi: Jadi challenge-nya dia setelah “Avengers” dan lain-lainnya itu, dia harus bikin film seperti apa yang tetep bisa bikin penontonnya excited. Nungguin.

Kalau di komiknya seperti apa? Antara “Avengers” dan “X-Men”.

  • Valdy: Gak pernah akur.
  • Dedi: Basically mereka itu kayak ada dunia sendiri. ‘Gue mutant, gue gak ganggu elu. Berarti lo gak ganggu gue’.
  • Inu: Visi dan misinya tersendiri. Dan suatu saat mereka malah bentrok.
  • Valdy: Iya. Cap (Captain America) sama Cyclops itu udah punya kayak “leadership issue” yang parah banget sih. Dua-duanya itu udah lihat-lihatan kayak, ‘Siapa lo? Ini rules gue, bukan rules elu’. Mereka punya issue itu selamanya lah pokoknya.

Jadi emang walaupun “Dark Phoenix” udah selesai, masih ada kesempatan untuk ditampilin lagi “X-Men”-nya mungkin ya. Dengan cara yang baru. Intinya, semua akan Disney pada waktunya hehehe…

Sedikit aja deh, film “X-Men” yang paling kalian suka apa?

  • Inu: “Logan”
  • Dedi: “X2”

Owwhhh… Nightcrawler di situ keren banget! Valdy?

  • Valdy: I’m afraid. “Logan” juga.

“X-Men: Dark Phoenix” masih tayang di bioskop seluruh Indonesia. Pantau terus kegiatan Komunitas Marvel Indonesia di Instagram mereka, @komunitasmarvelindonesia. Setelah ini Adam dan Loki akan kembali ngobrol-ngobrol lagi bareng mereka, kali ini ngomongin “Spider-Man: Far from Home” yang akan segera rilis dan prediksi fase berikutnya dari Marvel Cinematic Universe.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here