“People don’t stop watching when there’s a conflict. They stop watching when there isn’t one.” – Roger Isles.

Pertama kali tertarik untuk nonton film ini adalah ketika “Bombshell” secara cukup mengejutkan masuk menjadi salah satu nominee di Screen Actors Guild Awards (SAG) 2020. Gak tanggung-tanggung, mereka mendapatkan nominasi paling prestisius, yaitu “Outstanding Performance by A Cast in Motion Picture”, bersama film heavyweights lainnya seperti “The Irishman”, “Once Upon A Time in Hollywood”, dan “Parasite”.

Ini merupakan ekuivalen dari kategori “Best Picture” Oscar, jadi bisa dimaklumi ekspektasi akan melambung tinggi. Apalagi, film ini diangkat dari sebuah skandal yang benar-benar terjadi. Selain itu, skandal tersebut sangat memiliki unsur feminis, jadi “Bombshell” sebetulnya sudah punya modal yang oke nih untuk dapat bersaing di awards season. Terakhir, nama besar. Film diisi oleh tiga nama aktris yang luar biasa yaitu Charlize Theron, Nicole Kidman, dan Margot Robbie. Makin lengkap sudah.

Pengaruh “The Big Short” sangat kental di sini. Soalnya, “Bombshell” ditulis oleh Charles Randolph, yang mana juga penulis dari “The Big Short”. Ia kemudian dipasangkan bersama Jay Roach sebagai sutradara film. Hasilnya? Sebuah pemaparan dari kasus besar yang coba disajikan secara ringan. Mirip dengan “The Big Short” lah gayanya. Film ini dibuka sama sebuah prolog yang memperkenalkan penonton kepada kantor berita Fox News.

Kita bakal diajak keliling ruang demi ruang dan mengetahui fungsinya, lalu kita dikasih tahu juga pada karakter Roger Ailes (John Lithgow), yang merupakan pemimpin dari Fox News. Film pun langsung coba menghentak dengan cara masuk ke karakter utamanya dan pengkondisian di mana Megyn Kelly (Charlize Theron) akan berhadapan dengan Trump. Jokes yang keluar langsung adalah jokes dewasa.

Melihat dari aspek naratifnya, film sebetulnya cukup berimbang dalam menyajikan porsi dari apa yang sebenarnya terjadi pada tiga karakter. Selain Megyn yang sudah di-mention, ada juga Gretchen Carlson (Nicole Kidman) dan Kayla Pospisil (Margot Robbie). Mereka semua kerja di Fox, dengan situasi Kayla adalah karyawan paling junior sehingga masih semangat banget untuk perform di kantor. Aspek politik pastinya sudah sangat kuat di sini, melihat konflik yang semakin membesar antara Megyn dengan Trump. Ini membuat popularitas dari Megyn semakin naik dan dia semakin diincar wartawan.

Di sisi lain, hal sebaliknya terjadi pada Gretchen. Ia yang dulunya merupakan presenter dari acara andalan Fox, kini harus rela digeser ke acara yang ber-rating rendah. Singkat kata, dari tahap orientasinya, kita sudah bisa ngerti arc dari masing-masing karakter tuh kayak gini lho! Tinggal bagaimana nanti konflik besarnya digulirkan kemudian nyambung gak sama konflik-konflik sampingan yang dimiliki oleh Megyn, Gretchen, dan Kayla.

Tiga point of view tersebut dikemas secara lugas dan dinamis. Lugas layaknya sebuah berita, karena di sini konflik-konfliknya tidak dijadikan terlalu bertele-tele. Langsung to the point, dengan dialog yang cepat. Sementara itu unsur dinamisnya bisa penonton rasakan di bagian sinematografi dan editing. Perpindahan kameranya kemudian cutting-nya asik. Beda lah dengan film lain bertemakan skandal, namun balik lagi ini layaknya “The Big Short” guys. Hanya saja, creative direction seperti ini juga memiliki downside yang gak main-main.

Film tidak membiarkan ceritanya memiliki ruang lebih untuk bernafas. Pace yang cepat bisa membuat penonton yang belum mempersiapkan diri atau yang memang butuh waktu lebih untuk bisa masuk ke dalam ceritanya akan mengalami kesulitan. Belum lagi ini ada tiga point of view yang dituangkas ke dalam kanvas, sehingga semuanya semakin berwarna. Cuman, warnanya ini masih nampak abstrak karena masalah masing-masing yang mana belum disambungkan dengan konflik besar.

Masih sedikit membahas tentang aspek sinematik. Nyeleneh nya “Bombshell” makin jelas dengan memanfaatkan teknik “Breaking the Fourth Wall”. Memang ini momennya hanya sekali, tapi efeknya luar biasa. Pada umumnya, film menciptakan sebuah dimensi baru kepada penonton. Dunia yang di-setting adalah ruang yang memberi batas antara dimensi filn dan dimensi penonton. Nah di situ ada tembok keempat berupa arah pandang dari posisi kamera yang lazimnya tabu untuk dilanggar karena bisa menginterupsi dunia cerita yang sedang dibangun di scene yang bersangkutan.

Lalu ada sedikit kejutan yang dimunculkan di waktu tak terduga. Sesuai dengan kondisi naratif di sequence bersangkutan, film menampilkan rekaman dari para korban di babak kedua. Layar tiba-tiba langsung berubah dengan hanya menunjukkan foto dan nama, plus rekaman suara asli dari mereka.

Sayang, penggunaan tiga point of view ini resikonya besar. “Bombshell” terlihat kurang dalam untuk mengeksplorasi konfliknya sendiri. Apa yang diceritakan hanya berkutat di bagian luar saja. Tidak sampai ke dalam-dalamnya. Si A kena harrasment, si B kena harrasment, si C juga sama, dan udah. Gitu aja dan tunggu mereka melawan balik. Konflik sampingannya juga jadi tidak terlalu greget. Salah dua contohnya adalah konflik Megyn dengan Trump yang tiba-tiba hilang di tahap konfrontasi dan bagaimana respon Fox News dan para eksekutifnya terhadap krisis yang menimpa mereka.

Memang sih, terlihat ada sebuah counter. Tapi itu kembali lagi hanya sebuah counter yang dilakukan di lapisan paling luar. Bukan sesuatu yang memuasakan. Investigasi yang dilakukan pun tidak greget. Clash internal juga sebelas dua belas. Semua disajikan secara cepat dan bahkan dengan bumbu humor sehingga menyiratkan bahwa ini dibawanya santai saja. Gak usah terlalu serius. Yang penting kita tahu kalau di media sebesar Fox News pernah terjadi hal memalukan seperti itu.  Lack of depth, padahal itu yang kita butuhkan ketika nonton film semacam ini.

Gara-gara kekurangdalaman itu pula, tahap resolusi film jadi kentang. Investigasi yang tidak terlalu dalam, terus efek dari kasus tersebut pada iklim kerja di Fox News, kemudian dampak yang lebih luas lagi bagi Fox News itu sendiri, tidak greget. Sebagai sebuah film yang ingin mengangkat isu besar yang menyangkut hak dan derajat perempuan, maka kita juga menunggu kapan momen di mana para perempuan itu bersatu dan berbicara. “Bombshell” tidak terlalu menonjolkan itu. Semuanya seperti berjalan saja di koridor sendiri-sendiri sampai si monster itu dicopot dari jabatannya.

Memang ini akan memunculkan dramatisasi namun jika diperlukan untuk membuat film jadi semakin ngena, why not? Tahap akhir dari film “kentang” banget. Tidak ada sesuatu yang menghentak, entah itu di turning point kedua atau di midpoint. Semuanya ngalir aja, sehingga film berlalu dengan terlalu cepat dan kita akan kaget saat semuanya sudah selesai. “Oh, udah nih? Gini doang?”. Seperti itu.

Kembali. Sebuah film yang bold dari segi sinematik namun bermasalah dari segi naratif. “Bombshell” tentu adalah sebuah film yang penting karena apa yang mereka ceritakan sungguh sesuatu yang mengejutkan. Bukan sebuah rahasia jika praktik semacam ini sering terjadi di dunia pekerjaan, dalam bidang apapun. Apalagi dalam dunia hiburan. So, film sebetulnya cocok untuk semua kalangan, apalagi akting yang dibawakan oleh para pemeran termasuk top notch. Pantas jika dinominasikan sebagai cast terbaik di SAG.

Cuman, di sisi lain, tidak salah juga kalau kita bilang ini film berat di gaya. Jalinan emosional yang seharusnya muncul dari konflik-konflik sampingan tidak mengena. Padahal, konflik sampingannya sudah mantap-mantap. Selain itu, penuturan yang stylish jadi senjata makan tuan karena kita jadi gak terlalu mendapatkan kedalaman dari kasus tersebut. Sekedar dikasih tahu saja kalau pernah ada kasus begini loh di Fox News. Tidak sampai ke dalam-dalamnya sehingga tidak ada aspek yang bisa menonjok kita sampai terasa sakitnya.

 

Director: Jay Roach

Starring: Charlize Theron, Nicole Kidman, Margot Robbie, John Lithgow, Kate McKinnon, Alice Eve, Mark Duplass

Duration: 109 Minutes

Score: 7.3/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here