Butuh Dua Dekade untuk Membuat Film ‘Alita: Battle Angel’

“I thought, it doesn’t matter if I’m 80 and i’ve got an oxygen tube up my nose and a walker – I’ll do this movie.” – James Cameron.

Hari Raya Imlek ini, kita sudah bisa menyaksikan film pertama di 2019 yang sangat menonjol berkat kecanggihan teknologinya. Judulnya adalah “Alita: Battle Angel”, yang merupakan adaptasi dari manga berjudul “Battle Angel: Alita”. Disutradarai oleh Robert Rodriguez (Sin City, Machete, Desperado), film ini awalnya ingin disutradarai oleh James Cameron. Tapi karena terlalu sibuk dengan proyek “Avatar”, James mempercayakan proyek ini kepada Robert yang juga merupakan seorang sutradara ternama. Total butuh waktu dua puluh tahun bagi film ini hingga selesai diproduksi dan akhirnya bisa dinikmati di layar lebar. Berikut sedikit cerita mengenai latar belakang dan proses pembuatan film, di mana saking pentingnya “Alita: Battle Angel” sampai mesti betul-betul di-back up oleh salah satu “Mpu” sinema dunia.

Semua terjadi di akhir tahun 90an, ketika James Cameron dan sahabatnya, Guillermo del Toro, bertemu untuk santai-santai setelah mengerjakan film masing-masing. Ketika itu James dari film “Titanic” dan Guillermo dari film “Mimic”. Di pertemuan yang dilabeli oleh majalah Empire sebagai “geek-out sessions” itu, mereka berdua membawa hal-hal yang mungkin akan disukai dan digali lebih dalam oleh sahabatnya nanti. Entah itu buku komik, novel, sampai film juga bisa. Tidak diberi tahu apa yang dibawa James untuk Guillermo di dalam majalah Empire tersebut, namun Guillermo membawa sesuatu yang jauh-jauh diimpor dari Jepang untuk James. Benda tersebut adalah kaset VHS dari adaptasi serial manga “Battle Angel: Alita” karya Yukito Kishiro. Setelah diputar dan langsung membuat dirinya merasa kagum, James Cameron langsung terpikir bagaimana jika ia menjadikan kisah Alita ini ditampilkan dalam tampilan live-action?

Alita versi Yukito Kishiro

Setelah diyakinkan oleh Guillermo, dimulai lah obsesi bertahun-tahun mengenai dunia Alita di layar lebar nantinya. Empire menulis, James menciptakan pemetaan dari dunia Alita yang lebih mendetail. Ini termasuk bagian sci-fi yang sulit, yaitu mengenai Zalem, semacam kota yang menggantung di udara. Dari situ kita bisa melihat ada satu konstruksi sosial tertentu, yang mana akan menambah kedalaman cerita filmnya. Konstruksi sosial ini nampak seperti film “Elysium” yang dibintangi oleh Matt Damon. Anyway, James Cameron benar-benar tidak bercanda untuk mengembangkan Alita. Dia mengetik lebih dari seribu halaman yang berisi catatan-catatan mengenai proyek filmnya, dan beberapa “script draft” yang coba ia kerjakan bersama co-writer Laeta Kalogridis.

James Cameron dan Robert Rodriguez

So, bagaimana ceritanya James memberikan kepercayaan tersebut kepada Robert Rodriguez? Ceritanya panjang. Jadi begini, setelah 20 tahun berlalu semenjak first impression-nya terhadap “Battle Angel: Alita”, James membuat “Avatar”. Ia merevolusi teknologi VFX dan hasilnya “Avatar” menjadi film terlaris sampai saat ini. Di tempat lain, hubungan baik antara James dengan Robert sebetulnya sudah berlangsung sejak lama. James kagum dengan kebiasaan sehat yang dimiliki oleh Robert, sementara itu Robert mengagumi DIY video-conferencing kit ciptaan James. Kedua sutradara ini pertama kali bertemu di tahun 1990-an dan di tahun 1995, Robert memberikan film “Desperado” kepada James untuk di-screening. Empire menulis bahwa James Cameron merupakan pahlawan bagi Robert Rodriguez.

Pada 1997, tepatnya saat pertengahan produksi film “Titanic”, James sempat bertanya kepada Robert. Apakah ia tertarik untuk menyutradarai sebuah franchise besar. Kemudian di tahun 2003, mereka sempat terpikir untuk co-directing di film “Conan The Barbarian”. Mereka berencana menggunakan teknologi “performance-capture” agar membuat masa otot menjadi terlihat lebih keren, bahkan jika dibandingan dengan otot yang dimiliki oleh Arnold Schwarzenegger. Lanjut, tahun 2015 menjadi awal dari segala-galanya. James dan Robert bertemu di Lightstorm – LA. Mereka membaca dengan teliti beberapa gambar untuk sequel film “Avatar” dan setelah itu keluar lah penawaran yang mengubah hidup Robert.

Salah satu yang membuat Robert Rodriguez suka dengan “Alita: Battle Angel” adalah skrip yang ditulis James. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, terdapat beberapa draft yang sudah ada. Salah satunya adalah skrip yang mirip film-film “Star Wars”. Di skrip ini Alita diceritakan menjatuhkan sebuah kekaisaran/empire. Tapi pada akhirnya James mengirim skrip yang lebih romantis. Skrip yang dideskripsikan James sebagai skrip yang paling menarik baginya. “Ini adalah skrip ala Romeo dan Juliet, yang ditulis tahun 2004 dan kemudian terbuang.

Berisi 180 halaman, saya rasa skrip ini menangkap semangat anime-nya. The kind of bittersweet aesthetic, the best.” ujar James. FYI, karya James Cameron memang sudah akrab dengan kisah yang mempertemukan dua karakter yang sangat berbeda. Unlikely star-cross’d lovers. Pria miskin dengan wanita bangsawan, manusia dengan alien berwarna biru, dan cyborg dengan manusia. Kalau begitu, apa yang bisa diharapkan dari “Alita”? Well, bersiaplah untuk romansa antara seorang wanita yang hampir seluruhnya adalah mesin, dan seorang pria yang kerjanya adalah mempereteli mesin untuk bertahan hidup dan naik ke status sosial yang lebih tinggi.

Untuk urusan sinematiknya, wah tidak perlu diragukan lagi. Mpu Cameron sampai membuat seorang Robert Rodriguez mengubah haluan directing-nya demi “Alita”! Memang sih, vibe dari Iron City terlihat cerah dan ini mengingatkan kembali pada setting film-film Mariachi. Tapi kali ini, dia tidak bekerja sendirian lagi karena dibantu oleh dua orang veteran, yaitu Bill Pope dan Stephen E. Rivkin. Bill Pope merupakan sinematografer veteran yang membidani “The Matrix” (dan kita bisa melihat efek kehadirannya di dalam film “Alita”), kemudian Steph bekerja di departemen editing dan merupakan veteran juga yang berjasa besar di film “Avatar”.

Dengan tim seperti itu, Robert sampai mengakui bahwa dirinya lebih ingin melihat film James Cameron berikutnya dibanding melihat film Robert Rodriguez berikutnya. Kamu bisa tidak menyetujui hal tersebut, namun satu hal yang pasti, setiap film dengan nama James Cameron terpampang besar, apalagi dengan ikatan emosional yang kuat seperti ini, pasti akan memiliki satu ciri khas terentu. Bagi “Alita”, ciri khas tersebut ialah kualitas dorongan estetika dalam filmmaking dengan resiko yang tinggi karena harganya mahal.

Film ini memainkan dadu yang bisa kapan saja merugikan mereka sendiri. Case-nya adalah, apakah dengan teknologi photo realistic penonton bisa merasakan empati kemudian berinvestasi secara emosional terhadap karakter yang terlihat seperti manusia padahal merupakan CG. Bagi sang aktor utama, Rosa Salazar, berperan sebagai Alita, dengan segala peralatan yang terpasang di tubuhnya, merupakan pengalaman yang aneh namun mindblowing pada saat yang bersamaan. Rosa harus bisa memainkan dua versi karakter perempuan yang punya perbedaan fisik.

Imbasnya, ia mendapatkan pengalaman yang luar biasa ketika wajahnya dipelajari secara detail, melebihi, mungkin, pengamatan mengenai wajah manusia yang dilakukan oleh komputer sepanjang sejarah. “Kru VFX sampai bisa mengetahui bagaimana gerakan otot-otot yang terdapat di balik kulit wajah saya”, ungkap Rosa. Tidak hanya itu, aspek kinetik yang timbul secara tidak sadar juga bisa dilacak dan diaplikasikan dalam film. “Ada satu waktu ketika seorang kru dari Weta lari menghampiri saya bersama laptopnya. Dengan wajah lelah dia bilang, ‘saat kamu menggerakkan mata kirimu ke atas, bagian pojok kanan bibirmu juga ikut bergerak’.

Ketika di set, Rosa banyak mengenakan “bodysuit” dan helm yang mengumpulkan data dari pergerakan wajahnya. Hasilnya yang bisa dilihat di layar adalah percampuran antara dirinya dan sesuatu yang bukan dirinya. Sebuah percampuran antara reality dan fantasy yang dihiasi oleh dua buah bola mata yang menghipnotis. “Alita: Battle Angel” adalah usaha Hollywood untuk setia kepada versi manga-nya dengan cara tak biasa. Mereka mengubah Rosa menjadi Alita semirip mungkin.

Tapi, bukan soal penampilan Alita dan penggambaran mengenai dunianya saja yang menjadi perhatian. Penampilan karakter-karakter pendukung, dan juga satu poin lainnya yang punya andil besar dalam aspek naratif, juga dirancang secara serius. Di dalam film nanti, akan ada dua tokoh lain yang akan mempersulit Alita. Mereka adalah Zapan (Ed Skrein) dan Grewishka (Jackie Earl Haley). Untuk Zapan, desain karakter ini jadi favorit James Cameron, dan bisa dilihat dari betapa mahalnya tubuh yang dimiliki oleh karakter tersebut.

 

“Idenya datang dari budaya merawat mobil di Los Angeles”, ujar James. “Jadi kami mengambil referensi tersebut untuk menciptakan cyborg latino dengan motif kalender Aztec di punggungnya”. Itu belum termasuk senjata yang ia bawa, yaitu Damascus Blade yang terlihat bernilai dan tentunya mematikan. Belum selesai, ada Grewishka, si “metal maniac” raksasa dengan tinggi sembilan kaki. Dia merupakan lawan yang cukup tangguh buat Alita, karena tidak hanya memiliki keunggulan fisik, Grewishka juga dilengkapi senjata berbahaya. Jackie menjelaskan, “salah satu keunggulannya adalah, Grewishka memiliki jari-jari yang kuat dan tajam, yang mana dioperasikan semacam cambuk untuk meneror lawan ke segala arah dengan cepat”.

 

Terakhir, mari kami perkenalkan olahraga baru yang “ngetren” 700 tahun dari sekarang, yaitu Motorball! Tidak hanya sebagai tempelan, Motorball juga memiliki peran yang besar di dalam cerita karena karakter-karakter antagonis memiliki semacam kekuasaan di sana, dan orang-orang memohon kepada merema untuk memberikan apa yang diminta. Motorball sendiri merupakan balapan dengan kecepatan super tinggi di mana para cyborg yang bermain harus mendapatkan bola, dan jika sudah didapat, bola itu harus dijaga dari mereka yang ingin merebutnya hingga selesai.

Bisa dibilang Motorball merupakan olahraga yang mencampurkan NASCAR, MMA, dan Smackdown, dengan tambahan steroid di dalamnya. Motorball sequence sudah dibaca oleh Robert di tahun 2015 yang lalu dan ini lah yang membuatnya seratus persen yakin untuk mengambil tanggung jawab dari James tentang memfilmkan “Alita”. “Jim sudah membuat sebuah olahraga dengan cara yang keren dan dramatis sekaligus. Kamu bakal excited karena tantangannya begitu tinggi. It gets you jumping out of your seat.”

“Alita: Battle Angel” tayang serempak di bioskop seluruh Indonesia mulai Selasa, 5 Februari 2019. Rasakan sensasi menonton yang maksimal di format-format khusus seperti IMAX 3D, 4DX 3D, dan SCREEN-X.

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here