Mengusung judul internasional By The Time It Gets Dark atau Dao Khanong dalam bahasa aslinya, film arahan sineas Anocha Suwichakornpong ini berlatarkan perihal salah satu sejarah kelam negara berjuluk negeri gajah putih tersebut yang dikenal sebagai peristiwa Thammasat University Massacre yang terjadi pada bulan Oktober 1976. Film ini adalah duta Thailand sebagai kandidat nominator kategori Best Foreign Language di ajang Oscar 2018, meski sayangnya tidak masuk ke deretan daftar akhir nominator.

Film dibuka dengan adegan yang dibesut dalam tiga setting. Dalam setting masa kini, sekelompok orang mendatangi sebuah rumah yang letaknya terpencil, mengambil foto panorama yang ada dan kemudian berdoa. Lalu, dalam balutan format gambar hitam-putih, sekumpulan mahasiswa dan mahasiswi, yang dilucuti hingga pakaian dalamnya saja, terlihat berbaring telungkup di hadapan para tentara bersenjata yang berjalan hilir-mudik di sebuah ruangan bercahaya terang. Dan terakhir, kembali berformat gambar berwarna, dua siswa dari masa lalu tengah bercengkrama di padang rumput, romansa yang terjadi di antara mereka diselingi diskusi mengenai aktivitas sosial.

Dari prolog ini, kemudian diperkenalkan dengan para ‘penggerak’ penting di film ini, seorang sutradara (Vadakan) dan Taew (Paoluengton) seorang penulis berusia paruh baya yang rupanya menjadi saksi hidup peristiwa demonstrasi berdarah di tahun 1977 itu. Namun, fokus utama layar bukanlah mereka, melainkan seorang gadis muda bernama Ann (Sakuljaroensuk), pemuda berprofesi model merangkap aktor bernama Peter (Amornsupasiri), dan versi muda Taew.

Penghubung itu semua adalah seorang karakter tidak bernama (Suwan) yang sepertinya selalu tampak di setiap batas narasi utama dalam rentang masa yang ada sebagai sosok pelengkap adegan, baik itu sebagai pekerja saat dua tokoh protagonis sedang berbincang dan bercengkerama, pelayan restoran, tenaga kebersihan, biarawati yang sedang berdoa di kuil. Kehidupan misterius tokoh ini tidak pernah disorot lebih atau diklarifikasi, namun justru inilah yang membuat storyline semakin artistik.

Menawarkan narasi yang bisa berubah bentuk secara fleksibel yang bergulir seputar pembuatan film tentang pengekangan tahun 1976, sang sineas menggunakan para protagonis yang secara berkala berubah identitasnya, adegan situasi berulang yang diambil dengan cara berbeda dengan para pemain yang berbeda, dan atraksi pengemasan visual tidak biasa dalam menuangkan penceritaannya.

Meski mungkin bukan konsumsi semua kalangan, paduan gambar-gambar indah yang mampu menangkap tone dari setiap adegan yang berbeda dan penuangan ide-ide yang memperkaya visualnya sevara keseluruhan, membuat film ini menuai banyak pujian saat diputar di setiap festival film internasional yang diikutinya.

Di Thailand sendiri, film ini berjaya di ajang Thailand National Film Association Awards 2017 dengan kemenangan sebagai Best Picture, Best Director, dan Best Editing. Pada ajang Jogja Netpac ke-12 yang digelar pada Desember 2017 lalu, film ini berhasil meraih anugerah Silver Hanoman.

Pemain: Arak Amornsupasiri, Apinya Sakuljaroensuk, Achtara Suwan, Visra Vichit-Vadakan, Rassami Paoluengton, Penpak Sirikul, Inthira Charoenpura

Sutradara: Anocha Suwichakornpong

Bahasa: Thai

Durasi: 105 menit

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here