Satu lagi biopik hadir dari khasanah film Bollywood yang memang terkenal dengan kemampuannya dalam membuat film biopik dari berbagai karakter non fiksi dan juga kejadian nyata dari peristiwa-peristiwa monumental yang terjadi di India. Kini dalam “Chhapaak”, film ini terinspirasi dari kisah Laxmi Agarwal yang wajahnya cacat ketika ia mendapat serangan cairan kimia asam ketika dia berusia 15 tahun.

“Chhapaak” diperankan oleh Deepika Padukone, yang memerankan perempuan bernama Malti, seorang remaja berusia 19 tahun dari keluarga kelas pekerja yang bercita-cita menjadi seorang penyanyi. Semuanya berubah ketika saat Bashir Khan atau biasa diapnggil Babbu (Vishal Dahiya), seorang teman keluarga yang sakit hati akibat penolakan dari Malti untuk menikah dengannya. Suatu ketika Babbu memutuskan untuk menyerang Malti di siang hari bolong ketika sedang berjalan-jalan di kota Delhi dengan memakai cairan asam.

Dan kisah film ini dimulai ketika Malti sedang mencari pekerjaan setelah mengumpulkan keberaniannya untuk keluar dari luka emosional yang ia alami akibat serangan asam kepadanya. Untuk luka fisik ia harus menjalani berbagai operasi korektif atau rekonstruksi wajah yang rumit dan berkali-kali dilakukannya di rumah sakit. Mimpi Malti untuk menjadi penyanyi harus ia buang jauh-jauh, dan pada akhirnya ia mendapatkan pekerjaan di sebuah LSM yang bernama Chhaya yang membantu para penyintas serangan asam di Delhi, sambil menjalani terapi fisik dan mental dan juga kasus-kasus pengadilannya.

Pemulihan yang sangat sulit dari Malti hanya merupakan satu bagian dari cerita panjang yang harus ia alami. Selain menggambarkan penderitaannya, perawatan yang menyakitkan, depresi, penolakan sosial, film ini juga mengeksplorasi bagaimana cairan asam ini mudah sekali diperoleh atau dengan kata lain orang-orang di India dapat dengan gampangnya membeli cairan tersebut tanpa ada peraturan yang berbelit. Dengan menggunakan narasi non-linear, film ini bergerak antara kehadiran Malti dan keadaan yang menyebabkan kondisinya.

Hidupnya kini sangat penuh perjuangan, menghidupi keluarga dan rumitnya mencari pekerjaan, terlebih lagi keharusan untuk datang ke pengadilan untuk kasusnya tersebut. Konflik batin kerap kali terjadi dan membuat dirinya putus asa untuk menerima keadaan fisiknya yang sekarang.

Meghna Gulzar yang sebelumnya sukses lewat Talvar (2015) dan Raazi (2018), membuat pilihan penting dengan tidak memulai film ini dengan Malti pada saat sebelum ia diserang, tapi sebagai gantinya, kita diperkenalkan dengan wanita muda yang sangat membutuhkan pekerjaan karena wajahnya yang cacat, telah membuatnya tidak mungkin untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai keinginannya. Serangan tersebut tidak hanya mempengaruhi penampilannya, tapi juga mengancam kemampuannya untuk mencari nafkah dalam masyarakat yang hanya mengukur nilai seorang wanita hanya berdasarkan dari kecantikannya atau penampilan fisiknya belaka.

Di sinilah dari awal kita sudah diajak untuk dapat meresapi dengan kuat secara emosional kepedihan dan juga kesedihan yang dialami Malti sehingga dengan emosi yang ada itu kita pada bagian selanjutnya akan lebih mudah turut merasakan kerasnya perjuangan dari penyintas tersebut.

Dan pada film ini ceritanya tidak hanya berfokus pada karakter sentral Malti tapi juga pada masing-masing dan setiap anggota pemeran. Mulai dari orang tua Malti, para anggota LSM, semuanya melakukan bagian mereka untuk mengangkat cerita Malti dari yang hanya korban serangan asam ke cerita yang menginspirasi.

Meghna Gulzar juga menggunakan cast orang-orang yang pernah selamat dari serangan asam yang asli, untuk memainkan sedikit peran mereka, agar film ini terlihat lebih otentik dan sekaligus memberikan perasaan psikologis yang normal, sehingga tidak ada yang terlihat mengasihani Malti.

Deepika Padukone berperan sangat baik dalam film ini. Apa yang ia bawakan memang sangat menyentuh dan emosional dalam perannya sebagai Malti. Tidaklah mudah untuk memainkan karakter dan menampilkan emosi yang belum pernah kita alami sendiri, namun Deepika bisa all out memainkan perannya dengan begitu indah, yang menyoroti bukan hanya kekuatan dari Malti itu sendiri, tetapi juga kecantikan batinnya yang menarik orang padanya.

Ada banyak adegan di mana aktingnya mungkin dapat membuat kita sebagai audiens ikut menangis, seperti pada saat adegan dia mengangkat anting-anting di wajahnya tetapi kemudian dia baru tersadar bahwa sekarang dia tidak akan bisa untuk memakainya lagi atau tangisannya yang menyayat hati ketika ia melihat wajahnya di cermin untuk pertama kalinya setelah mendapat serangan itu.

Dan ketika Deepika merangkul karakter Malti sepenuhnya, transformasinya terlihat dari efek prostetik yang sangat detil. Chhapaak memang menggunakan sebagian besar kerangka cerita dari kisah Laxmi Agarwal itu sendiri, kecuali pada bagian Laxmi yang diserang pada usia 15 tahun dan dalam versi filmnya ini Malti berusia 19 tahun ketika mendapatkan serangan. Perubahan itu menjadi sesuatu hal yang logis karena usia 15 tahun akan terlalu sulit untuk diperankan oleh Deepika.

Vikrant Massey dalam film ini berperan sebagai Amol Dwivedi pendiri LSM Chhaya, LSM yang mengkhususkan diri untuk membantu para korban serangan asam, Vikrant patut juga mendapatkan pujian walaupun hanya mendapatkan screen time yang sedikit untuk perannya, aktingnya terlihat alami dalam membantu para korban khususnya Malti, dimana ia dengan setia mendampinginya selama bertahun-tahun untuk mendapatkan keadilan.

Madhurjeet Sarghi sebagai pengacara Malti juga tampil dengan brilian, Sarghi berperan sebagai pengacara yang tidak mudah menyerah. Sebagai Archana Bajaj, Sarghi berperan sebagai orang yang ingin selalu berbuat baik tapi di saat yang bersamaan ia selalu tampil sinis dan gelisah. Dalam beberapa adegan ia terlihat sering memarahi Malti seperti ketika Malti sedang merayakan disahkannya undang-undang yang baru demi korban serangan asam, Archana mengingatkan Malti bahwa kasusnya sendiri masih ditunda oleh pengadilan jadi tidak ada yang perlu dirayakan.

Maka secara halus dan lembut Malti mengingatakan Archana, bahwa dialah yang menjadi korban dari kejahatan yang keji tersebut jadi hak untuk marah atau bahagia tetap ada padanya. Momen-momen kecil inilah yang menjadikan film ini terlihat lebih manusiawi dan menyenangkan untuk dilihat.

Film ini juga menampilkan perempuan di garis depan yang sekaligus memiliki karakter perempuan yang kuat. Baik itu Malti sendiri, ibunya yang tidak berdaya namun memasang wajah kuat untuk putrinya, para korban yang pada awalnya enggan untuk melawan dan juga pengacara yang memberi kekuatan bagi Malti untuk terus berjuang walaupun perjuangannya itu sendiri masihlah panjang.

“Chhapaak” juga menyampaikan pesan yang lebih kuat tentang ketegaran dan tetap bersyukur dalam hidup, bahkan setelah kita mengalami kesulitan dalam kondisi terburuk. Isak tangis dan senyuman akan acapkali terlihat lewat narasi yang ditampilkan dan semangat dari ratusan wanita yang menjadi korban tetapi menolak untuk membiarkan luka mereka menentukan nasib mereka.

 

Director: Meghna Gulzar

Cast: Deepika Padukone, Vikrant Massey, Madhurjeet Sarghi, Vishal Dahiya

Duration: 120 minutes

Score: 8.0/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here