“Hello? Can anybody hear me? I’m trapped with my father in our house in Coral Lakes. Please send help!” – Haley Keller.

Sebuah film telah hadir di layar lebar Indonesia dengan tema yang sebenarnya termasuk umum dan komersil. Bila kita runut jauh ke belakang, “Jaws” (1975) telah hadir lebih dulu menempatkan binatang buas sebagai sosok antagonis yang berhadapan langsung dengan manusia. Kesuksesan “Jaws” kemudian memunculkan film dengan tema serupa, namun kini merambah ke beberapa predator lain seperti “Orca” (1977), “Piranha” (1978) ataupun “Alligator” (1980).

Untuk kasus “Crawl” sendiri, film ini justru menempatkan aligator yang notabene bukan predator yang unik dan spesial. Sederet film kelas B, banyak mengangkat binatang prasejarah ini sebagai sosok menakutkan sejak akhir tahun 70-an hingga kini. Selain “Alligator”, beberapa contoh film yang mungkin kita kenal adalah “Lake Placid” (1999) dan “Rogue” (2007).

Sang sutradara film, Alexandre Aja (High Tension, The Hill Have Eyes) sebenarnya sudah pernah menggarap film bertema serupa, sejak ia menyutradarai “Piranha 3D” (2010) yang menghasilkan pundi-pundi hingga US$ 83 juta. Kini di “Crawl”, kita akan melihat seberapa efektifkah film ini bila dibandingkan dengan pendahulunya. Apakah film ini sangat menegangkan dan juga menakutkan? Mengingat Alexandre Aja selama ini terkenal dengan filmnya yang kental dengan sentuhan gore-nya dan selama ini dia dikaitkan dengan gerakan ‘New French Extremity’, karena horor ekstrem yang tergambar dalam film-filmnya, khususnya film klasik “High Tension”  di tahun 2003.

Dengan adanya Sam Raimi di bangku produser, bisa dipastikan film ini akan jauh menjanjikan. Mengingat Sam Raimi yang kita kenal dengan Spiderman 1-3 (2002-2007), pondasi film-filmnya sejak awal memang dikenal justru dari film horor berdarah-darah seperti saga “The Evil Dead” (1981-1992).

Untuk premisnya sendiri sebenarnya “Crawl” sangat sederhana dan gampang dicerna, tak ada plot dan twist berliku, semua terpampang jelas dengan alur maju yang bertutur relatif lambat. Haley Keller (Kaya Scodelario) dan ayahnya, Dave Keller (Barry Pepper) tinggal di Florida. Suatu hari badai berkekuatan dahsyat dengan kategori lima tiba di tempat mereka dan Haley berusaha menelpon ayahnya untuk segera pergi, namun ayahnya tak juga menjawab. Haley kemudian menyusul sang ayah ke rumah lamanya di Coral Lake, dan menemukan ayahnya tergeletak di rubanah dalam kondisi terluka. Tak lama mereka menghadapi sesuatu yang mengerikan ketika bersembunyi di depan mata mereka: aligator! Namun mereka tak dapat langsung keluar karena hujan deras terus menerus tanpa henti membuat rumah mereka terendam air, dan kawanan aligator lainnya semakin lama semakin banyak berdatangan mengepung rumah mereka. Apakah mereka dapat lolos dari kawanan aligator itu?

Menarik melihat kedua karakter utama ini digambarkan dalam film ini. Pengembangan karakter terfokus pada Haley dan bagaimana ayahnya membantunya mencapai apa yang ia cita-citakan selama ini. Namun hal itu tak berlangsung lama, memasuki menit ke-30, film perlahan mulai meningkat tensinya, seiring permasalahan yang makin memuncak di antara Haley dan ayahnya. Untuk setting-nya sendiri, semua terlihat rapi dan mulus, terutama efek CG yang benar-benar mengagumkan, seperti penggambaran rubanah yang gelap dan penuh air. Aligator nya sendiri terlihat nyata dengan detil-detil kecil yang membuatnya sangat hidup dan menakutkan. Diperkuat dengan scoring yang mencekam dan editing yang rapi, audiens akan diajak dalam ketegangan tanpa henti lewat hentakan jumpscares yang sangat menggigit.

Walaupun temanya termasuk pasaran, Alexandre Aja berhasil membuktikan kalau karyanya yang ini jauh lebih baik ketimbang Piranha 3D dengan akting solid dan mumpuni dari kedua cast utamanya, chemisty yang terbangun lebih disebabkan karena keduanya pernah bermain bersama di trilogi “Maze Runner”. Dengan modal hanya US$ 17 juta, rasanya tak sulit film ini meraup pendapatan lebih tinggi, terlebih audiens di Amerika Serikat memang haus akan hiburan dengan rating R seperti ini, terlebih dengan tema predator yang memang akrab dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Buat kamu yang ingin menonton, harap berhati-hati dengan unsur gore-nya yang bikin miris mata. Dengan rating ditujukan untuk 17 tahun ke atas, rasanya kamu sendiri bisa menilai film ini seperti apa nantinya.

 

Director: Alexandre Aja

Starring: Kaya Scodelario, Barry Pepper, Ross Anderson, Morfydd Clark

Duration: 87 Minutes

Score: 7.5/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here