“The mind is a fragile thing. Takes only the slightest tap to tip it in the wrong direction.” – Professor Charles Xavier.

Setelah hampir dua dekade lamanya, franchise X-Men telah menemani kita dalam awal mula perjalanan superhero di sebuah film layar lebar, dan bahkan film pertamanya, “X-Men” (2000) membuat suatu hal yang tadinya mustahil diwujudkan menjadi suatu visualisasi menakjubkan dari para karakternya.

Maju jauh hingga kini, di mana banyak sekali film-film superhero bermunculan, begitu pula dengan franchise X-Men yang maju terus dengan “X2: X-Men United” (2003) dan diakhiri dengan “X-Men: The Last Stand” (2006).

Trilogi ini tak lantas membuat semua kisah X-Men selesai sampai The Last Stand saja, rencana membuat prekuel kembali dimunculkan, dan Fox kembali membuat gebrakan dengan membuat seri prekuel yang dimulai dari “X-Men: First Class” (2011) dilanjutkan dengan “X-Men: Days of Future Past” (2014) dan “X-Men: Apocalypse”.

Kini menjelang saga penutup, banyak perubahan terjadi, terutama menyangkut nasib dari kesepakatan Fox dan Disney yang sekarang terlihat dari film terakhir dan penutup saga X-Men, yakni “Dark Phoenix”.

Simon Kinberg yang biasanya terlibat di penulisan dan produser di beberapa film X-Men terakhir, didapuk sebagai sutradara yang juga merupakan debut perdananya di film ini. Dilihat dari judulnya, Simon terlihat ingin kembali menghidupkan alur cerita “Dark Phoenix” sebagai adaptasi terbaik setelah ia merasa gagal di “X-Men: The Last Stand” (2006).

Sayangnya apa yang disuguhkan di film ini pada akhirnya tidak memberikan akhir yang memuaskan untuk franchise film X-Men secara keseluruhan. Kita review seperti apa filmnya kali ini.

Sedikit flashback sedikit ke belakang, cerita Dark Phoenix yang kini kita lihat di film X-Men terakhir ini, mengacu pada alur cerita komik “Dark Phoenix Saga” yang ada pada seri X-Men Uncanny dari tahun 1976 hingga 1980 karya duo John Byrne dan Chris Claremont. Pada film “Dark Phoenix” semua terlihat jelas konklusinya, sementara dalam komiknya sendiri, semua hal itu tidak sesederhana yang digambarkan dalam film.

Film langsung masuk ke tahun 70-an, saat di mana Jean Grey kecil (Summer Fontana) sedang duduk di kursi belakang mobil, saat ayahnya, John Grey (Scott Sheperd) dan ibunya, Elaine (Hannah Anderson) sedang mengendarai mobil sembari mendengarkan lagu di radio.

Tak bisa mengontrol kekuatan pikirannya, Jean pun tak sengaja menyebabkan orang tuanya kecelakaan dan meninggal dunia, sementara Jean kecil tak terluka sedikit pun.

Cerita kemudian bergeser jauh ke tahun 1992, saat anggota X-Men ditugaskan pemerintah untuk menolong para astronot yang terjebak di luar angkasa saat badai kosmik dahsyat sedang menuju pesawat luar angkasa mereka.

Tim X-Men yang dipimpin oleh Charles Xavier (James McAvoy) menugaskan Mystique (Jennifer Lawrence), Beast (Nicholas Hoult), Jean Gray (Sophie Turner), Cyclops (Tye Sheridan), Storm (Alexandra Shipp), Nightcrawler (Kodi Smit-McPhee) dan Quicksilver (Evan Peters) untuk menyelamatkan mereka.

Namun, Jean dihantam oleh kekuatan kosmik dari badai tersebut dan menyerap semua kekuatan itu ke dalam tubuhnya. Secara mengejutkan Jean tetap hidup, namun ada yang berubah, Jean merasa kekuatannya bertambah kuat dan tidak bisa ia kontrol lagi.

Saat pikirannya sudah tak bisa dikendalikan lagi oleh Professor X, dirinya mulai menguak masa lalunya yang kelam di bagian otaknya yang dahulu dikunci oleh Professor X dan Jean berontak dan keluar dari akademi X-Men untuk mengunjungi masa lalunya tersebut.

Ia berharap masa lalunya itu akan membuat pikirannya tenang, namun kekuatan misterius (yang nantinya dikenal sebagai kekuatan Phoenix) itu membuat dirinya secara tidak sengaja membunuh seorang anggota X-Men.

Jean lantas mencari bantuan Magneto (Michael Fassbender) yang tinggal berkelompok dengan sesama mutan lainnya, tetapi melihat bahaya yang ditimbulkannya, ia mengusir Jean dari tempat tinggalnya selama ini.

Tak ada tempat yang dituju, Jean didekati seorang wanita misterius (Jessica Chastain), yang mencari kekuatan Phoenix yang selama ini ada dalam diri Jean. Sekarang tinggal Jean yang menentukan pilihan, apakah akan melawan teman-temannya atau bergabung dengan wanita misterius tersebut.

Premis yang sangat sederhana ini muncul dikarenakan minimnya konflik antar karakter dan kurangnya runtime yang digunakan untuk mengembangkan elemen sekunder pendukung cerita.

Adanya perbandingan dengan The Last Stand lebih disebabkan karena keduanya mengadaptasi alur cerita “Dark Phoenix”, walaupun sebenarnya untuk film terbaru ini, cerita lebih terfokus ke Jean Grey yang sayangnya mengorbankan karakter dan elemen lain yang semestinya juga ikut diceritakan.

Elemen lain yang kurang digarap terutama dari sumber kekuatan Phoenix yang diperoleh Jean Grey dan sosok wanita misterius yang ternyata merupakan alien yang bisa bertransformasi menjadi manusia atau shapeshifter.

Wanita misterius bernama Vux ini lah yang pada akhirnya mendominasi paruh akhir cerita. Plot yang cenderung stagnan satu dimensi ini memang cenderung melemahkan koneksi manusia dan mutan yang selama ini dibangun di film-film X-Men sebelumnya.

Semua elemen sekunder, terutama dari karakter pendukungnya seharusnya dapat memberikan kisah Dark Phoenix dan Jean Grey menjadi suatu kisah yang menarik, namun nyatanya interkoneksi antara Jean Grey dan kekuatan Phoenix yang dimilikinya tidak dapat dijelaskan, begitupun dengan aktingnya yang terbilang buruk dan terlalu datar, nyaris tanpa pendalaman emosi dalam memerankan karakter besar seperti Jean Grey ini. Sangat jauh bila kita bandingkan dengan Famke Janssen yang memerankan sosok serupa di The Last Stand.

Begitu juga dengan konflik Jean Grey dengan Professor X yang semestinya digali lebih dalam, perseteruan yang semakin menyeruak akibat kekuatan Phoenix yang masuk ke tubuh Jean, menyebabkan friksi baik antara Jean Grey – Professor X dan juga Raven/Mystique dengan Professor X yang lagi-lagi mentah hanya sekedar kulitnya saja konflik ini bertutur.

Kekurangan lainnya tak hanya itu, banyak dialog yang diucapkan cast-nya tak menggigit, tak ada ‘wow factor’ di sini dan semua adegan berjalan sambil lalu begitu saja tanpa respon emosional yang mestinya dapat terucap dari mulut kita setelah menonton film ini.

Fondasi cerita yang lemah ini memang muncul dari sosok Sophie Turner yang kurang pantas memerankan Jean Grey (sudah mulai terlihat sejak X-Men: Apocalypse). Terlebih kali ini Sophie Turner menjadi lead cast di antara karakter senior, namun kali ini karakternya yang membingungkan dan motivasinya yang tak terbaca, kerap membingungkan kita kemana cerita ini nantinya akan berakhir.

Kekurangan seperti ini lebih disebabkan adanya skrip yang kurang berani mengekspos sebuah karakter dan cast yang tidak dapat mengekspresikan skrip yang telah dibuat untuknya.

Pun serupa dengan karakter Vux yang terlihat biasa saja dan tidak terlihat sebagai sosok villain yang powerful. Kemampuan alien dari ras D’Bari yang mempunyai kemampuan shapeshifter yang seharusnya diperlihatkan, malah hanya terlihat sekilas saja, selebihnya kita melihatnya lewat tampilan manusia.

Selain itu kekurangan lainnya juga hadir lewat CG yang tak semua digarap baik, action scenes, scoring-nya pun terbilang mediocre untuk sebuah film superhero, dan kemungkinan hal ini disebabkan oleh adanya reshoot adegan yang terbilang ekstensif, menyebabkan film ini mundur setahun, yang berakibat kurangnya motivasi para cast-nya dalam menyelesaikan film penutup yang seharusnya tampil epik. Semua tampak terburu-buru untuk segera menyudahi film ini.

Sebagai film ketujuh dan terakhir dalam franchise X-Men, “Dark Phoenix” tidak menyelesaikan saga ini dengan cara yang memuaskan. Banyaknya kekurangan terutama di elemen sekunder, sisi teknis dan karakterisasi tokoh yang tak kuat dan solid membuat harapan para fans nya akan film penutup ini berlangsung antiklimaks, tak seindah karakter MCU yang ditutup dengan cara yang epik dan emosional.

Memang “Dark Phoenix” masih sedikit menghibur, namun dengan skala minor, film ini jelas tidak akan berdampak banyak secara signifikan. Tidak jelas bagaimana tepatnya kesepakatan Fox dengan Disney memengaruhi Dark Phoenix secara keseluruhan, rasanya film ini akan cepat terlupakan dalam ingatan kita, terutama yang mengikuti saga ini sejak awal.

 

Director: Simon Kinberg

Starring: Sophie Turner, James McAvoy, Jennifer Lawrence, Michael Fassbender, Jessica Chastain, Nicholas Hoult, Evan Peters, Alexandra Shipp, Tye Sheridan, Kodi Smit-McPhee.

Duration: 113 Minutes

Score: 5.5/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here