“DuPont is knowingly poisoning seventy thousand local residents for the last forty years.” – Robert Bilott.

Masih segar dalam ingatan kita seberapa gregetnya Mark Ruffalo di film “Spotlight”. Berperan sebagai salah satu jurnalis dari tim investigasi, Mark bermain dengan sangat apik. Ia berhasil menampilkan karakter yang begitu passionate dengan apa yang ia kerjakan. Nah sekarang, ada satu film lagi yang akan menuntut Mark kembali berakting serupa. Judulnya adalah “Dark Waters” yang disutradarai oleh Todd Haynes.

Film ini memiliki kesamaan dengan “Spotlight”, di mana sama-sama menceritakan kasus besar yang terungkap. Di “Dark Waters”, seorang pengacara dari firma ternama didatangi oleh peternak sapi. Ia membawa sekardus video tape dan membeberkan kalau ada yang aneh di lingkungan tempat tinggalnya. Kebetulan sekali, tempat tinggalnya adalah Parkersburg – West Virginia yang merupakan tempat masa kecilnya. Apalagi, sang peternak mendapatkan kontak Robert dari neneknya yang masih tinggal di daerah Parkersburg itu.

Melihat persamaan tematik dengan “Spotlight”, ada plus-minus yang bisa kita petik jika mengacu pada performa dari Mark Ruffalo. Negatifnya, bisa saja kita sudah bosan karena Mark akan berakting kurang lebih bawaannya sama dengan karakternya di “Spotlight”. Memang sih, ada beberapa detail yang nampak tapi basisnya sama. Seorang karakter yang berpendirian kuat dan mencintai apa yang ia kerjakan. Sifat perangai yang ditampilkan juga serupa.

Nah positifnya, arc dari karakter pengacara Robert Billot pasti akan jauh lebih komplit karena “Dark Waters” menempatkan Mark Ruffalo sebagai karakter utama yang dari segi screen time saja itu sudah sangat berbeda. “Dark Waters” bukanlah film ensemble cast layaknya “Spotlight”. Ini adalah tipe film yang bisa menjadi kendaraan bagi Mark untuk semakin menasbihkan diri sebagai aktor yang disegani. Bukan tidak mungkin, peluangnya untuk mendapatkan nominasi di kategori “Best Actor” terbuka lewat film ini. Dia membuat profesi pengacara sangat keren lagi bertaji.

Akting berikutnya yang wajib diberi sanjungan adalah Anne Hathaway. Berperan sebagai istri Robert Billot yaitu Sarah, Anne berhasil mencuri perhatian alias menjadi “scene stealer”. Sebagai seorang istri dari pengacara yang sedang menuntut perusahaan raksasa, Sarah diharapkan dapat mengerti situasi. Tapi di sisi lain, tentu akan ada tekanan atau keinginan yang timbul dari diri sendiri demi nasib keluarga. Ini lah hal yang dituntut ada dan Anne menampilkannya. Di setiap scene ia selalu memberikan kehadirannya jadi sesuatu yang berarti. Pemikirannya tidak hanya dicurahkan kepada suaminya tapi juga pada karakter lainnya, sesuai dengan kondisi. Efektif di saat yang dibutuhkan. Anehnya, justru hal berbalik pada karakter pendukung yang lebih vital.

Ia adalah sang supir truk, Wilbur Tennant, yang diperankan oleh Bill Camp. Karakter ini dari awal sudah terlihat gusar. Nada bicaranya tinggi, bahkan terkesan membentak. Bisa jadi ini diperlukan karena mungkin wataknya memang begitu. Atau, bisa karena logat, or whatsoever. Tapi hal ini tetap menyulitkan kita untuk bisa menaruh simpati padanya. Yang ada justru karakter yang cenderung satu dimensi. Selain itu, Wilbur ditampilkan sejak tahap orientasi dan dengan pembawaan karakternya yang seperti itu, perkenalan penonton terhadap konflik di “Dark Waters” jadi seakan prematur. Bukan berarti kita tidak dapat menerima intensitas film yang langsung meninggi di awal. Melainkan, karakter yang membawakannya kok kelihatannya gak santai banget. It looks just too much.

Lantas bagaimana dengan ceritanya? Apakah terlalu lebay juga? Tidak. Sama sekali tidak. Justru “Dark Waters” bisa melakukan dua hal penting dari ceritanya. Yang pertama, film ini masih bisa dimengerti oleh kita yang tidak paham kimia. Ini jelas terlihat dari salah satu scene di mana Robert berbincang dengan pakar di sebuah restoran. Robert ditempatkan sebagai kita yang memang tidak menguasai kimia secara mendalam. Tapi yang pasti, ia mengetahui kalau ada sesuatu yang tidak beres di balik semua itu.

Kedua adalah komprehensif atau bisa dikatakan luas. Masa cerita kurang lebih ditampilkan dalam rentang 20 tahun. Kebayang dong ya gimana pusingnya filmmaker dan penulis dalam menentukan poin-poin penting, kemudian merangkainya tanpa kehilangan emotional grip. Dalam rentang waktu 20 tahun yang selektif itu, kita bisa melihat dengan jelas urutannya. Mulai dari ketika kasus ini masih dianggap remeh, sampai ketika kasus ini sudah menjadi isu yang besar. Belum lagi film juga bisa membawa kita menelusuri rekam jejak sang antagonis. Sungguh menambah wawasan dan akhirnya bisa bikin tercengang. Cara mereka membangun investigasi patut diacungi jempol.

Hanya saja, di tahap orientasi “Dark Waters” memiliki problem. Selain karena entrance-nya kurang enak gara-gara pembawaan satu karakter tertentu, ada juga beberapa faktor yang meski kecil tapi menimbulkan pertanyaan. Bagusnya, hal itu ditutup langsung oleh pengungkapan demi pengungkapan yang membuat film konspirasi lingkungan hidup ini jadi semakin lama semakin beneran hidup. Semua lalu ditampilkan secara perlahan namun tartil, runtut dari awal sampai akhir.

Tidak hanya itu, ternyata cerita juga justru bisa mekar dengan baik. Yang awalnya menjadi perkara adalah berdasarkan pengaduan, apa yang Robert selidiki kemudian berkembang menjadi lebih masif, menyertakan sejarah kelam perusahaan DuPont, dan somehow alur masuknya enak. Ini yang membuat payoff penonton, yang sudah tidak sabar melihat kasusnya meledak. Di tahap konfrontasi yang panjang, film bahkan menambah karakter yang merupakan korban seperti Bapak Tennant.

Untuk sinematiknya, satu kata yang bisa kami berikan untuk “Dark Waters”: Konsisten. Ya, film ini sangat konsisten dalam menaruh elemen visual. Guna menjawab tuntutan naratifnya, visualnya dibuat senada dengan penuansaan dingin yang cenderung menimbulkan kekelaman. Penggunaan warnanya dominan biru, dengan tambahan guyuran salju di beberapa bagian film. Ini sangat sesuai dengan feel dari kisah dan “Dark Waters” dan tidak akan melepaskanmu hingga akhir.

Setting pun juga ikut berubah seiring dengan berjalannya waktu. Mulai dari tempat penyimpanan berkas di Taft hingga nantinya akan banyak courtroom scene. Anyway, akan ada beberapa cameo yang penting di dalam film. Yang paling menonjol tentu adalah korban asli dari kasus DuPont, yang ceritanya dia saja sudah bikin miris kita. Pria ini ditampilkan di timing yang tepat. Ia menjadi trigger bagi Robert yang saat itu sedang berada dalam tekanan yang hebat.

Kemudian mengenai sinematografi dan editing-nya. “Dark Waters” menggunakan teknik yang oke demi efisiensi waktu. Untuk urusan sinematografi, akan ada saatnya film menampilkan karakter Robert yang sedang bergulat dengan banyak berkas mengenai DuPont. Keindahan lalu dimunculkan ketika shot menampilkan Robert dari atas dan ia terus bergerak dari waktu ke waktu menggunakan teknik time lapse. Lalu ada juga saatnya film memanfaatkan dialog untuk sebuah suguhan yang efisien.

Ketika karatker Robert bercerita, gambar yang ditunjukkan bukan hanya di situasi awal. Melainkan nanti akan ada situasi lain yang ditampilkan dalam narasi yang masih sama. Ini seperti kapsul waktu yang efektif, memanfaatkan teknik cutting yang tepat. Jelas bahwa sineas memanfaatkan salah satu sifat editing gaya ‘Cut’, yaitu fleksibel. Jika tidak, bisa saja film jadi menjemukkan padahal momen yang ingin ditampilkan adalah saat yang penting dalam tahap konfrontasi.

Mengalun lambat dengan nuansa yang dingin, “Dark Waters” betul-betul menjadi potret yang oke dalam menampilkan perjuangan seorang individu dalam menghadapi musuh besar. Cuma, kita harus bersiap dahulu karena cerita ditampilkan secara luas jadi yang namanya bosan bisa saja terjadi. Namun jika melihat dari materi cerita, tentu yang model begini lah yang disukai Oscar. Apalagi bisa bawa-bawa isu lingkungan juga. Makin mulia lah ia. Mark Ruffalo pun bisa saja mendapatkan nominee untuk pemeran utama terbaik Oscars 2020. Ia tampil lebih memuaskan dibanding saat di “Spotlight” dulu. Well done!

 

Director: Todd Haynes

Starring: Mark Ruffalo, Anne Hathaway, Bill Camp, Tim Robbins, Bill Pullman, Victor Garber

Duration: 126 Minutes

Score: 8.3/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here