Deadpool 2, Hadirnya ‘Keluarga’ Baru yang Penuh Warna Dalam Kehidupan Wade Wilson

0
319

“I won’t let Cable kill this kid. But I can’t do it alone. We’re gonna form a super duper fucking group: we need them tough, morally flexible and young enough to carry a franchise for 10-12 years. We’ll be known as… X-Force!” – Deadpool.

“Breaking the fourth wall” adalah keunggulan Deadpool ketika film pertamanya dirilis pada tahun 2016 lalu. Sebuah film anti-hero yang dibuat sangat menyerupai karakter aslinya di dalam komik. Tidak hanya sesuai dari segi tampilan, “The Merc with Mouth” juga dibuat Rated-R, sesuatu yang tidak hanya berisiko namun juga menjadikan karya ini begitu unik. Di film kedua, tentu hal semacam itu sudah bukan menjadi perhatian utama lagi. Kita sudah tahu karakter Deadpool itu seperti apa dan filmnya sendiri sangat merangkul hal tersebut. Tentu tidak masalah kalau Deadpool 2 kembali menampilkan formula serupa, hanya saja dibutuhkan perbedaan guna meningkatkan kualitas film secara keseluruhan. Luckily, this movie did it!

Wade Wilson (Ryan Reynolds) sekarang sudah bekerja sebagai mercenary yang membunuh para penjahat kelas kakap. Mereka adalah sekumpulan orang-orang yang istilah kata “tidak tersentuh”. Sayang, risiko dari pekerjaan ini membuatnya harus membayar mahal. Takdir kemudian membawa Wade ke tempat di mana teman-teman lamanya berada. Saat mengerjakan sebuah tugas, Wade malah dijebloskan ke dalam penjara.

Di sini kita bisa melihat satu hal yang tidak asing lagi dalam kehidupan kita sehari-hari yaitu situasi di mana manusia yang berhati nurani dihadapkan pada dua pilihan yaitu antara “Do the right things”, atau ” Do the things right”. Wade Wilson aka Deadpool menghadapi hal tersebut dalam situasi chaos sehingga apa yang ia pilih terlihat klise, namun nyata adanya. Cerita dimulai dengan tidak hanya menerjemahkan sebuah pilihan yang umum, tapi juga memberinya pengaruh kemanusiaan dalam sepak terjang tokoh utama.

Jika di film pertama motivasi Deadpool masih dalam tahap basic, di film kedua semua bisa dikatakan sudah berbeda. Sudah naik tingkat. Hubungannya dengan Vanessa (Morena Baccarin) memasuki babak berikutnya di mana mereka menginginkan sesuatu yang dipercaya akan membuat keduanya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Komitmen ini yang nanti akan menjadi pemicu cerita bagi film Deadpool 2.

Alurnya dijabarkan dengan gaya yang sama dengan film pertama. Kita diperlihatkan pada sebuah scene di mana scene tersebut kemudian mengantar kita ke kejadian sebelumnya. Tidak membosankan karena mulai dari situ film mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik dalam menghibur penontonnya. Mulai dari adegan pertarungan yang dipenuhi kekerasan, banyolan berisi referensi pop culture, hingga karisma khas Deadpool. Kembali menyenangkan hingga semua kembali tersambung, dan film ini berkembang ke arah yang lebih jauh lagi.

Arti keluarga juga muncul dari para karakter pendukung, yang notabene merupakan tokoh-tokoh baru. Ada Russell aka Fistblast (Julian Dennison), seorang bocah mutan dari panti rehabilitasi yang sedang diusahakan untuk dilindungi oleh Deadpool. Kemudian muncul Cable (Josh Brolin), seorang pemburu yang datang dari masa depan. Kisah yang tampil dari keduanya membuat film semakin berwarna. Apa yang menjadi penyebab Russell dan Cable menjadi seperti ini sangatlah menarik untuk disimak. Ketika dua hal tersebut bersinergi dengan ceritanya Deadpool, kita dapat melihat sebuah benang merah yang menyatukan layer demi layer.

BACA JUGA :  Blame! – Hope for Humanity Lies with a Lone Wanderer

Muaranya adalah apa yang telah disebut di awal, hal yang membuat pribadi manusia menjadi lebih baik lagi. Josh Brolin kembali memberikan penampilan yang solid sebagai Cable. Dia jelas bisa memisahkan diri dari karakter Thanos walaupun ada satu hal mendasar yang membuat dua karakter itu terlihat mirip. Cable adalah sosok yang lebih pemarah, gahar, dan lebih luwes dalam bertarung. Sementara itu Julian Dennison berperan sebagai bocah lugu yang begitu sederhana. Ia terlihat gelisah hampir di sepanjang film sehingga hampir sulit untuk melihat talenta dari Fistblast yang sesungguhnya.

Pergantian sutradara dari Tim Miller yang menggarap film pertama Deadpool ke David Leitch yang menyutradarai film ini, memang tak berdampak signifikan. Leitch yang sebelumnya menggarap Atomic Blonde (2017) malah memberi nuansa baru dan aksi yang kaya warna dengan banyak tokoh baru bermunculan, juga cameo yang tentunya membuat film ini menjadi lengkap dan lebih bernyawa ketimbang film pertamanya. Duo Rhett Reese dan Paul Wernick yang tetap dipertahankan dalam penulisan naskah film hingga sekuelnya kali ini, membuat cerita dengan multi plot sejak awal dimulai, dan hal itu tidak memberi ruang untuk kita dalam menebak bagaimana film ini akan berakhir, bahkan kejutan – kejutan terus bermunculan dan akan membuat kita terkejut terus hingga post credit selesai.

Satu perbedaan yang cukup mencolok justru datang dari original soundtrack-nya. Berbeda dengan Deadpool pertama yang memainkan lagu “X’Gon Give It To Ya” dari DMX, kini di Deadpool 2, Celine Dion mencoba bereksplorasi lewat lagu yang lebih lembut dan syahdu. Dengan judul “Ashes”, lagu ini dimanfaatkan secara maksimal di luar ekspektasi kita. “Ashes” bukan sekedar lagu yang dimainkan lewat credit semata, namun lewat core film yang lebih dalam dan (mungkin) mature. “Ashes” terasa sebagai pengiring yang cocok. Lagu ini juga ditempatkan dengan baik di beberapa scene sehingga menambah kental unsur dramatis yang secara mengejutkan tidak lebay sama sekali.

Starring: Ryan Reynolds, Josh Brolin, Morena Baccarin, Julian Dennison, Brianna Hildebrand, Zazie Beetz, Karan Soni, T.J Miller

Director: David Leitch

Duration: 119 minutes

Score: 9.0/10

Facebook Comments