‘DreadOut’, Film Indonesia Adaptasi Game yang Belum Memuaskan

Karena Desember silam bioskop sudah diporak-porandakan oleh film-film Hollywood, maka Januari 2019 adalah saat yang tepat bagi film Indonesia untuk balas dendam. Tidak tanggung-tanggung, beberapa film ber-status “anticipated” rilis mulai dari minggu pertama Januari. Salah satunya adalah ‘DreadOut’. Mengapa film ini diantisipasi? Well, alasan utamanya adalah karena film ini merupakan bentuk adaptasi dari game populer berjudul sama, yang pertama kali rilis tahun 2014 oleh developer ‘Digital Happiness’, bahkan sampai dimainkan, dan di-review oleh gamer papan atas internasional. Tak pelak ini membuat kita tertarik, meski di lain sisi tendensi negatif mengenai film adaptasi game ini akan terus menghantui.

Film “DreadOut” ini sendiri ternyata adalah prekuel dari versi game-nya, di mana awal film ini akan menampilkan satu sequence yang ke depannya akan menjadi sesuatu yang penting. Kemudian setelah itu kita akan langsung diperkenalkan oleh Linda (Caitlin Halderman), seorang siswi SMA yang sangat mandiri, namun tidak terlalu baik dalam sekolah. Wajar, di usia yang masih sangat muda, Linda sudah harus bekerja. Ini membuatnya kedodoran dalam mengejar pelajaran-pelajaran di kelas. Suatu ketika, saat Linda bekerja, ia bertemu dengan kakak kelasnya yaitu Erik (Jefri Nichol). Sempat ngobrol sebentar, ternyata Erik balik lagi menemui Linda untuk meminta bantuan. Teman-teman Erik berencana untuk mengadakan live streaming di sebuah gedung tua. Gedung ini terlihat menyeramkan dan katanya pernah ada kasus yang terjadi di sana bertahun-tahun yang lalu. Erik tahu kalau Linda kenal dengan penjaga gedung tersebut. Maka Erik meminta Linda ikut ke gedung itu agar Linda mau membujuk sang penjaga gedung.

Film tidak terlalu berhasil dalam memberikan opening yang bisa membuat kita langsung tertarik kepada filmnya. Meski sequence pertama memiliki intensitas yang tinggi, namun apa yang mereka tampilkan setelah Linda pulang dari sekolah masih terasa mentah. Tidak ada emotional build-up yang baik antara kepentingan geng-nya Erik dengan Linda. Semua terjadi secara kebetulan, dan kemungkinan memang dibuat tanpa perencanaan. Hal ini membuat penonton kaget karena semua berjalan terlalu cepat. Adanya geng Erik dan kawan-kawan sebaiknya diperkenalkan lebih dulu. Tidak ujug-ujug langsung ketemu Linda dan secara kebetulan semuanya terpikiran dan terjadi. Maksudnya diperkenalkan di sini bukan memperkenalkan siapa-siapa saja personilnya, namun juga memberi tahu apa tujuan mereka di dalam film dan bagaimana proses geng ini bisa menemukan solusi sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu Linda. Arahan seperti ini mungkin akan membuat tahap persiapan berjalan lebih smooth.

Lalu mengenai teror dari makhluk astralnya. Bagi kamu yang tidak bermain ‘DreadOut’ versi game, ada baiknya untuk mengetahui bahwa terdapat dua karakter setan ikonik dari game ini, yang ditampilkan di dalam film. Pertama adalah Pocong. Tidak seperti pocong kebanyakan, pocong versi ‘DreadOut’ terbilang unik karena membawa celurit. Gaya berjalannya pun seperti zombie, bukan meloncat-loncat kesana kemari. Kemudian ada Kebaya Merah. Berwujud perempuan dengan konde dan wajah yang menyeramkan, Kebaya Merah adalah bos utama di versi game. Dia juga lah yang menjadi lawan berat bagi Linda dan kawan-kawan dan beberapa scene yang melibatkan Kebaya Merah cukup seru karena adegan-adegan ini menggunakan sling. Untuk penampilannya sendiri, Rima Melati Adams tampil bagus sebagai Kebaya Merah. Ia terlihat menyeramkan, intimidatif, beringas, kuat, pokoknya apa yang kita harapkan dari sosok bos utama ia tampilkan dengan baik.

Hanya saja, pocong tampil mengecewakan. Sebagai henchman, keberadaan pocong di sini cukup berbeda karena screen time-nya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Kebaya Merah. Oke lah, mungkin ini preferensi sutradara, toh juga katanya di versi game pun Kebaya Merah sangat ditonjolkan dan Rima Melati Adams juga memerankannya dengan baik di versi film. Tapi yang bikin kecewa adalah, film kurang memanfaatkan apa yang menjadi kelebihan pocong secara efektif. Karakter pocong yang membawa celurit tentu sangat bisa dimanfaatkan guna meningkatkan kadar intense dan kengerian film ‘DreadOut’. Sabetan celurit yang mereka bawa bisa menjadi tandem yang bagus bagi jumpscares, layaknya Kebaya Merah memainkan kapak di scene yang lain. Penonton ingin melihat, seberapa seram dan brutalnya para “pocong kriminil” ini. Sayang, hal itu tidak kunjung terjadi. Istilah kasarnya, “pocongnya biasa aja”. Masih kurang berkesan.

Kemudian film juga memiliki beberapa scene di mana para karakter terjerembab kedalam liang lahat yang tiba-tiba terbuka. Setelah masuk ke dalam liang tersebut, karakter yang bersangkutan akan diteror oleh banyak setan dengan bentuk tertentu. Ini sesungguhnya merupakan salah satu variasi dari film untuk meningkatkan keseruan sekaligus kengerian. Sayangnya, bagian ini malah jatuhnya “zonk” karena film belum berusaha untuk mendorong batasan yang ada. Di liang lahat, gangguan-gangguan yang datang masih bersifat “basic”, dan itu tidak akan berubah menjadi lebih buruk lagi bagi karakter yang terjerembab. Sial, salah satu scene di liang lahat ini menunjukkan blunder dengan menampilkan wajah pocong yang muncul dari dinding liang lahat dan di situ masih terlihat teknik animasi komputer yang kasar. Sebetulnya tidak perlu sampai melakukan hal itu untuk meneror penonton. Cukup memanfaatkan apa yang sudah ada di sekeliling saja. Misalkan, gangguan yang tampil ternyata bisa melakukan hal yang lebih gila kepada karakter yang terjerembab di sana. Atau bisa juga setelah gangguan ini secara konstan mengganggu korbannya, liang lahat semakin lama semakin tertutup rapat. Ada permainan waktu yang muncul secara jelas, dan jika sudah menyangkut hal ini maka teror akan terasa lebih mengasyikkan lagi.  

Meski begitu, ada sedikit kelegaan setelah melihat bagaimana ‘DreadOut’ bergulir dari tahap yang satu ke tahap yang lain. Kekhawatiran terbesar sebelum menonton ‘DreadOut’ adalah cerita yang terlalu berlebihan. Pemikiran negatif ini pun cukup beralasan karena ada Jefri Nichol di sana. Sebagai aktor muda yang semakin hari semakin bersinar, feeling mengatakan bahwa karakter yang diperankan Jefri nantinya bisa saja merusak kesesuaian antara cerita versi game dan versi film. Bukan apa-apa, banyak juga dari mereka yang sudah memainkan game-nya concern akan hal ini. “Kok di situ ada Jefri? Kan karakter utama di game-nya itu yang cewek?”.

Tapi apa yang dikhawatirkan tidak terjadi. Film tetap menjadikan Linda sebagai karakter terpenting, teruatama, dan dengan screen time terbanyak. Tidak “bagi-bagi lapak” dengan Erik. Cowok ini tetap ditempatkan sebagai karakter pendukung, bukan menjadi karakter utama pria. Meski nanti di dalam cerita sempat muncul indikasi bahwa kemungkinan Erik akan stand-out, namun ternyata cerita tetap memberikan Linda spotlight utama. Nah, kalau sudah begini, menjadi amat penting untuk menyorot akting Caitlin Halderman. Sebagai film yang menjadi prekuel, penonton mau tahu bagaimana karakter dari Linda sebelum menjadi apa yang kita kenal di versi game. Hasilnya masuk akal. Linda di sini tampil sebagai cewek yang sudah memiliki bakat untuk menjadi jagoan, namun masih belum mantap betul untuk memanfaatkannya. Keberanian dia belum selevel Lin Shaye dari saga “Insidious” yang sepertinya sudah tidak bisa merasakan takut lagi. Linda masih selalu ketakutan, dan selalu panik, belum tahu bagaimana caranya melawan. Masih culun lah. Dikit-dikit teriak, terus kabur. Tapi ya itu, ia belum bisa melawan, meskipun ia tahu dan sadar untuk mau melawan.

Justru masalah ada di karakter pendukung lainnya. Meski masing-masing orang memiliki perannya masing-masing, ada satu hal yang sangat mengganggu di sini. Di banyak adegan, kelihatan sekali terdapat kekurangjelasan para aktor muda dalam melafalkan dialog masing-masing. Intonasinya kurang jelas dan cenderung overlap, hal tersebut semakin dipersulit lewat pace kata-katanya yang cepat. Oke lah kalau soal pace itu arahan dari sutradara dan argumennya jelas. Para aktor pun terlihat ngomong natural dan chemistry antar anggota juga solid. Hanya saja, pace yang diiringi oleh intonasi yang kurang jelas membuat banyak dialog jadi tidak terlalu kena. Insiden “Hah? Ni orang ngomong apa sih?” seringkali terjadi. Beberapa dari mereka terkesan “mumbling”, dan akhirnya yang bisa didapat oleh penonton hanya umpatan-umpatan “anj*ng!”.

Hanya saja permasalahan terbesar ada di cerita. Sebagai prekuel dari game-nya, ‘DreadOut’ mencoba untuk memberikan “origin story”. Terlihat, memang ada kaitan yang timbul pada karakter Linda dan ini ditunjukkan secara jelas. Ia memiliki masa lalu yang tidak beres. Tapi dari sana lah semua misteri berasal, dan ini tidak kunjung dijelaskan hingga filmnya selesai. Asal-usul keluarga Linda kurang jelas sejarahnya seperti apa. Siapa ayah dan ibunya padahal mereka nampak begitu penting di awal film. Kemudian mengenai satu item penting yang menjadi penggerak cerita juga tidak dijelaskan motifnya. Kenapa banyak orang mencari benda tersebut? Kita sebagai penonton juga harus mengetahuinya. Tidak hanya berdampak lemahnya logika kausalitas dalam cerita, pertanyaan-pertanyaan ini juga membuat penonton kesulitan untuk mencerna dan berujung pada “lack of investments” dari unsur naratif.

Coba untuk memberikan sedikit twist, ‘DreadOut’ menyajikan kejutan menjelang tahap resolusi. Di sini ada satu hal yang terungkap, dan hal ini sebetulnya sudah di-tease secara cerdas dari dialog-dialog di tahap konfrontasi. Kejutan ini kembali menyeret cerita ke masa lalu. Ya, tepatnya yang berhubungan dengan sequence pertama. Ternyata ‘DreadOut’ memiliki konflik sampingan yang dalam. Sayangnya, penempatan kejutan ini masih kurang tepat. Twist muncul dan meledak di turning point kedua. Cara penyampaiannya pun terlalu kasar. Ini membuat letih karena kita baru saja melihat action scene yang intens, dan ternyata itu membukakan pintu menuju tahap resolusi. Berangkat dari sana, jelas kita lebih ingin melihat bagaimana tahap resolusi ini ditampilkan. Namun dengan adanya twist, layer dari konflik menjadi bertambah dan ini membuat plot jadi bumpy. Ribet di akhir. Akan lebih mantap sensasinya jika twist ini disajikan lebih lembut. Tidak meledak-ledak namun tetap pesannya tersampaikan.

Lebih terasa sebagai sajian petualangan dibanding teror mengerikan, ‘DreadOut’ adalah gebrakan yang belum memuaskan. Ceritanya memiliki banyak pertanyaan yang membuat penonton sulit untuk peduli terhadap perjuangan karakter utama. Belum lagi unsur horornya yang hanya muncul dari Kebaya Merah saja. Adegan gore-nya tidak ada, hanya ditampilkan lewat suara dan practical dengan warna darah yang sudah menghitam. Meski begitu, jika sekuelnya digarap, film ini memiliki dua pintu yang bisa dimanfaatkan. Pertama adalah mundur ke masa lalu, atau yang kedua – maju ke depan guna menyelesaikan masalah yang muncul di akhir kisah.

Untuk kamu yang telah lama menunggu film ini, ‘DreadOut’ sudah bisa kamu saksikan di layar lebar seluruh Indonesia mulai 3 Januari 2019.

Director: Kimo Stamboel

Starring: Caitlin Halderman, Jefri Nichol, Rima Melati Adams, Marsha Aruan, Irsyadillah, Susan Sameh, Ciccio Manasero, Miller Khan, Mike Lucock, Hannah Al Rashid

Duration: 95 Minutes

Score: 6.3/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here