Festival Sinema Australia Indonesia 2019 akan Kembali Digelar

Australia. Negara yang sebetulnya memiliki peran penting dalam sejarah film dunia. Negeri Kangguru ini merupakan negara pertama yang merilis film panjang, tepatnya di tahun 1906 dengan judul “The Story of the Kelly Gang”. Kemudian Australia menjadi negara dengan produksi film panjang terbanyak. Setelah Hollywood datang, industri perfilman Australia tidak segahar dulu. Mereka kalah bersaing dengan Hollywood yang menawarkan konsep film-film blockbuster. Kini, Australia tengah membangun kembali masa-masa kejayaan mereka.

Salah satu caranya adalah dengan membangun kerja sama dengan negara lain dalam bentuk penyelenggaraan sebuah festival film. Kolaborasi sudah menjadi budaya yang mengakar kuat di Australia yang terkenal dengan multikulturalisme. Hal tersebut membuat festival film menjadi contoh yang baik dalam rangka memperkuat industri perfilman, tidak hanya untuk Australia namun juga untuk negara yang berkolaborasi dengan mereka. Dalam hal ini negara tersebut adalah Indonesia, yang mana industri perfilmannya sedang dalam masa “renaissance”.

Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2019 merupakan festival film kontemporer yang sekarang sudah memasuki tahun keempat. Merupakan acara tahunan yang disokong oleh Kedutaan Besar Australia, FSAI 2019 menayangkan film-film terbaik dari Australia dan Indonesia kepada penonton yang ada di Jakarta, Surabaya, Makassar, Mataram, dan Bandung. Film dari berbagai genre akan diputar dalam tiga section berbeda. Termasuk salah satunya adalah section “Flicker Fest”, yang merupakan section dari film-film pendek Australia yang terkenal di dunia.

Berikut adalah feature film dari Australia yang akan diputar di FSAI 2019:

– LADIES IN BLACK (2018)

Director: Bruce Beresford

Film ini akan menjadi film pembuka FSAI 2019 di Jakarta. Berlatar tahun 1959, “Ladies in Black” adalah sebuah film yang menunjukkan awal mula transformasi Australia menjadi negara multikutural yang sekarang kita kenal. Selain itu, terdapat pula kebangkitan dari kemerdekaan perempuan di masyarakat. Film ini merupakan adaptasi dari novel best-seller karya Madeleine St John. Prestasi yang sudah diraih antara lain “Best Lead Actress”, “Best Costume Design”, dan “Best Original Music Score” di Australia Academy of Cinema and Television Arts (AACTA) 2018.

– GURRUMUL (2017)

Director: Paul Damien Williams

Bentuk film dokumenter turut diputar di FSAI 2019. Dikenal oleh banyak penonton dalam dan luar negeri, artis penduduk asli Australia, yaitu Geoffrey Gurrumul Yunupingu adalah salah satu tokoh dengan suara yang paling penting dan diakui di Australia. Terlahir buta, Gurrumul menentukan tujuan dan arti hidup melalui lagu dan musik yang terinspirasi dari komunitas dan tanahnya yaitu Pulau Echo di Timur Laut Arnhem Land. Sutradara sekaligus penulis film ini, Paul Damien Williams, akan menghadiri festival dan menyapa penggemar film di Jakarta dan Mataram.

– STORM BOY (2019)

Director: Shawn Seet

Diantara seluruh film Australia yang dibawa ke FSAI 2019, “Storm Boy” adalah yang paling baru. Ini merupakan film drama keluarga yang menghangatkan tentang Michael Kingsley, seorang pensiunan pengusaha sukses dan juga seorang kakek. Michael terpaksa mengingat masa kecilnya saat dia mulai melihat hal-hal dari masa lalunya yang tidak bisa ia jelaskan. Kingsley kemudian menceritakab kembali pengalamannya tumbuh di pantai terpencil bersama ayahnya, di mana ia menyelamatkan seekor burung pelican bernama Mr. Percival. Film juga akan menampilkan bagaimana pengalaman Michael tersebut memberi kesan yang mendalam di hidupnya.

– OCCUPATION (2018)

Director: Luke Sparke

Jangan salah, Australia juga punya film fantasi-sci fi yang berkualitas! Dengan karakter-karakter alien di dalamnya, “Occupation” bercerita tentang sebuah kota yang mengalami serangan udara. Sekelompok penduduk lalu melarikan diri dan sadar kalau mereka merupakan salah satu korban selamat dari sebuah serangan luar angkasa yang terjadi di seluruh permukaan Bumi. Mereka kemudian langsung bergabung untuk membentuk pasukan melawan para musuh dan menjadi harapan terakhir bagi umat manusia di Bumi. Wah, “Red Dawn” ketemu sama “Independence Day” nih. Bakal seru pastinya! Hajar!!

– THE SONG KEEPERS (2018)

Satu lagi dokumenter dengan sentuhan budaya Australia yang otentik. “The Song Keepers” adalah fitur dokumenter tentang paduan suara perempuan penduduk asli Australia. Di gereja-gereja pedalaman Australia Tengah, terdapat sebuah warisan musikal dari Bahasa Aborigin, yaitu puisi sakral dan musik baroque yang dilestarikan secara turun temurun oleh empat generasi penyanyi wanita yang tergabung dalam Central Australian Aboriginal Women’s Choir. Melalui berbagai halangan, grup paduan suara tersebut berhasil berangkat ke Jerman dalam sebuah tur bersejarah.

 

Film-film di atas bisa kamu nikmati, bersama dengan tiga film Indonesia pilihan di festival ini yaitu “Ada Apa dengan Cinta?”, “Ada Apa dengan Cinta 2”, dan “Sekala Niskala”. Untuk section Flicker Fest, total ada sebelas film pendek terpilih dengan genre yang berbeda-beda, yang mana diambil dari event Flicker Fest 2017 hingga 2019. “Warga Australia dan Indonesia berbagi kecintaan terhadap karya visual”, ujar Duta Besar Australia untuk Indonesia, H.E. Mr. Gary Quinlan. “Film adalah salah satu media terbaik untuk menumbuhkan pemahaman yang lebih besar tentang negara dan budaya lain. Festival Sinema Australia Indonesia 2019 menawarkan jendela yang unik ke Australia kontemporer.”

FSAI 2019 juga didukung oleh “Australia now ASEAN”, sebuah inisiatif Pemerintah Australia untuk merayakan inovasi, kreativitas, dan gaya hidup Australia di Asia Tenggara sepanjang tahun 2019. Buat kamu yang tertarik untuk datang dan menonton film-film FSAI 2019, dapatkan tiketnya secara gratis dengan sign-up di FSAI2019.eventbrite.com.

Untuk jadwalnya, FSAI 2019 akan dibuka di Jakarta pada 14 Maret, kemudian pemutaran film untuk publik Jakarta dan Mataram dari tanggal 15-17 Maret. Minggu berikutnya, tepatnya di tanggal 22-24 Maret FSAI 2019 akan menyambangi Makassar dan Bandung. Surabaya menjadi kota terakhir penyelenggaraan yaitu di tanggal 29 sampai 31 Maret 2019.

Tiket untuk semua pemutaran film tersedia secara gratis di fsai2019.eventbrite.com.

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here