‘Five Feet Apart’, Cinta Sepasang Kekasih yang Sakit Akut

Sebut saja namanya Cole Sprouse. Siapa yang tak kenal aktor ganteng ini. Salah satu bintang di serial televisi “Riverdale” yang memikat hati para gadis di seluruh dunia. Parasnya yang rupawan dan tatapan matanya yang tajam bikin hati meleleh. Maka dari itu, tidak salah jika kamu berpendapat bahwa daya tarik utama film “Five Feet Apart” datang dari pengaruh kebintangan seorang Cole Sprouse. Di sini ia akan beradu akting di sebuah rumah sakit bersama dengan Haley Lu Richardson. Mereka diceritakan adalah pasien yang mengidap penyakit langka, yaitu Cystic Fibrosis. Ini adalah sebuah penyakit langka, yang menyerang paru-paru dan sistem pencernaan. Lendir di dalam tubuh akan sangat kental sehingga bisa membuat penyintas terancam hidupnya. Penyakit ini belum dapat disembuhkan, namun perawatan intensif bisa membantu. Cystic Fibrosis bersifat kronis, dapat bertahan selama bertahun-tahun bahkan seumur hidup, dan selalu membutuhkan uji atau pencitraan laboratorium.

Sabar dulu, wahai para fans Cole Sprouse. Karakter utama dari film ini adalah Stella, yang diperankan oleh Haley Lu Richardson. Dia adalah pasien CF yang sedang menjalani proses perawatan. Film akan lebih dominan bercerita dari sudut pandanganya Stella, di mana pada tahap persiapan kita akan tahu lebih dulu tentang karakter Stella itu sendiri. Ia merupakan gadis yang tidak hanya cantik, namun juga memiliki semangat juang yang tinggi. Sadar bahwa ia mengidap penyakit yang mematikan, Stella justru terlihat menikmati hidupnya dengan menebarkan aura positif. Ia memiliki teman-teman dekat yang peduli sama dia, orang-orang pun suka sama dia, bahkan Stella membagikan kisahnya lewat YouTube. Satu yang unik, Stella ternyata juga pengidap OCD (Obsessive-Compulsive Disorder). Ia sangat perfeksionis, dan teratur. Sikap yang, secara mengejutkan, membantu dalam masa perawatan di mana obat yang harus dia minum sangatlah banyak.

Suatu hari, Stella mendapat kabar kalau ada pasien CF yang baru dirawat. Iseng melihat, ternyata pasien itu adalah seorang cowok yang sebaya dengannya. Si cowok ini kelihatannya bandel karena meminjamkan kamarnya pada teman-temannya. Tahu bahwa dirinya diintip, sang cowok mengejar Stella dan singkat cerita mereka berkenalan. Saat itu Stella belum tahu, bahwa cowok bernama Will ini adalah pasien CF yang memiliki tingkat virus paling berbahaya. Oh iya, sebelumnya perlu diberi tahu dulu kalau haram hukumnya bagi sesama pasien CF untuk bersentuhan secara langsung. Ini bisa mengakibatkan pasien yang disentuh akan tertular dan hal ini akan membuat dinamika hubungan antara dua karakter sentral yaitu Stella dan Will menjadi kian sulit.

Sebagai film drama romansa yang lebih ditujukan bagi kaum muda (young adults), “Five Feet Apart” menggunakan tools kekinian dalam bercerita. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Stella adalah seorang YouTuber. Dia memanfaatkan fasilitas YouTube untuk berbagi kisah. Nah, hal-hal semacam ini akan banyak muncul di dalam film, dan di dalam satu bagian tertentu, treatment ini sukses menyampaikan lebih dari sekedar kata-kata yang diucapkan Stella kepada para viewers-nya. Di satu sisi hal ini bisa membuat jalinan cinta antara Stella dan Will kembali bergelora kemudian di sisi yang lain ada pesan yang berhasil tersampaikan kepada penonton. Meski kehidupan normalnya bisa dikatakan telah direnggut oleh penyakit mematikan, dan tidak bisa menjalani kehidupan seperti anak atau remaja pada umumnya, namun bukan berarti Stella mesti menyerah kepada rasa sayang yang pantas untuk ia dapatkan. Iya memang cheesy, tapi di saat yang sama juga terasa inspiratif.

Kemudian performa kedua aktor sentralnya juga solid. Mereka patut diberikan jempol. Haley Lu Richardson dan Cole Sprouse tidak hanya padu dalam menjalin kisah cinta yang dialami oleh Stella dan Will, namun juga mampu menampilkan sesuatu yang lebih. Maksudnya adalah, penonton juga bisa melihat bagaimana perbedaan serta perkembangan karakter seiring berjalannya waktu. Stella yang awalnya sangat semangat dan positif kemudian Will yang dari awal suda terlihat males dan “hopeless”. Mudah ditebak memang arahnya akan ke mana, namun yang jadi perhatian di sini adalah bagaimana kedua aktor memberikan rasa, sesuai dengan tuntutan nartif yang ada, yang dirancang secara sederhana. Ada kalanya penonton cewek bakal berasa “melting” sama kegantengan dan betapa senimannya Cole dan penonton cowok bakal takjub sama kecantikan luar-dalam yang ditunjukkan oleh Haley. Bukan sebuah “character’s arc” yang wow, tapi setidaknya disampaikan dengan baik.

Film memanfaatkan teknik footage guna menjabarkan kedekatan Stella dan Will dari waktu ke waktu. Meski mereka tidak boleh dekat-dekat padahal berada di rumah sakit yang sama, dari footage ini kita bisa melihat bahwa jarak tidak dapat memisahkan keduanya. Selain itu, Stella yang OCD merasa tidak tenang kalau Will tidak menjalani perawatan yang seharusnya. Makanya Stella membimbing Will untuk menjalani perawatan dan agar perawatannya jadi lebih menyenangkan. Dua hal tadi ditampilkan di dalam footage yang terlalu singkat tapi setidaknya masih bikin “aware” kita. Dengan obat yang banyak, metode-metode perawatan yang harus dilakukan, dan bagaimana cara mengakalinya, yakin sekali bahwa ini bisa diolah agar tidak sekedar menjadi pajangan.

Masa-masa seperti itu seharusnya menjadi masa-masa ketika chemistry antara Stella dan Will mulai terbangun. Tidak masalah jika satu bagian ditampilkan di luar footage dan menjadi trigger dari footage. Ini akan memberikan sensasi yang lebih nyata dan mengena karena cinta itu tidak ujug-ujug datang dari langit. Cinta itu bukan sekedar gombalan yang bikin kita terbang. Cinta itu adalah sesuatu yang muncul dari kehidupan sehari-hari yang sederhana, namun dijalani secara bersama-sama. Layaknya film drama-romansa yang lain, sebuah pengorbanan dilakukan karena ada prosesnya. Terdapat hukum logika kausalitas di sana. Film ini menampilkan kedua hal tersebut, sayangnya dua poin itu tampil timpang. Again, ini membuat prioritas dari “Five Feet Apart” menjadi jelas. For becoming a weepy-wannabe YA romance, powered by acting performance from both actors.

Sayangnya lagi, terdapat beberapa kelemahan. Untuk di bagian konfrontasi, film kurang berani menyelam dan mengeksplorasi konflik. Turns-nya masih datar dan tidak memberikan eskalasi yang greget. Lempeng aja gitu semuanya, padahal jelas ada amunisi yang bisa dimanfaatkan agar konflik jadi lebih nendang. Film memanfaatkan ketidakstabilan Stella untuk menunjukkan sisi lemahnya. Di sini terlihat motif Will, yaitu berusaha menjadi “missing piece bagi Stella”, dan ini berjalan, plus menghibur. Tapi setelah itu tidak ada yang benar-benar bisa dibeli. Masalahnya berputar-putar di situ-situ saja.

Soal mereka dekat kemudian saling jatuh cinta, marahan, balikan, sangat formulaic nan standar. Film baru menaikkan tensi menjelang akhir. Di sini cerita berubah menjadi lebih seru karena ada permainan batasan informasi cerita dan juga rasa deg-degan yang timbul dari set yang digunakan. Andai saja info atau bahasan yang lebih serius semacam ini di-tease dari awal atau pertengahan tahap konfrontasi, bisa saja cerita tidak menjadi se-boring dan sebiasa ini. Ada sesuatu yang lebih, yang patut ditunggu. Sesuatu yang membuat kita bisa berinvestasi kepada karakternya. Bukan sekedar mengikuti jalinan kisah cintanya.

Untuk bagian resolusi, wah, di sini terdapat pertanyaan besar. Entah seberapa besar kandungan fantasi, atau apakah secara medis ini bisa dibenarkan tapi apa yang terjadi nanti tidak sesuai dengan apa yang diberikan kepada kita di tahap persiapan. 180 derajat berbalik. Wow, it’s a miracle from something that (maybe) had no chance, zero-possible to happen! Dilihat dari dialog yang diucapkan, ini merupakan sebuh kejutan yang sayangnya dalam hal negatif. Tidak ada penjelasan yang meyakinkan mengapa kondisi ini bisa berbalik. Hanya sebuah jalan pintas agar penonton memaklumi. Preferensi untuk tetap mempertahankan unsur manis dan “menye-menye” sangat gamblang terpampang. Adegan pamungkasnya nampak cantik, namun juga lebay. Rasanya sutradara Justin Baldoni dan tim punya kapasitas untuk menjadikan “Five Feet Apart” tetap menyampaikan pesan positif dengan arahan berbeda. Cuma ini lah pilihan mereka.

Drama remaja-dewasa muda yang klise dan entah kenapa tidak ingin beranjak dari zona nyamannya. “Five Feet Apart” paling asik dinikmati jika kamu hanya ingin romantis-romantisan saja bersama pasangan dengan melihat sebuah cerita yang memiliki kondisi tak biasa. Tidak ada kedalaman di sana, tapi beruntung film ini disokong oleh penampilan apik para aktornya, termasuk juga para pemeran pendukung seperti Mou (Moises Arias) yang bikin pangling dan Suster Barb (Kimberly Herbert Gregory) yang suka bikin ketawa. Untuk lagu-lagunya, tembang anak zaman now tentu diputar untuk memberikan mood, tapi yang perlu diapresiasi lebih adalah original song-nya yang berjudul “Don’t Give Up On Me”. Dinyanyikan oleh Andy Grammer yang merupakan teman sekamar Justin ketika baru pindah ke Los Angeles, lagu ini menawarkan sesuatu yang berbeda dengan warna country di alunan musiknya.

 

Director: Justin Baldoni

Starring: Haley Lu Richardson, Cole Sprouse, Moises Arias, Kimberly Herbert Gregory

Duration: 116 Minutes

Score: 6.8/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here