‘Friend Zone’, Saat Rasa Cinta Tak Bisa Menembus Pertemanan

Di dalam kehidupan nyata ini, yang namanya friend zone sangatlah perih. Ketika kita memendam rasa sama seseorang tapi apa daya, kita hanya sebatas teman. Rasanya gimana gitu. Nanggung, mau ngungkapin sudah terlanjur jadi temen, atau takut ditolak, atau yang paling malesin; si dia sudah ada yang punya. Waduh, nyesek deh brosis! Alamat jadi lalat deh tuh. Sakitnya tuh di sini! Banyak para pejuang friend zone, atau evolusinya yaitu “Abang-Adek Zone”, yang bertebaran di luar sana. Mereka bingung, apa yang harus mereka lakukan sementara hati ini sudah merasa tidak tahan. Batas antara teman dan pacar begitu tipis namun kok rasanya telak sekali. Haduh pokoknya kasihan deh!

Berangkat dari fenomena sosial ini, “Friend Zone” hadir ke hadapan kita semua. Film ini merupakan film GDH terbaru yang dibintangi oleh aktris muda yang kini terlihat semakin matang yaitu Baifern Pimchanok. Sebelum mendarat di bioskop seluruh Indonesia, “Friend Zone” tercatat menjadi film GDH tersukses di Thailand pada bulan Februari 2019. Ya tidak heran sih, faktor cast yang oke punya, kemudian turut ditunjang dengan begitu menarik dan dekatnya materi yang bakal diolah  membuat masyarakat tertarik untuk pergi menontonnya. Sedikit sinopsis, “Friend Zone” bercerita tentang seorang cowok bernama Palm (Nine Naphat) dan temannya yaitu Gink (Baifern). Mereka sudah jadi sohib sejak 2009. Ketika masing-masing sudah bekerja, Palm yang sudah di-friend zone-in selama sepuluh tahun berusaha untuk terus membantu Gink. Termasuk dalam urusan percintaan Gink yang saat itu sedang terancam.

Film dibuka oleh cerita yang bisa dikatakan sebagai lompatan kausalitas. Di sini kita akan diberi tahu sebuah informasi yang sebetulnya membutuhkan penjelasan. Cuman karena ini ditaruh di awal, maka jatuhnya lebih ke eksposisi dari dua karakter sentralnya yaitu Palm dan Gink. Awal mula “Friend Zone” ada di tahun 2009. Saat itu, dua krucil ini masih SMA, terlihat jelas dari pakaian yang mereka kenakan. Hal yang menarik adalah, lewat prolog ini “Friend Zone” ternyata langsung memberikan satu “emotional standpoint” yang berat. Kita akan langsung invest kepada karakter Gink, dan bagaimana peristiwa ini berefek terhadap jalinan persahabatan antara Gink dan Palm. Terakhir, unsur friend zone mulai nampak di sini. Kocaknya, friend zone disebabkan oleh perkataan bodoh yang dilontarkan oleh Palm. Perkataan yang bakal membuatnya sangat menyesal hingga kemudian hari.

Setelah itu film beranjak ke tahun 2019, tepatnya di sebuah acara yang belum jelas namanya. Kita hanya mengetahui kalau di situ ada Palm, yang kali ini bersama dengan teman-temannya. Mereka kemudian saling curhat mengenai satu kesamaan nasib, yaitu sama-sama jadi korban friend zone! Bagian ini merupakan salah satu bagian terbaik dari film. Begitu menghibur, sampai-sampai bisa membuat penonton merasa, “Ya ampun ini gue banget nih!” dan tertawa terpingkal-pingkal. Untuk segi naratif, bagian ini juga sangat penting. Ibarat kapal, percakapan antara Palm dan teman-temannya itu adalah penyambung sekaligus patokan dari cara bertutur film yang menggunakan alur campuran.

Mengenai alur, apresiasi wajib diberikan karena di sini kita bisa melihat eksplorasi yang mengagumkan. Kisah friend zone Palm terhadap Gink sudah terbentang selama sepuluh tahun. Ini merupakan materi yang sangat sangat bagus untuk direntangkan, dan film menyadari hal itu. Jadi siap-siap saja kamu akan dibawa bolak-balik di sekitar 2009 sampai 2019. Kuncinya agar tidak pusing? Selain memerhatikan keterangan tahun di setiap awal scene yang bersangkutan, cermati bagaimana alur mulai diatur kembali dari curhat friend zone Palm dan teman-temannya.

Permasalahan di “Friend Zone” ini sebetulnya biasa saja. Atau, bisa kita bilang merupakan masalah yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Korban friend zone pasti “relate” lah! Film ini menampilkan keadaan di mana kita merasa kalau kita suka sama seseorang, tapi sudah terlanjur dianggap teman, jadinya gak enak untuk mengungkapkan. Kemudian masalah lainnya adalah sikap saling percaya dalam menjalin sebuah hubungan. Berkaitan dengan komitmen. Masalah-masalah seperti ini sebetulnya standar, sudah biasa terjadi. Tapi, yang bagusnya adalah bagaimana film mengemasnya menjadi sesuatu yang menghibur dan, lagi-lagi, tidak membosankan. Cara pertama adalah lewat sajian komedi yang menghibur. Kemudian yang kedua adalah dari cara tuturnya, yang mana sudah disinggung di paragraf sebelumnya.

Yang ketiga adalah lewat penyusunan product placement yang jauh lebih baik dan segar dibanding yang lainnya. Product placement di sini bukan tempelan belaka, atau dibuat built-in dengan dialog dari pengadeganan tertentu. Product placement di sini betul-betul menyatu dengan DNA cerita dan ini memberikan banyak keuntungan. Sesuai dengan tuntutan naratif, kita bisa memahami kenapa unsur product placement ini masuk. Setelah itu, berangkat dari sana cerita akan semakin meluas seiring dengan konfliknya yang juga semakin pelik.

Original song dari “Friend Zone” menjadi poin penting di sini. Lagu yang dinyanyikan oleh sepuluh penyanyi cantik dari sembilan negara, mostly Asia Tenggara, ini dimanfaatkan secara maksimal. Kita bisa melihat semacam keragaman yang lucunya justru menjadi ancaman. Para penyanyi dari original song “Friend Zone” ditampilkan di dalam scene. Tidak hanya diperlihatkan menyanyi, secara cerdas sutradara juga memberikan arahan akting yang bikin penonton semakin berprasangka. Menjelang akhir, lagu ini juga dimanfaatkan untuk memunculkan perasaan yang dirasakan oleh Gink. Mood jadi berubah karena terngiang lirik lagu tersebut, yang diperdengarkan melalui teknik internal diagetic sound. Terakhir, keragaman dalam film tentunya bakal membawa kita jalan-jalan ke beberapa negara. Film memberikan semacam gaya tertentu untuk menandai aspek wilayah. Di beberapa scene cara ini berhasil, namun ada kalanya juga kesannya jadi maksa karena gaya seperti ini lebih pas lagi familiar digunakan untuk bandara, bukan kota.

Cuman tetap, “Friend Zone” tidak melupakan masalah utamanya. Bagaimana Palm bergulat dengan dirinya sendiri. Film juga memasukkan kehidupan Palm yang berprofesi sebagai pramugara dan bergonta-ganti pacar. Berbeda dengn Gink, Palm lebih sering putus. Cuman tetap, mau ada pacar juga kalau Gink minta pertolongan, ia pasti selalu menyanggupi. Rasa tidak bisa dibohongi, dan ini bisa membuat para korban friend zone di luar sana jadi seperti melihat diri sendiri. Palm melakukan pengorbanan khas friend zone seperti menemani ke manapun si temannya pergi, memastikannya aman, hingga bertingkah konyol agar sang teman merasa senang kembali. Semua ini dilakukan sampai-sampai film berani untuk menertawakan flaws-nya sendiri. Daripada bikin penonton gemas karena Palm tidak kunjung mengambil langkah, film memperpanjang materi dengan cara komedi. Seringkali nyesek-nya film ini ditampilkan dengan cara yang menyenangkan dan tidak terduga.

Tidak lupa perasaan Palm terhadap Gink juga diwujudkan dalam bentuk sinematik. Ada teknik tertentu yang digunakan agar penonton bisa melihat sekaligus merasakan seberapa parahnya sih friend zone yang dialami oleh Palm. Yang paling kentara adalah ketika sebuah scene menampilkan Gink bersama dengan cowok lain. Di sini kita bisa melihat film bermain dengan teknik-teknik tertentu. Yang pertama adalah “shallow focus” atau “rack focus”. Dengan shot yang pas, sineas bisa menampilkan salah satu latar, entah itu latar depan maupun belakang, yang fokusnya dibikin tajam.

“Friend Zone” sempat mempertajam latar belakang, di mana Palm sedang melihat dengan wajah nyess ketika Gink dan pacarnya yaitu Ted (Jason Young) bermesraan gemas. Kemudian ada juga penggunaan editing kontinuiti. Ini adalah teknik yang digunakan agar hubungan kontinuitas naratif antar shot tetap terjaga. Salah satu turunan dari editing kontinuiti adalah “Match on Action”. Ini merupakan perpindahan shot yang diambil dari arah yang berbeda tapi memperlihatkan sebuah aksi tak terputus dalam sebuah momen pergerakan yang sama. Tercatat ada dua kali film menggunakan editing kontinuiti – match on action. Uniknya, meski momen pergerakannya sama, namun narasi yang berkaitan dengan shot tersebut sebetulnya bukan seperti yang kita duga sebelumnya.

Untuk meyakinkan penonton bahwa Palm memiliki perasaan yang tidak bisa hilang kepada Gink, film memanfaatkan teknik editing berikutnya yaitu shot/reverse shot. Ini merupakan gabungan dua shot atau lebih yang membedakan posisi karakternya. Satu karakter biasanya ke arah kanan sedangkan yang satunya ke arah kiri. Adegan dialog antar dua karakter biasa memakai teknik ini, tak terkecuali di film “Friend Zone”. Sesuai dengan tuntutan naratif, kita bisa melihat Palm ternyata masih ada rasa meski sudah berusaha menjauh. Lewat teknik shot/reverse shot yang dipadukan dengan perbedaan wujud fisik karakter, penonton akan mengerti apa yang dirasakan Palm sambil merasa sedikit terkejut dengan perubahan yang terjadi di layar. Untuk menambah kesan ASEAN-nya, ada beberapa bangunan atau wilayah di beberapa negara yang ditonjolkan sebagai set lokasi syuting.

“Friend Zone” adalah film yang asik. Dramanya, komedinya, petualangannya, sampai momen-momen sakit hatinya ada semua. Sutradara Chayanop Boonprakob dan tim membalikkan kondisi, di mana apa yang sebetulnya generik, biasa saja dan sering terjadi sehingga bisa membuat film tidak menarik menjadi sesuatu yang patut diikuti hingga akhir. Beberapa “luxury” bekerja dengan baik, sebaik Nine dan Baifern membangun chemistry. Tidak lupa semangat positif coba disampaikan kepada “para pejuang” agar mereka tidak putus asa. Bahwa justru semakin lama kita di-friend zone-in, semakin besar peluang untuk mendapatkannya. Cuma ini harus dibarengi pula oleh keberanian. Nilai tersebut jadi kartu As dari film karena cukup tidak menyangka bahwa “Friend Zone” mengakhiri ceritanya dengan sentuhan khas yang dapat dengan jelas dirasakan secara luas. Tidak hanya sekedar menghadirkan ending yang bisa ditebak.

Buat Chillers yang tertarik sama film yang kocak ini, tunggu saja sesaat lagi, tanggal 20 Maret 2019, film ini akan serentak turun di layar lebar Indonesia.

 

Director: Chayanop Boonprakob

Starring: Nine Naphat, Baifern Pimchanok, Jason Young, Best Nathasit, Benjamin Varney, Sukhapat Lohwcharin

Duration: 118 Minutes

Score: 8.3/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here