‘Ghost Writer’, Misteri Sebuah Diari di Sebuah Loteng Rumah

Ketika Lebaran tiba, kita saling bersilaturahmi untuk maaf memaafkan satu sama lain. Ya, kata “maaf” menjadi satu kata yang penting dalam merayakan hari kemenangan bagi umat muslim. Jika mengacu pada momen, ini lah yang coba dimanfaatkan oleh “Ghost Writer”. Disutradarai oleh sutradara debutan yaitu Bene Dion, alasan banyak orang untuk nonton film ini justru datang dari produsernya sendiri. Bagaimana tidak, ia adalah Ernest Prakasa.

Sineas yang dikenal kreatif dalam bercerita dan juga produktif dalam menciptakan film-film berkualitas. Tatjana Saphira kali ini mendapat tempat sebagai peran utama. Ia adalah Nay, seorang penulis novel yang sedang susah. Sudah tiga tahun bukunya tidak pernah disetujui oleh pihak penerbit. Keadaan semakin menghimpit karena ia harus menanggung biaya sekolah adiknya, Darto (Endy Arfian).

Suatu hari Nay mengontrak sebuah rumah. Biasa lah, setting-an awal film horor, rumah ini besar dan terlihat sudah lama ditinggalkan. Sejak hari pertama di rumah, Nay dan Darto sudah mendapatkan rasa-rasa kurang enak. Gong-nya adalah ketika Nay menemukan sebuah buku diari berwarna putih di loteng atas kamarnya. Setelah membaca diari tersebut, dengan situasi yang sedemikian rupa, Nay berada di persimpangan. Akhirnya ia melakukan tindakan nekat yang membuatnya bertemu Galih, sosok hantu penunggu rumah tersebut. Apa yang Galih rasakan ketika diari-nya dibaca oleh Nay? Ke depannya konflik ini akan semakin menarik dan tentunya dipenuhi oleh bumbu-bumbu komedi.

Konsep film ini sebetulnya lokal sekali. Sebagai film Lebaran yang salah satu genre dominannya adalah horor, “Ghost Writer” harus bisa menemukan sebuah cara agar horor ini bisa dikaitkan dengan nilai sebuah keluarga dan tidak terlihat pasaran. Maka dari itu, mereka memanfaatkan kepercayaan masyarakat sini akan arwah penasaran. Poin tersebut kemudian dihubungkan kepada konflik yang berbasis keluarga sehingga penonton bisa berekspektasi akan sebuah kehangatan yang tercipta di akhir filmnya.

Kata orang nih ya, arwah penasaran itu masih mencari sesuatu yang belum terselesaikan di dunia. Makanya dia tetap gentayangan. Titik itu lah yang dimanfaatkan secara cerdas oleh film ini. Bagaimana tragedi yang menimpa sebuah keluarga menjadi fondasi film, yang nantinya akan menghantarkan kita pada kata maaf tadi dengan karakter hantu yang bisa dipedulikan.

Bene sebagai sutradara debutan ternyata bisa membangun nuansa seram dengan baik. Ini terbukti ketika film memperlihatkan Galih yang menakut-nakuti Nay dan Darto. Dengan sedikit sentuhan jenaka, Bene tetap oke dalam menyampaikan pesan horornya lewat tulisan-tulisan. Kemudian juga ada pemanfaatan komposisi dinamis. Ini adalah situasi ketika kamera mengambil gambar sebuah obyek, sineas bisa memilih di mana posisi obyek tersebut berada di dalam frame.

Dalam komposisi dinamis yang sifatnya fleksibel, komposisi dalam gambar tetap imbang namun ukuran dan posisinya sangat memengaruhi komposisi secara keseluruhan. Dipadukan dengan teknik blocking pemain, cara ini efektif dalam membantu menciptakan kesan horor pada penonton. Kemudian ada juga pemanfaatan “Off-screen Diagetic Sound”. Trik-trik seperti ini sebetulnya sudah lazim ya. Tapi dengan timing dan racikan yang tepat, trik-trik ‘b’ aja tadi bisa menjadi penopang yang penting.

Di dalam film ini terdapat salah satu fungsi penting dari setting terhadap pendukung aktif adegan. Sayangnya, di sisi lain ini membuat film memiliki kejanggalan logika di tahap resolusi. Untuk nilai positifnya, “Ghost Writer” memanfaatkan diary Galih dengan baik. Dalam film horor seperti ini, memang lazim ada sebuah barang keramat yang jika digunakan membuat penggunanya bisa melihat atau merasakan sesuatu yang ekstrim. Buku diari Galih adalah barangnya di film ini.

Film kemudian coba meluaskan metode “touch and then you will see” tersebut untuk menggerakkan cerita. Bagus, pesan yang ingin disampaikan bisa kita cerna dan menjadi pintu untuk ending filmnya. Tapi, jika melihat lagi ke belakang, ada adegan yang memperlihatkan Nay dan Galih bersentuhan, bahkan lebih. Jika mengacu pada perluasan tadi, seharusnya ada sesuatu yang terjadi di sini. Tapi karena mood yang ingin dibangun adalah happy sedangkan aftermath dari kondisi tersebut adalah sesuatu yang menyeramkan, maka terjadi perbedaan yang sangat signifikan.

Untuk humornya, “Ghost Writer” menyajikan humor-humor yang dirajut melalui dialog yang compact. Sedang ngebahas apa, dan bagaimana topik tersebut berkembang, dapat fit in sama ceritanya, bukan main asal nyablak atau yang penting ramai. Bahkan, di sini formula tersebut bisa diterapkan ketika topik yang dibahas itu soal sesuatu yang sama sekali tak terpikirkan sebelumnya. Sesuatu yang menjijikkan tapi mereka coba. Ketika intensitas meninggi unsur menjijikkan tadi digabungkan dengan nuansa horor yang menggedor-gedor, and that’s fun! Melihat ini seperti mengingatkan pada zamannya Raditya Dika baru tenar sebagai komika. Di salah satu bagian dalam stand-up nya, Radit membawa topik yang sama. Soal maaf, berak. Ya kita doakan saja semoga Bene dengan cara seperti ini ke depannya bisa sesukses Radit juga. Amin.

Lalu film juga memasukkan komedi yang khas. Sesuai dengan tututan naratif, “Ghost Writer” tentu juga memiliki kelucuan gara-gara salah ketik alias “typo”! Tidak banyak typo di sini, tapi penempatannnya tepat sehingga unsur horor dan komedi bisa bersatu dengan baik.  Lalu ada juga cekcok antara karyawan di kantor penerbit. Mereka selalu berdebat tentang banyak hal. Tapi tahukah kamu, bagian ini tidak hanya sekedar menjadi tempat haha hihi? Ya, perdebatan dua orang ini juga membahas hal-hal yang sangat relate dengan dunia cerita filmnya. Sempat mereka menyinggung tentang arwah penasaran. Ini sangat membantu penonton untuk lebih memami apa “urban legend” yang diangkat. Tentu pembawaan ini dibawakan secara jenaka oleh Arie Kriting dan Muhadkly Acho.

Kemudian mengenai midpoint-nya. Di sini akan ada titik balik di mana memicu konflik yang paling besar. Konfliknya sebetulnya sederhana dan klasik. Cuman itu tadi, sesuatu yang “b aja” coba dibuat agar bisa menopang sesuatu yang lebih besar. Selain menggerakkan cerita, apa yang ditawarkan di midpoint ini ternyata memiliki fungsi lainnya. Pertama, kita akan diajak pada isi buku yang ditulis oleh Nay. Ini jelas penting. Tidak mungkin film tentang penulis tidak mencantumkan isinya. Ya meski sedikit, tapi on point.

Kedua, poin ini membuat para karakter pendukung menjadi lebih berdaya. Karakter yang diperankan Ernest contohnya. Di sini ia bukan sekedar tempelan. Ia memiliki peran penting dan bagaimana cerita men-treat dia di akhir mengundang gelak tawa. Terakhir, midpoint ini seperti menyentil preferensi tertentu. Dengan dalih formula drama “apa jeng jeng”, sebutan itu sebetulnya agak kurang cocok jika melihat isi bukunya yang juga akan berkaitan dengan satu permintaan dari Galih.

Tatjana Saphira dan Endy Arfian adalah pemilihan cast yang tepat. Mereka sangat cocok memerankan karakter kakak-beradik. Sayang, tidak ada sesuatu yang bisa diharapkan kepada penulisan karakter Darto. Paling asik memang melihat dia hanya sebatas menjadi korban ditakuti sama setan. Kemudian untuk Tatjana, ia diberitahukan memiliki kelemahan. Itu bagus, karena sebagai karakter utama, Nay harus bisa memiliki poin yang membuat penonton semakin merasa relate.

Tetapi, kekurangan dari dalam diri Nay ini kurang diekspos. Nay dibilang gengsian orangnya. Nah, hal apa yang membuat ia gengsian? Menyekolahkan adiknya di sekolah mahal bukan termasuk gengsian. Apalagi jika melihat dari eksposisi karakter Nay yang sangat struggle dari dulu. Satu issue lagi terkait Nay adalah chemistry-nya dengan Vino (Deva Mahenra). Mereka adalah sepasang kekasih, tapi tidak terlihat seperti itu. Berbeda dengan saat bersama Galih, momen yang menunjukkan status “pacar” tersebut sama sekali gak ada.

Ge Pamungkas berperan sebagai Galih, sosok penunggu sekaligus pemilik diary. Awalnya sempat ragu dengan pemilihan cast ini. Apalagi Ge memiliki gaya tersendiri ketika melucu. Cuman, di sini, Ge terlihat mencoba untuk menampilkan sesuatu yang berbeda. Ia lebih kalem dan itu sesuai dengan tuntutan naratifnya. Tapi jangan sangka ini tidak memiliki efek samping, ya. Akting Ge yang seperti ini jadi lebih terasa drama. Beberapa jokes yang keluar dari Galih tidak semuanya lucu.

 

Satu lagi yang perlu diperhatikan adalah Asmara Abigail. Karakter yang ia bawa betul-betul berhasil menciptakan nuansa horor di dalam filmnya. Selain itu, Bening sebetulnya juga tidak ditampilkan lurus-lurus aja. Klimaksnya adalah di salah satu scene kilas balik yang terasa menyedihkan. Oh, satu lagi! Make-up karakter Bening jauh lebih mantap dibanding saudaranya yang terlihat bedaknya masih kurang rata dan jatuhnya kok seperti abu-abu ya? Hehehehe.

Sebua karya yang solid dan tak disangka juga mengharukan dari seorang sutradara debutan. “Ghost Writer” mengangkat kisah arwah penasaran dan keluarganya yang berkelut dengan luka di masa lalu, yang entah bisa termaafkan atau tidak. Bene Dion bisa mengemas ide yang menarik ini dengan nilai-nilai keluarga yang memang harus ada di dalam sebuah film Lebaran. Penyatuan antara horor dan komedinya asik. Tapi, penulisan karakter Nay, yang seharusnya menjadi karakter utama di filmnya, terbilang masih kurang greget.

Konfliknya tidak begitu stand out, dan pada akhirnya Nay lebih cenderung menjadi supporting character. Kemudian flaws besar di tahap resolusi sangat aneh. Termasuk blunder juga sih, karena sangat sulit mengelak dari perbedaan seperti itu. Tapi tetap, kesan bagus akan film ini bisa muncul ketika filmnya usai. Sebuah percobaan yang menjanjikan bagi sang sutradara agar kita sudi menunggu karya-karya dia selanjutnya.

 

Director: Bene Dion

Starring: Tatjana Saphira, Ge Pamungkas, Endy Arfian, Deva Mahenra, Asmara Abigail, Ernest Prakasa, Arie Kriting, Muhadkly Acho, Dayu Wijanto, Slamet Raharjo

Duration: 97 Minutes

Score: 7.5/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here