“The three of you have convinced yourselves you have extraordinary gifts, like something out of a comic book.” – Dr. Ellie Staple.

Film yang melengkapi trilogi ‘Eastrail 177’ karya M. Night Shyamalan ini akhirnya dirilis. Sebelumnya, kita sudah dibuat kagum akan kualitas “Unbreakable” yang menampilkan kisah superhero secara membumi dan “Split” yang mempertunjukkan teror gila dengan kejutan tak terduga di akhirnya. “Glass” adalah direct sequel dari “Unbreakable” dan “Split” tadi, di mana penonton akan kembali melihat David Dunn (Bruce Willis) dan Elijah Price (Samuel L. Jackson) di satu film yang sama, plus tambahan karakter-karakter penting dari “Split” dan karakter baru yaitu Dr. Ellie Staple, yang diperankan oleh Sarah Paulson (Ocean’s 8, Bird Box).

“Glass” bercerita saat David Dunn menjadi seorang anti-hero. Enam belas tahun setelah peristiwa yang menimpanya di “Unbreakable”, David kini membasmi kejahatan dengan mengenakan jas hujan berwarna gelap sehingga netizen menyebutnya sebagai “The Overseer”. Suatu hari, David sedang berupaya menangkap pelaku penculikan. Empat gadis remaja diduga hilang dan polisi tidak dapat menemukannya. Petunjuk yang disusun oleh anak David yang sudah beranjak dewasa yaitu Joseph (Spencer Treat Clark) ternyata menuntun sang Overseer untuk berhadapan dengan The Beast, sosok terkuat dari dalam diri Kevin Wendell Crumb (James McAvoy).

Film langsung diawali dengan intensitas yang tinggi. Munculnya “Tinju Superman” di scene awal langsung membuat kita masuk ke dalam cerita, yang pada akhirnya memang ditujukan sebagai surat cinta untuk buku komik. Tidak banyak cincong, “Glass” langsung memberi tahu bagaimana keadaan David Dunn saat ini. Ia menjadi seorang vigilante, dan aktivitas tersebut turut didukung oleh anaknya, Joseph, yang kini sudah beranjak dewasa. Joseph membantu sang ayah dari toko tempat mereka bekerja. Secara garis besar, film menampilkan kebutuhan penonton akan David Dunn. Dirinya yang didapuk sebagai karakter protagonis memang harus ditampilkan secara jelas di sini.

Masih di dalam tahap persiapan, muncul pula karakter Kevin Wendell Crumb dengan segala kegilaannya. The Horde menculik empat gadis remaja yang nanti akan dipersembahkan untuk The Beast. Akting James McAvoy langsung bisa penonton nikmati di sini karena ia langsung memeragakan keahliannya dalam mengganti-ganti karakter. Dari Patricia, ke Hedwig, lalu ke The Beast. David dan Kevin singkat cerita bertemu. Setelah David tahu di mana The Horde menyembunyikan para korbannya, terjadilah pertarungan ala superhero antara David Dunn dengan The Beast. Dari sini terlihat film tidak ragu untuk tancap gas dari awal. Meski adegan pertarungannya biasa saja untuk ukuran orang-orang super, namun arahan seperti ini cukup menarik karena film secara tak terduga langsung mempertunjukkan adu kekuatan dua karakter pentingnya.

Nah, lagi asik berantem, film secara kasar membawa cerita untuk langsung masuk ke second act. Di sini mulai muncul karakter baru yaitu Dr. Staple, yang meminta polisi untuk menahan tembakan. Dari sini kita bisa langsung mengetahui bahwa scene ini merupakan turning point pertama yang akan mengubah cerita. Benar saja, David Dunn dan Kevin Wendell Crumb setelah itu ditahan di Rumah Sakit Raven Hill Memorial Psychiatric Research. Rumah sakit ini ditangani oleh Dr. Ellie Staple, seorang dokter yang merupakan spesialis untuk kasus-kasus delusi ekstrim. Dalam hal ini, orang-orang yang merasa dirinya adalah karakter super layaknya di komik. Tujuan Dr. Staple? Jelas. Meyakinkan bahwa David Dunn dan Kevin Wendell Crumb adalah orang biasa. Mereka sakit. Oh maaf, kami lupa menyebut satu pasien lagi yang spesial di sana, Elijah Price aka Mr. Glass.

Setelah cerita dari “Glass” berada sepenuhnya di rumah sakit, temponya langsung jatuh menjadi jauh lebih lambat. Dari yang awalnya diisi oleh permainan kucing dan tikus kemudian dilanjutkan oleh perkelahian, sekarang berubah menjadi tekanan psikologis dan sisi lain yang masih misterius. Sebetulnya sih tujuan dari kedua belah pihak itu simpel saja. Yang satu ingin menahan mereka karena mereka istimewa, yang satu berusaha keluar dan menunjukkan diri kepada dunia. Hanya saja, semua jadi tidak simpel karena sudah banyak puzzle berceceran di sana.

Akar dari semua ini adalah mengenai sikap dari film itu sendiri. Mana yang lebih ingin ditonjolkan, apakah menahan atau melawan. Berangkat dari sana, tahap konfrontasi berkembang menjadi beberapa poin. Poin pertama adalah reaksi yang datang dari para pasien. Kevin menjadi yang paling menonjol karena di saat ini kita bisa melihat “acting masterpiece” dari James McAvoy. Bagaimana The Horde merespon situasi yang dialami Kevin sekarang membuat karakter ini akan lebih kompleks dan berwarna dibanding ketika di “Split”.

Meski baru muncul di tahap konfrontasi, Glass tenyata memang sangat sulit ditebak. Ia jenius dalam merancang sesuatu, dan apa yang ia rencanakan di sini akan berdampak besar di akhir film. Samuel L. Jackson menampilkan performa akting yang dingin. Ia adalah pendendam sialan yang berlagak lemah padahal begitu bengis. Tekad dan keyakinan membuat Glass sangat berbahaya dan ini yang kita tunggu-tunggu dari film pertama. Penampilannya bersama James McAvoy sungguh mengagumkan, namun ketika ia satu frame dengan Charlayne, muncul satu flaw kecil yang membuat mise-en-scene dari adegan jadi kurang meyakinkan .

Di samping dua aktor yang sudah “gila” itu, Bruce Willis menjadi netralisirnya. Ia bisa dibilang pasien yang paling aman. Terlihat lemah, padahal kekuatannya tidak bisa dianggap remeh. Biasa-biasa saja, padahal apa yang nanti diperlihatkan begitu luar biasa. David Dunn ditempatkan sebagai penyeimbang yang humble, meski posisi dua lawan satu ini tetap tidak bisa dikatakan seimbang. Tapi, relasi antara dia dengan Elijah dan Kevin memunculkan emosi antar karakter yang menarik untuk ditelusuri sampai habis, biar kita tidak hanya menonton film ini untuk sekedar nungguin twist-nya saja. Hal tersebut semakin didukung oleh ilustrasi musik yang pas. Tidak penuh dan juga tidak memorable seperti yang dimiliki “Unbreakable”, namun musik ini setidaknya berhasil memperkuat mood yang bikin penonton tidak nyaman. Mirip-mirip dengan apa yang disuguhkan oleh “Hereditary” tahun lalu, tapi lebih soft.

Poin kedua datang dari potongan-potongan roti yang saling melengkapi. Di sini ada tiga karakter pendukung yang ternyata tidak hanya dijadikan sebagai tempelan belaka. Masing-masing karakter utama akan disokong oleh karakter pendukung yang juga dekat dengan mereka. Ini membuat penonton memiliki lebih banyak ruang untuk bereksplorasi terhadap karakter masing-masing. Para pemeran pendukung ini juga menjadi karakter yang membawa referensi komik secara lugas. Terdapat beberapa scene yang menampilkan dan beberapa dialog yang mengungkapkan hal tersebut. Secara emosional mereka juga menjadi pilar yang penting. Terakhir, dari segi cerita, ketiga orang ini berperan sebagai kartu AS di tahap konfrontasi.

Bagi yang sudah “pewe” sama bagian awal film “Glass” yang menggebu-gebu, bersiap lah. Paruh kedua film akan lebih dikuasai oleh “slow-burn mystery” tentang cerita David, Kevin, dan Elijah. Paling banter hanya sebuah sequence menegangkan antara Mr. Glass dengan salah seorang pegawai rumah sakit. Selebihnya adalah pendalaman cerita yang menyangkut character study dan penampilan dari semua treatment yang diberikan oleh pihak rumah sakit agar unsur menahan dan melawan tadi diharapkan tampil seimbang. Tapi di luar seimbang atau tidak, ada resiko besar yang dimiliki “Glass”. Banyaknya karakter penting yang kuat, ditambah konsep cerita mengenai “superhero grounded” membuat misteri yang harus dikuak menjadi lebih banyak. Ini bisa membuat penonton terasa berat, apalagi jika sudah terlanjur larut dalam intensitas tinggi dari pertarungan David vs The Beast. It’s turned out to be a completely different movie, so hopefully you are not gonna be sleepy.

Lalu mengenai Dr. Staple sendiri, akan ada banyak ekspektasi yang mengarah ke karakter yang satu ini. Sebagai perwakilan mereka yang ingin menahan para karakter utama untuk benar-benar keluar sebagai superhero, sepak terjang Dr. Staple di “Glass” akan sangat ditunggu. Hanya saja, hal tersebut tidak kunjung muncul. Usaha Dr. Staple dalam menekan ketiga pasien istimewanya ini masih belum maksimal. Hanya menyediakan ruangan yang lengkap saja belum cukup. Kemudian treatment utama yang seharusnya menjadi sesuatu yang ditakutkan juga tidak diekspos di sini. Penonton tidak terlalu ‘ngeh’ sama ancaman terbesar yang menunggu David dkk di Raven Hill. Buntutnya lumayan fatal. Terdapat satu properti yang akan sangat penting sebelum film memasuki tahap resolusi. Properti ini terdapat pada alat besar yang sepertinya mematikan. Sayang, karena kurang dijelaskan, penonton bisa saja belum mengetahui fungsi alat dan properti yang dimaksud. Apa kegunaannya, efeknya, dan dari situ kita bisa paham mengenai alasan mengapa properti tersebut menjadi kunci sebelum cerita masuk ke tahap resolusi.

Masih mengenai Dr. Staple, karakter ini baru menarik perhatian menjelang film berakhir. Ia merupakan karakter yang memiliki kedalaman yang sebetulnya dibutuhkan juga. Melihat bagaimana Dr. Staple ditampilkan di bagian ini bikin kita penasaran dan ingin rasanya segera menonton “Unbreakable” lagi. Sayang, kedalaman tersebut ditunjukkan di waktu yang mepet. Film sudah keburu mau habis. Selain itu, petunjuk yang tampil tidak seperti scene yang tampil, di mana saat melihat petunjuk ini rasanya antara lupa atau belum familiar. Berbeda dengan scene-nya, di mana ketika scene ini tampil yang ada justru rasa excited. “Glass” sudah menyajikan twist-nya saat itu, dan twist yang dimaksud sangat bagus dalam menyatukan dua dunia yang awalnya terpisah. Pengungkapan satu rahasia lagi membuat film ini memiliki layer yang masih harus ditelisik lebih lanjut.

Pada akhirnya bukan tak mungkin “Glass” akan membelah opini. Ending-nya bisa dibilang “corny”, tapi di sisi lain tidak salah juga kalau kita mengganggapnya optimistik dan berisi. Karya ambisius yang dibuat layaknya surat cinta untuk komik, dengan sinematografi dan pewarnaan estetik namun temponya yang ternyata patah menukik. Wajib untuk menonton “Unbreakable” dan “Split” terlebih dahulu karena tahap konfrontasi paling asik dieksplorasi dari segi emosi, yang mana berkaitan erat dengan kedua film tadi. Secara keseluruhan, ketiga film ini keluar seperti yang dibilang Shyamalan, berkaitan layaknya kakak-adik. Masing-masing memiliki kekuatan, bahasa, dan orisinalitasnya.

Director: M. Night Shyamalan

Starring: Bruce Willis, James McAvoy, Samuel L. Jackson, Sarah Paulson, Anya Taylor-Joy, Spencer Treat Clark, Charlayne Woodard

Score: 7.8/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here