Our world is changing. The mass extinction we feared… Has already begun. And we are the cause. We are the infection. But like all living organisms, the earth unleashed a fever to fight this infection: Its original… and rightful rulers, the Titans. – Dr. Emma Russell.

Antisipasi kita terhadap film yang satu ini akhirnya berbuah kenyataan. Sebagai salah satu film blockbuster andalan di musim panas 2019, tak pelak ekspektasi kita akan film ini, terlihat juga dari pihak Warner Bros yang menggarap serius promo film ini dalam 10 bulan terakhir sampai promo terakhir masih saja dilakukan hingga beberapa hari terakhir ini.

Kita flashback sejenak tentang karakter Godzilla yang kali pertama muncul lewat layar lebar di Jepang pada tahun 1954 lewat garapan Ishiro Honda. Sukses dengan edisi perdana itu, karakter Godzilla ini berkali-kali muncul dengan sejumlah lawan yang berbeda, contohnya seperti MechaGodzilla, MUTO, Destoroyah, Mothra, Rodan, Kong dan King Ghidorah.

Kepopuleran karakter ini terus berlanjut di negara asalnya dan untuk di Hollywood sendiri, film Godzilla pertama kali diangkat ke layar lebar oleh TriStar Pictures pada tahun 1998 lewat garapan Rolland Emmerich dan dibintangi Matthew Broderick. Film ini tak menuai hasil yang memuaskan dan dianggap gagal. Kegagalan ini berimbas juga pada rencana banyak sekuel yang sudah direncanakan, dan dengan terpaksa dibatalkan.

Kini film teranyarnya, “Godzilla: King of the Monsters” adalah film ketiga dari dunia MonsterVerse, sebuah dunia sinematik monster-monster raksasa milik Warner Bros yang dimulai pada 2014 dengan mengeluarkan reboot “Godzilla” yang disutradarai Gareth Edwards. Berlanjut pada tahun 2017, saat Legendary Pictures merilis “Kong: Skull Island”, sudut pandang baru kita tentang sosok kera raksasa ini seolah hadir kembali, bukan lewat versi orisinilnya yang pertama kali muncul pada 1933 dan sempat di-remake tahun 1976 dan 2005, namun dengan perspektif yang jauh berbeda ketimbang film solonya tersebut.

Kalau kamu masih ingat adengan post credit scene “Kong: Skull Island” (2017), tampilan proyektor yang dipertontonkan ke James Conrad (Tom Hiddlestone) dan Mason Weaver (Brie Larson) memang bikin penasaran. Bagaimana tidak, salah satu lukisan gua yang ditemukan saat itu telah menampilkan sosok Godzilla, Mothra, Rodan, dan King Ghidorah. Sontak imajinasi kita langsung tertuju kepada sekuel berikutnya yang tampaknya akan lebih megah dan ekstensif.

Memang tidak menutup kemungkinan kalau monster-monster itu akan ditampilkan secara individual dan terpisah, namun trailer perdana yang muncul tahun silam mengubah paradigma kita secara keseluruhan akan film “Godzilla: King of the Monsters” yang sekarang sudah diputar di layar lebar.

Harapan tinggi akan film ini memang ditunggu-tunggu oleh para fans nya, dengan harapan bahwa para monster ini akan diadaptasi dengan baik, tak seperti “Godzilla” (2014) yang cenderung membosankan dan membuat kita lelah melihatnya.

Dengan timeline masa kini, kenyataan bahwa monster itu ada memang menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari sejak Godzilla memporakporandakan San Fransisco di tahun 2014. Para monster yang menyerang di tahun 2014 ini dijuluki MUTO (Massive Unidentified Terrestrial Organism) oleh Monarch, sebuah organisasi rahasia yang menyelidiki para monster tersebut.

Organisasi yang dibentuk sejak 1946 oleh Presiden Amerika Harry Truman ini menyelidiki para monster tersebut dan sejak tahun 2014, keberadaan Monarch makin meluas dan sudah bukan merupakan organisasi yang tertutup seperti dahulu.

Organisasi ini kemudian berkembang, dengan setidaknya 67 pos di seluruh dunia. Pada saat ini, misi Monarch telah berubah drastis dari yang pada awalnya berburu dan menyimpan MUTO, menjadi menemukan dan melindungi makhluk raksasa kuno yang disebut Titans, yang diyakini keberadaannya sangat penting untuk pelestarian kehidupan di Bumi. Titans yang diamati termasuk Mothra di Tiongkok, Rodan di gunung berapi Meksiko, dan makhluk bernama Monster Zero yang membeku di Antartika.

Emma Russell (Vera Farmiga), seorang peneliti Monarch, telah mengembangkan ‘Orca’, sebuah mesin yang dapat melakukan komunikasi pendengaran dengan para Titan lewat gelombang suara, dan alat ini bisa menjadi jawaban untuk kelangsungan hidup umat manusia.

Namun, ketika Emma dan putrinya, Madison (Millie Bobby Brown) diculik oleh sekelompok eco-terrorist yang dipimpin oleh mantan kolonel Alan Jonah (Charles Dance), mantan suami Emma, Mark (Kyle Chandler), yang membantu merancang ‘Orca’, menyadari kalau Alan dan kelompoknya memiliki tujuan yang lebih besar, yakni ingin membangkitkan King Ghidorah, sebagai makhluk alpha tertinggi diatas semua Titan dan juga merupakan musuh bebuyutan Godzilla.

Di satu sisi, “Godzilla: King of the Monsters” berada di pakem cerita yang sesungguhnya, lebih dekat pada naratif versi Jepang ketimbang menjadi sekuel film MonsterVerse sebelumnya. Film yang disutradarai oleh Michael Dougherty (Trick ‘r Treat, Krampus) ini tetap membawa sentuhan melodrama dipadukan dengan kekacauan dunia akibat serangan Titans di berbagai belahan dunia.

Naskah yang ditulis oleh Dougherty bersama Zach Shields berhasil menggunakan plot tradisional yang selama ini menjadi warisan pendahulunya dan meninggalkan sesuatu yang diinginkan sejak lama ke dalam universe ini.

Prolog yang relatif cepat, memang mengaburkan sekilas tentang latar belakang keluarga Russell yang belum sempat dipahami penonton. Kita akan digiring langsung melihat kegiatan pos di Tiongkok yang menangani Mothra dan juga berbagai pos yang menangani Titan lainnya.

Pada akhirnya semua akan menyatu pada sebuah kekacauan yang diakibatkan oleh pertarungan mereka satu sama lain. Sebuah pertarungan yang masif cenderung destruktif meluluhlantakkan kota-kota besar dengan tenaga kataklismik yang mereka miliki, dan representasi wujud Titans terkini, hadir dengan sosok yang mengesankan kita semua. Memang sebuah gambaran sempurna dari apa yang diinginkan para fans nya selama ini.

Visualisasi palet warna nya pun beragam. Senada dengan poster advance yang sempat dikeluarkan beberapa waktu lalu, semua karakter diberi tone warna berbeda. Memang tak sepenuhnya identik dengan posternya, namun warna-warna biru, orange dan abu-abu, sudah cukup jelas membedakan masing-masing Titan.

Scoring dari Bear McCreary (Happy Death Day, serial The Walking Dead) pun termasuk brilian, aneka instrumentasi unik coba diperdengarkan ke telinga kita. Suatu pendekatan yang membutuhkan keberanian, mengingat kesalahan sedikit saja, bisa membuat tampilan visualisasi yang sudah indah ini dikacaukan oleh scoring yang tak sepadan.

Sekarang bicara kelemahan, repetisi klasik dari “Godzilla” (2014) masih saja berlanjut. Film ini cenderung melelahkan ditonton hingga paruh film diputar, cerita yang terlalu melebar kemana-mana dan cenderung tak fokus. Salah satunya dari keriuhan akan banyaknya cast terkenal tak diberi porsi pada tempatnya.

Sekali lagi, plot keluarga yang juga ditonjolkan pada “Godzilla” (2014) juga menjadi titik lemah film ini. Walaupun akting ketiga cast keluarga Russell ini terbilang apik, namun semua kekacauan yang terjadi di film ini tak lebih disebabkan dari konflik keluarga semata, dan orang lain semua akan terseret dalam pusaran arus konflik yang semestinya masih berjalan pada koridornya.

Agak disayangkan memang, mengingat cast lain jauh lebih menghibur dan lebih berpotensi meningkatkan tensi film ketimbang berkeluh kesah satu sama lain. Toh lagian ini bukan semata film keluarga, melainkan kerjasama tim untuk memecahkan permasalahan di luar sana. Untungnya dari sisi orisinalitas cerita, film ini bergerak dalam rel yang benar daripada film sebelumnya di ranah MonsterVerse.

Secara keseluruhan, King of the Monsters masih sesuai ekspektasi akan hadirnya banyak kaiju dan pertempuran spektakuler di antara mereka. Diharapkan pada sekuel berikutnya, “Godzilla vs Kong”, yang akan hadir pada tahun 2020 bisa berbicara lebih jauh lagi akan kelanjutan universe ini.

Memang tak melulu mesti mengangkat melodrama keluarga di tiap filmnya, namun bagaimana caranya menyeimbangkan para cast dengan drama di sekeliling mereka, dan tak ketinggalan, aksi pertempuran yang ditampilkan nantinya bisa memuaskan audiensnya.

Keseimbangan substansial ini dibutuhkan agar film berikutnya tak fokus hanya sekedar menjual sensasi rasa rindu kita akan sosok kaiju yang kini muncul dalam wujud terbarunya, namun juga cerita yang solid di belakangnya.

 

Director: Michael Dougherty

Starring: Vera Farmiga, Millie Bobby Brown, Kyle Chandler, Charles Dance, Bradley Whitford, Zhang Ziyi, Aisha Hinds, dan O’Shea Jackson Jr., Ken Watanabe, Sally Hawkins, David Strathairn

Duration: 131 Minutes

Score: 7.8/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here