‘Hellboy’, Reboot yang Mendekati Aslinya, Namun Tampil Lebih Brutal

Sebuah Hellboy reboot yang disutradarai Neil Marshall kini telah hadir. Tampil dengan CGI memukau, namun versi ini sekarang tampil brutal dan lebih gore dari versi sebelumnya yang disutradarai del Toro.

Setelah lama kabarnya berembus dari Februari silam, akhirnya reboot dari Hellboy sudah bisa kita lihat di layar lebar Indonesia. Karakter yang diangkat dari komik karya Mike Mignola ini tadinya diplot untuk melanjutkan sekuel dari “Hellboy” (2004) dan “Hellboy II: The Golden Army” (2008) yang merupakan garapan Guillermo del Toro. Namun, ketika rencana untuk membuat sekuel berbuntut kegagalan, pihak studio memutuskan untuk me-reboot dan menggunakan aktor baru untuk memerankan Hellboy.

Dari proses seleksi itu, terpilihlah David Harbour yang mengambil alih karakter Hellboy dari Ron Perlman. Reboot yang kini disutradarai oleh Neil Marshall, yang terkenal lewat “Dog Soldiers” (2002) dan “The Descent” (2005) dengan naskah yang ditulis oleh Andrew Cosby (Eureka), sebenarnya cukup menjanjikan. Terlebih lagi kabar yang beredar kalau film reboot ini akan setia pada pakem komik aslinya.

Hellboy (David Harbour) yang bekerja sama dengan Bureau for Paranormal Research and Defense, atau biasa disingkat BPRD, berusaha mencegah penyihir kuno, Nimue ‘Blood Queen’ (Milla Jovovich) yang telah mati sejak dibunuh oleh Raja Arthur, untuk bangkit lagi dan kembali menguasai dunia dan membasmi manusia dari muka bumi.

Sebagai sebuah reboot, film ini menceritakan lebih dalam mengenai asal usulnya dan mengapa ayah angkatnya, Trevor Bruttenholm (Ian McShane), memilih untuk membesarkannya sebagai anaknya sendiri. Hubungan keduanya berlanjut hingga akhirnya Hellboy membantu sang ayahnya di BPRD. Tak lama Hellboy diminta untuk berburu raksasa bersama klub Osiris, sebuah klub rahasia yang serupa dengan BPRD. Dalam perburuan tersebut, Hellboy ternyata dikhianati oleh para anggota Osiris yang menganggapnya monster dan kepalanya lebih layak dijadikan trofi di dinding mereka.

Dalam penyerangan tiba-tiba tersebut Hellboy terluka parah dan tiba-tiba muncul para raksasa yang berusaha menyerang anggota Osiris. Terjebak dan ingin melarikan diri, malah membuat Hellboy diserang balik oleh raksasa itu. Beruntung dalam keadaan tak sadarkan diri, Hellboy kemudian dirinya diselamatkan oleh Alice Monaghan (Sasha Lane). Di tempat persembunyian Alice, rumah itu kemudian diserbu pasukan khusus M11 yang ternyata diperintahkan Trevor untuk menjemput Hellboy dari situ. Ben Daimio (Daniel Dae Kim) datang kemudian dan dikenalkan sang ayah untuk membantu sang anak untuk menumpas Nimue. Bisakah Hellboy membasmi Nimue bersama rekan-rekan barunya yang baru ia kenal itu?

Premis yang sangat sederhana ini tak menjadikan film ini digarap secara apik. Sebagai sebuah reboot, semestinya film ini bisa memberi sejumlah hal yang tidak diceritakan dalam “Hellboy” versi del Toro. Memang versi Neil Marshall ini dirasakan lebih dekat dan real seperti karya Mignola, namun cerita yang sebetulnya sangat berpotensi ini malah cenderung membosankan dan praktis dari hanya menarik di 20-30 menit pertama saja. Selebihnya film ini cenderung bergerak liar dan tidak fokus.

Untuk CGI-nya sendiri, “Hellboy” memang sangat memanjakan mata kita dengan sejumlah CGI-nya yang teramat memukau. Namun CGI yang ditampilkan terlalu crowded di sini. Secara kualitas memang tak diragukan lagi, tapi sebuah film bagus tak selalu harus bermuatan efek-efek berlebihan yang justru mengurangi esensi cerita yang ingin disampaikan.

Kelemahan lain, inti cerita malah berkutat di side story semata. Kita malah tak mendapat gambaran utuh karakter Hellboy yang seharusnya diceritakan lebih dalam di film ini. Adanya karakter Alice, Ben dan juga Nimue membuat film ini penuh sesak, namun lucunya Cosby masih sempat menggambarkan karakter Hellboy yang dipenuhi konflik batin akan dirinya yang terpilah antara ‘good side or evil side’. Semua itu ditambah lagi oleh ikatan yang dalam dengan sang ayah, yang selalu ia dengarkan di kala bimbang.

Hal yang sepenuhnya dijual Neil Marshall dalam film ini dan tampak signifikan adalah adegan perkelahian Hellboy yang sangat berdarah-darah, tergolong sangat brutal. Memang ciri khas Neil dalam setiap filmnya selalu menjual elemen gore seperti ini. Justru karena faktor inilah, banyak orang menyukai “Hellboy” versi reboot ini yang di luar sana masuk ke dalam rating “R”.

Namun untuk di Indonesia, unsur sadis dan brutal ini menjadi masalah baru dan sangat krusial. Film yang seharusnya masuk kategori 21+ malah dipaksakan masuk ke 17+. Hal ini dampaknya sangat fatal, cutting sensor yang terlalu harsh malah merusak film ini. Bisa dibayangkan kalau dalam long fighting scene ada 2-3 sensor kasar, yang ada pertarungan Hellboy kita cuma bisa melihat sepenggal saja. Sangat menyedihkan dan bukan langkah yang bijak. Lebih baik tak usah ditayangkan sekalian di Indonesia, daripada memberi harapan kepada fanboy/girl yang sudah membayar mahal tiket bioskop untuk menonton film ini.

Untuk kamu penggemar fanatik komik Hellboy, film ini mungkin layak untuk ditonton atau buat kamu yang mungkin penasaran akan perbedaan di kedua versi ini. Di balik sejumlah kelemahannya, Hellboy ini mampu tampil sebagai film fantasi yang fresh, dapat menghibur dan tampil tak terlalu buruk, namun tidak terlalu istimewa.

 

Director: Neil Marshall

Starring: David Harbour, Milla Jovovich, Ian McShane, Sasha Lane, Daniel Dae Kim, Thomas Haden Church, Penelope Mitchell, Sophie Okonedo, Brian Gleeson, Alistair Petrie, Laila Morse, Stephen Graham.

Duration: 120 Minutes

Score: 5.5/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here