‘Hit & Run’, Tampilkan Aksi Komedi yang Sangat Menghibur

Sutradara Ody C. Harahap dan aktris Tatjana Saphira menjadi nama yang semakin diperhitungkan di periode Lebaran. Bagaimana tidak, kolaborasi mereka berdua yang mantap di film “Sweet 20” menjadi alasan sekaligus daya tarik tersendiri di Lebaran tahun ini. At least untuk para moviegoers.

Nah, di film kolaborasi Ody-Tatjana kali ini mereka akan bahu-membahu dengan aktor laga kelas Hollywood, Joe Taslim! Makin gila gak tuh? Kualitas penyutradaraan Ody, akting yang versatile dari Tatjana, dan skill bertarung plus karisma Joe membuat “Hit & Run” sudah memiliki amunisi yang sangat cukup untuk bikin orang-orang menonton filmnya. Oh, belum lagi tambahan Chandra Liow dan Jefri Nichol, dua aktor yang diharapkan dapat memancing animo penonton generasi Z. Bah! Bisa makin booming filmnya.

Yang menjadi salah satu sorotan di sini adalah cerita. Bukan karena jelek, sama sekali bukan. “Hit & Run” memberikan sebuah cerita orisinil yang tentu akan menjadi tantangan. Tapi tenang saja, di sini penonton akan menemukan sesuatu yang segar, di mana hal tersebut betul-betul membuat karakter utamanya menjadi lebih dicintai lagi. Tegar (Joe Taslim) adalah seorang polisi super.

Ia jago baku hantam, memiliki skill yang tinggi, dan juga tampan setengah mati. Ini membuat Tegar memiliki acara reality show sendiri, di mana ia meringkus para penjahat tanpa rekayasa. Suatu hari, Tegar menangkap Lio (Chandra Liow) di sebuah klab malam. Setelah diinterogasi, Lio ternyata memiliki hubungan dengan Coki (Yayan Ruhiyan), seorang gembong narkoba yang kabur dari penjara. Tegar kemudian dipasangkan dengan Lio untuk menangkap Coki.

“Hit & Run” memiliki awalan yang sebetulnya, jika dilihat dari segi naratif sih biasa saja. Tapi di sisi lain aspek sinematik membuatnya sangat entertaining. Mulai dari sequence yang diisi oleh adegan baku tembak dalam skala besar dan melibatkan alat berat, sampai adegan penyergapan. Semua langsung menggebrak.

Kita bisa segera invest ke dalam cerita berkat adrenalin yang sudah digenjot dari awal dan juga tertawa berkat cara film memanfaatkan tuntutan naratif sehingga membuatnya menjadi sesuatu yang lucu.

Perpaduan aksi dan komedi di bagian penyergapan enak dinikmati karena film cukup berhasil dalam membagi kapan mesti berantem, kapan bisa melucu. Fight scene Tegar melawan para penjahat tampil dinamis.

Tidak banyak fast cut, dan ini kurang lebih akan menjadi style yang terus ditampilkan secara konsisten di setiap pertarungan. Pemanfaatan gimmick menjadi pelengkap sekaligus penutup yang pas. Apalagi ini juga bermanfaat guna membentuk salah satu poin eksposisi dari karakter Tegar menjadi semakin jelas.

Akting Joe Taslim sangat perlu diapresiasi. Image dari seorang aktor laga yang keren tetap melekat pada dirinya. Tapi di film ini Joe berani untuk masuk ke zona yang baru, karena genre dari film yang adalah action-comedy. Joe harus mau bereksplorasi. Hasilnya, ia tidak sampai menjadi badut yang jago berantem.

Ia tetap menjadi dirinya sendiri. Menjadi Joe Taslim dengan karakter yang sudah dikenal, namun ada beberapa bagian yang coba ditampilkan secara lebih luwes. Contohnya, kali ini ia terlihat lebih pede, kemudian ia juga lebih talkative.

Sesuatu yang dipaksakan? Oh tentu tidak, karena di sini ia menjadi seorang “police celebrity”, sehingga hal tersebut harus ia lakukan. Bagusnya, Joe melaksanakan tugas tersebut sebagaimana mestinya.

Tidak berlebihan sampai mengubah diri menjadi seorang pelawak. Oh, satu lagi yang bagus dari penampilannya adalah Joe selalu bisa menciptakan momen dramatis ketika dibutuhkan. Ini akan semakin menjadi di tahap resolusi, yang mana akan menunjukkan kehangatan dari film “Hit & Run”.

Tugas melucu yang tadi sempat disinggung adalah bagiannya Chandra Liow dan Jefri Nichol. Mereka yang istilahnya menjadi tandem Tegar yang sifatnya koplak. Jadi, ibarat Om Jin di “Aladdin”, sumber hiburan dan banyolan itu asalnya dari dua tokoh ini. Bedanya, kalau Om Jin itu sangat berguna, Lio dan Jefri ya gitu deh.

Tapi jika melihat ke penampilannya, aspek jokes dari mereka lebih ke arah tingkah konyol dibanding dialog-dialog komedik yang cerdas. Rame? Iya. Lucu? Ga lucu-lucu amat. Terlebih untuk karakter Jefri, kasusnya ini menarik.

Jika melihat dari segi naratif, ini orang sebetulnya hanya buang-buang waktu. Baru muncul di pertengahan film, Jefri tidak memiliki cara perkenalan yang greget karena justru diperkenalkan dari sudut pandang karakter lain.

Gunanya di sepanjang film juga tidak ada. Toh lazimnya, jika mengacu a la “buddy cop movies”, biasanya yang jadi rekanan itu dua orang, bukan tiga. Jadi apa yang diinginkan dari eksistensi Jefri di sini? Ia masih kurang menarik.

Tapi jika melihat dari segi sinematik, akting Jefri Nichol luar biasa. Ia terlihat najis di sini! Bukan dalam artian buruk, ya! Justru dalam artian yang terbaik. Karakter Jefri adalah seorang loser yang juga bucin. Jadi, Jefri Nichol betul-betul keluar menjadi sesosok karakter yang cemen abis.

Kita bisa menikmati sajian ini sambil tertawa bersama-sama. Melihat kebolehan Jefri Nichol ketakutan, menangis, itu sangat menyenangkan. Somehow, jokes yang dilemparkan juga malah terdengar lebih nendang karena bersenggolan dengan ke-alay-an anak zaman sekarang.

Akting Jefri Nichol yang terlihat totalitasnya membuat karakter Jefri ini menjadi karakter dengan flaws yang terbesar dibanding tiga karakter penting lain, namun di sisi lain juga berhasil memuaskan.

Bagaimana dengan Tatjana? Ia bisa dikatakan berhasil meningkatkan kemampuannya, sedikit melebihi apa yang ia lakukan di “Sweet 20”. Kalau dilihat-lihat, ada sedikit persamaan antara karakternya Tatjana di “Hit & Run” dan “Sweet 20”.

Persamaannya adalah, Tatjana dituntut untuk memerankan karakter dengan gimmick yang sudah kuat. Di “Sweet 20” ia memerankan seorang wanita muda cantik yang aslinya nenek-nenek, jadi gimmick-nya adalah menjadi seorang nenek.

Di sini ia memerankan seorang biduan dengan sifat yang sudah sebelas-dua belas sama Syahrini. Cetar membahana. Itu lah gimmick-nya. Uniknya adalah, Tatjana di “Sweet 20” hanya diminta untuk menguatkan gimmick itu.

Di “Hit & Run” ia diberi tugas untuk lebih dari sekedar menguatkan gimmick, namun juga memberikan sisi lain dari karakternya. Meski hanya sebagai pemeran pendukung, Tatjana sanggup menampilkan itu. Hal tersebur membuat karakternya jadi lebih real dan lebih menarik. More than just “one dimensional character”.

Masih seputar aspek sinematik. Kali ini akan lebih berbicara mengenai teknisnya. “Hit & Run” memiliki action sequences yang seru! Sadar kalau jualan utama adalah adegan berantem, maka film akan memanjakan penonton dengan adegan-adegan perkelahian yang “worth it”.

Untuk pergerakan kamera, pada saat aksi, film menampilkan sensibilitas agar apa yang tersaji tak membosankan. Sudah didukung oleh koreografi yang kece, kamera sering menggunakan “Tracking Shot” yaitu pergerakan kamera akibat perubahan posisi secara horisontal. Pergerakannya bisa me arah manapun selama kamera masih menyentuh permukaan tanah.

Kemudian yang kedua adalah “Roll”. Beberapa kali kamera menampilkan gambar yang memutar dengan poros yang sama. Ini biasanya disesuaikan dengan koreo yang bersangkutan. Kemudian untuk dimensi kamera terhadap jarak. Film secara tepat menerapkan beberapa dimensi sesuai dengan gerakannya.

Gerakan-gerakan pertarungan satu lawan satu paling enak memang dilihat dari jarak cukup dekat. Pertarungan yang melibatkan banyak orang diawali dengan long atau medium long kemudian berpindah ke medium dengan pergerakan kamera dinamis.

Nah special case terjadi di salah satu gerakan yang melibatkan Tatjana. Tegar memanfaatkan karakternya untuk menyapu musuh dalam jumlah banyak. Di sini kita akan melihat perpaduan long shot dengan close up yang ternyata berfungsi secara apik.

Long shot diambil dari atas untuk menunjang elemen aksi sedangkan close up berfungsi untuk memancarkan unsur komedi lewat wajah histeris sang biduan. Untuk gaya bertarung, silat pasti paling mudah di-notice oleh penonton.

Selain itu, ada juga gaya lainnya seperti jiu jitsu dan juga petarung dengan tipe slugger yang ditonjolkan banget dalam satu babak khusus. Ini membuat “Hit & Run” memiliki suguhan yang semakin berwarna. Ada beberapa scene yang memperlihatkan darah, jadi meskipun “Hit & Run” adalah film action-comedy namun tetap disarankan bagi penonton dibawah umur agar didampingi oleh orang tua mereka.

Sayang, masih terdapat beberapa kelemahan di segi naratif. Kalau dilihat dari keseluruhan, “Hit & Run” ini ceritanya standar. Siapa yang jadi jagoan, siapa yang jadi musuh itu jelas. Twist yang coba dimunculkan juga bisa terbaca. Selain Jefri, karakter Helena Bimantra (Karina Suwandi) juga sama tidak menariknya.

Apalagi karakter ini dibuat satu dimensi, semakin forgettable-lah dia. Tapi yang paling mengganggu justru ada di tahap konfrontasi. Terdapat plot yang jumping banget. Dilihat dari karakter-karakter yang ada dan juga latar tempatnya, logika kausalitas yang melandasi bagian tersebut sama sekali tidak ada.

Bagaimana bisa Tegar dapat mengetahuinya? Ini adalah sesuatu yang sebaiknya harus diperlihatkan prosesnya, namun film tak melakukan itu. Padahal jika dilakukan mungkin poin tersebut dapat memperkuat bonding antara Tegar – Lio – Jefri.

Sayang semua seperti dibuang begitu saja. Beruntung, film kembali ramai dengan adegan action. Terdapat scene kejar-kejaran yang menghibur karena hancur-hancuran abis dan masih ditambah dengan sedikit gimmick agar tetap lucu.

Keunggulan di aspek sinematik membuat “Hit & Run” menjadi “popcorn movie” yang sukses menghibur. Bagaimana mereka men-desain adegan aksi, kemudian kualitas akting keempat karakter pentingnya membuat film menjadi hidup.

Konflik ceritanya memang tidak stand-out. Generik. Hanya saja film menciptakan situasional yang unik di tahap persiapan. Value keluarga pun tidak luput untuk dibahas. Ini menjadi motivasi bagi Tegar di mana hal itu akan semakin menjelaskan alasan mengapa ia kekeuh sama pekerjaannya sebagai “police celebrity”.

Ternyata job tersebut bukan hanya receh-receh belaka. Tentu masih ada yang namanya “Hit and Miss”, namun tidak berlebihan jika kita berharap materi yang sudah ada bisa lebih dikembangkan lagi untuk sekuel “Hit & Run” berikutnya.

 

Director: Ody C. Harahap

Starring: Joe Taslim, Tatjana Saphira, Chandra Liow, Jefri Nichol, Yayan Ruhiyan, Karina Suwandi, Mathias Muchus

Duration: 114 Minutes

Score: 7.5/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here