‘Homestay’, Mengulik Kematian dengan Warna Warni Kehidupan

Film drama fantasi dari Parkpoom Wongpoom (Shutter, Alone) tentang perjuangan Min (Teraadon Supapunpinyo) yang diberi tubuh baru untuk menyelidiki kematiannya sendiri selama 100 hari, dan berani mengubah jalan hidupnya.

Film yang sebenarnya sudah dirilis tahun 2018 di Thailand, baru sekarang bisa masuk resmi di Indonesia. Memang popularitas “Homestay” tak bisa dipandang sebelah mata saat ini. Prestasinya di skala domestik juga tergolong moncer, walaupun tak bisa menjadi film terbaik. Pasalnya, di Suphannahong National Film Awards  ke-28, Homestay meraih tiga (3) penghargaan untuk Best Supporting Actress (Suquan Bulaqool), Best Film Editing, dan Best Visual Effects dari 13 nominasi yang didapatkan.

Ditilik dari sutradaranya, tentunya kamu tak asing lagi dengan nama yang satu ini. Ya, benar sekali, Parkpoom Wongpoom yang memulai debut layar lebarnya dengan film bergenre horor, “Shutter” (2004) yang langsung meledak di box office domestik, termasuk juga di Indonesia. Kesuksesannya tak berhenti di situ saja, Parkpoom langsung menggebrak dengan film horor lainnya, “Alone” (2007) dan berturut-turut mengisi segmen film pendek di “Phobia” (2008) dan “Phobia 2” (2009) yang semuanya laris manis di pasaran.

Sempat break beberapa lama, Parkpoom langsung berkolaborasi membuat film pendek bergenre drama, “Kitarajanipon” (2015) yang digarap empat sutradara ternama Thailand, termasuk Parkpoom sendiri. Kini lewat “Homestay”, Parkpoom beralih ke genre drama thriller fantasi yang baru kali pertama ini ia garap. Tergolong berani memang, apalagi Parkpoom mencoba pendekatan dengan mengadaptasi novel laris Jepang, “Karafuru” (Colorful), karya Eto Mori yang ditulisnya pada tahun 1998.

Sementara itu, tokoh utama “Homestay” diperankan oleh Teeradon Supapunpinyo atau yang terkenal dengan nama James. Ini kedua kalinya James bermain di film thriller setelah berperan sebagai Pat di “Bad Genius” yang juga mendapatkan banyak penghargaan. Nama James sendiri dinominasikan di Suphannahong Award dan Bangkok Critics Assembly Award untuk Best Supporting Actor.

Cerita bermula ketika Min (Teraadon Supapunpinyo) tergeletak di rumah sakit dan bingung ketika dirinya merasa dihantui oleh orang-orang yang ia temui di situ. Tak lama ia menyadari kalau ia sudah berada di luar rumah sakit, berdiri tegak lurus di kaca bangunan. Sepintas terlihat kalau ia diserang oleh Guardian atau Penjaga (Nopachai Jayanama) yang akhirnya memberi tahu ia tentang sesuatu.

Yang ia sadari kemudian adalah kalau dirinya merupakan sebuah roh yang diberi hadiah berupa tubuh beserta kehidupan yang tubuh itu miliki. Namun hadiah itu bukanlah sekedar reward cuma-cuma, dia harus mencari tahu alasan kenapa Min, pemilik tubuh itu memutuskan untuk bunuh diri. Dari sini cerita mulai bergulir menarik, sang roh mulai menapaki satu-satu orang terdekat Min dan tentunya sambil diawasi oleh Guardian yang secara eksplisit mengawasi dan kadang muncul tiba-tiba di saat yang tidak ia inginkan.

Pertemuan Min dengan Pie (Cherprang Areekul), murid kelas olimpiade yang menjadi tutor sebayanya, berhasil membuat Min baru menyelidiki kembali hubungan Min lama dengan orang-orang terdekatnya. Keluarganya; ayah, ibu, dan kakaknya, juga memiliki rahasia masing-masing yang tidak diketahui oleh Min baru. Mampukah Min mendapatkan hadiahnya sebelum 100 hari berakhir dan menjadikan dunia hanya sebagai homestay semata?

Seperti mengupas bawang, rasanya ceritanya membuat para penonton meneteskan air mata karena cerita yang digunakan sangat menggugah jiwa. Terus dikupas, kisah tentang para remaja ini seperti tidak ada habisnya. Apa yang nampak di awal, apa yang nampak di permukaan, masih bisa digali dan menjadi bahan berpikir selanjutnya.

Tidak hanya adegan menyentuh, cerita juga diramaikan dengan unsur komedi di tengah-tengah percakapan dan berhasil membuat penonton tersenyum lebar.

Dari menit awal film dimulai, sentuhan horor dari Parkpoom seolah mengecoh kita. Atmosfer rumah sakit yang gelap dan penuh misteri ini seolah menggiring penonton ke genre horor yang memang merupakan trademark dari Parkpoom. Nyatanya, nuansa mencekam itu berubah seketika menjadi thriller ketika sosok ‘Min baru’ yang kaget karena terbangun dalam tubuh manusia, merasa dikejar-kejar dan berusaha kabur dari rumah sakit. Betapa terkejutnya ia ketika akhirnya bertemu dengan ‘Guardian’ untuk pertama kalinya di dinding gedung yang punya gravitasi sendiri! Ya, Min dan ‘Guardian’ ini bisa berdiri tegak lurus 90 derajat di dinding gedung sementara hujan turun ke jalanan. CGI di sini keren banget!

Selain ide cerita dan CGI, Kudos untuk akting James yang mumpuni dalam menunjukkan perbedaan personality Min lama dan Min baru patut diacungi jempol. Ekspresi yang digunakannya sangat variatif dan ekspresif sehingga dapat menyampaikan alur cerita yang ingin dipaparkan pada penonton. Memang untuk sebuah film, durasi film “Homestay” ini relatif panjang dan cukup berat untuk dipahami buat kamu yang tidak biasa menonton film dengan timeline maju mundur dan cerita multi layer seperti ini. Penonton harus berkonsentrasi juga karena detail-detail kecil yang menjadi kunci penting dalam film.

Sayangnya, masih terdapat plot hole dalam skrip cerita yang menyisakan beberapa pertanyaan tentang Min, kehidupan lamanya, dan orang-orang di sekitarnya. Misalnya, bagaimana caranya ‘Min baru’ mendapatkan ‘hadiah’ homestay alias tubuh baru? Apakah adegan ‘Min baru’ memakan buah durian, yang ‘Min lama’ tidak suka, merupakan tanda dari sebuah sesuatu?

Selain itu, karakter Menn yang merupakan kakak Min juga kurang dieksplor. Padahal, kehadiran Menn di dalam film menjadi kunci utama untuk menuju akhir cerita. Karakter Menn yang ditunjukkan hanya sebatas membenci Min, menyembunyikan catatan bunuh diri Min, lalu tiba-tiba menjadi penyatu keluarga.

Well, mengadaptasi sebuah buku best seller memang bukanlah perkara mudah. Saat press conference berlangsung pun, sang sutradara mengungkapkan bahwa film ini membutuhkan waktu yang lebih lama karena jalan cerita yang rumit. Sayangnya, karena keterbatasan resource, film terpaksa dipangkas menjadi lebih singkat.

Belum banyak, film Asia yang menggubah tema kesehatan mental di dunia remaja seapik ini. Namun, seharusnya di awal film ditambahkan peringatan “Trigger Warning” karena diperlihatkan secara jelas proses Min bunuh diri. Lebih baik lagi jika ditambahkan informasi kontak darurat untuk penganganan kesehatan mental dan bunuh diri.

Meskipun begitu, film ini menjadi pengalaman baru bagi penonton dalam menonton karena genre yang digunakan adalah drama-fantasi. Film ini mungkin hanya diputar selama 2 jam di studio, tapi dapat memberikan dampak jangka panjang dan lebih luas untuk film bergenre sama dan bertema mirip di Asia.

Overall, film Homestay adalah salah satu film Thailand berkualitas yang dapat menjadi pilihan kamu untuk menonton di bulan ini. Film ini bukan sekadar “film remaja”, tetapi akan menjadi bahan empuk untuk siapa pun yang senang mempertanyakan makna hidup yang sebenarnya.

Penulis : @rainadellani

 

Director: Parkpoom Wongpoom

Starring: Teeradon Supapunpinyo, Cherprang Areekul, Nopachai Jayanama, Nutthasit Kotimanuswanich, Suquan Bulaqool

Duration: 132 Minutes

Score: 8.5/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here