‘Hotel Mumbai’, Kisah Nyata Serbuan Teroris di Kota Mumbai

Serbuan serentak kawanan teroris selama empat hari di berbagai tempat strategis di Mumbai – India pada 26-29 November 2008, membuat kota ini lumpuh. Taj Hotel menjadi perhatian utama, karena merupakan sasaran utama teroris dengan banyaknya orang asing yang menginap di tempat itu.

Selalu tertarik untuk bisa menonton sebuah film historical-thriller. Alasan utamanya tentu karena kita penasaran atas peristiwa yang pernah benar-benar terjadi. Bagaimana hal itu difilmkan, kemudian pesan apa yang ingin disampaikan juga patut ditunggu selain terornya yang diharap menegangkan. “Hotel Mumbai” dibuat berdasarkan kejadian nyata yang terjadi di Mumbai – India. 10 orang teroris dari Pakistan yang merupakan anggota dari Lashkar-e-Taiba, sebuah organisasi Islam militan yang menargetkan 12 tempat selama kurang lebih empat hari di seluruh Mumbai pada 26-29 November 2008.

Mereka menembaki penduduk secara membabi-buta di berbagai tempat strategis yang sudah mereka rencanakan. Teror ini mengakibatkan 164 orang meninggal dunia dan melukai setidaknya 308 orang. Posisi mereka yang tersebar di beberapa titik seperti stasiun kereta api, sejumlah hotel, sekolah dan kafe, membuat polisi setempat kalang kabut. Saat itu, Mumbai yang merupakan pusat finansial India tidak memiliki pasukan khusus yang terlatih dalam menghadapi serangan teror berencana. Makin apes lagi, pertolongan dari Delhi baru bisa sampai ke sana keesokan hari.

Maka terjadilah tragedi berdarah di Mumbai, di mana banyak sekali orang meninggal dan kabur berhamburan. Salah satu tempat kabur dan sayangnya menjadi objek incaran juga oleh kelompok teroris adalah Hotel Taj. Hotel ini merupakan hotel ikonik yang sudah berusia ratusan tahun. Namanya begitu melegenda, dilengkapi oleh fasilitas super mewah untuk melayani banyak sekali tamu kehormatan dan selebritis dunia. Prinsip para staf di hotel ini adalah “Guest is God”, sehingga Hotel Taj selalu berusaha membuat tamunya merasa lebih dari sekedar nyaman.

Film kemudian mengambil beberapa karakter yang ada di dalam hotel sebagai penggerak ceritanya. Mereka adalah Arjun (Dev Patel), pelayan yang sedang ditugaskan di restoran VIP. Lalu ada suami istri Zahra (Nazanin Boniadi) dan David (Armie Hammer) yang sedang menginap di hotel bersama dengan bayi mereka dan nanny-nya yaitu Sally (Tilda Cobham-Hervey). Kemudian ada Vasili (Jason Isaacs), tentara veteran Uni Soviet, dan pemimpin dapur Hotel Taj yaitu Chef Hemant Oberoi (Anupam Kher). Mereka semua terperangkap dan diburu para teroris yang tidak segan untuk membunuh kapan saja.

Film dibuka oleh sebuah shot yang begitu cantik. Di sini sineas jelas menunjukkan atensinya terhadap pemilihan warna. Sesuai dengan tema cerita dan mood filmnya, lazimnya setiap film memang memiliki tone warna yang berbeda. Di “Hotel Mumbai” sendiri, tone yang jelas adalah karakter warna kekuningan yang cenderung soft. Di scene pertama unsur tersebut langsung terpancar dari warna yang ditonjolkan oleh langit dan laut. Kita bisa menikmati capaian sinematik yang cantik di mana warna langit dan laut di kala senja bisa dibuat persis sama. Rasanya seperti berada di gurun, tapi gurunnya begelombang. Indah sekali.

Tone seperti ini seringkali menandakan latar cerita, yang mana cukup beralasan karena film memeringati serangan yang terjadi sebelas tahun yang lalu. Baru sembari menunjukkan keindahannya, kamera menyorot sebuah perahu kecil yang ditumpangi oleh anak-anak muda. Menenteng tas ransel besar dan mengenakan earphone, para pemuda ini adalah pelaku teror yang diceritakan baru sampai di Mumbai. Dari sini kita akan disuguhkan teror terbuka, di mana kamera tidak hanya menyorot kejadian hanya dari sudut pandang karakter protagonis saja.

Masih di tahap persiapan, film memperkenalkan para protagonisnya satu demi satu. Uniknya adalah, dalam setiap perkenalan, kita sebetulnya bisa melihat nilai-nilai perusahaan yang sudah diterapkan sejak lama oleh Taj Hotel. Nilai-nilai ini dikemukakan oleh Rohit Deshpande, profesor pemasaran di Harvard Business School, pada acara ‘Ted Talks’ di New England tahun 2012. Pertama adalah dari pengenalan karakter Arjun. Mise-en-scene yang ada ketika film memperkenalkan dirinya memperlihatkan bahwa Arjun bukan berasal dari kota besar.

Ini menjadi poin pertama dari “human resource policy” yang ada di Taj, di mana dalam merekrut calon “frontline employees” , Taj Hotel tidak merekrut para anak muda dari kota besar melainkan dari kota-kota kecil. Mereka bertanya kepada gurunya, siapa saja murid yang memiliki attitude yang baik kepada orang yang lebih tua. Beranjak ke perkenalan karakter Zahra dan keluarganya. Selain menampilkan kemegahan hotel, film juga menunjukkan betapa tingginya standar pelayanan yang dimiliki oleh para staf Hotel Taj.

Jangan heran, ini juga merupakan poin dari “human resource policy” Taj Hotel. Dalam sesi pelatihan, pihak hotel menempatkan frontline employee-nya bukan sebagai “brand ambassador” tapi sebagai “guest ambassador”. Ini sejalan dengan prinsip “Guest is God”, di mana mereka percaya bahwa frontline employee harus bisa menjadi corong suara bagi setiap tamu kepada pihak hotel. Di dalam film ini jelas-jelas terlihat dari interaksi yang terjadi antara para pelayan dengan Zahra dan David. Mereka tidak hanya disambut, tapi juga betul-betul dipenuhi keinginannya. Ketika mereka baru sampai di hotel, Zahra dan keluarga langsung disambut dengan hangat dan diarahkan layaknya guest star di acara pensi yang diarahkan oleh “liaison officer”.

Sampai di kamar, pihak hotel sudah memenuhi apa yang diinginkan Zahra. Mulai dari suhu air di bathtub, sampanye, sampai jadwal makan di restoran VIP yang jadinya dibikin fleksibel. Efisiensi ini lalu berlanjut hingga pengenalan Vasili dan Chef Oberoi. Di sini sang Chef memberikan arahan yang detail kepada anak buahnya mengenai apa yang disukai dan yang tidak disukai oleh Vasili. Ke depan, kita bisa paham mengapa staf hotel menjadi begitu loyal kepada pekerjaannya, mesti berada di situasi yang kelewat ekstrim.

Teror demi teror tidak ingin memberi penonton waktu untuk bernafas. Ketegangan mulai meninggi sejak para teroris sampai di tempat sasaran pertama dan tensi ini akan mereka pertahankan hingga akhir. Dalam menggambarkan teror, sutradara Anthony Maras memanfaatkan teknik penceritaan tak terbatas. Ini bertujuan untuk membangun kadar tegang yang dibutuhkan. Kita akan merasa deg-degan karena tahu kalau para teroris ingin menyerang suatu tempat, or let’s say, tempat A.

Kemudian sesuai dengan tuntutan naratifnya, kamera berganti dari yang awalnya menyorot karakter teroris berpindah menyorot karakter lain yang sedang berada di tempat A. Mereka yang tidak tahu akan bahaya yang menghampiri membuat penonton akan merasakan ketegangan tadi, ditambah dengan rasa kasihan karena “Hotel Mumbai” adalah film yang berdasarkan tragedi nyata. Penguluran dalam adegan-adegan intens tidak dapat dihindari. Terkesan eksploitatif memang. Namun kita juga mesti ingat bahwa ada kepentingan entertainment juga di sini.

Selain lewat penceritaan, film juga menggunakan cara-cara dari aspek sinematik yang bertugas tidak hanya memberikan ketegangan namun juga sensasi real. Yang paling mudah tentu saja adalah lewat penempatan cuplikan-cuplikan asli. Cukup banyak cuplikan yang ada, di mana cuplikan tersebut di-setting bertebaran di sepanjang film. Fungsinya adalah untuk tetap menjaga intensitas film agar tetap stabil. Selain itu, cuplikan-cuplikan ini juga bisa semakin meyakinkan kita akan seberapa ganas kejadian serangan di Mumbai dan khususnya Hotel Taj. Berbicara soal meyakinkan, film juga menerapkan mode handheld di beberapa adegan. Sesuai nama, kamera akan dibawa oleh operator tanpa menggunakan alat bantu.

Kelemahannya adalah teknik ini mengabaikan komposisi visual karena lebih mementingkan objeknya. Cuman tenang saja, handheld hanya digunakan dalam dosis yang kecil. Kemudian untuk “framing”, film memberikan ketegangan tiada henti lewat dimensi kamera terhadap objek. Di sini ada beberapa kali adegan dengan long shot atau medium long shot yang tampil efektif. Kesamaan dua shots ini adalah latar yang tetap kuat jika dibandingkan dengan tubuh fisik manusia. Imbasnya, penonton bisa melihat kondisi di mana teroris berada dan di mana korban berada. Sama seperti teknik penceritaan tak terbatas, long shot dan medium long shot juga efektif dalam membangun ketegangan. Apalagi jika setelah shot itu, shot yang muncul berikutnya adalah close-up yang mampu memperlihatkan ekspresi wajah secara jelas.

Tapi film tidak selalu bermain lewat penceritaan tak terbatas. Ada kalanya “Hotel Mumbai” memberikan sekat-sekat dalam pengadeganannya agar teror bisa lebih bervariasi. Melihat dari segi editing, ada pemanfaatan teknik sudut pandang. Ada kalanya film memunculkan shot pertama di mana menampilkan karakter yang sedang fokus melihat ke depan, lalu shot berikutnya memperlihatkan kondisi medan yang ia lihat seperti apa. Dengan musik dan juga tracking shot, kita jadi tidak tahu akan seperti apa dan yang paling penting, dari arah mana ancaman akan datang. Timing-nya juga bisa kapan saja. Di beberapa adegan tertentu film juga bermain dengan “blocking”, yang mana kali ini lebih ke pergerakan pemainnya. Trik-trik blocking yang sebetulnya sudah lazim bisa kamu temui di sini. Apakah efektif? Oh tentu. Berkat set-up cerita di sequence yang bersangkutan, kemudian akting pemain yang baik, kita bakal tetap deg-degan campur lega tapi tak lama saat teknik ini disajikan.

Hanya saja, teror di “Hotel Mumbai” yang gila-gilaan ini membawa risiko. Film tidak cukup memberikan apa yang sebetulnya juga mereka ingin sampaikan. Porsi antara yang diteror dan yang meneror sama, sehingga film tidak menampilkan unsur keberanian dan persatuan secara lebih greget. Ini terbukti dari ceritanya yang sederhana. Mengambil sudut pandang dari banyak karakter di awal, pada akhirnya film menyatukan mereka. Jelas itu bukan masalah. Tapi yang cukup disayangkan adalah mereka hanya mengambil upaya ini saja untuk diceritakan. Padahal kalau mau melihat lebih dalam, masih banyak item yang bisa dimanfaatkan di dalam hotel sebesar itu.

Taj Hotel memiliki banyak sekali restoran atau banquet. Upaya para staf untuk menyelamatkan tamu patut diceritakan karena ada restoran yang terletak di lantai atas. Bukan di lantai dasar, seperti restoran VIP tempat Arjun bertugas. Menurut penuturan saksi mata di video yang ditunjukkan oleh Rohit, banyak staf hotel yang kembali ke hotel setelah mereka menyelamatkan tamu. Kemudian Taj juga memiliki staf back office. Para staf ini seharusnya diceritakan juga karena mereka memiliki andil besar dalam menjaga keamanan tamu. Ketika serangan terjadi, mereka masih mem-volunteer-kan diri untuk bekerja.

Mereka membahayakan diri sendiri demi menelpon seluruh tamu yang sedang menginap untuk mengunci pintu, dan menarik kartu hotel agar lampu kamar mereka mati. Tujuannya jelas, yaitu untuk menimbulkan anggapan dari para teroris kalau tidak ada tamu di kamar tersebut. Ruang CCTV ditampilkan di dalam film namun ketika ditampilkan ruangan sudah kosong. Well, at least ruangan tersebut nantinya masih memiliki andil meskipun kecil. Peran dari polisi lokal yang awalnya dibangun semakin kuat malah hilang ditelan bumi sejak tahap konfrontasi. Potensinya betul-betul tersia-siakan.

Film memilih jalan yang lebih personal, namun generik. Ini menjadi konflik sampingan dengan keuntungan yang jelas, yaitu mudah dibumbui oleh unsur drama. Sesuatu yang biasa, namun untungnya ada satu percikan di sini. Ketika konflik sampingan dari film mulai memburuk, tanpa kita duga-duga film menyampaikan sebuah “ugly truth”. Kebenaran ini ditampilkan dari sisi salah satu teroris, di mana kita akan melihat kualitas akting yang keren dari Amandeep Singh sebagai Imran. Value disampaikan dengan begitu haru. Kita akan melihat betapa mirisnya para korban yang dimanfaatkan oleh ormas tertentu, yang sejatinya hanya menggunakan mereka sebagai pion kekacauan atas nama agama. Sesuatu yang sangat berbahaya, dan tentu kita semua tidak ingin hal seperti itu terjadi di Indonesia. Dan ternyata, kasus Imran ini justru menjadi bagian yang paling mengena, bahkan jika kita membandingkannya dengan scene yang seharusnya jadi mesin penguras air mata.

“Hotel Mumbai” adalah teror berdasarkan kejadian nyata yang poignant. Mereka tidak akan memberimu nafas sepanjang perjalanan. Asli, capek nontonnya (dalam hal positif) gara-gara kadar intense yang terus dijaga. Cerita yang diolah di dalam hotel dibuat jauh lebih sederhana. Walaupun masih sanggup ngomongin soal persatuan, film justru memberikan kekurangan bagi kamu yang ingin melihat aksi gotong royong nan heroik dari para korban. Belum selesai, cerita juga turut menyertakan satu adegan yang justru menjadi antitesis dari apa yang sebenarnya terjadi, yang pada akhirnya sedikit melemahkan prinsip dari hotelnya sendiri. Tapi di balik itu semua, hotel megah ini tetap bisa menyampaikan salah satu value-nya, yakni tentang betapa pentingnya loyalitas dan totalitas. Pastikan tugasmu sudah dilaksanakan sampai benar-benar tuntas.

 

Director: Anthony Maras

Starring: Dev Patel, Armie Hammer, Nazanin Boniadi, Tilda Cobham-Harvey, Anupam Kher, Jason Isaacs, Suhail Nayyar, Amandeep Singh

Score: 8.0/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here