“I’ve risked my men. I’ve risked my ship, because it was the right thing to do. This is about our future.” – Capt. Joe Glass.

Belakangan ini di setiap tahunnya Gerard Butler selalu mengeluarkan film yang menjadi andalannya sendiri. Film-film yang terlihat seperti “B movies”, yang sangat bergantung pada kebintangan Gerard. Setelah menghadapi bencana alam buatan di “Geostorm” dan menjadi bos polisi yang sebelas dua belas dengan preman di “Den of Thieves” kini sang Leonidas harus memulai sebuah pertempuran untuk menghentikan perang antara Amerika Serikat dan Rusia. Bagaimana caranya? Semua tersaji dalam film action military terbaru berjudul ‘Hunter Killer’.

Di sini Gerard berperan sebagai Kapten Joe Glass. Suatu hari ia ditugaskan oleh pemerintah Amerika untuk pergi ke teritori Rusia. Bukan tanpa sebab, Joe dan kru ditugaskan untuk menyelidiki jatuhnya satu kapal selam Amerika dan satu kapal selam Rusia yang tumbang secara misterius. Joe, yang sebetulnya diperintahkan secara mendadak, harus menghadapi medan tempur yang asing.

Meski karakter utamanya adalah Joe Glass, film “Hunter Killer” tidak menampilkan point of view hanya dari dirinya saja. Karena insiden kapal selam ini ditengarai berhubungan dengan masalah berbau politik, maka cerita film turut menampilkan sudut pandang lain. Tercatat ada tiga sub-plot yang memiliki perannya masing-masing. Pertama adalah cerita yang berada di pangkalan militer Polyarny, di mana Presiden Rusia sedang berada di sana. Yang kedua adalah cerita yang ber-setting di Pentagon. Di sini penonton diperkenalkan pada karakter pendukung dari sisi pemerintahan Amerika. Terakhir, kita juga diajak bergerilya bersama empat orang tentara Amerika. Mereka diberikan tugas mematikan dan hampir mustahil karena menyangkut nyawa seseorang yang kedudukannya begitu penting.

Pemanfaatan beberapa sub-plot membuat film memiliki tuturan yang bagus. Akan sangat berisiko jika film ini menyuguhkan tahapan-tahapan cerita dari awal sampai akhir hanya dari sudut pandang Joe Glass. Iya sih, memang Joe Glass itu karakter utama dan kebintangan Gerard Butler tidak perlu diragukan. Tapi, film membutuhkan kedalaman yang membuat penonton semakin tenggelam ke dalam konfliknya. Selain itu, aspek naratif membuat film juga memiliki muatan konspirasi yang tinggi. Maka dari itu, cerita dari sudut pandang lain menjadi penting. Kita bisa melihat bagaimana berbagai pihak menanggapi kasus ini, lalu bagaimana cara masing-masing mengatasi tantangan.

Pembagian screen time dari masing-masing plot terbilang pas. Apa yang terjadi pada kapal selam Joe Glass dan situasi gerilya menjadi yang paling banyak disorot. Baru setelah itu ke Polyarny dan Pentagon. Mereka yang ada di Pentagon memiliki andil dalam menentukan arah, dan semuanya nanti akan dieksekusi oleh orang-orang lapangan. Ada hal menarik yang terdapat di sini, yaitu mengenai persamaan dalam kisahnya. Tanpa ingin membocorkan apapun, terdapat satu hal yang sama, yang dihadapi baik oleh para awak kapal selam maupun para tentara gerilya. Mereka akan bertemu dengan sesuatu yang sifatnya sangat krusial. Ini memiliki peran tertentu dalam kisah Hunter Killer. Selain menjadi poin yang dapat membangun tensi dan cerita menjadi lebih menarik, persamaan ini seperti membawa tujuan yang mulia. Gagasan bahwa bertindak tepat dalam menghadapi masalah.

Gerard Butler di sini lebih terlihat seperti ketika dia bermain di “Geostorm”. Ia tidak melakukan stunt fisik yang hitungannya berat. Ia cukup bermain-main dengan kualitas akting karena di sini Gerard harus dapat menyampaikan perasaan yang dirasakan olehnya dan para awak kapal selam. Lewat gestur badan, bagaimana cara Joe berbicara dengan awaknya, kemudian mimik muka, Gerard bisa memancarkan perasaan itu. Sayangnya, karena eksposisi karakter ini tidak ditampilkan secara jelas di babak persiapan, penonton bisa agak bingung dan bertanya-tanya, siapa sebenarnya Joe Glass itu. Petunjuk yang tersedia hanya ada di dialog para pemeran pendukung, satu item yang hanya diketahui oleh orang-orang dari golongan tertentu, dan satu scene di mana Joe sedang berada di dataran tinggi. Walhasil, yang kami tangkap darinya adalah, Joe Glass merupakan yang tegas dan memiliki rasa sensitif. Tapi selain itu, agak sulit untuk memastikan, apakah Joe itu sudah berpengalaman atau belum.

Tapi yang menjadi flaws sebetulnya adalah performa dari Gary Oldman. Di sini ia berperan sebagai seorang atase pemerintahan. Seperti yang diduga sebelumnya, tokoh ini nanti akan menghadirkan unsur klise di dalam film, di mana ia berjasa dalam memperkeruh suasana, lalu keluar sebagai pihak yang tersenyum getir. Sayangnya, dalam scene yang menjadi saat di mana sang atase memperkeruh suasana, Gary terlihat belum bisa melepaskan aktingnya sebagai Winston Churchill dari film “The Darkest Hour”. Gayanya dalam berbicara, meninggikan intonasi suara, dan gestur yang dikeluarkan kelihatan sama dengan apa yang Gary lakukan untuk Churchill. Istilah kata, “belum move-on”! Bedanya, Churchill memberinya piala Oscar. Nah untuk aktingnya di film ini akan membuat kita tersenyum geli, karena sekilas mengingatkan kita akan film di atas.

Kemudian mengenai tampilannya. ‘Hunter Killer’ terlihat seperti “B movies” karena tidak disokong oleh kualitas visual yang meyakinkan. Ini tentu sedikit banyak akan berhubungan dengan unsur CGI (computer generated imagery). CGI sendiri merupakan teknik penggunaan teknologi digital yang dimanfaatkan untuk menampilkan setting, karakter, serta obyek tertentu dalam sebuah film. Untuk ‘Hunter Killer’, aspek ini pasti diperlukan seperti dalam pembuatan setting dan objek lain, yaitu bagaimana kapal selam digambarkan ketika sudah berada di bawah laut.

Berangkat dari sana, terlihat kekurangan film dalam beberapa scene. Ada kalanya penonton bisa melihat dengan jelas kalau latar yang ada sepertinya tidak terlalu real. Ibarat kata, syuting tidak dilakukan di lokasi kejadian tapi di green screen. Lalu, kapal selam yang bentuknya besar jadi terlihat agak berbeda ketika sudah menyelam. Kapal selam ini jadi lebih ramping dan tidak sesangar ketika ia masih ada di permukaan laut, kurang bulky. Untungnya warna yang ada di sekelilingnya didominasi oleh warna yang cenderung gelap, jadi kekurangan tersebut dapat sedikit tersamarkan.

Untuk adegan-adegan aksinya, Hunter Killer menggunakan keunggulan utama dengan baik, yaitu aspek militer. Senjata-senjata dan juga moda tempur digunakan secara ekstensif. Penonton tidak hanya disuguhkan teknologi kekinian yang ada di dalam kapal selam, namun juga yang lainnya. Kita juga akan merasa terhibur ketika kapal selam mulai mendapatkan tantangan berat seperti menghindari misil musuh, melewati fjord dan sebagainya. Terkadang tantangan-tantangan ini memunculkan manuver-manuver ekstrim yang membuat kita nyeletuk sendiri karena kurang yakin apakah itu betul-betul bisa dilakukan oleh sebuah kapal selam yang ukurannya besar. Tapi manuver-manuver ini dibuat untuk memunculkan unsur intens yang dibutuhkan oleh narasi.

Saat ini bioskop sedang dibanjiri oleh film-film bagus. Ada yang tampil dengan cerita yang menyentuh, ada yang tampil dengan aspek sinematografi yang cantik, kemudian ada yang outstanding karena penampilan aktor dan aktrisnya yang luar biasa. Film-film ini begitu diantisipasi dan bahkan sampai dinominasikan untuk Oscar tahun depan. ‘Hunter Killer’ bukan tipe film yang seperti itu. Film ini punya unsur penuansaan yang rendah dan cerita yang klise, di mana terdapat muatan politik yang tentunya dibuat-buat.

Tapi apakah itu semua membuat ‘Hunter Killer’ tidak bagus? Oh tentu tidak. Film ini tahu betul di mana letak kekuatannya dan hal tersebut tidak malu-malu untuk ditampilkan sampai terlihat mencolok. Sebuah ajang “show off” yang tampil modern, seru, dan tentunya menghibur. Tahap konfrontasinya asik dan akhir cerita meski terlalu mengada-ada tapi justru tidak mengecewakan.

‘Hunter Killer’ sudah dapat kamu saksikan di bioskop-bioskop terdekat di kota kamu

 

Director: Donovan Marsh

Starring: Gerard Butler, Gary Oldman, Common, Linda Cardellini, Michael Nyqvist, Michael Gor, Alexander Diachenko, Zane Holtz, Toby Stephens, Christopher Goh, David Gyasi, Carter MacIntyre

Duration: 121 Minutes

Score: 7.3/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here