‘I Want to Eat Your Pancreas’, Remake Animasi dengan Cucuran Air Mata

Di sebuah SMU, seorang kutu buku, Haruki Shiga hidup menyendiri terpisah dari teman-temannya sekelas, menemukan sebuah diari “Hidup Bersama Penyakitku”, yang ternyata milik seorang teman sekelasnya, Sakura Yamauchi ketika mereka secara tidak sengaja sedang medical check-up di rumah sakit.

Sakura agak terkejut ketika melihat Shiga ternyata bersikap biasa saja setelah melihat diari itu. Melihat hal itu kemudian Sakura kemudian menceritakan rahasia yang selalu ia simpan rapat-rapat ke semua orang ke Shiga. Bahkan Sakura pun tak menceritakan rahasia ini ke teman terdekatnya di sekolahnya, Kyoko.

Shiga awalnya merasa risih didekati Sakura setiap hari, dan selalu mengelak bila ingin ditemani, namun lama kelamaan secara tidak langsung mereka terikat dan tak terpisahkan satu sama lain. Sakura yang selalu ceria dan bersemangat menjalani hidup memang tak ingin dirinya merasa sedih karena dirinya mempunyai penyakit pankreas akut yang tak bisa disembuhkan. Bersama Shiga, Sakura dapat memberikan empatinya yang tulus terhadap tingkah laku Shiga yang cenderung menutup diri dan tidak mempunyai teman. Pada saat inilah kekuatan cinta keduanya tak terpisahkan hingga akhir.  

Dilihat dari judulnya, anime terbaru yang akan menghiasi layar lebar di Indonesia ini memang terdengar familiar di telinga kita. Memang benar, film ini merupakan remake dari live action “Let Me Eat Your Pancreas” yang sempat diputar beberapa waktu lalu saat Festival Film Jepang pada awal Desember.   

Anime yang diangkat dari novel serial karya Yoru Sumino dengan judul yang sama ini pertama kali diterbitkan lewat web di tahun 2014 dan diterbitkan setahun kemudian di tahun 2015. Setelah diterbitkan, kepopulerannya semakin meningkat dengan adaptasi novel ini ke manga mulai dari 2016-2017.

Setelah sukses di semua jenis adaptasi, novel ini pertama kalinya masuk layar lebar di tahun 2017 dan kini adaptasi animenya yang sudah tayang sejak September silam di Jepang sudah bisa kita saksikan.

Kedua adaptasi layar lebar ini sebenarnya agak sedikit berbeda walaupun keduanya memiliki cerita yang kurang lebih sama. Untuk versi live action-nya, film diceritakan dengan flashback yang diceritakan oleh Shiga dengan setting 12 tahun setelah momen yang dialaminya dengan Sakura. Sedangkan untuk versi anime-nya, film diceritakan dengan alur maju mengikuti perjalanan yang dialami Sakura dan Shiga hingga akhir.

Keduanya tentu mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk ceritanya, tentu versi live action-nya akan memperlihatkan momen-momen antara mereka dan bagaimana Shiga menghadapi hidupnya setelah Sakura tiada. Sedangkan untuk versi animenya, banyak momen-momen yang tak kita dapat di versi live action-nya, bisa kita lihat disini.   

Memang ditilik dari ceritanya, ‘I Want to Eat Your Pancreas’ tidak menawarkan sesuatu yang baru. Film serupa seperti “The Fault in Our Stars” (2016) ini juga memiliki cerita yang relatif mirip. Judulnya saja sudah memberi petunjuk bagaimana kira-kira ending film ini akan berakhir. Memang kedua heroine yang sama-sama mempunyai penyakit ini dihadapkan pada realita hidup yang mereka alami.

Kekurangan di salah satu protagonis tak membuat ketimpangan di protagonis lainnya. Keduanya bisa mengisi dengan caranya masing-masing, bahkan di versi anime-nya ini kita bisa melihat humor yang akan membuat kita tersenyum, tertawa, hingga menangis sesunggukan, sesuatu yang kurang bisa kita dapatkan di versi live action-nya.

Secara visual, penggambaran animasinya sendiri juga lumayan halus, walaupun digarap oleh studio Voln yang masih terbilang baru. Warna-warna pastel juga dominasi palet pink menjelang ending yang diambil dari bunga Sakura yang bermekaran, menggambarkan tokoh yang diambil dari nama bunga ini.  Begitu pula dengan soundtrack yang mengisi anime ini dengan beberapa lagu yang diisi Sumika dan scoring-nya yang dibuat oleh Hiroko Sebu juga terasa pas.

‘I Want to Eat Your Pancreas’ sekilas memang terlihat seperti drama romantis klasik tentang tokoh yang sedang sekarat dalam menjalani hidup, tetapi film ini berbicara mengenai kehidupan dan persahabatan yang tulus, hebatnya lagi dengan naskah yang bisa dibilang seadanya namun tokoh yang solid membuat film ini terasa dekat di hati.

Film ini sudah bisa kamu saksikan mulai 26 Desember di bioskop-bioskop terdekat di kota kamu.

Director: Shin’ichirô Ushijima

Starring: Mahiro Takasugi, Lynn, Yukiyo Fujii, Jun Fukushima, Emi Wakui

Duration: 108 Minutes

Score: 8.0/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here