“They hound people in this world. Anybody who’s different. They can’t stand it.” – Judy Garland.

Di awal 90-an, nama serta sosok Renée Zellweger tak dipungkiri adalah nama sekaligus aktris yang paling diincar di Hollywood.

Oleh karenanya, tak heran jika kemudian ia menjadi salah satu sosok aktris yang paling dominan di dekade yang paling gemilang di Hollywood tersebut.

Memasuki milenium baru pun, aktris asal Katy, Texas, ini juga masih sukses mempertahankan posisinya di industri perfilman. Di tahun 2002, Renée meraih nominasi Oscar pertamanya lewat “Bridget Jones Diary” (2001) dan tahun berikutnya, Renée sukses meraih nominasi Oscar keduanya atas perannya sebagai Roxie Hart di adaptasi pentas musikal top, “Chicago” (2002).

Di tahun berikutnya, baru lah Renée meraih Oscar pertamanya lewat “Cold Mountain” (2003) yang saat itu disutradarai almarhum Anthony Minghella. Sayang setelah itu karirnya mulai sedikit meredup. Hampir seluruh film yang dimainkannya, tidak memiliki gaung hype sekencang seperti dulu kala, walaupun sekuel “Bridget Jones: The Edge of Reason” (2004) dan “Miss Potter” (2007) sempat masuk nominasi Golden Globe.

Dan jangan mulai membicarakan karirnya di awal 2010. Tercatat di halaman Wikipedia-nya, Zellweger hanya main di satu film saja, “My Own Love Song” (2010). Walau filmnya berhasil ditampilkan di berbagai festival termasuk Tribeca, tetap saja film arahan Oliver Dahan (Grace of Monaco) ini tidak bergaung keras.

Di kala-kala penurunannya tersebut, tiba-tiba memasuki tahun 2011, wanita yang pernah menjadi istri penyanyi country top, Kenny Chesney ini, menghilang dari peredaran. Alhasil selama 6 tahun pertama di dekade 2010-an, audiens pun menjadi lupa total dengan sosoknya.

Ia pun baru kembali dari hiatus panjangnya di tahun 2016 dengan membintangi The “Whole Truth” (2016) bersama si “John Wick” Keanu Reeves dan kembali menjadi si wanita favorit Colin Firth di film ketiga Bridget Jones’s Diary, “Bridget Jones’s Baby” (2016).

Walau demikian, sayangnya gaung kembalinya di kedua tersebut hanya disambut ‘biasa-biasa saja’ oleh audiens maupun fans. Namun ketika akhirnya ia ditawari untuk memerankan sosok aktris sekaligus penyanyi legendaris Judy Garland di film ini, kedua mata kita mau tak mau kembali menolehnya.

Bahkan lebih jauhnya, menjadi teringat lagi dengan siapa Renée yang sesungguhnya. Dikatakan demikian karena perannya sebagai pelantun “Over the Rainbow” tersebut sukses dipuja banyak audiens dan kritikus.

Bahkan ketika tulisan ini dibuat, aktris yang kini sudah berusia 50 tahun ini, sukses menyabet piala aktris terbaik di ajang penghargaan 92nd Academy Awards aka Oscar 2020 atas perannya tersebut.

Dan setelah menyaksikan filmnya, gak salah jika Renée memenangkan pialanya. Ia sukses melakukan transformasinya sebagai si Judy yang menjelang paruh baya dan job yang mulai berkurang.

Alhasil, pemasukannya mulai menipis seiring waktu berjalan. Judy beserta kedua anaknya dari pernikahan ketiganya dengan Sidney Luft (Rufus Sewell) pun, akhirnya diusir dari hotelnya karena tidak mampu bayar tagihan inapnya.

Akhirnya mau tak mau, Judy dan kedua buah hati kembali ke rumah Sydney yang pada awalnya merasa sangat enggan.

Bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga, di kala ia sudah menemukan jalan keluarnya untuk bangkit kembali dari keterpurukannya, tendensi temperamental, seenaknya sendiri, dan tentunya kebergantungannya pada obat-obatan serta alkohol, merusak semuanya.

Dan seperti yang telah dikatakan sebelumnya, Renée sukses banget dalam menampilkan sosok Garland tidak hanya secara fisik, namun juga secara kekompleksitasan karakteristiknya saat itu.

Pokoknya ketika melihat sosoknya disini, jujur 100%, kami tidak melihat adanya “sisa-sisa” Renée lagi. Kami benar-benar bagai menyaksikan sosok ibunda Liza Minnelli (Gemma-Leah Deveruex) yang kembali bangkit dari kubur!

Dan pujian juga perlu kita berikan terhadap sutradara Rupert Goold (True Story) yang sukses memberikan arahan-arahan super tokcer ke Renée dan yang paling penting, tim make-up yang dipimpin oleh Jeremy Woodhead.

Tanpa tangan dingin Woodhead cs, dijamin akan membuat Renée semakin sulit untuk masuk menjadi sosok Judy-nya.

Tapi kalau dipikir lagi, kalaupun katakanlah hasil akhir dari kerja tim Woodhead tidak memuaskan sekalipun, rasanya Renée masih bakalan sukses untuk memerankan wanita bernama asli Frances Ethel Gumm ini. Dan mungkin inilah kesimpulan utama dari review “Judy” ini.

Karena sejujurnya, walau Goold telah semaksimal mungkin dalam mengarahkan dan Tom Edge telah mengadaptasikan naskah teater broadway-nya, End of the Rainbow (2005) dengan sangat keren, tetap saja kalau dilihat dari keseluruhan, Judy tidaklah begitu berbeda dengan film biografi kebanyakan.

Jangan salah Chillers. Filmnya memang bagus dan keren, namun kalau filmnya dilihat secara mentah, ya sama saja seperti film-film biopik pesohor lainnya. Tidak ada nilai plus-nya yang membuat kita bergumam, “WOW beda nih!”

Dan perasaan tersebut dijamin bakalan kian terasa saja apabila aktris lain yang memerankan Garland-nya. Belum lagi, terdapat beberapa aspek adegan penceritaan yang terlihat benar-benar “made-up” alias tidak seperti kejadian sesungguhnya.

Tapi ya kalau dipikir lagi, memang tidak salah juga. Karena filmnya sendiri merupakan adaptasi broadway. Jadi sisi tidak realistis bukanlah masalah besar disini.

Namun aspek yang benar-benar membuat kami greget, adalah konsep back-forth nya yang “kentang” banget. Memang sih, premis kisahnya menceritakan kehidupan paruh baya Judy.

Tapi filmnya juga menampilkan plot sekunder yang kita ingin lihat lebih jauh, yaitu ketika ia masih remaja belia dengan kesuksesannya sebagai Dorothy Gale di “The Wizard of Oz” nya itu.

Memang inti-inti plot dari masa ini ditampilkan. Tapi sebagai sosok yang dari kecil dibesarkan dengan film fantasi anak-anak adaptasi dari L. Frank Baum sekaligus soundtrack “Over the Rainbow” nya, tentu saja kami ingin melihat lebih jauh lagi masa-masa Garland ini.

Terlebih seperti yang diperlihatkan di filmnya ini, era Wizard of Oz-nya tidaklah seceria dan berwarna seperti filmnya. Terdapat banyak awan hitam yang menyelimuti di balik layarnya yang memberikan efek traumatis gila-gilaan terhadap Garland hingga dewasa.

Bahkan menurut rumor yang melegenda, efek traumatis inilah yang menjadi pemicu utama dari kematian dirinya. Tapi ya sudahlah, toh adegan penting yang menampilkan efek traumatis tersebut juga diperlihatkan di filmnya.

Terlepas dari kebanyakan film biopik lainnya, “Judy”, tak dipungkiri merupakan rilisan film biopik yang sangat enjoyable. Selain perfroma Renée yang tocker, filmnya juga menampilkan beberapa nomor klasik Garland yang digubah ulang dengan sangat anggun.

Mari kita berharap saja semoga dengan kesuksesan besar yang diraihnya dengan Judy ini, akan membuat Renée makin bersemangat untuk terus menelurkan karya-karya keren selanjutnya. Karena dirinya, memanglah salah satu sosok aktris di Hollywood yang sehebat itu.

 

Director: Rupert Goold

Cast: Renée Zellweger, Jessie Buckley, Finn Witrock, Rufus Sewell, Michael Gambon

Duration: 118 minutes

Score: 8.0/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here