“I got a backpack on! You don’t get in water with a backpack, everybody knows that.” – Moose Finbar.

Pastinya sangatlah tidak mudah untuk memasukkan sesuatu yang baru ke dalam sebuah film yang telah populer, sukses, dan memiliki nama besar seperti Jumanji. Film Jumanji yang dirilis pada tahun 1995 diadaptasi dari buku anak-anak karya Chris Van Allsburg dan membawa nama besar almarhum Robbie Williams yang bermain dengan sangat menawan sebagai Alan Parrish. Kepiawaian akting almarhum Robbie Williams dan cerita yang cukup solid membuat film tersebut memperoleh sukses yang besar. Oleh karena itulah, bisa dipastikan proyek film Jumanji: Welcome to the Jungle kali ini merupakan sebuah proyek yang terbilang sangat riskan.

Untungnya, film Jumanji: Welcome to the Jungle berhasil mempertahankan humor-humor unik seperti film pendahulunya. Bukan itu saja, film besutan Jake Kasdan (Zero Effect, Bad Teacher) ini juga sangat menyenangkan untuk disaksikan. Semua aspek dalam film ini berhasil direvitalisasi menjadi sebuah film yang mengikuti perkembangan jaman, meski tidak melupakan aspek-aspek dari film pendahulunya.

Mengambil setting di masa modern, Chillers akan langsung disuguhi dengan sebuah adegan yang menarik, dimana board game Jumanji yang sangat berbahaya tersebut berubah menjadi sebuah video game. Tentunya hal tersebut dilakukan agar dapat dengan mudahnya menarik para pemain masuk ke dalam dunianya. Sebuah strategi yang sangat pintar. Sang video game Jumanji pun berhasil membuat murid-murid yang sedang menjalani hukuman masuk ke dalam permainan.

Di dalam permainan, keempat murid tersebut berubah wujud sesuai dengan karakter yang mereka pilih. Di sinilah terletak kompleksitas dalam film ini, dimana satu hal yang perlu diingat adalah, meski memiliki penampakan orang dewasa, jiwa di dalam tubuh tersebut merupakan jiwa remaja. Dan dengan bintang-bintang seperti Dwayne Johnson, Jack Black, Kevin Hart, dan Karen Gillan, film ini dapat dengan mudahnya menumbangkan jati diri setiap karakternya dengan cara yang sangat kocak.

Di dalam diri Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson) yang perkasa terdapat jiwa Spencer (Alex Wolff), seorang remaja kutu buku, dan di dalam diri seorang Prof. Sheldon Oberon (Jack Black) terdapat jiwa Bethany (Madison Iseman), seorang gadis remaja yang cantik dan populer. Selain mereka masih ada Moose Finbar, seorang ahli binatang, dengan jiwa Fridge (Ser’Darius Blain), seorang anggota tim futbal, dan Ruby Roundhouse (Karen Gillan) yang pintar berkelahi namun dengan jiwa Martha (Morgan Turner), seorang gadis pintar yang pemalu, di dalamnya.

Seluruh adegan humor dalam film ini bisa dikatakan berasal dari kontradiksi yang terdapat dalam jiwa masing-masing karakternya. Meski beberapa adegan humor terasa agak garing, namun karisma dari setiap aktor berhasil membuat adegan tersebut terasa kocak, misalnya adegan Jack Black yang terus menerus mendesah saat Dwayne Johnson mengucapkan sesuatu dengan karisma yang membara. Selain itu, masih ada adegan-adegan antara Dwayne Johnson dan Kevin Hart. Keduanya sempat bekerja sama sebelumnya dalam film Central Intelligence (2016) dan berhasil memberikan nafas komedi yang fresh dalam film ini, terutama dalam setiap adegan persaingan yang terjadi di antara keduanya.

Setiap karakter yang masuk ke dalam permainan Jumanji hanya memiliki tiga nyawa, oleh karena itulah, keempat remaja tersebut harus bekerja keras dan saling bekerja sama untuk dapat mengakhiri permainan tersebut dan kembali ke dunia nyata. Dengan pintarnya film ini berhasil menciptakan segala macam setting yang sesuai dengan dunia dalam game, seperti NPC (Non Playable Character) yang tidak responsif, adegan flashback saat menceritakan awal kejadian dalam permainan, dan kekuatan serta kelemahan dari masing-masing karakter.

Sayangnya, terkadang film Jumanji: Welcome to the Jungle ini mengalihkan fokus dari adegan-adegan humor dan aksinya ke perkembangan hubungan asmara antara dua karakter utamanya, yang terasa sangat datar dan sedikit membosankan. Mungkin pada dasarnya hubungan romansa yang terjadi antara Spencer dan Martha tidaklah terlihat terlalu klise, jika tidak sedang diperankan oleh Dwayne Johnson dan Karen Gillan. Hal tersebut membuat suasana dalam film ini menjadi sedikit canggung dan aneh.

Selain itu, karakter John Van Pelt yang diperankan oleh Bobby Cannavale juga terasa sedikit membosankan dan kurang memiliki karisma sebagai seorang villain. Hal tersebut membuat film ini menjadi terasa mudah ditebak. Sang villain seakan tidak memiliki kepintaran dan ketangguhan yang berarti, terasa bagaikan karakter tempelan belaka. Mungkin hal tersebut disengaja, namun tetap saja terasa sangat disayangkan. Bagaimanapun karakter-karakter pemain yang masuk dalam permainan Jumanji tersebut cukup bagus, tentunya mereka memerlukan lawan yang seimbang. Bukannya sosok lawan yang terlihat mengerikan dengan kelabang dan burung pemakan bangkai tapi tidak melakukan banyak aksi yang berarti.

Musik dalam film Jumanji: Welcome to the Jungle bisa dipastikan akan membawa Chillers bernostalgia. Henry Jackman (Kong: Skull Island, Big Hero 6) berhasil memasukkan musik-musik yang membuat Chillers kembali ke masa lalu, seperti Welcome to the Jungle (Guns N’Roses) dan Baby, I Love Your Way (Big Mountain). Dari segi sinematografi, Gyula Pados (Predators, Maze Runner: The Scorch Trial) juga melakukan pekerjaan yang menawan, dimana suasana hutan belantara yang masih belum terjamah oleh banyak manusia dapat tergambarkan dengan apiknya.

Akhir kata, film Jumanji: Welcome to the Jungle akan membawa Chillers berpetualang ke dalam sebuah dunia permainan klasik yang dimodernisasi. Film ini terasa sangat menyenangkan untuk disaksikan dan dengan rating PG-13, tentunya dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Humor yang terdapat di dalamnya juga dipastikan dapat membuat Chillers tertawa tergelak-gelak. Dan penuh dengan adegan aksi yang lumayan seru. Jadi, jangan lewatkan kehadiran film ini di bioskop-bioskop Indonesia.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here