‘Keluarga Cemara’, Remake Serial Legendaris yang Penuh Suka Duka

458

Hari ini film ‘Keluarga Cemara’ akhirnya resmi diputar di layar lebar seluruh Indonesia. Bila kita tilik dua dekade silam, tepatnya tahun 1996, serial ‘Keluarga Cemara’ memulai episode perdananya yang sempat diputar di salah satu televisi swasta. Serial karya Arswendo Atmowiloto yang bertahan hingga tahun 2005 ini memang sangat berkesan bagi mereka yang pernah menontonnya dan sempat bersaing dengan serial ‘Si Doel Anak Sekolahan’ yang sempat merajai layar TV kita di era 90-an.

Dalam serial ‘Keluarga Cemara’ yang dahulu pernah diputar, kehidupan Abah, Emak beserta ketiga anaknya, Euis, Ara dan Agil, diceritakan tinggal di sebuah rumah sederhana yang dikelilingi empang dan sawah menghijau. Abah yang kala itu diperankan dengan sangat baik oleh Adi Kurdi, mempunyai profesi sebagai penarik becak terkenal sangat sabar meladeni Emak dan ketiga anak-anaknya yang suka membuat ulah atau permintaan yang tidak bisa dipenuhi Abah karena ketidakmampuan ekonomi yang mereka alami. Euis pun juga tak ketinggalan membantu keluarganya dengan berjualan opak di terminal bis setelah pulang sekolah.       

Kini serial yang sangat membumi ini diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama. Film yang merupakan karya perdana Yandi Laurens di layar lebar ini ditampilkan dengan gaya modern kekinian dengan beberapa perubahan minor namun krusial bagi mereka yang mengalami era serialnya. Abah yang kini diperankan oleh Ringgo Agus Rahman, bekerja sebagai kontraktor perumahan sukses dan hidup berkecukupan bersama Emak (Nirina Zubir) dan kedua anaknya, Euis (Zara JKT 48) dan Ara (Widuri Putri Sasono). Cobaan berat datang ketika Abah kena tipu dan mengalami kebangkrutan. Sebagai kepala keluarga, dirinya mengambil langkah cepat dengan memindahkan keluarganya ke rumah warisan ayahnya di kampung sekitaran Bogor. Di rumah yang terlihat asri bertingkat dua dengan halaman luas ini, memang masih terlihat lusuh dan butuh perbaikan di sana sini, namun mereka bersama-sama memperbaiki kerusakan hingga rumah itu layak ditempati. Abah pun sempat melihat peninggalan becak sang ayah di gudang, namun tak sempat ia pakai karena dirinya fokus mencari pekerjaan baru. Sementara Euis mencoba beradaptasi dengan sekolah dan teman-teman barunya, begitu pula dengan Ara. Emak sebagai seorang ibu menjadi penengah yang tak kenal lelah mendampingi mereka saling menguatkan dalam menghadapi permasalahan yang ada dengan mencoba menolong Abah melewati masa-masa sulitnya.

Benang merah yang mengaitkan film ini dengan serialnya, yang terlihat jelas tentunya ada di becak, rumah di pedesaan dan anak-anak. Sayangnya Ringgo di sini tidak berusaha mengayuh becaknya, hanya sekedar menatap becak itu dan tidak sekalipun berusaha mengeluarkan becak itu dari gudang, walaupun pada akhirnya sang teman berusaha mengeluarkan becak itu untuk mengantar Emak ke rumah sakit, namun visualisasi Ringgo mengayuh becak bersama Emak dan kedua anaknya hanya sebatas imajinasi semata. Untuk rumahnya sendiri, rumah warisan sang ayah lebih mirip vila lawas bergaya country ketimbang rumah di pedesaan yang digambarkan serialnya sangat asri dikelilingi oleh sawah dan empang.

Untuk anaknya sendiri, walaupun di serial digambarkan ada tiga orang, namun di versi layar lebarnya, anak ketiga terlihat baru dilahirkan di akhir film.

Masalah emosi menjadi sangat penting di sini, mengingat di serialnya sendiri, tokoh Abah digambarkan sangat sabar, bahkan cenderung sabar melebihi Emak. Di filmnya, justru karakter ini digambarkan berbeda. Abah digambarkan sangat mudah marah dan emosian, sedangkan Emak malah digambarkan sangat penyabar. Kontradiksi kedua karakter ini pastinya agak mengejutkan audience buat mereka yang telah menonton serialnya, walaupun semua perbedaan minor yang telah disebut di atas tak terlalu signifikan bagi penonton yang baru akan menonton versi layar lebarnya.

Sebagai film yang mempunyai permasalahan yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari ini rasanya versi layar lebar ini bisa melepas rasa nostalgia kita terhadap serial legendaris yang banyak mengajarkan kita tentang makna kehidupan di sekililing kita terutama bersama keluarga.

Jadi tunggu apalagi, buat Chillers yang ragu akan film ini, segera nonton film ‘Keluarga Cemara’ ini bersama keluarga di bioskop terdekat di kota kamu.

Director: Yandy Laurens

Starring: Ringgo Agus Rahman, Nirina Yubir, Zara JKT 48, Widuri Putri Sasono, Asri Welas, Maudy Koesnaedi, Gading Marten, Yasamin Jasem, Abdurrahman Arief, Kafin Sulthan, Andrew Trigg, Ariyo Wahab

Duration: 110 Minutes

Score: 8.5/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here