‘Kucumbu Tubuh Indahku’, Riuh Laku Juno Lewat Liuk Tubuhnya

“Yang namanya hidup itu cuma numpang ngintip urip. Pisah, pindah, mati, kuwi biasa.” – Bulik Juno.

Telah melanglang buana lebih dulu di 31 festival film dan telah diganjar penghargaan “Film Terpilih” di Festival Film Tempo. Agaknya dua hal ini sudah cukup untuk menimbulkan rasa ketertarikan kita terhadap film “Kucumbu Tubuh Indahku”, atau “Memories of My Body”. Disutradarai oleh sineas kondang Indonesia yaitu Garin Nugroho dan diproduseri oleh Ifa Isfansyah, film produksi Fourcolours ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang penari yang bernama Wahyu Juno. Dia sejak kecil hidup mengenaskan. Juno tidak pernah merasakan hangatnya kasih sayang orang tua. Ia kemudian mengikuti beberapa orang sepanjang cerita. Ada bibinya yang penjual ayam, guru tari Lengger Lanang, kemudian pamannya yang berprofesi sebagai penjahit, seorang petinju gagah perkasa, sampai seorang Warok. Film menceritakan bagaimana karakter Juno berkembang seiring berjalannya waktu. Maka dari itu, ada tiga aktor yang memerankan Juno. Masing-masing melakukan porsinya sebagai Juno kecil, Juno remaja, dan Juno dewasa.

Juno dewasa diperankan oleh Rianto. Dia merupakan seorang penari profesional yang juga menjadi sumber inspirasi bagi Garin dalam proses pembuatan film ini. Dalam filmnya nanti, “Kucumbu Tubuh Indahku” akan menggunakan akting dari Rianto dalam beberapa fungsi. Fungsi pertama adalah sebagai narator. Film memiliki gaya tutur non-linier yang terdiri atas tiga babak. Nah, Rianto sebagai Juno dewasa akan merentangkan ketiga babak itu dengan lima narasi yang ia bacakan. Kalau dilihat-lihat, ini sesuai dengan fungsi narator yaitu pemberi informasi cerita selama film berlangsung. Narator di sini jelas mengambil bentuk narator karakter, yakni narator yang berasal dari tokoh dalam cerita. Uniknya, Juno dewasa sebagai narator tidak hanya menyampaikan kisahnya lewat kata-kata. Ia juga menari sambil melontarkan dialognya. Ini membuat penonton jadi lebih tertarik lagi karena tarian yang ada ditempatkan pastinya untuk mendukung tuntutan naratif yang dibacakan melalui dialog.

Fungsi berikutnya adalah “breaking the fourth wall”. Ini bisa dilihat dari bagaimana Rianto berbicara, yaitu dengan menghadap ke arah kamera. Teknik ini sebetulnya jarang dilakukan karena ruang yang tercipta dari film memberi batas antara dimensi film dan dimensi penonton. Maka dari itu penggunaan teknik pelanggaran tembok keempat dikhawatirkan bisa mengganggu keseimbangan dari perbedaan dimensi tersebut. Tapi bagusnya, karena tuntutan naratif yang lebih menjadikan “Kucumbu Tubuh Indahku” sebagai character-driven movie, narasi yang melanggar tembok keempat ini bisa diterima dengan baik. Penonton bisa memilah waktunya. Mana yang dimensinya berbeda, mana dimensinya yang sama. Apalagi narasi pertama dari Juno dewasa langsung ditunjukkan di scene paling awal. Itu memunculkan kesadaran penonton sekaligus menghantarkan kita pada cerita secara smooth berkat pergerakan kamera yang dibuat ke samping plus framing karakter Juno kecil yang pas.

Tentunya unsur budaya tradisional menguasai film. “Kucumbu Tubuh Indahku” menggunakan bahasa bicara yang dibuat sesuai dengan latar tempatnya. Maka dari itu, disediakan terjemahan bagi yang tidak mengerti Bahasa Jawa Banyumasan atau Bahasa Ngapak seperti biasa orang kenal. Kemudian unsur budaya lain seperti tari dan seremonial juga dominan. Selain ada Lengger Lanang, di mana tariannya ditampilkan oleh para penari pria yang menjadi wanita, film juga menyertakan Reog dengan karakter Warok yang keberadaannya penting bagi Juno. Tak lupa, kepercayaan lokal. Nanti akan ada saatnya kamu melihat film menerapkan sebuah kegiatan yang terhitung aneh. Ini lalu dihubungkan dengan unsur politik yang entah apakah sampai sekarang masih kuat dipercaya atau tidak. Agar bisa menikmati film ini secara utuh, maka kamu harus menyadari hal-hal tradisionil semacam itu. Lebih bagus lagi jika juga memahami maksud dari poin-poin terkait budaya yang ada.

Untuk apa yang ingin mereka sampaikan, hal yang paling mudah didapat adalah tentang bagaimana kita tumbuh dan berkembang. Seseorang bisa memiliki karakter masing-masing berkat pengalaman dan didikan sepanjang hidupnya. Eksposisi karakter Juno di masa kecil dipaparkan dengan baik sehingga penonton tidak kesulitan untuk masuk dan menyelami konfliknya. Kasihan banget melihat kisah Juno kecil. Ia meliht hal-hal yang tidak seharusnya dialami oleh anak seusia dia, kemudian Juno juga mengalami krisis identitas dan kurangnya kasih sayang. Salah satu cara untuk melepas kepenatan itu adalah dengan cara menari, yang mana ternyata sudah menjadi bakat terpendamnya Juno. Tapi di luar itu, yang ia rasakan adalah pengalaman-pengalaman yang membuat hidupnya semakin berwarna.

Seperti film-film Fourcolours lainnya, “Kucumbu Tubuh Indahku” lebih memercayakan akting karakter-karakter utamanya pada talenta yang baru diketahui oleh penonton awam. Ini sama halnya seperti “Turah” dan “Sekala Niskala”. Selain Rianto yang menjadi Juno dewasa, ada nama pemain teater Muhammad Khan sebagai Juno remaja dan aktor cilik Raditya Evandra sebagai Juno kecil. Meski baru muncul, namun kualitas Muhammad dan Raditya tidak bisa dipandang sebelah mata. Dua-duanya bermain solid karena berbeda dengan peran Juno dewasa, Juno kecil dan Juno remaja harus bisa menampilkan apa yang sudah diinformasikan sebelumnya oleh versi dewasanya. Juno kecil bisa memunculkan rasa empati penonton lewat aktingnya. Sementara itu Juno remaja sukses memicu rasa greget berkat keunikan karakter yang semakin nyata ia perankan. Selain itu konflik batin juga semakin bergerak liar saat Juno sudah remaja.

Kejutan justru datang dari pemeran pendukung. Randy Pangalila, yang berperan sebagai petinju tampil keren! Ia tidak hanya membawakan karakernya dalam satu dimensi, namun ada juga saat-saat di mana kita bisa merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan dibanding arena tinju itu sendiri. Ada backstory yang melekat pada karakter ini, kemudian motivasinya juga kuat sekali. Randy bisa menampilkan kedua hal tadi dengan rasa yang sama bagusnya. Tapi, momen yang paling menarik adalah ketika Sang Petinju dan Juno remaja berada di satu frame yang sama. Dengan perpindahan shot yang dinamis, Randy dan Muhammad sangat padu berakting. Mereka merajut adegan dengan penuh perasaan. Dialognya, bahasa tubuhnya, bikin kita sampai kembang-kempis karena kedekatan ini memercikkan sebuah rasa yang spesial. Bisa dibilang bagian ini adalah bagian yang paling enak dinikmati ketimbang yang lain. Juno dan Sang Petinju memiliki pertemuan yang bagus, kemudian dilanjutkan dengan jalinan “persahabatan” penuh makna sebelum ditutup karena yang namanya pertemuan pasti ada perpisahan.

Di sisi lain, cemerlangnya bagian Juno dengan Sang Petinju tak pelak memunculkan kekurangan dari film. Dari banyak perpindahan yang dilakukan Juno, tidak ada yang ditampilkan se-oke ketika Juno berada dengan Sang Petinju. Tidak ada penuturan yang lebih enak dan menyeluruh dibanding ini. Yang lain masih ada yang kurang jelas entah itu di pertemuan awalnya atau di pertengahannya. Ini membuat cerita jadi memiliki pertanyaaan. Ketika dengan guru tari, film lebih condong menjabarkan eksposisi dengan cara tragis. Saat bersama dengan bibi penjual ayam, kita hanya diberikan hal yang paling luar tanpa ada akses agar bisa mendalaminya. Beralih ke paman penjahit, runtime nya bersinggungan dengan Sang Petinju dan akhirnya terpaksa mengalah.

Meski ditutup dengan info penting, tetap saja masa-masa Juno dengan pamannya kurang berkesan. Terakhir dengan si Warok, kita bisa beranggapan bahwa Juno merasa terproteksi. Wajar, karena Juno kurang rasa kasih sayang dari kecil. Namun semua jadi terganggu akibat isu politik yang dicampurkan dengan unsur kebudayaan lokal hingga selesai. Ini belum lagi ditambah dengan sisi maskulin yang ada di dalam diri Juno. Film tidak menunjukkannya secara jelas sehingga proses peleburannya dalam tubuh pun jadi kurang terlihat. Seperti berkata bahwa kita harus menontonnya sekali lagi agar bisa lebih meresapi. Semua bakal balik lagi ke bottom line-nya yaitu perjalanan hidup Juno yang tidak mudah. Hanya saja, karena tidak mudah itu penonton juga harus memutar otak agar bisa mengerti setiap bagian yang ada.

Ya namanya juga film “art”, film ini membuat penonton menafsirkan segala halnya sendiri. Kemungkinan terjadinya multi tafsir sangat besar. Dengan babak-babak yang ada, lalu lima kali kemunculan narator, ini memperlihatkan bagaimana film memutuskan untuk menceritakan bagian-bagian yang ada tanpa adanya usaha lebih dalam menjelaskan. Kayak kita hanya dikasih petunjuk demi petunjuk, sisanya coba pikir sendiri. Teknik editing-nya membuat “Kucumbu Tubuh Indahku” keluar sebagai tontonan yang dipenuhi penggalan-penggalan cerita ala kadarnya.

Unsur emosi juga menjadi masalah karena ada saatnya Juno ternyata memberi pengaruh yang besar kepada orang yang sebetulnya tidak dekat dengan dia. Ini sangat aneh karena rasa ketertarikan antara dua orang ini tidak diperlihatkan secara greget. Dua orang ini saja awalnya dipertemukan oleh sebuah ritual. Setelah itu tidak ada lagi scene yang menampilkan mereka berdua sampai terjadinya skandal. Ini jelas menjadi sesuatu yang mengawang dan tidak cukup jelas. Perannya apa, motivasinya apa, apakah ini murni karena politik atau ada rasa terpendam di dalamnya, sulit lah pokoknya.

Meski banyak poin yang kurang dijelaskan dengan baik dan somehow seperti terlalu banyak memasukkan bumbu ke dalam wajan, “Kucumbu Tubuh Indahku” diuntungkan oleh eksposisi yang oke. Setidaknya itu bisa jadi bekal buat penonton sebelum mengarungi rimbanya kehidupan Juno yang harus pergi kesana-kemari. Visualnya semakin dipercantik dengan elemen-elemen budaya, namun rasanya akan lebih nikmat lagi jika kita memahami apa maksud sebenarnya dari elemen budaya yang terletak di mise-en-scene tersebut. Tentu bukan sesuatu yang familiar, tapi buat yang ingin mencoba mendapatkan sesuatu yang baru, boleh-boleh saja untuk dicoba. Secara, aspek teknisnya tentu menawarkan kualitas yang oke punya.

 

Director: Garin Nugroho

Starring: Rianto, Muhammad Khan, Raditya Evandra, Randy Pangalila, Sujiwo Tejo, Teuku Rifnu Wikana, Endah Laras, Whani Darmawan

Duration: 105 Minutes

Score: 7.8/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here