Ditilik dari judulnya, kita pasti akan berasumsi kalau film ini berafiliasi dengan “Men in Black”, salah satu film action sci-fi Hollywood yang tahun ini akan muncul spin-off nya. Tapi ternyata asumsi itu salah besar. Film “Ladies in Black” ini merupakan film bergenre drama komedi yang diangkat berdasarkan novel Madeleine St John tahun 1993 dengan judul “The Woman in Black”.

Dengan latar belakang di Sydney tahun 1959, kita akan dihantar masuk menyambut musim panas di salah satu kota tersibuk di Australia ini. Deretan trem silih berganti berdatangan, dan orang-orang hilir mudik memenuhi salah satu sudut kota itu.

Angle kamera kemudian bergeser pada sekelompok wanita yang memasuki ‘Goode Department Store’, mereka memasuki ruang ganti dan beralih menggunakan seragam toko yang berwarna hitam dan transisi mengganti seragam ini digambarkan detil per bagian dari atas hingga ke bawah. Kita akan fokus ke karakter Fay Baines (Rachel Taylor) dan Patty Williams (Alison McGirr), di mana mereka adalah beberapa pegawai senior yang kisahnya akan diurai satu per satu. Tak lama muncullah gadis muda, Lisa (Angourie Rice) yang akan magang di tempat itu. Lisa tampak kerepotan mengerjakan tugasnya selama minggu pertama dia bekerja di situ. Suatu waktu, Magda (Julia Ormond) yang membuka butik desainer mewahnya di salah satu sudut lantai tersebut, meminta Lisa membantu dirinya.

Berempat, kisah mereka akan ditampilkan secara bergantian, dengan konfliknya masing-masing. Lisa yang merupakan sosok pemalu ini tinggal bersama kedua orang tuanya. Mereka merupakan keluarga kelas menengah namun saat Lisa ingin melanjutkan kuliah, keinginan itu akan menjadi pertentangan dengan ayahnya. Karena sang ayah mengharapkan sang anak langsung bekerja, mengikuti dirinya yang tak perlu kuliah.

Fay, seorang wanita 30an yang sedang mencari cinta sejati, selalu gagal mencari pasangan yang tepat, dirinya selalu merasa tidak cocok dengan lelaki yang ia ajak kencan.

Patty pun memiliki masalah substansial yang tak kalah peliknya, dia mempunyai suami pendiam dan kaku, selalu mempunyai rutinitas membosankan setiap harinya. Keinginan Patty yang ingin sekali mempunyai anak sampai sirna, sampai suatu ketika ia membeli baju tidur yang seksi di toko tempat ia bekerja dan memakainya kala suaminya pulang. Besoknya sang suami menghilang secara misterius tanpa diketahui jejaknya.

Karakter yang terbilang unik ada di sosok Magda. Sebagai salah satu imigran asal Slovenia, ia dan suaminya memulai tinggal dan bekerja di negara baru yang selalu mereka sebut negeri buangan bagi para tahanan. Stigma negatif mereka terhadap penduduk Australia yang sudah tinggal lama di situ juga menciptakan atmosfer unik antara mereka dan ketiga karakter di atas.

Film yang ditulis dan disutradarai oleh Bruce Beresford dengan Sue Milliken ini memang unik dan merepresentasikan bagian kecil dari budaya Australia dari sudut pandang pendatang dan pemukim asli di era saat negeri itu sedang mulai ada pergolakan. Banyaknya kaum migran pastinya akan berpengaruh terhadap penduduk asli yang hingga sekarang masalah ini juga masih memicu perdebatan serius.

Namun kita sekarang tak bicara hal itu, terlebih apa yang ingin ditonjolkan film ini adalah bagaimana dengan perbedaan itu, menyatukan keempat individu dengan pendukung lainnya dalam suasana kehangatan dan keramahan tanpa melihat asal usul mereka dan bagaimana mereka menjalani hidupnya masing-masing.

Kelemahannya, film seperti ini akan memilih jalan aman untuk menyelesaikan masalah yang timbul, tanpa ada konflik yang terlalu dalam dan rumit yang kadang perlu ditampilkan agar realita kehidupan yang dipaparkan makin nyata. Keengganan masuk ke area ini akan membuat film stagnan pada rel-nya dan pada akhirnya kebahagiaan menjadi ending yang semu bagi masyarakat global yang kini semakin kritis, dan nostalgia masa lalu tak melulu harus berakhir happy ending bukan?

Beresford pernah menggarap film fenomenal “Driving Miss Daisy” (1989) dan “Mao’s Last Dancer” (2009), untuk film ini ia banyak sekali menggunakan cast asli Australia yang sudah memiliki jam terbang tinggi seperti Angourie Rice, Rachael Taylor, Ryan Corr, Shane Jacobson dan Noni Hazlehurst, namun kehadiran Julia Ormond dengan peran uniknya yang ditonjolkan, film ini mungkin tak akan banyak bisa berbicara lebih. Karakternya mampu menghidupkan dan menyatukan beberapa karakter utamanya. Terlebih dengan aksen khas Eropa Timur yang ia lafalkan di sepanjang film.

Untuk unsur sinematiknya sendiri, “Ladies in Black” menampilkan beberapa footage asli yang dikombinasikan dengan setting studio untuk menggambarkan suasana tahun 1959 yang lebih rinci dan detil. Desain produksi nya pun juga terbilang baik. Penggambaran toserba dengan kesan retro klasik baik dari outdoor maupun indoor, begitu pula dengan properti item pada tiap barang yang mereka jual, secara keseluruhan akan membawa audience ke era keemasan itu.

Film ini juga menandakan bangkitnya feminisme secara global di era itu, lewat gambaran para cast utamanya yang tak melulu harus dikekang dan tunduk pada hegemoni kaum adam yang selama beberapa abad ke belakang masih mendera mereka.

Film ini diputar sebagai film pembuka dalam Festival Sinema Australia Indonesia 2019 dan akan diputar di beberapa kota di Indonesia. Untuk jadwal lengkap di masing-masing kota, berikut list-nya :

  • Jakarta 14-17 March 2019 CGV Grand Indonesia
  • Mataram 15-17 March 2019 CGV Transmart Mataram
  • Makassar 22-24 March 2019 CGV Daya Grand Square
  • Bandung 23-24 March 2019 CGV 23 Paskal Shopping Center
  • Surabaya 29-31 March 2019 CGV Marvell City

Untuk info lanjut mengenai pemesanan tiket, dapat melihat di web berikut ini.

 

Director: Bruce Beresford

Starring: Julia Ormond, Angourie Rice, Rachael Taylor, Ryan Corr, Shane Jacobson, Susie Porter, Alison McGirr, Luke Pegler, Vincent Perez, Noni Hazlehurst, Nicholas Hammond, Deborah Kennedy, Celia Massingham, Jesse Hyde, Genevieve Lemon

Duration: 109 Minutes

Score: 7.5/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here