Sudah menjadi rahasia umum kalau ada cerita menyeramkan yang suka menghampiri orang-orang yang shalat tahajud. Merupakan shalat yang tak wajib dilakukan alias “Sunnah”, shalat tahajud biasanya dilaksanakan pada tengah malam dan kondisi lingkungan sekitar pasti sedang sepi. Nah di saat seperti ini ada saja kisah yang menyebutkan kalau ada yang “ngikutin” orang yang sedang shalat tahajud. Ketika si orang tersebut shalat, entitas ini mengikuti dengan cara menjadi “makmum”, atau jemaat. Saat orangnya menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa selain dirinya.

Cerita tersebut lalu dibuat menjadi film pendek oleh sutradara muda, Riza Pahlevi. Sembari mengisi waktu kuliahnya, Riza dan teman-temannya membuat film pendek berjudul “Makmum”, bercerita tentang siswi asrama yang diteror oleh makhluk halus ketika sedang shalat tahajud. Mengangkat sesuatu unik tapi nyata, disajikan secara sederhana, dipenuhi oleh pendekatan atmosferik, film pendek “Makmum” pecah sepecahnya.

Popularitas film ini langsung naik, dan tidak lupa beragam penghargaan juga berhasil diraih. Kini, “Makmum” berevolusi menjadi sebuah film panjang. Masih menyajikan teror yang sama, “Makmum the Movie” dibuat semakin menarik berkat perluasan cerita dari hal-hal yang di versi film pendek tidak diceritakan. Kemudian, mereka juga menambah karakter-karakter baru. Seperti apa hasilnya? Baca ulasan kami berikut ini.

Berlatar tempat di Asrama Putri Citra – Sragen, “Makmum” mengawali filmnya dengan memperkenalkan karakter-karakter siswi asrama, yang mana diceritakan tidak pulang saat liburan. Anyway bagi kamu yang sudah menonton film pendeknya pasti familiar dengan nama-nama siswinya, yang kali ini diperankan oleh Tissa Biani, Bianca Hello, dan Adila Fitri. Nah mereka ini sedang tinggal di asrama tersebut dan ketika salah seorang siswi sedang melakukan shalat tahajud, ia diganggu oleh hantu “Makmum”. Cerita kemudian bergulir bersama dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus me-“Makmum”-i nya.

Cerita dari “Makmum the Movie” menarik untuk terus diikuti. Mungkin kamu bisa saja menebak apa yang sedang disembunyikan, namun dengan cara film mengaitkan antara cerita yang dimiliki oleh para siswi, kemudian Rini (Titi Kamal) yang merupakan karakter utama, sejarah asrama dan para karakter pendukung lain, aspek naratif dari “Makmum” termasuk predictable namun tidak membosankan.

Asik lah, karena plot juga tidak lempeng ke depan saja. Tapi, ada satu hal yang menodai aspek ini. Pada tahap resolusi, ada satu hal penting yang sayangnya tidak diolah secara apik. Terkesan seperti kehabisan ide. Sangat sepele, atau bahkan bisa dibilang konyol! Poin ini sangat mengganggu karena itu adalah bagian penting. Bisa dibilang di sana lah benang merah dari seluruh misteri. Kenapa teror religi ini bisa terjadi.

Keunggulan berikutnya dari “Makmum” adalah film ini tetap setia pada pakem horornya. Ini sesuai dengan perkataan Riza di talkshow “Movie Freak” Binus TV. Sutradara Hadrah Daeng Ratu paham bahwa dengan konsep cerita yang ada. Maka dari itu akan jadi sebuah lelucon kalau “Makmum” lebih mengandalkan jumpscares. Sequence-sequence seram dibangun perlahan-lahan. Adegan demi adegan berpadu sehingga timbul sensasi creepy yang tidak instan. Emosi ikut terbawa dan berpadu dengan ‘mise-en-scene’ ala-ala horor atmosferik. Memang pendekatan yang paling pas untuk “Makmum”.

Adegan di mana setan menakut-nakuti orang yang sedang shalat tidak banyak, which is good. Teror di versi film panjang ini bisa dibilang jadi lebih variatif. Toh juga kalau teror shalat terlalu ditonjolkan justru akan menjadi blunder. Mengapa? Well, karena hal semacam itu sangat berpotensi menimbulkan repetitif dan itu bisa bikin orang jenuh. Ketika teror setan Makmum tampil di layar, reaksi penonton justru lebih ke excited karena gara-gara ini lah film pendeknya booming.

Penonton ingin merasakan gimana sih kalau hal semacam itu ditampilkan dalam format yang lebih besar. Tapi, jika teror itu ditampilkan terlalu sering, orang bakal bosan karena pengalaman tersebut terus-terusan diulang. Hanya saja, ada satu bagian di mana film mengembangkan konsep teror setan Makmum secara efektif. Mereka memanfaatkan figuran secara cerdas, sehingga bikin penonton tambah terkejut. Ingat, salah satu faktor yang menambah greget setan makmum adalah bukan si korban yang lagi shalat yang melihat setan, melainkan penontonnya.

Menarik untuk kemudian melihat bagaimana “Makmum” menampilkan kengerian-kengerian lainnya. Selain teror shalat, film ini juga memiliki bagian-bagian yang efektif dalam meningkatkan kadar horor. Tensinya dibangun perlahan, kemudian disatukan dengan beragam eksekusi. Ada yang berupa kesurupan, penampakan, sampai halusinasi tingkat tinggi. Apes, ketika semua makin memburuk, film justru menunjukkan beberapa kekurangan.

Bahkan salah satunya tidak bisa ditolerir. “Makmum” memiliki satu sequence yang nanggung. Sangat disayangkan, sequence ini seperti dipotong, padahal cukup nendang sebelum masuk ke tahap resolusi. Kemudian film juga akan menampilkan adegan exorcism/ruqyah. Sayang, adegan ini terasa zonk sekali akibat visual efek yang payah. Elemen yang ditonjolkan terlihat sangat ‘fake’, lebih baik tidak menggunakannya sama sekali. Tidak habis pikir ada adegan seperti ini, karena seharusnya menjadi sesuatu yang tampil ‘grande’!

Kekurangan itu lalu diperparah dengan perbedaan yang sangat kentara antara scene yang menggunakan efek visual dan tidak. Ini begitu jelas terlihat karena tidak ada variasi shot yang setidaknya bisa menutupi flaws tersebut. Semua dibikin sama, yaitu menggunakan long shot dari sisi pandang yang tak berubah sama sekali. Macam bikinan “B Movie” orang sini. Padahal aneh juga, mengingat sepanjang film kita akan beberapa kali melihat shot-shot yang ‘bold’ dan lumayan untuk setidaknya menambah kadar seram dari segi sinematik. Salah satu jenis pergerakan kamera yang kentara dalam menyokong hal tersebut adalah Roll. Ini merupakan teknik di mana kamera memutar penuh atau 180 derajat, namun posisi kamera tetap pada porosnya.

Performa para aktor? Banyak yang tidak berkesan. Perlu diketahui, “Makmum” merupakan film horor pertama Titi Kamal. Seharusnya ini bisa dijadikan motivasi baginya untuk mengembangkan diri. Namun apa yang terjadi? Titi menjadi versi yang hanya sedikit lebih baik dari akting Paula Verhoeven di “Supernova”. Aktingnya sama sekali tidak natural. Kaku sekali. Ini berbeda dengan eksposisi karakter Rini yang sesungguhnya sudah menarik.

Kemudian Arif Didu. Melihatnya sebagai orang kepercayaan pemilik asrama adalah hal yang aneh. Bukan karena dia jadi tidak melucu sama sekali, tapi karena pelafalan dialognya kok ‘scripted’ sekali. Aktingnya pun masih terkesan dibuat-buat. Last but not least, Reny Yuliana sebagai kepala asrama. Karakter judes yang satu ini seperti berbicara menggunakan format yang sudah disetel. Nada bicaranya sama semua. Sepeti robot. Meski ia kerap berhasil menciptakan kekesalan kita lewat sifat karakter Bu Rosa, yang mana hal itu memang dibutuhkan, tapi ada bedanya antar ngeselin yang emang bener ngeselin sama ngeselin yang menjemukkan.

Walau tidak membosankan, “Makmum” ternyata dijegal oleh hal-hal dasar. Jujur, film ini sudah memiliki cerita dan character’s arc yang oke. Perluasannya bisa dierima, terornya pun gak diracang asal-asalan. Cuma film ini lupa bahwa aspek sinematik lainnya tidak kalah penting. Ia harus bisa mewujudkan apa yang ditulis oleh segi naratif secara maksimal.  At some important points, this movie fail to do that.

 

Director: Hadrah Daeng Ratu

Starring: Titi Kamal, Arif Didu, Reny Yuliana, Jajang C. Noer, Bianca Hello, Tissa Biani, Ali Syakieb

Duration: 95 Minutes

Score: 7.0/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here