‘Mantan Manten’, Lika-Liku Cinta yang Berujung Tragis

Setelah bermain-main dengan budaya modern, Visinema Pictures ingin kembali pulang ke rumah. Sebagai production house yang masih terhitung baru namun sudah memiliki reputasi yang bagus, mereka tentu butuh membuat katalog filmnya menjadi lebih berwarna. Dengan patron khasnya, Visinema kemudian mengangkat budaya tradisional Jawa dalam film drama terbarunya, yaitu “Mantan Manten”.

Dibintangi oleh Atiqah Hasiholan dan Arifin Putra, kemudian didukung oleh jajaran aktor senior Indonesia seperti Tio Pakusadewo dan Tuti Kirana, film ini menggambarkan perjuangan seorang wanita modern yang diterpa cobaan bertubi-tubi. Sesuai dengan pernyataan produser Anggia Kharisma, “Mantan Manten” akan menampilkan tokoh perempuan di titik terendah dalam hidupnya. Apakah ia bisa bangkit dan tetap berdaya? Yuk kita baca review-nya sama-sama.

Yasnina (Atiqah Hasiholan) adalah seorang wanita karir yang sukses. Ia menjadi pakar finansial yang berpengaruh di Jakarta, bahkan sampai mendapatkan becandaan sebagai orang yang hobinya “mengumpulkan penghargaan”. Celakanya, suatu hari Yasnina dipermainkan oleh seorang pengusaha terpandang di Indonesia, Arifin Iskandar (Tio Pakusadewo). Ini membuatnya kehilangan semua yang susah payah ia dapatkan. Satu-satunya harta yang ia miliki hanya sebuah rumah di daerah Tawangmangu.

Sudah jatuh tertimpa tangga, Yasnina terlibat negosiasi alot dengan penghuni rumah tersebut yaitu Ibu Mar (Tuti Kirana), yang berprofesi sebagai pemaes. Sadar akan sama-sama butuh, Ibu Mar kemudian memberi syarat kepada Yasnina. Ia baru mau menandatangani surat kontrak penjualan rumah jika Yasnina bersedia membantunya menjadi asisten pemaes. Yasnina mau gak mau harus menerima karena ia tidak punya pilihan lagi. Tapi apakah dia sudah memiliki pengalaman untuk menjadi pemaes? Ya belum lah!

Sebelum membahas filmnya, ada baiknya kita memberi tanggapan dulu untuk poster film ini. Jujur, poster ini sangat menipu. Kurang ajar, dalam artian yang imbang. Jika dilihat sekilas, poster “Mantan Manten” ini memberikan mood yang 180 derajat berbeda dengan apa yang akan kita saksikan nanti. Apalagi buat kamu yang belum sempat menonton trailer-nya, wah bisa ketipu mentah-mentah. Mood yang dipancarkan dari poster ini cenderung cerah dengan warna merah muda yang dominan dan kedua karakter utama yang saling berpandangan sambil menebar senyum.

Kemudian posisi dari tulisan judul yang dibuat vertikal mengesankan film ini mungkin akan menjadi drama dewasa yang ceria namun tidak kaku. Terakhir, tidak terlihat sedikit pun sentuhan tradisional di dalam poster ini. Modern dan “chic” justru menjadi kata yang pertama kali terbesit, apalagi didukung oleh pakaian yang dikenakan oleh Atiqah dan Arifin. Jelas ini bertolak belakang dengan filmnya yang menyertakan unsur budaya tradisional yang kesannya kuat, kaku, dan memiliki warna desain-nya tersendiri.

Masuk ke filmnya, akan ada shifting yang begitu signifikan antara tahap persiapan dan tahap konfrontasi. Ini tentu ada hubungannya dengan eksposisi karakter Yasnina, yang mana sudah penulis jabarkan pada paragraf sebelumnya. Apa yang dialami oleh Yasnina di sini adalah sebuah skandal yang besar. Ia akan melawan seseorang yang begitu kuat di negeri ini. Kemudian skandal investasinya tadi ternyata menyangkut investasi, yang pastinya merupakan sebuah materi yang tidak mudah untuk dicerna begitu saja.

Meski film menyederhanakan konfliknya, ada beberapa resiko juga. Pertama, penonton akan kaget, atau paling tidak meraba-raba di mana film ini berdiri. Bukan apa-apa, “Mantan Manten” ternyata tidak se-nyeleneh nama judulnya, karena penonton ditempatkan di tengah-tengah permasalahan yang pelik dan serius secara cepat. Kedua, cara film menyambungkan lalu memberikan emosi antara konflik yang sangat modern dengan unsur tradisionalnya yaitu pemaes. Untuk yang satu ini mereka memanfaatkan salah satu teknik naratif yaitu teknik penceritaan tidak terbatas.

Sebelum itu, kita harus mengetahui dulu bahwa film coba merancang situasi agar penonton bisa merasakan “nyesek to another level” di tahap resolusinya nanti. Untuk itu, harus ada keterkaitan yang kuat terlebih dahulu antara dua karakter yaitu Yasnina dan Bu Mar. Seperti biasa, pada awalnya kita akan diberi gambaran umum seperti interaksi awal yang sudah tidak terlalu baik, keterpaksaan bersyarat, dan macam-macam. Nah tugas selanjutnya adalah menancapkan emosi sehingga muncul rasa peduli. Penonton diharapkan dapat melihat seberapa genuine-nya rasa kepedulian ini, yang dibangun lewat beberapa macam pendekatan.

Untuk sinematografinya, di awal film “Mantan Manten” beberapa kali justru menggunakan medium long shot untuk adegan percakapan penting antar dua karakter. Penonton bisa melihat porsi antara manusia dengan lingkungannya masih relatif imbang. Tapi seiring meningkatnya konflik, film memanfaatkan medium close-up, terutama di momen-momen intim. Kemudian film memasukkan unsur magis. Ya, “Mantan Manten” yang dikira menyenangkan dan modern itu ternyata punya kejutan tak terduga.

Beberapa scene menampilkan latar tempat yang jelas berbeda. Bagusnya, scene-scene ini tidak sulit untuk dicerna karena memiliki tingkat koherensi yang kuat dengan cerita. Selain itu, animasi CG yang digunakan di sini juga tampak baik. Kemudian ada karakter imajiner. Di sini film terkesan sakral karena sineas berhasil menciptakan momen bagi karakter tersebut lewat teknik pengadeganan yang pas dan mise-en-scene yang oke. Last but not least, ada juga metafora yang ditangkap secara cantik.

Baru setelah itu masuk ke penjabaran konflik yang memanfaatkan teknik penceritaan tidak terbatas. Di sini kita yang sudah makin peduli ke relationship antara Yasnina dan Bu Mar akan dipermainkan lewat tuturan yang memanfaatkan sudut pandang. Berbeda dengan awal film yang fokusnya hanya di Yasnina, memasuki tahap konfrontasi sudut pandang juga ada kalanya berpindah ke Bu Mar, atau Surya (Arifin Putra). Untuk Bu Mar, ini merupakan saat yang perlu di-higlight karena ada satu scene di mana kamera mengikutinya dan terjadi lah satu “set-up problem” yang mengagetkan.

Ini mengingatkan kita pada hakikat dari batasan informasi tidak terbatas atau “Omniscient Narration”, di mana akses informasi cerita bisa didapat dari sisi manapun. Kita bisa mengetahui, melihat, dan mendengar lebih banyak. Bahkan, kita bisa tahu apa kira-kira yang bakal terjadi padahal karakter yang dimaksud belum mengetahuinya. Tujuannya adalah membangun intensitas dan di dalam “Mantan Manten”, intensitas itu muncul dari sebuah sikon yang tidak biasa.

Setelah itu pecah, tinggal melihat bagaimana Yasnina bertindak. Di sini penonton bisa mengharapkan sebuah perkembangan karakter. Hal ini lalu bermuara pada value yang ingin disampaikan, yaitu mengenai keikhlasan. Yasnina akan dihadapkan pada situasi yang sangat rumit dan dia harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Apa yang terlihat ke depan adalah sesuatu yang benar-benar menyesakkan tapi di sisi lain juga ini merupakan pembalasan yang patut diacungi dua jempol.

Hanya saja, terdapat sesuatu yang masih belum ditunjukkan atau bisa jadi sengaja dihilangkan pada tahap konfrontasi. Ini terlihat dari akting salah seorang pemeran pendukung saat tahap resolusi. Proses Yasnina berkembang memang bisa terlihat, namun semua berjalan begitu cepat. Rasanya film sudah tidak sabar untuk segera masuk ke tahap resolusi karena “nyess”-nya ada di sana semua. Mengubah karakter Yasnina yang di awal terlihat keras, kuat, sampai berani nekat tentu bukan perkara mudah. Selain itu, karakter Surya juga tidak banyak ditampilkan. Film ini lebih mengenai Yasnina, bukan hubungan Yasnina dengan Surya. Ini bisa jadi malapetaka, karena selain di promosinya Surya ditampilkan sejajar dengan Yasnina, karakter ini di awal-awal film memang terlihat kuat.

Semua itu coba dibayar di akhir cerita, tepatnya pada proses sakral yang menjadi gong semua ini. Jika mengacu pada emosi, wah, ini sih parah banget. Mungkin jika memosisikan diri pada karakter Yasnina, kita sudah gila. Tapi dari segala cobaan yang sudah ia arungi, kita akan paham atas keputusan yang diambil ini. Ada kebijakan tertentu yang diambil di sini. Menyangkut bahasa bicara, film tidak menggunakan pendekatan kedaerahan. Ini jelas berbeda dengan yang biasanya ada, namun melihat dari tuntutan naratif, langkah ini diambil bukan tanpa perhitungan juga.

Lagu yang mengiringi scene by scene juga semakin mendukung mood “ngenes” film. Di masa ini juga kita akan melihat semakin pentingnya peran Arifin Iskandar. Om Tio sukses membawakan peran dari Iskandar yang ternyata menarik karena tidak hanya ditampilkan dalam satu dimensi saja. Aktingnya kepada Atiqah yang sarat akan unsur “talking cinema” menyiratkan makna terpendam.

Betul-betul mengagetkan. Tidak menyangka kalau “Mantan Manten” itu adalah drama serius yang tragis. Film ini memberikan sebuah definisi “revenge” yang berbeda, manis namun menyakitkan, yang mana kedua elemen itu tetap menghantarkan pesan positif kepada penontonnya. Konsep yang menggabungkan budaya modern dengan tradisional membuat kita jadi tertarik untuk mencari tahu mengenai beberapa hal terkait Budaya Jawa. Komedi yang dihadirkan oleh Dodit dan Asri Welas memang “hit and miss”, tapi kekuatan emosi jiwa selalu berhasil menghunjam hati. Tolong kontrol ekspektasi karena tidak baik untuk menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa dipenuhi.

 

Director: Farishad Latjuba

Starring: Atiqah Hasiholan, Tuti Kirana, Arifin Putra, Tio Pakusadewo, Dodit Mulyanto, Marthino Lio, Asri Welas, Oxcerila Paryana

Duration: 102 Minutes

Score: 8.0/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here