‘Mard Ko Dard Nahin Hota’, Orang yang Tak Pernah Merasakan Sakit

Sifat bawaan dari “Congenital Insensitivity to pain” yang ia derita sejak lahir membuat Surya tak bisa merasakan sakit sama sekali, hal ini lah yang membuatnya belajar bela diri dari kaset VHS yang disewakan oleh kakeknya.

Bollywood menghadirkan salah satu film andalannya ke Indonesia. Temanya tak umum, judulnya pun demikian, sama sekali bukan romcom mendayu-dayu, aksi laga ataupun biopik yang merupakan salah satu spesialisasi Bollywood selama ini pernah kita tonton.

Judul filmnya untuk rilis global dinamakan “The Man Who Feels No Pain”, sangat menarik memang, sekaligus bertanya-tanya bagaimana film ini nantinya akan bertutur lebih jauh, apakah lebih mengarah ke drama, action atau multi genre sekaligus.

Premis yang sangat menarik ini langsung menarik kita ke dalam scene pertama, di mana kita langsung disuguhi pertarungan seorang pemuda yang dikeroyok puluhan orang dalam sebuah close combat di sebuah lapangan kosong. Setelah itu, film akan maju jauh ke belakang lewat narasi dari cast utamanya, bagaimana dirinya muncul kali pertama di dunia ini.

Masuklah scene jauh ke masa silam, di sebuah bioskop, kala orang tuanya bersama sang kakek sedang menonton film, ketika tiba-tiba sang ibu (Shweta Basu Prasad) yang sedang hamil besar diganggu oleh seseorang yang mencari keributan. Sang ibu yang tidak kenal takut langsung mengajak orang itu berkelahi dan tak lama perutnya tiba-tiba kontraksi ingin melahirkan dan dibawa ke rumah sakit.

Setelah dilahirkan, sang anak yang diberi nama Surya didiagnosis menderita “Congenital Insensitivity to pain” yang artinya dia tak bisa merasakan sakit sama sekali. Sifat bawaan yang membuatnya nampak seperti superhero ini tak lantas membuat orang tuanya lega, malah cenderung protektif. Kematian sang ibu ketika sedang dirampok di jalan, membuat sang ayah (Jimit Trivedi) menitipkan Surya kepada sang kakek (Mahesh Manjrekar) untuk diurus sementara dirinya bekerja.

Surya yang selalu mengenakan goggle dan backpack ketika sekolah, diajari sang kakek agar kalau diserang teman-temannya selalu mengatakan “aduh”, tapi ketika berdarah malah dia diam saja. Memang sedikit aneh kedengarannya apa yang diajarkan sang kakek. Di sekolah, Surya mempunyai teman perempuan, Supri yang selalu melindungi dirinya ketika diganggu teman-temannya. Supri yang cenderung bertindak seperti ibunya ini selalu bersama-sama dirinya dalam setiap kesempatan.

Saat itu, sang kakek juga selalu mencekoki Surya dengan segala macam film beladiri dan akhirnya menemukan sang idola ada di karakter Karate Mani (Gulshan Devaiah) yang berkaki satu, dan dalam video itu sanggup melawan 100 orang sekaligus berturut-turut.

Menginjak remaja, Surya (Abhimanyu Dassani) tetap bertingkah polah seperti layaknya anak kecil, sementara Supri (Radhika Madan) menghilang begitu saja ditelan bumi sampai suatu ketika Surya bertemu kembali dengan idolanya dalam film, Mani yang ternyata mempertemukan dirinya lagi dengan Supri. Pertemuan itu tak membuat dirinya langsung bahagia, namun bersama dengan Supri, mereka harus membantu Mani merebut kalung liontin pusaka yang direbut saudara jahatnya, Jimmy.

Menarik menonton film ini, kita akan melihat banyak sekali referensi film beladiri era 70-an, juga film Bollywood di era yang sama. Penggunaan font dan warna bernuansa retro di setiap segmen membuat membuat memori tersendiri. “Mard Ko Dard Nahin Hota” juga dipenuhi tebaran klise-klise ala Bollywood masa silam seperti kekasih masa kecil yang terpisah, si kembar baik dan jahat, dan perburuan sebuah liontin.

Abhimanyu Dassani tampil baik dalam film perdananya kali ini, tampil lepas dan mampu memerankan karakter superhero-like yang tetap low profile dan tetap masih punya kekurangan. Dan memang kekurangannya hanya satu, Surya harus ditemani stok air minum yang banyak atau dia akan kolaps tiba-tiba. Selebihnya tak ada rasa takut sedikit pun, baik ketika mesti terkena tembakan atau patah tulang (sedikit mengingatkan kita akan karakter ‘Deadpool’ yang mempunyai kemampuan serupa, namun dengan look ala ‘Kick-Ass’).

Gulshan Devaiah juga tampil luar biasa dengan dua peran protagonis dan antagonis sekaligus yang dimainkannya. Dua karakter yang sangat berbeda secara tampilan fisik seolah tak tampak kelihatan kalau ini diperankan oleh orang yang sama.

Karakter Supri juga sangat menarik untuk dilihat, lepas dari permasalahan keluarga yang ia hadapi hingga dewasa, pertemanannya dengan Surya memang agak aneh, namun dirinya tak ragu mengambil langkah berani untuk perempuan seusianya.

“Mard Ko Dard Nahin Hota” yang disutradarai oleh Vasan Bala ini memang dipenuhi oleh referensi film yang untuk sebagian kalangan mungkin tidak cocok, karena rentang waktu nya terlalu jauh. Namun buat kamu yang mengalami era 90’an, rasa nostalgia itu akan datang lewat VHS dan desain produksi berkesan retro. Narasi yang ada di scene tertentu memang agak melelahkan dan membosankan, itu semua akan ditutupi dengan adegan bela diri yang sangat menarik, tapi ciri khas Bollywood yang selalu memasukkan adegan ini dalam slow motion membuat adegan ini sedikit kurang nyaman dinikmati.

Buat kamu yang menyukai film superhero, tak ada salahnya kamu menonton film yang satu ini. Sedikit memiliki gaya Edgar Wright, namun semuanya terangkum dalam sebuah dramedy unik bernuansa action yang membuat kamu terpana, lupa kalau ini bukan film Hollywood.

 

Director: Vasan Bala

Starring: Abhimanyu Dassani, Radhika Madan, Mahesh Manjrekar and Gulshan Devaiah, Jimit Trivedi, Shweta Basu Prasad

Duration: 134 Minutes

Score: 8.3/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here