‘Mary Poppins Returns’, Hadirnya Sekuel Film Musikal Legendaris


When your father and I were young, we used to imagine Mary Poppins could do all *sorts* of impossible things! Those things didn’t really… ” – Jane Banks.

Mengulang hype yang terjadi tahun lalu, akhir tahun 2018 kembali diramaikan oleh satu film musikal. Kali ini adalah “Mary Poppins Returns”, sekuel dari film musikal legendaris “Mary Poppins”, yang saat itu dibintangi oleh Julie Andrews. Emily Blunt mendapatkan kehormatan untuk memerankan karakter nanny ikonik Mary Poppins di versi 2018. Ia diceritakan kembali ke rumah keluarga Banks, yang mana sedang tertimpa masalah hutang. Akibat satu dan lain hal, Michael Banks (Ben Whishaw) terpaksa meminjam uang ke bank. Kini hutangnya tersebut sudah harus dia bayar, jika tidak maka rumah yang ia miliki akan disita. Ini jelas sesuatu yang sangat berbahaya dan membuat khawatir seluruh anggota keluarga. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah ini juga memiliki memori indah semasa Michael dan adiknya yaitu Jane Banks (Emily Mortimer) masih kecil.

Merasa tidak sanggup membayar seluruh hutang dalam tenggat waktu yang ditentukan, Michael dan Jane tiba-tiba teringat bahwa ayah mereka memiliki saham di bank. Itu sudah cukup untuk melunasi hutang. Sayang, mereka berdua lupa di mana surat sertifikat kepemilikan saham tersebut disimpan. Mau tidak mau mereka harus mencari sementara waktu kian menipis. Di sisi lain, keadaan genting keluarga ini membuat ketiga anak Michael yaitu Georgie (Joel Dawson), Anabel (Pixie Davies), dan John (Nathanael Saleh) kepikiran. Mereka juga sebenarnya ingin membantu Michael. Voila, di tengah ketidakpastian itu, anak-anak kemudian bertemu Mary Poppins!  

Film langsung dimulai oleh penampilan musikal. Lin-Manuel Miranda menyanyikan lagu “(Underneath the) Lovely London Sky” sambil memeragakan koreografi karakter Jack the Lamplighter yang sedang mengganti lampu-lampu di sepanjang jalan. Karakter ini ke depannya akan menjadi sidekick Mary Poppins dan Lin-Manuel tampil fantastis. Well, kita akan membahas hal tersebut nanti, tapi mulai dari lagu pertamanya saja kita sudah bisa menduga bahwa film “Mary Poppins Returns” adalah film keluarga yang tidak hanya tampil ceria, namun juga setia. Maksudnya setia di sini adalah pertama, setia dengan feel lagu-lagu ala film pendahulunya dan kedua adalah setia kepada latar waktunya. Seluruh lagu di dalam film sangat terasa nuansa musical ensemble-nya, bukan sekedar lagu pop yang dijadikan ala-ala musikal.

Kesetiaan ini membawa hal positif sekaligus negatif bagi film. Untuk segi positifnya, lagu-lagu yang ada selain erat akan sense musikal, juga sukses menawan hati penonton. Selain itu, pilihan kata atau diksinya juga oke. Untuk hal aransemen, film tidak hanya menyuguhkan lagu yang bersifat pakem (temponya naik-turun seperti lagu pada umumnya). Namun ada juga lagu yang memang dibuat lebih mellow, kemudian ada yang lebih upbeat.

Perpaduan tersebut tampil natural dengan pasnya sehingga tidak terlalu membosankan. Salah satu adegan terbaik yang ada di film bahkan merupakan adegan di mana lagu yang dimainkan adalah lagu yang mellow. Meski tidak tampil penuh warna, adegan ini memiliki lagu yang begitu menyentuh sehingga kita tidak hanya merasakan, namun mengambil makna universal dari lirik yang terkandung di dalamnya. Apalagi ditambah sama muka polos anak-anak yang menyanyikan lagunya.

Tapi tetap, pilihan untuk lebih mengusung unsur musikal tanpa menyertakan sedikit pun sentuhan kontemporer menyisakan resiko yang besar. Lagu-lagu “Mary Poppins Returns” meskipun menawan, tidak terlalu memorable. Lagu-lagu yang ada di sini bukan tipe lagu yang akan terus terngiang setelah penonton keluar dari bioskop. Meski menyatu sangat dengan scene, namun tidak terdengar sesuatu yang bisa nempel di telinga kita. Entah itu melodinya, atau liriknya. It’s not an easy listening songs, but still got charms and magic. Lagu-lagu ini memang paling pas jika digunakan hanya sebagai salah satu unsur yang penting bagi filmnya saja. Mereka melakukan itu dengan baik. Tapi untuk sekedar lebih jauh? Rasanya sih agak berat ya.

Performa para pemain jelas harus disorot dalam film musikal seperti ini. Mereka tidak hanya dituntut untuk berakting sesuai dengan tuntutan naratif, namun juga memiliki kemampuan bernyanyi dan menari dengan sama baiknya. Emily Blunt dan Lin-Manuel Miranda adalah duet luar biasa. Banyak scene yang menampilkan musical performance dari mereka berdua dan semua terlihat legit. Untuk Emily, tentu beban besar ada pada dirinya sendiri karena bukan tidak mungkin ia akan dibanding-bandingkan dengan Julie Andrews.

Dia adalah legenda, apalagi untuk genre drama-musikal lewat penampilannya di “Mary Poppins” dan “Sounds of Music”. Di dalam film, Emily tampil baik meski memang tidak bisa dibandingkan dengan pendahulunya. Emily lebih terlihat seperti Mary Poppins yang karismatik dan cukup ‘posh’, bukan Mary Poppins yang lovable seperti Julie. Tapi itu tidak mengapa. Penonton tetap bisa melihat kualitasnya, apalagi dengan nyanyian dan tarian yang ia peragakan, Emily membuktikan bahwa ia seorang multi-talenta.

Sedangkan untuk Lin-Manuel Miranda, this guy is on fire! Buat kamu yang bertanya-tanya atau bingung mengapa dia bisa mendapatkan nominasi aktor pendukung pria terbaik di Golden Globe, di sini kamu bisa menemukan jawabannya. Lin-Manuel tampil all-out sebagai Jack. Selain menjadi co-star yang bagus untuk Emily, penampilannya juga selalu stand-out ketika dibutuhkan. Keunggulannya dalam bernyanyi betul-betul dihabisi di sini. Tidak hanya menyanyikan lagu balada atau lagu yang energik dan cheerful, ia juga ternyata jago nge-rap!

Lin-Manuel memberikan sebuah “jaw-dropping performance” lewat lagu yang upbeat. Pelafalan dan intonasinya sangat lugas dan jelas. Iramanya pun semakin lama semakin naik, membuat kadar excitement semakin meninggi. Melihat penampilannya saat itu bisa membuat penonton bangkit dari kursi dan jelas penampilan tersebut sangat sulit untuk dieksekusi.

Untuk eksekusinya, unsur animasi di “Mary Poppins Returns” patut diacungi jempol. Ini merupakan bagian tak terpisahkan, di mana film memadupadankan aktor dengan latar suasana animasi klasik. Di film pertama hal tersebut sudah ditampilkan dan itu lah yang membuat film pertama menjadi sajian yang istimewa. Tahun ini, tentu hal tersebut dipertunjukkan kembali dengan kualitas editing yang lebih bagus lagi.

Animasi klasik di film terlihat cantik, dan berjalan sangat smooth. Dunia kartun juga ditunjukkan sesuai dengan tuntutan naratif hingga ke bagian paling detail. Ini membuat penonton tidak sekedar melihat namun juga seakan-akan masuk ke dalam dunia tersebut. Selain itu, big set piece yang dibawakan oleh bagian yang satu ini tidak hanya saat pertunjukan musikalnya saja. Ada juga action sequence yang melibatkan kejar-kejaran antar kereta kuda.

Di sini film secara cerdas memanfaatkan dimensi ruang, atau dalam bahasan mise-en-scene biasa disebut sebagai pendukung aktif adegan. Dalam sebuah film, terutama film aksi dan komedi, sebuah properti seringkali digunakan untuk mendukung adegan. Pada kasus lain, set ternyata juga bisa bergerak aktif sebagai pendukung adegan. Nah, pada action sequence yang satu ini, “Mary Poppins Returns” lebih memanfaatkan ketentuan kedua.

Mengingat dunia animasi klasik ini merupakan bagian dari sebuah properti, maka sutradara menggunakan wujud dari properti yang dimaksud untuk kebutuhan cerita. Terlihat, karakter protagonis yang awalnya tertinggal, berhasil menyusul dengan memanfaatkan hal ini. Lalu rintangan-rintangan yang dihadapi juga berasal dari kenyataan yang berhubungan dari wujud properti yang sifatnya fragile.

Last but not least, film secara cerdas juga menampilkan karakter tertentu di dalam dunia animasi, yang secara tidak langsung merupakan metafora dari karakter sungguhan yang ada di dunia nyata. Secara brilian film memanfaatkan salah satu wujud binatang yang memang dikenal licik sebagai metafora, dengan satu item yang menjadi semacam katalis antara si karakter hewan yang ada di dunia animasi klasik dan si karakter manusia yang ada di dunia nyata.

Kekurangan dari part animasi klasik ini terdapat pada klimaks dari action sequence yang kurang nendang, bahkan jatuhnya agak mengambang karena bisa saja itu bukanlah akhir dari part yang bersangkutan. Masih ada kelanjutan setelah Mary Poppins dan anak-anak pergi dari dunia animasi klasik dan tone langsung berubah menjadi sedih. Namun karena terdapat salah satu lagu terbaik film yang dinyanyikan oleh Mary Poppins, transisi yang kurang enak ini menjadi sedikit terobati.

Waktu, keyword berikutnya yang penting untuk “Mary Poppins Returns”. Berbeda dengan film pertama, ada sebuah urgensi yang memburu keluarga Banks akibat konflik yang mereka timbulkan. Ibarat sebuah penyelenggara event, waktu menjadi time-keeper yang bekerja secara efektif. Setelah capek menari dan bernyanyi, kita akan kembali diingatkan. Selain itu, waktu juga digunakan untuk meningkatkan intensitas film sampai babak resolusi yang ternyata tampil cukup diluar dugaan. Film menggunakan ikon legendaris kota London lebih dari sekedar bangunan berukuran raksasa.

Berkaitan dengan cerita di mana Keluarga Banks semakin kehabisan waktu, Mary Poppins dan Jack the Lamplighter mengeluarkan kemampuan terbaik untuk mengelabui lawan memanfaatkan ikon besar ini. Konflik pun semakin menarik dengan kemunculan cameo Dick van Dyke. Hebatnya, di usia 93 tahun, Dick masih bisa menari! Gerakan-gerakannya tentu tidak seenergik dulu. Lebih lambat, bahkan ada satu dua gerakan yang sangat menunjukkan usia renta sang aktor kawakan. Tapi itu sama sekali bukan masalah. Justru tampilnya Dick mengukir senyum bagi yang melihatnya.

Cukup unik, sedikit banyak nilai yang terkandung dalam kisah “Mary Poppins Returns” setali tiga uang dengan film live-action Disney sebelumnya yaitu “Christopher Robin”. Konflik yang ada di sini sebetulnya adalah konflik orang dewasa. Selain mengenai permasalahan esensial dari fase adulthood yang bisa mengubah sifat seseorang, kedua film ini menunjukkannya, Mary Poppins kemudian mengembangkan hal tersebut ke sesuatu yang lebih ekstrim yaitu berkaitan dengan hutang.

Seiring waktu berjalan, kita bisa melihat bagaimana film menyampaikan pesannya. Meski masalah yang dialami keluarga Banks terhitung sangat berat (mereka terancam kehilangan tempat tinggal), lantas tidak membuat semua menjadi muram dan putus asa. Mereka harus tetap ceria sambil tentunya mencari jalan keluar, jangan jadikan masalah sebagai beban yang kemudian menguasai diri sepenuhnya. Jangan putus asa, tetap berpikir positif. Jika apa yang kita perjuangkan adalah kebenaran, maka seberat-beratnya cobaan pasti jalan keluar akan ditunjukkan.

Ya, energi positif adalah bahan bakar utama “Mary Poppins Returns” yang tampil apik dari seluruh aspek filmnya. Cerita, lagu-lagunya, tampilan di depan kamera, semua memancarkan aura senada. Meski lagu-lagunya kurang memorable di mana kita lebih ingat scene-nya dibanding lirik lagunya, transisi antar bagian juga cukup rough, dan cerita untuk Topsy (Meryl Streep) juga sangat lemah, namun kembalinya Mary Poppins tetap patut diapresiasi. Setelah bertahun-tahun lamanya, mereka masih setia pada tradisi pertunjukan musikal klasik yang unik. Beat by beat masih berasa dari film pertama, hanya saja dengan pembaruan sesuai dengan perkembangan karakter-karakter pentingnya. Jadi kurang tepat juga kalau dibilang tidak ada yang berbeda. Good, but not as supercalifragilisticexpialidocious as the first one.

Director: Rob Marshall

Starring: Emily Blunt, Lin-Manuel Miranda, Ben Whishaw, Emily Mortimer, Colin Firth, Pixie Davies, Nathanael Saleh, Joel Dawson, Julie Walters, Meryl Streep, Jeremy Swift, Kobna Holdbrook-Smith, Dick Van Dyke, Angela Lansbury, David Warner, Jim Norton, Noma Dumezweni

Score: 7.8/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here