‘Master Z: Ip Man Legacy’, Spin-off Ip Man dengan Aksi Laga Keren

253

Setelah kekalahan telak yang dialaminya dari Ip Man saat duel tertutup di adegan penutup ‘Ip Man 3’,  Cheung Tin-chi (Max Zhang) menutup tempat latihan bela diri yang didirikannya untuk menjalani kehidupan yang lebih sederhana sebagai pemilik toko kelontong di Hong Kong bersama anaknya yang masih kecil. Tak lama berselang, Cheung Tin-chi kembali bermasalah ketika ia mencoba menyelamatkan dua wanita, Julia (Liu Yan) dan Nana (Chrissie Chau) yang diserang oleh anak buah gangster yang dipimpin oleh Tso Sai Kit (Kevin Cheng).

Buntutnya semakin panjang, toko milik Cheung dibakar oleh anak buah Tso Sai Kit dan menyebabkan Cheung Tin-chi mengungsi ke adik Julia, Fu (Xing Yu) yang mempunyai bar yang selalu ramai dikunjungi pelaut dan tamu-tamu penting. Tso Sai Kit sendiri merupakan adik dari Tso Ngan Kwan (Michelle Yeoh), yang ingin melegalkan usahanya di perusahaannya sendiri, firma Cheung Lok dan tak ingin lagi berdagang barang-barang terlarang. Bar milik Fu sendiri juga dibiayai oleh Tso Ngan Kwan. Apa yang diinginkan sang kakak untuk berubah ke arah positif rupanya dilawan sang adik, dan Tso Sai Kit nekat berjualan opium bersama temannya ke bar itu. Apakah rencana itu akan berhasil? Dan apakah Cheung berhasil memperoleh tokonya kembali?

Film ‘Master Z: The Ip Man Legacy’ ini memang sangat unik. Setelah selama ini banyak sekali film-film yang mengulas tentang kehidupan Ip Man mulai dari Wilson Yip yang menggarap trilogi Ip Man (2010-2018) yang film ke-4 nya sebentar lagi akan tayang; Herman Yau pernah menggarap ‘The Legend Is Born: Ip Man’ (2010) dan ‘Ip Man: The Final Fight’ (2013); juga tak ketinggalan masterpiece dari Wong Kar Wai, ‘The Grandmaster’ (2013). Semua film tersebut menceritakan sejarah Ip Man dari perspektif berbeda, baik dari masa belia hingga sang master meninggal.

Kini di tangan sutradara gaek Woo-Ping Yuen yang populer dengan film-filmnya seperti ‘Drunken Master’ (1978), ‘Iron Monkey’ (1993) dan ‘Tai-Chi Master’ (1993), film spin-off ini akan diangkat ke arah yang berbeda. Walaupun Woo-Ping Yuen sangat terkenal, karyanya bisa dibilang tak sebagus era ’70-an hingga ‘90-an. Banyak film-film terbarunya malah flop di pasaran, seperti sekuel ‘Crouching Tiger Hidden Dragon: Sword of Destiny’ (2016) yang sebenarnya “menghancurkan” kesuksesan film orisinalnya sendiri.

Untuk film terbarunya ini, Woo-Ping Yuen bisa dibilang tergolong nekat membuat spin-off dari saga Ip Man yang notabene juga merupakan film laris di pasaran. Mengikuti track record-nya terdahulu yang gemar membuat sekuel dari film-film sukses, memang merupakan pertaruhan yang sangat besar, terlebih Woo-Ping Yuen sebenarnya lebih dikenal sebagai penata aksi laga sebuah film. Banyak film-film blockbuster seperti ‘Crouching Tiger Hidden Dragon’ (2000), ‘Kill Bill 1-2’ (2003-2004), ‘The Matrix Trilogy’ (1999-2003) memakai jasanya dan hasilnya sangat impresif dan mengagumkan.

Untungnya di film terbarunya, penulis naskah asli saga Ip Man, Tai-lee Chan dan Edmond Wong, menulis naskah untuk film ini, dan benang merah dengan sang grandmaster Ip Man langsung terlihat dari opening title. First entry film ini memang terbilang mulus, kilasan flashback yang memperlihatkan final combat Cheung Tin-chi dengan Ip Man menjadi adegan pembuka yang akan sedikit mengingatkan audience tentang film ini. Ciri khas Woo-Ping Yuen yang selalu menciptakan fighting scene unik juga diperlihatkan dengan jelas di salah satu adegan.

Tercatat ada tiga adegan laga menarik yang harus kamu lihat, salah satunya adalah adegan Cheung Tin-chi melawan anak buah Tso Sai Kit yang sangat memesona. Adegan perkelahian di malam hari dengan beterbangan di antara reklame neon box yang menyala, memang patut diacungi jempol. Terlebih dengan pengambilan multi-cam yang sekilas mengingatkan kita akan film asli ‘Crouching Tiger Hidden Dragon’.

Untuk adegan aksi yang ditawarkan sebenarnya tidak ada masalah berarti dan rasanya sah-sah saja film ini mencontek kesuksesan saga Ip Man. Titik lemah film ini justru terlihat di sisi editing dan cerita. Editing yang tidak rapi di beberapa adegan, menyisakan banyak ruang kosong yang semestinya digali lagi dari cerita yang ada, dan hal itu sangat mengganggu. Bila kita bandingkan dengan garapan Wilson Yip yang sangat rapi dari awal dan terstruktur hingga akhir, film garapan Woo-Ping Yuen justru berbicara sebaliknya .

Begitupun dengan penokohan, tokoh Cheung Tin-chi digambarkan sangat ambigu di sini. Tak jelas maksud dan tujuannya sang karakter ini digambarkan lewat spin-off, kecuali mengangkat dirinya ke kancah yang lebih tinggi dari peran sebelumnya sebagai pemeran pembantu. Kini lewat film solo, Woo tampaknya tertarik mengangkat Max Zhang atau yang dikenal juga dengan nama Zhang Jin, lewat aksi “wing chun” sebagaimana yang ia lakukan saat ia mengangkat karir Jackie Chan lewat ‘Drunken Master’ di tahun 1978.

Tokoh Owen Davidson (Dave Bautista) yang berperan sebagai pengusaha Amerika yang berbisnis di Hong Kong dan terlibat peredaran narkotika, juga sama tak jelasnya. Latar belakang yang samar dan malah muncul belakangan sebagai tokoh antagonis tak sebaik kala Mike Tyson berperan di Ip Man 3. Peran ambigu lainnya juga diperlihatkan oleh Tony Jaa yang menjadi pembunuh misterius, sama sekali tak menarik dan karakter ini terkesan tempelan belaka untuk menarik para audience.

Aksi menarik justru diperlihatkan oleh Michelle Yeoh yang masih saja piawai memperlihatkan jurus kung-fu nya dengan Cheung Tin-chi. Tak hanya itu, duel gelas wiski di antara mereka mengingatkan kita akan film-film silat lawas tempo dulu. Desain produksi film ini juga patut diacungi jempol. Setting yang terbilang detil juga diperlihatkan lewat lansekap Hong Kong era 60-an yang terkesan glamor digambarkan lewat deretan bar-bar lengkap dengan neon box menyala di malam hari, begitu pula dengan nuansa toko-toko kelontong tradisional khas Tiongkok dengan segala isinya. Untuk wardrobe-nya, tak ketinggalan cheongsam berpalet warna cerah digunakan oleh Nana dan Julia, sedangkan untuk pria-nya, dominasi warna putih dan hitam digunakan hampir di tiap scene.

Buat kamu yang menyenangi film martial arts seperti ini, film ‘Master Z: Ip Man Legacy’ akan menjadi hiburan tersendiri jelang ‘Ip Man 4’ yang akan beredar tahun ini. Saksikan Max Zhang dengan “wing chun”-nya yang kini hadir lewat film solo-nya dan menghadapi musuh terbarunya di bioskop-bioskop terdekat di kota kamu.

Director: Woo-Ping Yuen

Starring: Max Zhang, Liu Yan, Michelle Yeoh, Xing Yu, Kevin Cheng, Dave Bautista, Patrick Tam, Chrissie Chau, Philip Keung, Brian Thomas Burrell, Adam Pak, Tony Jaa

Duration: 107 Minutes

Score: 7.5/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here