Maze Runner: The Death Cure, Instalasi Terakhir yang Sangat Mengesankan

445

“Three years we’ve spent behind walls trying to breakout, and now we want to break back in. And I get a shot gun.” – Newt.

Film Maze Runner: The Death Cure telah memulai masa tayangnya di Indonesia sejak hari ini, tanggal 24 Januari 2018. Film besutan sutradara Wes Ball ini merupakan instalasi ketiga dan yang terakhir dari franchise aksi fantasi ilmiah yang diadaptasi dari novel karya James Dashner. Karena cedera yang dialami oleh Dylan O’Brien saat masa produksi berlangsung, perilisan film ini pun mengalami kemunduran yang lumayan lama, hampir dua setengah tahun semenjak instalasi keduanya, film Maze Runner: The Scorch Trials (2015).

Film pertama, Maze Runner (2014) berhasil memperoleh pendapatan yang sangat besar saat itu. Film dengan biaya sebesar $34 juta tersebut mengantongi pendapatan sebesar $348.3 juta secara global. Keberhasilan tersebut disusul oleh film keduanya, Maze Runner: The Scorch Trials, yang berhasil mengantongi pendapatan sebesar $312 juta dengan biaya sebesar $61 juta. Bagaimana dengan instalasi ketiganya? Well, belum juga dirilis selama seminggu, film dengan biaya $83 juta tersebut telah berhasil mengantongi pendapatan sebesar $15.2 juta. Satu hal yang pasti, Maze Runner telah berhasil menyelesaikan franchise-nya, yang sayangnya tidak dapat dilakukan oleh Divergent dan Chronicles of Narnia.

Secara keseluruhan, tiga film Maze Runner merupakan sebuah kisah aksi fantasi ilmiah yang menggabungkan beberapa genre sekaligus di dalamnya. Dalam film yang pertama, Chillers disuguhi aksi para “Gladers” muda melawan monster-monster yang berbentuk seperti laba-laba atau kalajengking raksasa, lengkap dengan labirin yang terus menerus berubah. Sementara dalam film kedua, Chillers akan menyaksikan petualangan para “Gladers” saat berhadapan dengan zombi alias Crank, manusia yang telah terkontaminasi virus.

Di instalasi ketiganya, meski masih ada monster raksasa (dialami oleh Minho) dan para Crank, namun lebih menitikberatkan pada aksi penyusupan dan kejar mengejar yang lumayan seru serta menegangkan. Dengan kata lain, film berdurasi 142 menit ini akan mengajak Chillers berpetualang dengan aksi tanpa henti dalam berhadapan dengan para WCKD. Keseruan aksi tanpa henti di dalamnya, membuat instalasi ketiga ini jauh lebih menyenangkan untuk disaksikan, jika dibandingkan dengan instalasi keduanya.

Di awal film, Chillers akan diberi sedikit pencerahaan berkaitan dengan film pertama dan keduanya, dengan sedikit sinopsis dan pengenalan karakter. Info ini lumayan berguna bagi Chillers yang sudah lupa segala hal terkait dengan dua film pendahulunya, atau malah sama sekali belum menyaksikan keduanya. Namun, ada baiknya, sebelum Chillers memutuskan untuk menyaksikan film Maze Runner: The Death Cure, luangkanlah waktu untuk menyaksikan dua film pendahulunya terlebih dahulu.

Film dibuka dengan adegan penuh aksi, saat Thomas (Dylan O’Brien), Newt (Thomas Brodie-Sangster), Frypan (Dexter Darden), Brenda (Rosa Salazar), Jorge (Giancarlo Esposito) dan Vince (Barry Pepper) berusaha menyelamatkan Minho (Ki Hong Lee) dari kereta yang membawanya dan anak-anak imun lainnya ke dalam kota milik WCKD. Meski mereka berhasil menyelamatkan anak-anak yang berada dalam satu gerbong kereta, namun mereka gagal mendapatkan Minho yang ternyata berada dalam gerbong yang lain.

Setelah itu, adegan pun beralih ke para WCKD, Ava Paige (Patricia Clarkson) dan Janson (Aidan Gillen), serta Teresa (Kaya Scodelario) sang pengkhianat. Mereka bertiga berusaha untuk memanfaatkan Minho dan mendapatkan serum yang dapat menyembuhkan sekaligus menghentikan penyebaran virus berbahaya serta membuat manusia berubah menjadi Crank.

Di sisi lain, para Gladers yang terdiri dari Thomas, Newt, Frypan, Brenda, dan Lawrence meninggalkan tempat aman mereka untuk mencoba menyelamatkan Minho kembali. Kali ini, mereka harus mencari jalan untuk menyusup dalam kota terakhir milik WCKD yang dijaga dan dipersenjatai dengan ketat. Di saat sedang mencari jalan untuk dapat menyusup ke dalam kota tersebut, Thomas dan kawan-kawan secara tak terduga bertemu lagi dengan teman lama mereka. Berkat bantuannya, para Gladers pun berhasil menyusun rencana untuk menyusup ke dalam kota dan menyelamatkan Minho. Tapi, tentu saja tidak semua hal berjalan sesuai dengan rencana. Berhasilkah mereka menyelamatkan Minho? Dan apakah yang harus mereka korbankan untuk hal tersebut?

Berbeda dengan film-film lainnya, inti dari film Maze Runner: The Death Cure adalah menyelamatkan teman dari bahaya. Jadi, dari awal hingga ahir, film ini fokus pada aksi dan rencana untuk menyelamatkan Minho. Para Gladers ini sama sekali tidak berniat untuk menyelamatkan dunia atau menggulingkan kekuasaan WCKD. Mereka hanya ingin menyusup ke dalam kota, menyelamatkan Minho, dan keluar dari kota tersebut dalam keadaan hidup. Sayangnya, semuanya tidak berjalan selancar jalan tol.

Ada beberapa konflik dalam film ketiga ini yang layak Chillers perhatikan. Salah satunya adalah pertarungan batin Teresa yang merasa bersalah namun juga merasa bahwa hal yang dilakukannya merupakan suatu hal yang benar. Bagaimanapun, WCKD merpakan suatu organisasi yang berusaha keras untuk mencegah musnahnya umat manusia karena penyebaran virus yang tidak dapat dihentikan. Dengan kata lain, meski metode WCKD untuk menyelamatkan umat manusia tidak bisa dibenarkan, namun paling tidak mereka memiliki tujuan yang baik.

Dalam hal tersebut, rasanya Chillers dapat sedikit berempati terhadap karakter Ava yang diperankan dengan apik oleh Patricia Clarkson. Untuk karakter jahat yang wajib dibenci, film ini masih memberikannya pada karakter Janson yang diperankan oleh Aidan Gillen, yang tampaknya memang sangat cocok untuk memerankan karakter dengan tipe seperti ini. Dengan penampilan jahat Aidan Gilen yang tak tercela, Chillers dapat menyaksikan pertarungan terakhir “kebaikan versus kejahatan” yang dirancang dengan sangat apik pada adegan akhir film ini.

Ketegangan yang terbangun dalam film ini terasa meningkat dengan stabil. Hampir semua karakter memiliki waktu dan porsi yang cukup untuk bersinar. Salah satu aksi Gladers yang patut diperhatikan adalah aksi Brenda yang diperankan dengan sangat memukau oleh Rosa Salazar. Hampir semua tugas yang dipercayakan kepadanya berhasil diselesaikan tanpa cela, baik dikerjakan sendiri maupun bekerja sama dengan karakter yang lain.

Dari segi penyutradaraan, Wes Ball juga telah banyak meningkat jika dibandingkan dengan dua film sebelumnya. Segala hal dalam film ini terasa pas dan berjalan sesuai dengan momentumnya. Wes Ball dapat dengan sabarnya memetakan keseluruhan adegan satu per satu hingga mencapai adegan suspens yang merupakan adegan klimaks dari terpenting dari film ini. Sebelum akhirnya mengakhiri film Maze Runner: The Death Cure dengan ketenangan dan rasa damai yang meyenangkan.

Paling tidak, di akhir film, Chillers akan dapat memahami mengapa dari awal karakter Thomas yang diperankan oleh Dylan O’Brien merupakan karakter terpenting dalam film ini. Belum lagi pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan oleh setiap karakter dalam film ini yang hampir semuanya mengarah pada satu tujuan, untuk mendukung Thomas. Bagaimanapun, pengorbanan-pengorbanan tersebut memang terasa perlu untuk dilakukan. Dan film ini berhasil mengakhiri semuanya dengan sempurna dan membuat Chillers merasa puas dengan akhir ceritanya.

Secara garis besar, film Maze Runner: The Death Cure memang masih belum sebagus film pertamanya, Maze Runner. Meski demikian, sebagai film penutup, film ini terasa sangat menyenangkan, memuaskan dan mengesankan untuk disaksikan. Apalagi bagi Chillers yang telah mengikuti franchise-nya dengan setia. Setiap adegan dalam film ini seakan diciptakan dengan sempurna dan kreatif, salah satunya adalah adegan akhir penyelamatan anak-anak imun yang dilakukan oleh Brenda dengan menggunakan bis. Setiap karakter dalam film ini juga dipastikan dapat mengundang simpati Chillers. Sebagai film penutup, rasanya film yang satu ini pastinya akan sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here