Mazinger Z: Infinity, Mengenang Kejayaan Sang Mecha Nan Legendaris

“Where the hell were all you bastards hiding? Still, you’ll have to get through Great Mazinger and Tetsuya Tsurugi! Thunder…..Break!” – Tetsuya Tsurugi.

Tidak dapat dipungkiri, Mazinger Z merupakan sebuah serial mecha super robot yang menjadi tonggak sejarah berkembangnya serial super robot lainnya di Jepang. Berawal dari manga yang ditulis dan digambar oleh Go Nagai pada akhir tahun 1972, Mazinger Z menjadi salah satu fenomena nasional Jepang saat adaptasi anime-nya ditayangkan sebanyak 92 episode mulai bulan Desember 1972 hingga September 1974.

Tidak berhenti hanya sampai di situ, berbagai sekuel dan penerus Mazinger Z dalam franchise karya Go Nagai ini terus bermunculan, seperti Great Mazinger, Grendizer, juga Mazinkaiser dalam beragam serial, OVA dan anime layar lebar, tak ketinggalan pula dalam berbagai game. Kini, untuk memeringati 50 tahun Go Nagai berkarya dan juga 45 tahun franchise Mazinger Z, sebuah film layar lebar terbaru dari franchise keren ini telah dirilis dengan judul Mazinger Z: INFINITY.

Alkisah, Koji Kabuto dan Tetsuya Tsurugi, dua pilot asli dari masing-masing robot Mazinger Z dan Great Mazinger telah memasuki usia dewasa. Kedua robot mereka pun telah menjadi pajangan di museum. Jepang memasuki masa damai setelah kekuatan jahat ilmuwan gila Doctor Hell dan seluruh kroninya berhasil dilenyapkan. Koji berhenti menjadi pilot dan kini ia menjadi seorang peneliti di Photon Power Lab, sementara kekasihnya Sayaka telah menjadi direktur baru di laboratorium tersebut.

Tiba-tiba saja Tetsuya dikabarkan menghilang saat ia berada di Amerika, dan hal itu membuat Jun, istri Tetsuya yang tengah mengandung anaknya, khawatir. Jun pergi mengunjungi Koji dan Sayaka, yang pada saat yang bersamaan tengah dikejutkan oleh penemuan baru berupa robot serupa Mazinger Z dengan besar 10 kali lipat Mazinger Z sendiri. Dalam robot yang bernama Infinity itu ternyata tertanam sebuah AI (Artificial Intelligence) bernama LiSA, sebuah android yang bertugas sebagai komputer onboard dari Infinity.

Tampaknya di sinilah akhir dari masa damai Jepang, karena saat Koji dan teman-temannya masih takjub dengan penampakan robot baru itu, dua bawahan terpercaya Doctor Hell yaitu Baron Ashura dan Count Brocken ternyata berhasil dihidupkan kembali dan menyerang Photon Power Lab. Setelahnya, bahkan Doctor Hell pun kembali menampakkan dirinya dan mengungkapkan tujuannya untuk menguasai dunia dengan menggunakan kekuatan mengerikan dari Infinity. Demi mencegahnya, Koji dan teman-temannya pun harus bertarung habis-habisan, sekali lagi.

Mazinger Z: INFINITY adalah sebuah film “reuni” dari seluruh tokoh dalam serial dan film Mazinger Z sebelumnya. Koji, Tetsuya, Sayaka, Jun, Boss, dan juga tokoh-tokoh antagonisnya seperti Doctor Hell, Baron Ashura, Count Brocken dan bahkan beberapa mecha monster populer yang merupakan pasukan dari Iron Cross Army milik Doctor Hell, muncul dalam film ini.

Tampilan mereka yang bisa dibilang tidak mengalami perubahan sama sekali membuat Chillers yang menggemari serial ini, seakan diajak untuk kembali mengenang masa kanak-kanak saat pertama menyaksikan serial aslinya. Tentu saja, hal ini merupakan suatu daya tarik tersendiri bagi Chillers untuk tanpa ragu pergi berbondong-bondong ke bioskop dan bernostalgia.

Dari segi cerita, film ini memiliki nilai plus dan minus. Nilai plus dari cerita yang disampaikan dalam Mazinger Z: INFINITY adalah bahwa ceritanya merupakan sekuel dari cerita dalam serial aslinya. Berbeda dengan serial Devilman Crybaby, salah satu franchise lain milik Go Nagai yang juga baru dirilis Januari 2018 lalu, di mana ceritanya merupakan pengulangan cerita (retelling/reboot) dari serial aslinya. Mazinger Z: INFINITY mengambil setting waktu sekitar 10 tahun setelah cerita di serial aslinya selesai. Karenanya, Chillers yang telah menonton serial aslinya akan merasa penasaran akan hal baru apa saja yang akan dapat disaksikan dalam film ini. Sementara untuk penonton baru, akan cukup mudah mengikuti alur cerita film ini yang termasuk ringan.

Alur cerita dalam film berdurasi 90 menit ini sendiri sebenarnya tidak jauh berbeda dengan berbagai serial dan film layar lebar dari franchise ini yang pernah ditayangkan sebelumnya. Plotnya cukup simpel dan straightforward. Pengembangan karakter dapat Chillers rasakan untuk karakter-karakter utamanya, seperti Koji dan Tetsuya yang terlihat lebih dewasa dan kalem dalam film ini, berbeda dengan di serial aslinya, di mana mereka terasa jauh lebih “gila” dan urakan.

Pastinya, konflik dan intrik dalam film ini juga hadir, meski pastinya Chillers menyaksikan film ini untuk menikmati aksi pertarunganya dan bukanlah drama yang terjadi di antara para karakter utamanya. Karena itulah, drama dan konflik yang terdapat dalam film ini dikemas secara ringan, dengan pengembangan dan pendalaman karakternya juga dibuat tidak terlalu dalam, menyebabkan nuansa film ini tidak terasa terlalu kelam.

Satu hal yang tetap bisa Chillers rasakan, baik dari serial aslinya maupun film layar lebar ini, adalah sebuah semangat bahwa seseorang tetap dapat melakukan suatu hal yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain untuk menyelamatkan kita semua dari situasi buruk yang terjadi, di era manapun hal itu terjadi. Suatu harapan bahwa dunia dapat selalu pulih dan terus menjadi lebih baik setelah mendapat cobaan dan kehancuran sebesar apapun itu.

Dari gaya animasinya, Mazinger Z: INFINITY merupakan penggabungan dari animasi tradisional 2D dengan CGI 3D, yang hasilnya adalah setting dan adegan-adegan aksi yang halus dan dinamis. Toei Animation sebagai studio animasi untuk film ini berhasil menggabungkan gaya animasi jadul dan baru menjadi suatu kesatuan yang cantik untuk dilihat tanpa mengesampingkan fluiditas dari tiap gerakan yang dihasilkan.

Yang dilakukan oleh Toei untuk membuat perpaduan yang halus antara animasi tradisional 2D dan CGI 3D adalah bahwa Toei tidak menampilkan karakter 2D di layar bersamaan dengan model 3D, dan juga menetapkan secara ketat apa saja yang harus digambar secara 2D dan apa yang harus dibuat menjadi 3D. Koji, Sayaka, dan semua mahluk hidup yang ada dalam film adalah karakter 2D yang ditempatkan bersama latar belakang 2D, termasuk kokpit dari robot-robotnya.

Sementara itu, bagian luar dari robot-robotnya digambar menggunakan teknik CGI 3D, dan mereka tidak pernah ditampilkan bersamaan dengan karakter-karakter manusianya. Hal ini membuat CGI-nya tidak terganggu, dan dapat terus menciptakan keadaan logis yang konsisten untuk diikuti di dalam filmnya.

Secara keseluruhan, Mazinger Z: INFINITY adalah sebuah film nostalgia yang akan membangkitkan kenangan indah masa kecil Chillers yang sempat menyaksikan serial aslinya dulu. Plot dan alur cerita yang sederhana dan tidak terlalu banyak berubah dari serial aslinya membuat Chillers merasa tenang dalam menyaksikan film ini, tidak terlalu berharap bahwa ada sesuatu yang benar-benar baru di dalamnya, kecuali tentunya peningkatan dari sisi animasinya. Mazinger Z: INFINITY memang diperuntukkan bagi para penggemar hardcore-nya, namun tidak menutup kemungkinan bagi audiens baru untuk dapat menyaksikan dan menikmatinya.

escravaniahttp://melali.news
Freelance Writer. Professional Procrastinator... I'm soft, strong, n smart. Soft enought to care, strong enough to handle it, n smart enough to know when to walk away.

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here