“You never win with violence. You only win when you maintain your dignity.” – Don Shirley.

Penasaran dan antusias adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan pendapat kami terhadap film “Green Book” dari hari ke hari. Setelah melakukan premiere di Toronto International Film Festival (TIFF) tahun lalu, film ini sukses mengubah statusnya secara perlahan.

Meski tidak ada yang terlalu peduli dengan premiere mereka, di mana orang lebih banyak menunggu buzz dari film-film seperti “Roma”, ” Suspiria”, “A Star is Born”, dan “First Man” yang lebih dulu “viral”, “Green Book” tahu-tahu menyodok ke atas dengan memenangkan People’s Choice Award, penghargaan tertinggi yang diberikan kepada sebuah film yang tampil di TIFF.

Masih belum meyakinkan, “Green Book” kini mencatat prestasi berikutnya yang lebih besar, yakni memenangkan kategori “Best Film – Drama and Comedy” di Golden Globes 2019. “Green Book”, yang awalnya tidak terlalu, atau bahkan sama sekali, diperhatikan, telah menjadi strong contender untuk bersaing di kategori “Best Picture” Oscar 2019.

Sebelum kita menyaksikan filmnya di bioskop dan menerka peluangnya di Oscar, ada baiknya kita mengetahui lebih dulu perihal info-info penting dari film ini. So, “Green Book” adalah sebuah road-trip yang diambil dari kisah nyata.

Seorang pianis bernama Dr. Donald Shirley (Mahershala Ali) diceritakan sedang melakukan tur di wilayah selatan Amerika pada tahun 1962. Meski Shirley dikenal sebagai musisi yang hebat dan tiket pertunjukannya selalu habis, rasisme yang masih melanda negara-negara bagian selatan menimbulkan kekhawatiran.

Tidak hanya Shirley kemungkinan bakal diperlakukan layaknya masyarakat kelas dua, lebih jauh, keselamatan jiwa sang musisi juga terancam. Demi keamanan, perusahaan rekaman yang menaungi Shirley menyewa seorang bodyguard sekaligus driver, Tony Vallelonga (Viggo Mortenses). Tony termasuk orang yang bisa diandalkan, namun ada satu masalah lainnya: Tony adalah seorang rasis.

Tampak asli Green Book yang menginspirasi film ini.

 

Petualangan film “Green Book” dimulai ketika sutradara Peter Farrelly mendapatkan penawaran untuk membuat sebuah film yang disebut-sebut sebagai “fucking home run movie”. Penawaran ini diberikan oleh teman Peter sendiri, yaitu Brian Hayes Currie. Brian bilang kepada Peter bahwa ia sedang mengerjakan sebuah skrip bersama Nick Vallelonga, yang mana merupakan anak dari Tony Vallelonga. Peter kemudian mengajukan usul agar ketiga orang ini (ia sendiri, Nick dan Brian) menulis naskah filmnya.

Hal yang kemudian mereka lakukan adalah menonton rekaman. Kepada Total Film, Peter mengungkapkan bahwa Nick Vallelonga memiliki sebuah videotape yang berisi cerita tentang semua yang dilakukan ayahnya dalam durasi satu setengah jam.

“Saya tidak percaya akan hal ini”, ungkap Peter yang setelahnya mendapatkan ilham judul “Green Book” dari sebuah panduan perjalanan berjudul “The Negro Motorist Green Book”. Panduan ini mencantumkan setiap perusahaan yang ramah dengan kulit hitam saat Era Segregasi. Dari mana Peter mendapatkan panduan itu? Mudah, tinggal googling saja.

Setelah masalah penulisan sudah clear, Peter dkk masuk ke bagian yang lebih tricky dalam proses kreatif film ini. Hal tersebut adalah menentukan kemudian mendapatkan aktor utama. Siapa yang memerankan Don Shirley, siapa yang memerankan Tont Vallelonga. Meng-casting dua sentral sekaligus bukan perkaram mudah.

Ini adalah bagian yang sangat krusial karena dua karakter ini membawa narasi film sepanjang perjalanan. Peter berkata bahwa ketika proses menulis masih berlangsung, terpercik beberapa ide mengenai siapa memerankan siapa. Jon Favreau bahkan sempat dipertimbangkan untuk menjadi Tony Vallelonga.

Secercah cahaya kemudian muncul setelah Peter dipaksa menonton “Captain Fantastic” oleh sang istri. Meski di awal Peter salah kaprah menganggap film tersebut merupakan film superhero, pada akhirnya Peter diselamatkan dengan melihat kualitas akting Viggo Mortensen. “Saya rasa Viggo bisa melakukan apapun.

Setelahnya saya mengiriminya sebuah surat dan di situ saya menulis, ‘Hey, ini bukan kebiasaan saya (mengingat Peter lebih terkenal sebagai sutradara komedi), tapi mohon lihat lah terlebih dahulu.'”

Sutradara Green Book, Peter Farelly bersama Viggo Mortensen dan Mahershala Ali

Setelah dikirimi skrip “Green Book”, Mortensen langsung bingung sendiri. “Saya terkejut. Peter Farrelly menulis dan akan menyutradarai ini?” ungkapnya tak percaya. Reaksi ini sangat beralasan mengingat Peter, bersama dengan saudaranya yaitu Bobby, adalah orang yang memberikan Cameron Diaz “seminal makeover” di film “There’s Something about Mary”.

Kepekaannya dirasa bertentangan dengan kehidupan nyata yang mengajarkan nilai toleransi dan tumbuh kembang pribadi. Hanya saja kekhawatiran awal itu sirna setelah Mortensen terpikat dengan cerita mengenai hubungan antara Tony dan Don Shirley.

Hanya saja, ada satu masalah. “Saya sadar bahwa ada banyak potret dari seorang karakter berdarah Italia-Amerika yang ditampilkan dengan hebat”, ujar Viggo. Kekhawatiran ini bahkan tak dapat direduksi dengan cara mengobrol bersama Peter. Viggo baru benar-benar yakin setelah ia menemui keluarga Vallelonga sendiri. Voila! Setelah bertemu dengan keluarga Vallelonga, Viggo mulai menemukan rasa percaya diri.

“Ketika mereka (para anggota keluarga) mulai memberitahu bagaimana sosok Tony pada saya, menunjukkan rekaman ketika ia membicarakan Don Shirley, kekayaan informasi ini membuat saya merasa senang”, ujarnya. Persiapan Viggo pun kemudian dimulai beberapa bulan sebelum produksi, di mana sang aktor menambah berat badan hingga 210 lb atau kurang lebih 95 kg. Belum cukup, Viggo juga mentransformasi pikirannya. Ia hang out bersama keluarga Vallelonga selama beberapa minggu untuk mendapatkan aksen yang dibutuhkan.

Setelah urusan Tony Vallelonga selesai, kita sekarang beralih ke proses Mahershala Ali mendapatkan peran Don Shirley. Untuk yang satu ini, Peter sebetulnya memang sudah menempatkan Mahershala sebagai pilihan pertama.

Kesuksesan “Moonlight” menjadi alasan utama mengapa Peter ngebet banget untuk mendapatkan kontrak Mahershala sebagai Don Shirley. Proses mendapatkan sang aktor pun tidak berat karena Mahershala juga direkomendasikan oleh Viggo. Bukan rahasia, dua aktor ini sudah berteman semenjak mereka bertemu di ajang penghargaan tahun 2017 lalu.

Kesulitan Mahershala dalam memerankan Don Shirley adalah kekayaan informasi yang tidak sebanyak yang dimiliki Viggo. Bekalnya dalam mendalami karakter hanya lah rekaman sang maestro dan film dokumenter berjudul “Bohemia” yang rilis di tahun 2011.

Mengenai perannya di Green Book, Mahershala lau berujar bahwa apa yang ia dan Viggo lakukan bukan ditujukan untuk mereka, namun ditujukan untuk Tony dan Don Shirley sendiri. “Anda sudah setuju untuk masuk ke dalam sepatunya, jadi Anda harus menggunakan seluruh sumber yang didapat agar bisa menceritakan kisah yang nyata sifatnya.”

Termasuk yang nyata dari sifat Don Shirley adalah self-destructive streak-nya. Di sini sang maestro diceritakan tidak lepas dari yang namanya minuman keras. “Dia (Don) akan ‘minum’ setiap malam. Itu menjadi bagian yang destruktif dari karakternya, tapi sesungguhnya alasan Don melakukan hal tersebut sungguh berani”, puji Peter.

Mengenai musiknya, Don memiliki feel lagu-lagu yang terkesan lebih cendekiawan (highbrow) dan lewat musik tersebut Don berpikir bahwa ia bisa mengubah persepsi orang lain dengan menunjukkan bahwa seorang kulit hitam bisa melakukannya.

Agar semakin tampil meyakinkan, Mahershala memelajari teknik bermain piano. Selama dua bulan ia belajar piano bersama Kris Bowers, komposer yang sudah malang melintang di beberapa film dan serial TV. Mahershala menjalani proses latihan biar permainannya nanti terlihat meyakinkan.

Dengan perubahan yang Peter lakukan di akhir film, “Green Book” tidak hanya memiliki perbedaan tertentu secara harfiah, tapi kita juga bisa melihat keinginan mereka untuk tetap menjadi film yang membumi.

“Di draft pertama kami memiliki hal itu (origin ending), namun kami berpikir bahwa ini adalah kisah yang lebih kecil”, ucap Peter merendah. Buat yang penasaran, akhir sesungguhnya dari road trip Don Shirley dan Tony Vallelonga cukup tak terduga.

Total Film menulis di akhir perjalanan, Presiden Kennedy terbunuh. Peristiwa itu ternyata memiliki dampak yang besar pada agenda konser Don.

Tonton “Green Book” mulai tanggal 30 Januari 2019 di bioskop terdekat di kota kamu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here